Bab 13

"Ren cepat bawa ke sini makananya, aku udah laper nih!" teriak Susanto dari dalam rumah.

Reni masih tidak menjawab, dia terlalu gugup melihat kedatangan orang dihadapannya. Karena tidak sabar, Susanto lalu menghampiri istrinya yang berdiri di ambang pintu.

"Ren, mana makananya? Aku sudah lapar tahu?" tanya Susanto lagi. "Ada apa sih? Kenapa kamu diam?"

Susanto ikut melihat ke arah yang dilihat oleh istrinya tersebut. Mata Susanto membulat ketika melihat tamu yang datang.

Susanto jelas tahu siapa tamu yang datang berkunjung ke kontrakanya. Laki-laki itu segera merapihkan baju dan berdiri tegap agar terlihat berkharisma.

"Eh... ada tamu. Pak Tama Wijaya ya? Saya sering melihat wajah Anda terpampang di majalah bisnis." Susanto bersikap sok akrab. Sayangnya Tama tidak menunjukan respon sebaliknya, orang nomor 1 di Wijaya Grup itu hanya menatap mereka datar. Tentu saja hal tersebut membuat Susanto jadi salah tingkah.

"Ada urusan apa ya, Bapak datang ke rumah kami?" tanya Susanto.

"Maaf, bisa kami masuk?" tanya seorang laki-laki berkacamata yang datang bersama dengan Tama Wijaya.

"Oh iya, maaf-maaf kami lupa. Mari silakan masuk, Pak!" Reni mempersilakan kedua tamu itu masuk ke dalam rumah.

Reni dan Susanto lalu mempersilakan kedua tamunya untuk duduk. "Silakan duduk, Pak!"

Tama dan Hendrawan duduk di sofa panjang berwarna biru tua yang ada di ruang tamu tersebut.

"Ren, sana buat minuman untuk mereka!" seru Susanto.

"Tapi, aku belum membeli gula, Mas," jawab Reni.

"Kamu ini. Bisa-bisanya gula saja nggak ada." Susanto memelototi istrinya.

"Sudah Pak Susanto, tidak perlu menyiapkan minuman buat kita." Pengacara yang datang bareng Tama itu berkata sopan.

"Eh, maaf ya, Pak." Reni merasa tidak enak.

"Maaf sekali lagi ya, Pak. Kalau boleh tahu alasan apa yang membuat Pak Tama ini datang ke kontrakan kami?" tanya Reni dengan lembut. "Apa jangan-jangan keponakan kami Nara bikin ulah ya di kantor, Bapak?"

"Pak, maafkan keponakan kami ya. Kami pasti akan menasehati dia agar lebih berhati-hati lagi saat bekerja." Tanpa menunggu jawaban dari Tama, Reni kembali berbicara.

"Iya, Pak. Jangan pecat keponakan kami. Dia membutuhkan pekerjaan itu soalnya." Susanto ikut menimpali.

Laki-laki yang datang bersama dengan Tama menaruh amplop coklat di atas meja.

"Itu apa ya, Pak? Boleh kami buka?" tanya Susanto basa-basi, tentu saja ia tahu bahwa amplop itu berisi uang.

"Silakan!" jawab laki-laki itu.

Mata Susanto dan Reni berbinar setelah membuka amplop tersebut.

"Uang, Ren."

"Iya, Mas. Ini uang banyak sekali."

Dua orang yang tidak tahu malu ini bersorak senang.

"Tapi, Pak. Kenapa Bapak memberikan kami uang sebanyak ini?" tanya Susanto. Dia tahu tidak mungkin ada orang yang tiba-tiba memberikan mereka uang secara cuma-cuma. Apalagi dalam jumlah besar.

Tama melihat dua orang dihadapannya tersebut bergantian. "Rencananya beberapa hari lagi aku akan menikahi keponkan kalian."

Sudut bibir Reni dan Susanto tertarik ke samping. "Menikah, Pak?" Reni memastikan. Dia masih tidak percaya dengan hal yang baru saja didengarnya. Keponakannya akan menikah dengan laki-laki kaya salah satu pemilik dari Perusahaan Wijaya Grup.

"Terus? Saya yakin bukan karena alasan itu saja Bapak datang menemui kami dan memberikan kami uang?" tanya Susanto. Dia yakin ada hal lain yang membuat seorang Tama Wijaya sudi datang ke kontrakan mereka.

"Wah kalian cepat tanggap juga ya ternyata, bisa tahu kalau aku memiliki tujuan lain," puji Tama.

"Katakan saja apa yang sebenarnya Anda inginkan dari kami!" seru Susanto.

Tama membenarkan posisi duduknya. Dia menumpuk kaki kemudian menyandarkan punggung pada sandaran kursi.

"Aku ingin kalian tidak lagi mengganggu hidup Kinara! Berhanti menyuruhnya membayar semua hutang kalian!" jawab Tama, terlihat santai namun dengan tatapan menusuk.

"Maksudnya?" tanya sepasang suami itu bersamaan.

Tama masih diam dan hanya memberikan tatapan jamnya kepada Reni dan Susanto yang terlihat kebingungan.

Terpopuler

Comments

sherly

sherly

gitulah Tama agak berguna sikit dirimu...

2024-07-21

0

Rafi'ah Sujie

Rafi'ah Sujie

Bagus pak Tama, biar tau rasa tuh om sama tantenya Kinara

2024-01-26

1

Eni Istiarsi

Eni Istiarsi

good job Tama,entah kamu menikahi Nara hanya sekedar buat ibu sambung si kembar,tapi paling tidak kamu berusaha membebaskan Nara dari parasit

2023-06-11

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!