Kinara menyipratkan air ke arah mereka. Air itu adalah air yang tadinya mau Kinara gunakan untuk menyeduh kopi. Namun, karena ternyata air itu belum panas ia gunakan air tersebut untuk membuat tukang ghibah itu bubar. Para tukang ghibah itu mendelik.
"Kinara!" teriak mereka.
"Ups, maaf," ucap Kinara.
"Kamu sengaja kan?!" sentak mereka.
"Katanya kalian ingin tahu bagaimana caraku mendekati Pak Tama. Ya... begitulah caraku. Tapi, airnya harus kalian ambil dari tujuh sumber mata air. Kalau barusan sih aku cuma mempraktikan saja," jawab Kinara.
"Kamu pasti bohong! Bilang saja kalau kamu nggak mau memberitahu kita caranya. Bukan malah dengan nyipratin gini? Baju kita jadi basah kan?" Mereka semua tampak sebal dengan kelakuan Kinara barusan.
"Basah dikit doang, kenapa kalian harus marah-marah? Dilap pakai tisu juga udah kering," sahut Kinara.
"Dasar kamu! Mentang-mentang sebentar lagi mau nikah sama Pak Tama, jadi belagu. Awas saja kamu!"
"Udah kita bubar saja. Kalau dia ngadu sama Pak Tama, pasti kita bakal dipecat!"
"Awas kamu kalau berani ngadu ke Pak Tama!"
Para tukang ghibah satu persatu meninggalkan pentri. Wajah mereka terlihat kesal karena ulah Kinara barusan.
Kinara memang tidak suka dengan sikap dingin Tama kepadanya. Namun, dia lebih tidak suka mendengar ada orang lain yang merendahkan calon suaminya tersebut. Terlepas dari apa pun yang menjadi alasan mereka berdua menikah. Yang jelas, perkataan mereka barusan tidak dapat ia terima. Apalagi ketika mereka mengatakan soal goyangan dan hot.
"Aku yakin saat mereka sekolah dulu, kerjaan mereka cuma nonton video dewasa makanya mereka bisa mengatakan hal-hal semacam itu dengan gamblang," gumam Kinara.
Kinara melanjutkan tujuan awalnya datang ke pantry. "Aku harus segera kembali ke ruangan Pak Tama. Dia pasti bakalan marah-marah dan mengtaiku lamban, kalau aku tidak segera membawa kopi pesananya."
***
Rangga dan Bintang begitu terkejut ketika Tama mengutarakan keinginanya untuk menikah lagi. Sudah berkali-kali kedua orang tua Tama itu selalu meminta putranya untuk menikah lagi, namun berkali-kali pula Tama menolaknya.
Tama selalu berkata tidak akan pernah menikah lagi seumur hidup dan hanya Kiaralah yang akan selalu menjadi cintanya. Dia tidak ingin mengganti posisi Kiara dengan wanita mana pun.
"Kamu beneran akan menikah lagi?" tanya Bintang. Dia ingin memastikan jika indera pendengaranya masih normal.
"Iya, Mom. Taki dan Maki membutuhkan sosok ibu," jawab Tama.
"Mommy senang kalau kamu akhirnya mau membuka hati untuk wanita lain." Bintang memeluk putra pertamanya tersebut. "Mama yakin, Kiara juga akan sangat bahagia dengan keputusanmu untuk menikah lagi."
Tama terdiam. Bintang kemudian melepaskan pelukanya.
"Kapan kalian akan menikah? Dan sudah sampai mana persiapan pernikahan kalian itu?" tanya Bintang lagi.
"Rencanya minggu depan."
"Apa?! Secepat itu?" Bintang kembali terkejut. Meski ia bahagia karena putra sulungnya sudah mulai membuka hati untuk perempuan lain, akan tetapi menikah tiba-tiba tentu membuatnya merasa aneh.
"Kamu buru-buru mau nikahin dia bukan karena wanita itu hamil duluan kan?".Bintang menatap curiga.
"Astaghfirullah, Mommy. Gini-gini aku masih punya iman, Mom," pekik Tama. Ia tidak habis pikir kenapa ibunya sampai berpikir demikian.
"Ya... siapa tahu saja kan karena kalian sering bersama terus kamu khilaf," sahut Bintang. Apalagi Bintang tahu kalau calon istri Tama ini adalah sekretaris pribadinya.
"Ish... Bener-bener ya, Mommy." Tama mencebik kesal.
"Iya-iya, Mommy minta maaf. Mommy hanya bercanda kok. Mommy tahu kalau anak-anak Mommy tidak akan melakukan hal yang akan mempermalukan keluarga." Bintang menepuk pundak putranya.
"Ohya, Tam. Apa kamu sudah berbicara dengan Mama Dewi soal ini?" tanya Bintang lagi.
Setahu Bintang selama ini orang yang paling keberatan Tama menikah lagi adalah dia. Dewi masih tidak bisa menerima jika putri kesayanganya harus meregang nyawa setelah melahirkan.
"Belum, Mom.. Rencananya nanti sore sekalian jemput Taki dan Maki yang sedang main ke sana," jawab Tama.
"Semoga Dewi bisa menerima keputusanmu untuk menikah lagi ya. Dan seandainya dia marah atau ngomel karena kamu akan menikah, tolong jangan sakit hati. Dewi hanya belum bisa menerima jika tempat putrinya bakal diganti oleh wanita lain."
Tama mengangguk. "Mommy tenang saja soal itu. Lagian aku juga menikahinya bukan karena aku jatuh cinta kepadanya," seloroh Tama.
"Apa maksudmu?" tanya Bintang lagi. Dia benar-benar tidak paham dengan hal yang dipirkan oleh anaknya.
Tama kembali diam.
"Tam, jika kamu tidak mencintai wanita itu kenapa kamu mau menikahinya?"
Tama masih bungkam.
"Kamu mau menikah dengan wanita itu bukan karena sebuah kesepakatan atau kontrak kan?" Bintang kembali memberikan pertanyaan. "Tama, jawab Mommy!" sentak Bintang.
Tama menatap sang mommy. Dia belum berani menjawab pertanyaan dari mommynya tersebut.
"Tama," panggil Bintang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
sherly
kapok kamu Tama, ketahuan kan
2024-07-21
0
Rafi'ah Sujie
awokawokawok🤣🤣🤣
2024-01-26
1
ᵇᴇɴɪʰᴄɪɴᴛᴀ❤️ʳᵉᴍʙᴜˡᵃⁿ☪️
hayo loo bakal kena semprot sama mommy bintang
2023-06-22
1