Bab 12

"Apa tawaran Bapak masih berlaku?" tanya Kinara. Wanita itu berdiri tepat di depan meja Tama. "Saya... saya mau... saya mau menjadi ibu sambung untuk anak-anak Bapak."

"Kamu yakin?"

Kinara mengangguk. "Iya, Pak. Saya yakin," jawab Kinara mantap karena memang tidak ada cara lain yang bisa ia lakukan.

"Baiklah, aku akan segera melunasi semua hutangmu baru setelah itu kita menikah. Tapi, ingat! Kesepakatan ini tidak boleh diketahui siapa pun, mengerti!"

"Saya mengerti, Pak. Tapi... saya juga memiliki persyaratan tambahan."

"Katakan saja!" seru Tama.

Kinara menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskanya barulah dia menyampaikan persyaratan tambahan. "Aku ingin tetap bekerja meskipun kita sudah menikah. Bolehkan?"

"Terserah," jawab Tama.

"Kalau begitu terima kasih. Anda bisa mulai mempersiapkan pernikahan kita," ucap Kinara.

"Sebentar lagi aku ada meeting, jadi pergilah dari sini. Aku harus memeriksa bahan meeting sebelum pergi." Tama menyuruh Kinara untuk pergi.

Kinara tak lagi mengatakan apapun, dia menunduk hormat sebelum akhirnya meninggalkan ruang kerja Tama.

Tama mengambil ponsel dari dalam saku dan menghubungi Adrian.

"Iya, Pak Tama," jawab Adrian dari ujung sana.

"Kamu tahu dimana om dan tantenya Kinara tinggal?"

"Tahu, Pak. Tapi, ada apa ya?" jawab Adrian seraya balik bertanya.

"Kamu kirim saja alamat tempat tinggal mereka kepadaku, segera!" titah Tama. Tanpa menunggu balasan dari Adrian ia langsung menutup pembicaraan. Tidak lama Adrian mengiriminya alamat tempat tinggal om dan tantenya Kinara saat ini.

Tama kemudian menelepon ke nomor pengacaranya.

"Pak Hendra, datanglah ke alamat yang aku kirimkan barusan besok dan buatkan surat perjanjian sesuai dengan pesan yang telah aku kirimkan kepadamu barusan!"

"Baik, Pak. Besok jam 9 saya akan ke sana, kita langsung ketemu disana," balas sang pengacara.

Usai menghubungi pengacaranya, Tama pun meninggalkan kantor untuk pergi meeting.

***

"Mbak Nara," panggil Tina yang kebetulan juga baru pulang bekerja.

"Kamu juga sudah pulang ya?"

"Iya, Mbak. Aku sift pagi soalnya," jawab Tina. "Oh iya, kok Mbak Nara juga sudah pulang?" tanya Tina. Selama ini yang ia tahu, seorang sekretaris pribadi biasanya akan mengikuti jam kerja atasanya.

"Aku agak kurang enak badan, makanya aku izin pulang lebih awal," jelas Kinara. "Ya udah ya, Mbak Tina. Saya mau ke kemar mau ganti baju dan istirahat."

"Tunggu, Mbak Nara!" cegah Tina.

"Iya, ada apa?" Kinara menghentikan langkahnya.

"Mbak pakai jas siapa?" Tina memperhatikan dengan seksama jas yang dipakai oleh Nara. "Itu mirip jas milik Pak Tama?"

"Ah, bukan. Ini bukan milik, Pak Tama kok," jawab Kinara. Dia terpaksa berbohong karena tidak mau jika teman satu mesnya tersebut salah paham.

"Benarkah? Tapi, itu mirip banget dengan jas yang biasa dipakai Pak Tama sehari-hari." Tina masih memperhatikan jas yang melekat di tubuh Kina. "Tuh kan merknya aja sama. Aku sering lihat jas dengan merk itu sewaktu membersihkan ruang kerja Pak Tama."

"Beneran kok Mbak Tina, ini itu jas punya temanku. Kalau soal merk, sebenarnya ini kw. Temanku mana mungkin punya jas yang harganya mahal." Kinara berbicara dengan berbisik.

"Iya, juga sih. Sudahlah, lupakan! Aku juga mau istirahat ke kamar. Hari ini capek banget." Setelah mengatakan hal tersebut, Tina masuk ke kamarnya.

"Huft. Untung saja Mbak Tina percaya kalau jas ini jas kw, kalau enggak bisa gawat." Kinara bernapas lega. Dia pun ikut masuk ke kamarnya.

***

Keesokan harinya....

Sejak keluar dari rumah Kinara, Reni dan Susanto tinggal di rumah kecil yang tidak jauh dari rumah Kinara sebelumnya. Selama ini Om dan tante Kinara itu selalu menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang tanpa ingin bekerja.

"Untung saja tangan kita nggak jadi dipotong sama Bos Danu. Coba kalau tangan kita beneran dipotong, bisa malu kita." Susanto berseloroh.

"Tapi, Mas. Aku jadi merasa bersalah sama Nara. Kita sudah gadein rumah dia dan sekarang kita juga pinjam uang atas nama dia. Menurutmu bagaimana Kinara akan membayar hutang kita itu ya, Mas?"

"Sudah, nggak usah kamu pikirin! Kita kan udah ngerawat dan nyekolahin dia sampai lulus kuliah. Jadi wajarlah dia yang membayar utang kita. Hitung-hitung balas budi," cicit Susanto.

"Tapi, tetap saja, Mas. Kalau semua gajinya ia gunain buat bayar utang kita, gimana dia bisa makan?" Adik kandung dari mendiang ibu Kinara itu kadang tidak tega terus memanfaatkan keponakanya sendiri.

"Sudahlah, Ren kamu tenang saja! Keponakanmu itu pasti baik-baik saja. Buktinya dia masih sanggup melunasi hutang kita pada Bos Danu," jawab Susanto. "Ohya kamu sudah pesen makanan online belum?"

"Sudah, Mas. Aku sudah pesen dua porsi rendang daging, sate kambing, dan nasi uduk. Sebentar lagi juga datang."

Tok tok tok!

Suara ketukan pintu terdengar di indera pendengaran Susanto dan Reni.

"Mungkin itu, Mas. Aku bukain pintu dulu ya."

"Hm."

Reni bangun dari tempat duduknya kemudian melangkah menuju pintu.

"Kenapa la.... " Reni tidak melanjutkan kata-katanya.

Terpopuler

Comments

sherly

sherly

paling benci dgn orang modelan kayak gini, berasa berjasa jd mengharapkan balas Budi tp ngk gitu juga caramu minta balas Budi, dasar kalian...

2024-07-21

0

🌹Fina Soe🌹

🌹Fina Soe🌹

kasian nara dimanfaatkan reni dan susanto ..uang sebanyak itu buat apa...

2024-01-18

0

Nia Nara

Nia Nara

Kenyataannya, banyak kok orang tua yg mirip om & tante nya nara

2024-01-10

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!