Bab 7

Kinara tidak memiliki banyak teman karena kesibukanya mencari uang. Dan dari beberapa teman yang dimilikinya tersebut, tidak satu pun dari mereka yang bersedia memberikan Kinara tumpangan.

Dengan terpaksa Kinara akhirnya memilih tinggal di mes yang disediakan oleh perusahaan. Setidaknya dengan tinggal di sana ia bisa menghemat biaya hidup untuk sementara waktu. Sebenarnya mes itu hanya diperuntukan untuk petugas kebersihan dan keamanan perusahaan Wijaya. Dan untuk karyawan yang memiliki jabatan di dalam perusahaan biasanya biasanya mereka difasilitasi rumah dan kendaraan pribadi. Hanya saja untuk mendapatkan semua fasilitas itu ada syarat yang harus dipenuhi yaitu karyawan tersebut sudah bekerja di perusahaan Wijaya selama kurun waktu minimal 5 tahun dan Kinara belum memenuhi kriteria tersebut.

"Terima kasih ya, Pak, sudah mengizinkan saya tinggal di mes perusahaan," ucap Kinara kepada kepala bagian HRD melalui sambungan telepon.

"Tidak apa-apa Nak Nara, kamu kan juga karyawan di perusahaan," jawab Pak Herman. Pak Herman adalah kepala HRD di perusahaan Wijaya. "Istirahatlah! Jangan sampai kamu kesiangan karena Pak Tama paling tidak suka dengan karyawanya yang tidak disiplin!"

"Iya, Pak. Saya akan langsung beristirahat. Sekali lagi terima kasih ya, Pak," ucap Kinara sebelum mengakhiri panggilan tersebut.

"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya aku bisa mendapatkan tempat tinggal sementara." Tak lupa Kinara berucap syukur kepada Sang Pencipta atas kemudahan yang diberikan.

Setelah tidur beberapa jam pagi pun menyapa. Kinara bersyukur semalam dia bisa langsung tidur nyenyak dan membuatnya bisa bangun pagi dengan kondisi tubuh yang bugar.

Dengan memakai atasan kemeja berwarna pink dan blazer berwarna abu, serta rok setinggi lutut Kinara keluar dari kamarnya. Tak lupa ia membawa tas slempang berukuran kecil guna mempercantik penampilanya. Sebagai sekretaris pribadi seorang president direktur, Kinara dituntut untuk selalu tampil sempurna.

"Lho kamu bukannya sekrataris pribadi Pak Tama ya kok tinggal di sini sih? Kan disini isinya pegawai rendahan semua?" tanya salah seorang office girl bernama Tina.

"Ouh... kebetulan ada sedikit masalah dengan rumah.saya, jadi untuk sementara saya tinggal di sini." Kinara menjelaskan.

"Kalau Mbak butuh bantuan selama tinggal disini jangan malu untuk meminta tolong kepada kami ya, Mbak. Insya Allah penghuni di sini suka saling tolong menolong."

"Iya, pasti. Terima kasih ya karena sudah diterima di sini," ucap Kinara, tak lupa ia memberikan senyum kepada rekan kerjanya tersebut.

"Ohya, Mbak sudah sarapan belum? Kalau belum, sarapan bareng kita aja!" ajak Tina.

"Tidak usah. Aku harus segera ke kantor karena pagi ini Pak Tama memiliki jadwal meeting pukul 08.30 WIB. Jadi, sebelum beliau datang aku sudah harus mempersiapkan semuanya," jawab Kinara. Dia bukanya tidak mau sarapan bareng mereka, hanya saja dia merasa tidak enak karena tidak ikut berkontribusi menyiapkan sarapan pagi ini.

"Ternyata jadi sekretaris lebih sibuk ya dari pada OG. Mana sering lembur kan?" Kinara mengangguk.

"Tapi kan seneng, Tin, setidaknya gaji mereka itu lebih gede dari kita, tiga tau bahkan sepuluh kali lipatnya dari gaji kita." Atik yang baru keluar dari kamar ikut menyahut.

"Ya resikonya juga gede juga kan? Bayangkan salah satu huruf saja bisa bikin kita masuk bui karena dikira korupsi," jawab Tina.

"Itu mah buat bagian keuangan," sahut Atik lagi.

"Ya apa pun itu setiap pekerjaan punya resikonya sendiri-sendiri. Betulkan Mbak?" Tina melemparkan pertanyaan ke Kinara.

"Ah, iya," jawab Kinara singkat. "Mbak Tina, Mbak Atik saya berangkat duluan ya. Permisi." Kinara berpamitan setelah itu ia segera melenggang ke arah kantor.

Hanya butuh waktu sekitar lima menit untuk tiba di perusahaan Wijaya. Kinara langsung menuju ke meja kerjanya.

"Aku harus mencari pekerjaan tambahan agar bisa mengambil kembali rumah peninggalan almarhum ibu dan bapak. Tapi... gimana aku membagi waktu kerjanya? Sementara pekerjaan sebagai seorang sekretaris kadang baru selesai malam?" gumam Kinara. Bukan tidak bersyukur dengan pekerjaan dan posisi yang dia dapat sekarang. Hanya saja saat ini ia memang harus bisa memiliki pekerjaan tambahan untuk bisa sesegera mungkin menebus rumahnya.

"Perutku lapar, lebih baik aku beli roti dulu untuk sarapan." Kinara bangun dari tempat duduknya. Mata Kinara mendelik ketika tahu kalau ternyata Tama sudah berdiri tepat di depan mejanya.

"Astaghfirullah hal adzim, Pak Tama," pekik Kinara. "Se-sejak kapan Bapak berdiri di sini?"

Kinara mengusap dadanya.

"Bawakan kopi ke ruanganku!" Bukannya menjawab pertanyaan Kinara, pria dengan ekspresi dingin itu justru memberikan perintah.

"Aku tidak suka dengan pekerja yang lamban," tambah Tama sebelum masuk ke ruangannya.

Ruang kerja Tama berada tepat di depan meja kerja Kinara yang hanya dibatasi dengan dinding kaca. Buru-buru Kinara membuat kopi untuk atasannya tersebut.

"Ini Pak kopinya." Kinara meletakan kopi di meja Tama.

"Terima kasih," ucap Tama menatap wajah Kinara.

"Apa masih ada sesuatu yang Bapak inginkan?" tanya Kinara.

"Bahan untuk meeting pagi ini sudah siap?"

"Saya sudah menyiapkan sejak kemarin, Bapak tinggal memeriksanya," jawab Kinara.

"Baiklah, aku akan memeriksanya sekarang. Kamu bisa kembali ke mejamu!"

Kinara sedikit membungkuk, kemudian berjalan ke arah pintu. Namun, dia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar Tama bertanya akan sesuatu.

"Aku dengar kalau kamu membutuhkan pekerjaan tambahan, benar begitu?"

Kinara berbalik dan menatap bosnya. "Bapak mendengar perkataan saya tadi?"

"Jawab saja, iya atau tidak!"

"Bapak tahu? Menguping pembicaraan orang lain itu tidak sopan namanyaya." Kinara merasa keberatan.

"Aku tidak menguping, tapi aku tidak sengaja mendengarnya. Lagi pula, kamu tidak sedang berbicara dengan seseorang melainkan berbicara sendiri seperti orang gila."

"Haish!" Kinara mencebik. "Tetap saja itu tidak sopan!"

"Sudahlah, daripada kamu membicarakan soal sopan santun lebih baik kamu jawab saja pertanyaanku tadi!" seru Tama.

Kinara menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskanya. Ia kemudian menayap wajah bosnya lalu mengangguk. "Iya, Pak. Kebetulan saya sedang ada masalah dengan keuangan," tuturnya.

"Aku punya solusi dari masalahmu itu, jika kamu mau."

"Solusi? Bapak mau memberikan aku pinjaman?" tanya Kinara dengan mata berbinar.

"Pinjaman? Memang berapa uang yang kamu butuhkan?"

"Sekitar lima ratus juta lebih."

"Kamu cuma karyawan baru disini. Misal perusahaan memberikan kamu pinjamanpun jumlahnya tidak bisa sebesar itu."

"Terus? Solusi yang Bapak maksud apa?" tanya Kinara penasaran.

"Bapak tidak berniat ngapa-ngapain saya kan?" Kinara memicing sambil menyilangkan kedua tangan.

"Cih. Kamu bukan seleraku!" Tama berdecih. "Lagian aku sudah berjanji pada diriku sendiri hanya akan mencintai almarhumah istriku."

"Kalau begitu solusi apa yang Bapak tawarkan kepada saya barusan?" tanya Kinara lagi.

"Jadilah ibu sambung untuk kedua anakku."

Mulut Kinara ternganga mendengar jawaban yang keluar dari mulut atasannya itu.

"Ibu sambung? Bukankah itu berarti aku harus menikah dengan Pak Tama? Lalu kenapa tadi Pak Tama bilang kalau dia hanya akan mencintai almarhumah istrinya? Ssbenarnya apa maksud dari perkataanya itu?" Kinara membatin.

"Bagaimana? Apa kamu bersedia?" tanya Tama lagi.

Terpopuler

Comments

Tuty Tuty

Tuty Tuty

😁😁😁😁😁lucu juga pak tama gx selera tapi nikah ada aja thor kamu

2024-03-10

1

Rafi'ah Sujie

Rafi'ah Sujie

lama2 jg bakalan cinta sama kamu itu si duren

2024-01-25

1

ᵇᴇɴɪʰᴄɪɴᴛᴀ❤️ʳᵉᴍʙᴜˡᵃⁿ☪️

ᵇᴇɴɪʰᴄɪɴᴛᴀ❤️ʳᵉᴍʙᴜˡᵃⁿ☪️

hayuuuk Kinara terima tawaran pak tama

2023-06-22

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!