"Saya terima nikah dan kawinya Kinara Larasati binti Darian Akhwan dengan mas kawin tersebut, tunai." Tama mengucapkan kalimat qabulnya dengan satu tarikan napas.
"Bagaimana saksi?" tanya Sang Penghulu yang menikahkan keduanya.
"Sah," jawab saksi dan beberapa tamu yang hadir.
Semua tamu yang hadir berdecak kagum dengan mahar yang diberikan oleh duda beranak dua tersebut. Tak tanggung-tanggung, emas batangan seberat 10 kg dan uang tunai senilai 30.000$, dan 5% saham Perusahaan Wijaya dipersembahkan untuk Kinara, termasuk om dan tante Kinara, dua orang yang tak punya malu itu merasa iri dengan keberuntungan yang didapat oleh keponakanya tersebut dan tidak rela, jika semua harta itu hanya dinikmati oleh keponakanya. Namun, kedua orang tersebut tidak berani melakukan apapun apalagi mereka berada di wilayah kekuasaan Tama.
"Enak banget jadi Nara, dapat harta sebanyak itu. Padahal kalau bukan karena kita yang sekolahin dia sampai lulus kuliah, mana bisa dia kerja di perusahaan Wijaya dan bertemu dengan duda kaya raya seperti Tama. Harusnya sebagian dari mahar itu dia berikan kepada kita," gerutu Reni.
"Iya, Ren. Nanti kalau si Nara datang ke tempat kita. Kita minta itu ke dia," jawab Susanto.
"Tapi, Mas, apa Nara bakalan ke rumah kita lagi?"
"Entahlah. Tapi, aku yakin dia pasti akan mengunjungi rumah lamanya atau berziarah ke makam kedua orang tuanya. Saat itu kita minta dia membagi maharnya buat kita," jawab Susanto dengan pedenya.
"Huh. Harusnya aku yang berdiri di samping Pak Tama dan mendapatkan mas kawin itu. Awas saja, aku gak bakalan mau diperintah olehmu meskipun kamu istrinya Pak Tama. Apalagi aku tahu kalau Pak Tama tidak mencintai kamu." Mirna berbicara dalam hati, dia begitu kesal melihat senyum manis yang Kinara tunjukan.
"Pak Tama benar-benar makin ganteng dengan tuxido itu," puji Mirna dalam hati. Dia membayangkan dirinya berdiri di samping Tama sambil memeluk lengan duda impianya tersebut. Namun, khayalanya itu harus berakhir saat Bintang memintanya menyiapkan kamar tidur untuk Taki dan Maki karena dua bocah kembar itu sudah terlihat lelah karena sejak tadi ikut berdiri di pelaminan bersama dengan mama barunya.
"Nyonya Bintang apaan sih, pakai ganggu kesengan Mirna saja," keluh Mirna. Meski kesal dengan ibu dari Tama itu, Mirna tidak berani menunjukanya secara langsung. Wanita hanya mampu menggerutu di dalam hati. Mirna terpaksa pulang ke rumah duluan untuk menyiapkan kamar tidur si kembar.
"Ini semua gara-gara bocah-bocah itu, kalau saja bocah itu tidak meminta Pak Tama untuk menikahi Kinara dan menginginkan wanita itu jadi mama barunya, pasti aku punya kesempatan untuk menggoda Pak Tama. Awas saja kalian!" ancam Mirna dalam hati. Dia segera melakukan hal yang diperintahkan oleh Bintang barusan.
*
Semua tamu undangan sudah kembali ke rumah masing-masing. Termasuk om dan tante Kinara. Kedua orang itu pergi setelah Tama memberikan uang yang sudah dijanjikan sebelumnya.
Malam itu Tama memilih untuk mengajak Kinara langsung pulang ke rumah daripada harus menghabiskan malam di hotel.
"Masuklah!" Tama mempersilakan Kinara untuk masuk ke rumahnya.
"Mirna, apa Taki dan Maki sudah tidur?" tanya Tama kepada pengasuh anaknya tersebut.
"Sudah, Pak. Mereka baru saja tidur," jawab Mirna.
"Ohya Pak, apa Nyonya Kinara akan tidur di kamar Tuan?" tanya Mirna sambil melirik sinis wanita yang sudah sah menjadi istri Tama tersebut.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Tama. Dia paling benci ada orang lain mencampuri urusan pribadinya.
"Tidak ada, Pak. Hanya saja kamar utama yang biasa Bapak tempati kan masih dipenuhi foto Nyonya Kiara. Apa istri baru Anda tidak masalah?"
"Kami tidak akan tidur di kamar itu, kami akan tidur di kamar lain."
Mirna tersenyum senang, setidaknya wanita yang sudah menjadi istri Tama itu belum diijinkan menempati kamar utama.
"Mau saya siapkan kamarnya, Pak?"
"Tidak perlu. Tadi saya sudah perintahkan Bij Sumi untuk menyiapkanya," jawab Tama. "Kamu bawa tas Nara aja ke kamar itu!"
"Baik, Pak," jawab Mirna. Dia segara mengambil koper Kinara dan membawanya ke kamar.
"Sial, sial! Kenapa harus aku sih yang disuruh bawain koper tuh cewek?" rutuk Mirna. Dia kesal karena harus melayani Kinara, wanita yang dia anggap rivalnya dalam memperebutkan hati Tama.
"Terima kasih ya, Mbak," ucap Kinara ketika mereka tiba di kamar.
Kekesalan Mirna makin bertambah ketika tahu kamar istri Tama itu juga sama besarnya dengan kamar utama.
"Sama-sama, Bu. Permisi." Dengab muka masam Mirna keluar dari kamar tersebut.
"Kenapa dia? Aneh," gumam Kinara melihat tingkah aneh pengasuh Taki dan Maki tersebut.
Kinara mulai memasukan baju-bajunya ke dalam lemari. "Alangkah bahagianya kalau aku menikah dengan laki-laki yang aku cintai," batin Kinara "Huh, sudahlah. Apa pun itu, ini pasti yang terbaik. Aku nggak boleh suudzon sama takdir yang Allah gariskan."
Kinara tersenyum sambil melanjutkan kembali kegiatanya.
Tanpa bayak berbicara Tama masuk ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian ia pun keluar dari sana sudah dengan kaos oblong dan celana panjang.
"Mau ke mana, Mas?" tanya Kinara ketika melihat Tama hendak keluar dari kamar.
"Mas?" Tama memicing mendengar panggilan Kinara untuknya.
"Apapun yang mendasari kira menikah, bukankah kita sudah sah menjadi suami istri. Jadi apa salahnya aku memanggilmu, Mas," jawab Kinara.
"Kamu hanya ibu sambung untuk kedua anakku. Jadi, jangan pernah berharap kalau aku akan menganggapmu istri. Ingatlah! Pernikahan kita hanya sebuah kesepakatan. Aku sudah membantumu melunasi semua hutang tante dan pamanmu. Sebagai gantinya kamu sudah setuju untuk menjadi ibu dari kedua anak kembarku. Jadi, jangan pernah berharap lebih dari itu!" Tama memberi peringatan keras kepada wanita yang saat ini berdiri di hadapannya.
Derai air mata yang jatuh di kedua pipi Nara-wanita itu biasa disapa, tak lantas membuat hati Tama luluh. Laki-laki itu semakin kokoh membangun dinding pembatas antara dirinya dan Nara.
"Saat kita hanya berdua, tetap panggil aku Pak. Aku tidak mau kamu lupa dengan posisimu di sini!" sentak Tama. "Ingat! Aku tidak butuh istri, aku hanya membutuhkanmu sebagai ibu sambung dari kedua anakku. Jangan lupa itu!" Tama keluar dari kamar terssbut.
Kinara duduk di tepi ranjang. Dia kira tidak akan sesakit ini. Tapi ternyata mendengar pernyataan itu diucapkan lantang oleh Tama membuat hati dan harga dirinya terluka.
"Nara... kamu harus kuat! Sejak awal kamu sudah tahu kalau Pak Tama menikahimu bukan karena dia mencintaimu. Tapi, karena dia hanya membutuhkan ibu sambung untuk kedua anaknya. Bukankah yang paling penting rumah almarhum kedua orangtuaku akhirnya bisa ditebus dan itu sudah cukup bagiku untuk bisa menjalani peran ini sampai aku mati." Kinara berusaha menguatkan dirinya sendiri.
Iya, Kinara berjanji pada dirinya sendiri bahwa apapun yang Tama lakukan terhadapnya. Dia akan tetap bersikap baik kepada pria itu dan akan menyayangi Taki dan Maki seperti anak kandungnya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
sherly
sadis amat tu mulut pak
2024-07-21
1
sherly
aduh si Mirna nih hrs segera diungsikan ke luar angkasa
2024-07-21
0
Upi Sri Lestari
semoga si tama akan merasakan sakit hati setelah di tinggalkan sm nara
2024-02-12
1