“Sudahlah, jangan menangis! Seburuk apapun hidup kita, sikap kita sebagai seorang makhluk hanya bisa bersyukur pada Zat yang telah menciptakan kita. Setiap hal yang ditakdirkan pada kita sebagai makhluk, pasti ada tujuan dan hikmahnya.”
Pradita menyeka air mata yang mengalir deras di kedua pipi Helly. Dia merasa tidak tega melihat tatapan mata yang kosong di mata Helly, seperti punya beban mental yang sangat berat.
Keduanya keluar dari Rumah Sakit menuju motor Pradita yang diparkirkan secara sembarang di bahu jalan. Pradita melajukan motornya cukup pelan sambil berbincang mengenai keluarga Helly.
Pradita mendengar semua keluh kesahnya, hingga tidak sadar mereka sudah sampai di gang yang menuju rumah Helly di Desa Lengkong Gudang Timur. Saat sampai di depan rumah Helly, Pradita langsung di tatap nyalang oleh kakak Helly yang merupakan ketua geng mafia Zero Crime yang menguasai wilayah Serpong.
“Turun kau!” teriak Willy lantang sambil menunjuk tegas ke arah Pradita. Kemudian pria berwajah arab tersebut mendekati Pradita dengan berjalan cepat sambil terus menunjuk ke arah Pradita. “Kau selalu saja membuat masalah denganku, kemarin dengan Tuan Hiro sekarang adikku kau buat terluka —”
“Kak, ini bukan kesalahan Mas Pradita —”
“Diam kau, Helly!” potong Willy dengan amarah yang sudah memuncak.
“Tunggu! Ini salah ….”
Willy melompat dan melayangkan tendangan ke arah kepala Pradita, tetapi Helly memeluk Pradita untuk menghalanginya. Pada akhirnya tendangan tersebut tepat mengenai pelipis kiri Helly, dan membuat pelipis kiri gadis berambut pendek tersebut memar.
Pradita marah melihat Helly ditendang oleh kakaknya sendiri, “Aku tidak menyangka seorang laki-laki berani menyakiti wanita dan itu adiknya sendiri. Aku tidak peduli jika kau ketua geng sekalipun, aku akan habisi kau!”
Ranting pohon di sebelah kiri Pradita dipatahkan olehnya, sambil mengelus lembut pelipis kiri Helly yang lebam, "Kamu tenanglah disini! Aku akan membuat pelajaran terhadap kakakmu yang tidak tahu diri ini!"
Tangis Helly pecah, karena Pradita begitu memperdulikannya ketimbang kakaknya sendiri Willy. Apalagi Willy tanpa rasa bersalah menendang pelipis kirinya, dan sampai detik ini pun dia tidak meminta maaf, malah marah terhadapnya.
"Salah sendiri dia menghalangiku untuk menendang kepalamu. Adik sampah seperti dia memang harus aku usir, dan aku tidak mau mengakui adik yang tak bisa menghasilkan uang untukku, hahaha …," ejek Willy dengan tertawa jahat.
Ia bahkan menatap sinis ke arah Helly yang dianggapnya sebagai adik yang tidak berguna.
"Jangan salahkan aku jika kau terluka parah dan aku tidak akan segan untuk menghajarmu!" geram Pradita dengan sorot mata yang tajam ke arah Willy.
Anak buahnya yang sedang bermain judi kartu di dalam rumah Willy pun ikut keluar. Apalagi setelah mendengar suara ribut-ribut antara Willy, Helly, dan Pradita.
“Oh, ada yang cari mati ya!”
“Sudah sikat saja!”
“Tentulah, dia hanya pria ayam kampung!”
Kesembilan anak buah Willy berjalan cepat ke arah Pradita setelah keluar dari dalam rumah Willy. Pradita dikepung oleh kesembilan anak buah Willy.
“Baiklah, jika kalian ingin bertarung denganku keroyokan maupun satu lawan satu aku pasti layani. Akan tetapi jika kalian kalah, harus menjadi anak buahku, dan jika kau kalah, aku akan memberikan uang pada kalian masing-masing lima juta,” tantang Pradita lantang.
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Misi utama telah berhasil diterima secara otomatis dan tak bisa dibatalkan]...
...<>..................<>................<>...
...[Misi utama: Kalahkan semua geng yang berkuasa di Tangerang Selatan, dan rebut wilayahnya]...
...[Batas waktu: 30 hari]...
...[Hukuman: Kehilangan respek 100% dari Julius Aslan]...
...[Hadiah: Uang 10 milyar, 100% respek geng Zero Crime, 100.000 poin sistem]...
Willy dan kesembilan anak buahnya tersenyum licik, lalu memandang satu sama lain. Salah satu anak buah Willy yang berada di belakang Pradita segera menyergapnya untuk mengunci tubuh Pradita agar mudah dipukuli oleh teman-temanya.
Akan tetapi sebelum kedua tangannya menyentuh tubuh Pradita, pria berambut bergaya rambut harajuku tersebut sudah melompat tinggi ke belakang sambil menghantamkan ayunan ranting secara vertikal dari atas ke bawah.
“Teknik Naga Besukih!” seru Pradita.
Suara hantaman ranting itu cukup keras, dan membuat anak buah Willy jatuh tertelungkup ke permukaan tanah yang ada kotoran tahi ayamnya. Setelah mendarat sempurna di belakang anak buah Pradita yang sudah tertelungkup, Pradita melesat sambil menebas badan ketiga anak buah Pradita dengan tebasan ranting sekuat tenaga.
“Aaakh!” pekik serentak ketiga anak buah Willy.
Hanya dengan sabetan sebatang ranting pohon, ketiga anak buah Willy terpental. Bahkan ada yang menabrak pohon, pagar bambu, serta masuk ke dalam tong sampah.
Melihat Pradita hanya dalam beberapa detik berhasil menumbangkan keempat kawannya. Kelima anak buah Willy agak gentar, tetapi Willy melotot ke arah mereka untuk segera maju menghajar Pradita.
Dengan rasa terpaksa, kelima anak buah Willy maju dan mendaratkan pukulan bertubi-tubi ke arah Pradita. Pukulan-pukulan tersebut hanya mengenai ruang kosong.
Apalagi Pradita begitu lihai menggunakan teknik weaving, yakni memiringkan kepala dan badannya, untuk menghindari setiap pukulan yang mengarah ke kepala, dada, dan kedua bahunya. Pradita mengulas senyum simpul untuk mengejek mereka berlima, karena tidak ada satupun pukulannya yang berhasil mengenai Pradita.
“Hanya ini kemampuan anggota Geng Zero Crime? Sampah, benar-benar sampah!” ejeknya sambil mengacungkan jempol kiri ke bawah.
Mereka semakin emosi diejek oleh Pradita. Hingga menyerang pria berambut hitam legam tersebut dengan tendangan, serta pukulan yang sangat brutal.
Lagi-lagi pukulan dan tendangan tersebut berhasil dihindari oleh Pradita dengan berjongkok, memiringkan kepala, melompat, dan juga berguling ke kanan serta ke kiri.
Mereka berlima tentu saja kelelahan. Bahkan nafasnya terdengar tersengal-sengal sambil membungkuk. Dada mereka kembang-kempis, serta cairan bening bercucuran di sekujur tubuhnya.
“Teknik Naga Wanabaya!”
Saat itu pula Pradita melesatkan serangannya kembali ke arah mereka berlima. Tidak lupa Pradita menyerang balik dengan melakukan tebasan cepat secara horizontal ke dada mereka satu persatu.
Suara hantaman ranting tersebut sangat keras. Bahkan bisa membuat kelima anak buah Willy terlempar sepuluh meter dari tempat berdiri mereka masing-masing.
Willy dan Helly serentak melebarkan mata, melihat kehebatan Pradita mengalahkan sembilan anggota geng mafia Zero Crime yang terkenal ganas di wilayah kecamatan Serpong.
"Apa! Tidak mungkin!" kata Willy dan Helly serentak tersentak kaget.
Willy sangat paham terhadap kesembilan anak buahnya yang merupakan petinggi di geng mafia Zero Crime yang terkenal ganas. Makanya dia tidak percaya melihat kesembilan anak buahnya yang sangat dipercayainya itu berhasil dikalahkan.
Hanya dalam beberapa menit oleh Pradita. Bahkan hanya dengan menggunakan sebatang ranting. Pradita tersenyum simpul ke arah Pradita dengan memainkan telunjuk kirinya untuk memprovokasi Willy.
"Berhenti!" teriak Helly yang sudah tidak mau lagi melihat pertarungan antara Pradita dan Willy.
Baginya kekerasan tidak bisa menyelsaikan masalah, hanya akan menambah masalah dan masalah lagi. Bahkan sampai keduanya saling membunuh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
amore💞💞
ini udh mulai ngawur aja ... yg satunya blm kelar udah ada lagi ... jdi bertumpuk jdi gaknkaruan alurnya .... protes dikit ... biar gak percuma nulis novel ....hehehehe
2023-07-26
1
ɪᴍ᭄ꦿRIZAL_VAN_BRAMASTA
Yang di episode awal bundir terjun ke air siapa ya?
2023-07-04
0
Jimmy Avolution
Nice...
2023-06-14
0