...❤️❤️❤️❤️❤️...
Kania POV
Setelah Darwin pergi, kini aku hanya tinggal berdua bersama Daniel di bawah sini.
Aku yang masih agak canggung berduaan dengan seorang lelaki, lebih banyak diam dan tidak berani memandang wajah Daniel karena malu. Ya sikapku ini memang sulit dirubah dari dulu.
Kulihat Daniel juga sama sepertiku, dia tampak ragu untuk memulai obrolan dan selalu membuang muka sembari menggigit jarinya.
"Eee, Kania." ucapnya.
"Ya?"
Akhirnya Daniel memberanikan diri untuk mulai berbicara padaku, ya walau kulihat dia amat sangat gugup ketika mengatakan itu.
"Kita duduk yuk disana!" ucapnya.
Aku menatapnya heran dan sedikit memainkan mimik wajahku, "Kan yang tuan rumahnya disini aku, bukan kamu." ucapku pelan sembari menahan rasa tawa yang ingin keluar.
"Oh iya, hahaha...." dia malah tertawa, mungkin supaya bisa lebih tenang dan tidak malu lagi.
"Yaudah yuk!" ucapku mengajaknya untuk pergi ke sofa di ruang tamu.
Kami pun duduk disana berduaan, namun tentunya agak berjarak karena aku tidak ingin ada salah paham atau apalah itu.
"Sorry banget ya," ucapnya.
"Hah? Buat apa?" tanyaku yang tak mengerti.
"Soal tadi ucapan Darwin, gak seharusnya dia bilang begitu di depan kamu. Maaf banget ya, emang mulut dia tuh kayak cewek, lemes!" ucapnya.
"Ohh, gapapa." ucapku singkat.
"Ya oke deh, bagus." ucapnya sambil nyengir.
Situasi kembali hening saat ini, kulihat dia hanya mengusap-usap telapak tangannya sembari menoleh ke kanan dan kiri secara bergantian seperti tengah mencari sesuatu untuk dijadikan bahan obrolan.
Tak lama kemudian, bik Eros muncul dengan membawa minuman untuk kami berdua.
"Nah silahkan non, mas Daniel. Ini esnya diminum dulu, biar ngobrolnya makin enak!" ucap bik Eros tersenyum sembari meletakkan dua gelas di meja.
"Makasih ya, bik!" ucapku tersenyum.
"Sama-sama, non. Yaudah ya bibik tinggal dulu, kalau ada yang dibutuhin langsung panggil bibik aja!" ucap bik Eros.
"Iya, bik."
Bik Eros pun bangkit lalu berjalan pergi menuju dapur dengan membawa nampan kosong.
"Ayo diminum!" aku mempersilahkan Daniel untuk langsung meminum minuman itu.
"Iya, thanks." ucapnya singkat.
Kami sama-sama mengambil gelas di atas meja lalu meminumnya secara bersamaan juga, memang lumayan nikmat menikmati es yang dingin dan menyegarkan di tengah hari begini.
Setelah selesai minum, kami juga meletakkan gelas itu secara bersama-sama di atas meja.
"Oh ya, kamu abis darimana? Kok kamu kelihatan cantik banget, pake makeup segala? Terus baju kamu juga agak beda," tanya Daniel.
Aku baru menyadari kalau saat ini aku belum mengganti pakaianku, bahkan aku juga belum sempat menghapus makeup di wajahku karena tadi langsung menemani Aisyah makan dan membuka pintu bagi tamu yang datang ke rumahku.
"Eee... ini aku tadi abis gantiin Aisyah buat pemotretan," jawabku.
"Ohh, pantes. Dilihat-lihat kamu cocok juga jadi model, aku mau lihat dong hasil fotonya." ucapnya yang kini terlihat lebih lancar dalam berbicara.
"Ah masa sih? Hasilnya masih diproses, nanti juga muncul di tv kok!" ucapku.
"Wah jadi gak sabar nih aku mau lihat muka kamu di tv! Bakalan pantengin tv terus deh, yang biasanya tv cuma jadi pajangan doang di rumah," ujarnya dengan sedikit senyum terpancar di bibirnya.
"Iya, lihat aja nanti." ucapku pelan.
Daniel tersenyum lalu kembali mengambil gelas di atas meja dan meminumnya sembari menatap ke arahku, aku juga tak mengerti mengapa Daniel selalu menatapku bahkan saat sedang minum juga.
Kania POV end
...•••...
Author POV
"Aku gak mau nikah sama dia...!!" ucap Marvel sambil menunjuk Aisyah.
"Apa maksud kamu, Marvel?" tanya Evi.
"Aku gak sudi harus punya istri seperti dia, mah!" jawab Marvel berteriak keras.
"Marvel, apa yang kamu bicarakan ha??" ujar Adam.
"Iya pah, aku gak sudi menikah dengan dia!" ucap Marvel dengan suara lantang.
"Kenapa kamu bicara begitu, Vel?" tanya Evi.
"Kenapa mama bilang? Aisyah ini bukan wanita baik, mah! Dia udah tidur sama laki-laki lain dan dia udah gak perawan lagi...!!" ucap Marvel.
Marvel masih belum bisa melupakan kejadian saat dimana ia membatalkan pernikahannya dengan Aisyah, hingga kini ia terus saja kepikiran dengan itu.
Marvel pun berteriak sembari menggaruk-garuk kepalanya, ia tampak emosi sekaligus kesal karena selalu saja terbayang akan kejadian itu.
"Aaarrgghh!! Kenapa gue selalu kepikiran soal itu?" gumamnya.
Bughh...
Sangking kesalnya, Marvel sampai menendang badan mobilnya untuk melampiaskan kekesalan yang ia rasakan saat ini.
"Marvel...!!"
Suara teriakan seorang wanita membuat Marvel berhenti lalu menoleh.
"Vel, kamu ngapain sih?" tanya wanita itu.
"Gak kok, gue capek aja." jawab Marvel singkat.
Wanita yang tak lain adalah Nazla itu berusaha mendekati Marvel lalu bergelayut manja pada lengan Marvel sembari membenamkan wajahnya pada pundak pria tersebut.
"Kalau kamu capek, sini yuk biar aku pijitin!" ucap Nazla.
"Gak perlu, gue cuma butuh istirahat." ucap Marvel.
"Ish, gapapa kok. Aku pijitin aja ya? Kan lumayan kamu bisa lebih santai dan gak capek lagi, mau ya?" ucap Nazla.
"Gue bilang gausah, ya gausah!" bentak Marvel.
"Kamu kok gitu sih sama aku? Kan aku cuma nawarin pijat tubuh kamu, kenapa kamu malah marah begitu sama aku?" ucap Nazla ngambek sembari mengerucutkan bibirnya.
Nazla langsung melepas tangannya dari Marvel lalu menjauhi pria tersebut, sontak Marvel pun menahan Nazla agar tidak pergi dari sana.
"Hey, tunggu! Iya gue minta maaf, jangan ngambek dong! Tadi gue tuh lagi pusing aja makanya gue gak sengaja bentak lu, jangan marah ya!" ucap Marvel berusaha membujuk Nazla.
"Iya gapapa, tapi lain kali kamu jangan begitu dong sama aku!" ucap Nazla.
"Iya, aku janji gak akan begitu lagi sama kamu!" ucap Marvel tersenyum sambil mencolek hidung Nazla.
Nazla pun kembali mendekat ke tubuh Marvel lalu memeluknya seperti tadi, sedangkan Marvel juga tampak tersenyum sembari mengusap lembut wajah serta rambut Nazla yang menempel di pundaknya.
"Kamu pasti masih mikirin Aisyah, ya?" tanya Nazla.
Marvel terkejut kemudian menoleh menatap wajah wanita tersebut dari jarak dekat.
"Gak kok, buat apa juga?" jawab Marvel berbohong.
"Ohh, kirain. Abisnya kamu kelihatan kayak masih terjebak dalam masa lalu gitu, padahal aku mah kalo jadi kamu gak akan mungkin mikirin seseorang yang udah tega khianati aku!" ucap Nazla.
"Iya, gue juga gitu kok." ucap Marvel.
"Ya bagus deh, sekarang kamu ikut sama aku yuk! Kita pergi ke tempat wisata yang indah, supaya kamu bisa lebih santai dan tenang!" ucap Nazla.
"Boleh,"
Marvel menyetujui perkataan Nazla, menurutnya ia memang butuh hiburan saat ini agar bisa terlepas dari belenggu masa lalu yang membuatnya tidak bisa hidup bebas sekarang.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments