“Oh, My Good! Kamu tampan sekali. Ya sudah ayo berangkat!”
Tanpa meminta izin Rea langsung naik dan duduk di jok bagian belakang. Sebenarnya Pradita agak risih dengan gadis-gadis agresif.
“Mbak, pakai helm dulu ya!” sergahnya halus.
“Tidak usah. Aku ingin lihat wajah tampan, Masnya. Kalau memakai helm, aku tidak bisa dengan intens dan jelas menatap wajah Masnya.”
Rea mengungkapkan sebuah alasan dan menurut Pradita alasannya itu aneh. Bahkan menunjukan bahwa dirinya terlalu agresif.
Pradita hanya bisa menghela nafas panjang dan menuruti keinginan Rea, meskipun itu melanggar aturan. Dia melajukan motornya cukup pelan di kecepatan 20-40 km/jam menuju apartemen Cisauk City yang bersebelahan dengan stasiun KRL Cisauk.
Rea terus berbicara sepanjang jalan dan Pradita hanya terus mengangguk menanggapi pembicaraan yang dilontarkan oleh Rea. Setelah sepuluh menit perjalanan, motor yang dikemudikan oleh Pradita sampai di depan apartemen Cisauk City.
Akan tetapi, Rea mengatakan sesuatu yang membuat Pradita tercengang, “Mas, mau tidak temani aku selama 1 jam saja di kamarku?” pinta Rea dengan mata berkaca-kaca.
“Ma-maksud, Mbak?” Pradita bingung dengan mata melebar. Dia mencoba tidak berpikiran mesum terhadap permintaan Rea. “Tetapi aku harus narik dulu, Mbak.”
“Tenang saja. Aku hanya butuh Mas buat menemani aku ngobrol dan aku bayar satu juta, apa Mas mau? Janji aku tidak akan macam-macam,” kata Rea sambil mengacungkan dua jari tanda dia bersumpah.
“Wah, kapan lagi aku bisa dapat satu juta cuma buat temani ngobrol. Harusnya sih masuk dalam omset misi sistem, kan belum dibayar,” batin Pradita dengan tersenyum simpul.
Kemudian dia menjawab permintaan Rea, “Baiklah, Mbak. Aku setuju satu juta untuk satu jam, ya. Aku parkirkan dulu motorku di tempat parkir.”
Setelah memarkirkan motornya di tempat parkiran, mereka berdua menuju unit apartemen milik Rea di lantai dua puluh dengan nomor unit 332.
Pradita pun dipersilahkan masuk dengan sangat ramah oleh Rea. Ternyata udah ada teman-teman wanitanya yang sangat cantik bak model-model internasional. Pradita langsung berpikir buruk dan dirinya merasa akan dijadikan arisan brondong.
“Walahyung! Kenapa disini ada banyak wanita cantik? Apakah aku akan digilir, cinta? Sial, aku malah terjebak di tengah-tengah mereka.”
Teman-teman wanita Rea yang berjumlah sembilan orang langsung menatap Pradita dengan tatapan penuh minat, dan ada pula yang menatapnya dengan mesum. Rea langsung melotot ke arah teman-teman wanitanya itu.
Mereka memang sedang minum teh bersama sambil bergosip ria. Namun tatapannya menakutkan bagi Pradita.
Pradita ditarik tangannya ke balkon dan diminta duduk. Sementara Rea ke dapur untuk menyiapkan teh, dan juga cake untuk mereka berdua sambil ngobrol.
Mereka duduk saling berhadapan, Rea duduk tegak dengan paha disilangkan dengan tatapan mata tiba-tiba berubah tajam ke arah Pradita.
“Mas, apakan anda mau menjadi Brand Ambassador perusahaanku yang bergerak di bidang kecantikan?” pinta Rea.
“Maksud Mbak, model yang memasarkan produknya dan mencitrakan perusahaan Mbak, gitu?”
“Ya, ternyata kamu bukan hanya sangat tampan tapi juga cerdas.”
Keduanya menyesap teh di tangan masing-masing. Entah mengapa Pradita sangat antusias dengan tawaran yang ditawarkan oleh Rea untuk menjadi Brand Ambassador perusahaannya.
“Tentu, makanya aku tidak meminta uang atas kontrakku. Akan tetapi aku minta uang dengan kontrak selamanya, yakni 10% saham milik perusahaan milikmu. Aku memang bukan seorang model, apalagi ahli dalam strategi perusahaan. Akan tetapi aku bisa menjamin minimal omset dan laba kenaikan perusahaan Mbak akan naik 10% dalam satu tahun—”
“Omong kosong! Pergi!” Rea marah dengan permintaan Pradita dan menaruh uang satu juta yang telah dijanjikannya, “Keluar!”
Pradita mengulas senyum lebar menanggapi amarah Rea, dan mengambil uang satu juta yang telah dijanjikan oleh Rea.
“Selamanya aku tidak akan memberikan saham perusahaan pada siapapun, walaupun kondisinya saat ini sulit,” batin Rea sambil melirik tajam Pradita yang berjalan ke arah pintu apartemennya.
......................
...Delapan jam kemudian....
Pradita sangat kelelahan setelah menjadi ojek selama delapan jam tanpa henti. Aplikasi gojek di ponsel UR Predacon membuatnya tidak memberikan jeda sedikitpun.
Selama delapan jam Pradita mendapatkan 50 orderan jarak dekat hanya berputar-putar di kawasan BSD City. Anehnya semua penumpangnya wanita. Ada yang masih gadis, ada pula yang sudah punya suami atau pun janda.
Sekarang Pradita sedang beristirahat di lantai foodcourt Aeon Mall untuk mengisi perutnya. Ia menatap saldo aplikasi gojek miliknya yang sudah mendapatkan uang total 5 juta.
“Banyak juga ya sehari bisa dapat lima juta. Walaupun ongkosnya cuma 10 ribu, tetapi tips dari penumpang beserta bonus dari aplikasi gojek atas pencapaian orderan ini cukup banyak,” gumam Pradita yang sudah selesai makan di KFC.
Matanya tiba-tiba tertuju pada salah satu wanita yang dikenalnya. Terlihat ia sedang bertengkar di samping restoran yang berdampingan dengan KFC.
Teman prianya terlihat sangat marah dan menggebu-gebu. Pradita mendekatinya, dan tepat saat Pradita dekat, teman laki-laki Nira melayangkan tamparan ke pipi Nira, tetapi ditangkap oleh Pradita.
Pradita langsung membalikan tangan Hiro dengan sangat kasar dan menatapnya tajam, “Jangan sakiti cucu Kakek Astra! Kalau tidak, kau berhadapan denganku!”
Nira menangis dan langsung memeluk Pradita membuat Hiro semakin marah dibutakan perasaan cemburu di dalam hatinya.
“Aku akan ingat wajahmu dan akan memburumu dimanapun!” ancam Hiro menunjuk tegas dengan telunjuknya ke arah wajah Pradita.
Kemudian Hiro pun pergi dengan perasaan marah sambil menelepon seseorang.
“Seharusnya kamu tidak berkata seperti itu. Hiro adalah pria yang nekat dan suka memukul siapapun yang dianggapnya mendekatiku, hiks-hiks …,” kata Nira masih menangis sesenggukan.
“Aku tidak peduli. Kakek sudah menolong dan melindungiku, seribu Hiro yang ada di dunia ini pun, pasti aku akan hadapi asal kamu tidak terluka,” balas Pradita sambil melepaskan pelukan Nira yang terlalu erat ke pinggangnya.
“Ayo kita pulang!” pinta Nira sambil menyeka cairan bening di kedua kelopak matanya.
“Aku akan menemui Kakek setelah urusan selesai, aku janji —”
“Bukankah urusanmu dengan kedua orang tuamu sudah selesai dan juga dengan Nabila juga sudah selesai?” potong Nira kesal pada Pradita.
Padahal dirinya mengharapkan Pradita bisa pulang ke rumah kakek Astra, supaya setiap hari dia bisa menikmati wajah tampannya.
“Sudah pulang!” Pradita mendorong punggung Nira, agar gadis berambut coklat tersebut segera pulang ke Rumah kakek Astra.
“Kakek pasti sangat mengkhawatirkanmu. Kalau sudah selesai kerja, lebih baik cepat pulang. Tidak usah mengkhawatirkanku.”
“Ya, tetapi kamu cepat pulang jika urusannya sudah selesai."
Sambil melambaikan ke arah Pradita, Nira berjalan cepat ke arah lift untuk menuju tempat parkir mobil yang berada dibawah.
"Aku harus segera menyelesaikan misi jadi pengemudi ojek online ini dan mencari uang yang lebih banyak untuk mendirikan sebuah perusahaan. Aku ingin menghabisi semua orang yang telah terlibat membunuh kedua orang tuaku. Aku harus menjadi orang yang berkuasa," batin Pradita sambil menggenggam kedua telapak tangannya erat-erat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
Pengguna system v.02
gw juga maau klo gituu mah, wkwkwk
2023-11-22
0
Ryan
gimana mau cepet kaya...kalo duitnya diporotin sama sistem sendiri🤣
2023-07-09
1
Jimmy Avolution
Nice...
2023-06-14
0