“Nabila!”
“Mas Pradita!”
Mata keduanya melebar dengan saling bertatap-tatapan. Tercium bau-bau hangus perasaan cemburu dari Nira yang juga mulai menyukai Pradita.
“Kenapa Mas Pradita ada disini?” tanya Nabila bingung.
“Kakek Astra sudah aku anggap seperti kakekku sendiri karena menyelamatkanku tempo hari. Berkat Kakek juga aku bisa menemukan rumah Nabila,” jawab Pradita.
Mendengar hal tersebut Nabila agak kesal, karena hubungan Keluarga Astra dengan Keluarga Nabila memang kurang baik. Gara-gara Ayah Nabila yang sudah meninggal menggelapkan aset Keluarga Astra, dan Nabila percaya kepada ayahnya, bahwa keluarga Astra yang sudah menipu mereka.
Ditambah lagi ada kasus dengan manajer Nabila, yaitu mengenai bodyguard yang disewanya. Kebetulan mereka berasal dari perusahaan Astra dan belum dibayar selama 6 bulan.
Untuk itu Nabila datang ke Kediaman Astra untuk mengklarifikasi hal yang sebenarnya. Apalagi gadis berambut perak tersebut merasa sudah membayar semua jasa melalui manajernya.
Pradita sudah bisa membaca keadaannya yang sudah menegang. Maka dari itu dia buka suara.
“Kakek, Nabila, mohon maaf sebelumnya. Aku memang tidak tahu masalahnya apa. Kalau boleh aku ingin membantu kakek dan Nabila untuk menemukan titik tengahnya. Silahkan, aku ingin mendengar semuanya!”
Kakek Astra memulai ceritanya dari awal sampai akhir mengenai aset yang telah digelapkan oleh Ayah Nabila. Surat-surat aset milik Kakek Astra pun dikeluarkan. Nabila juga mengeluarkan surat-surat yang menunjukan aset tersebut milik ayahnya yang ditipu oleh Kakek Astra.
Sekarang giliran Nabila menceritakan masalahnya tentang dirinya yang sudah membayar biaya jasa bodyguard di PT. Ambyara Perkasa dari awal hingga akhir.
“Sebenarnya masalah ini mudah menyelesaikannya,” kata Pradita dengan tersenyum tipis.
Kemudian dia melanjutkan, “Aku akan membeli aset milik Ayah Nabila, tetapi atas nama Kakek Astra. Masalah kedua aku yang akan melunasinya, tetapi aku memberikan syarat pada Nabila untuk memecat manajer tersebut. Silahkan buat dahulu surat perjanjian jual belinya!”
“Tetapi apakah kamu bisa membeli aset seharga 50 milyar tersebut? Dapat uang darimana?” sergah Nabila.
Ia menganggap solusi yang diusulkan Pradita hanya solusi omong kosong.
“Pokoknya berikan waktu sampai esok hari. Aku akan membereskan semuanya, jangankan 50 milyar, 100 milyar juga akan aku usahakan ada,” tegas Pradita dengan tersenyum lebar dan menunjuk ke arah dirinya sendiri.
"Tulis!" titah Nabila dan Kakek Astra serentak pada kedua pengacaranya.
Mereka mencoba mempercayai Pradita, walau ini terlampau mustahil. Namun, setelah Pradita menaruh ponsel UR Predacon berisikan surat digital kepemilikan saham BSD City 50%, mata mereka semua membelalak.
Surat digital tersebut ternyata sudah diperbaharui otomatis. Hanya butuh menyematkan tanda tangan dari Pradita, maka profit dividen sebanyak 50% itu akan cair besok, secara otomatis akan masuk ke akun rekening milik Pradita.
Kedua pengacara masing-masing yang mendampingi Kakek Astra juga Nabila mulai menulis surat perjanjian jual beli dan juga surat pelunasan. Keduanya merasa sedikit bernafas lega dan tidak harus saling melotot memperebutkan sesuatu yang belum pasti adanya.
Apalagi saling lapor-melaporkan satu sama lain yang ujung-ujungnya mengeluarkan banyak biaya. Kakek Astra, Nabila, dan Nira tidak menyangka pria yang dianggapnya miskin tersebut ternyata mampu meluluhkan hati CEO Julius Aslan.
Padahal ia terkenal sangat susah didekati. Anehnya Pradita justru sampai bisa mendapatkan 50% saham dari BSD City.
“Sudah tidak usah dibahas bagaimana cara aku mendapatkan saham tersebut, aku sendiri juga tidak paham. Akan tetapi satu hal yang aku minta dari Kakek, aku harap Kakek mau menemaniku esok hari untuk menemui Tuan Aslan di gedung BSD Grup —”
“Aku ikut!”
“Aku juga ikut!”
Nabila dan Nira tidak mau kalah. Mereka ingin ikut juga menemani Pradita menemui Julius Aslan.
“Nona aktris yang terhormat, bukankah Anda itu sangat sibuk dengan dunia keartisan Anda —”
“Nona Maheswari yang terhormat, bukankah Anda juga sangat sibuk dengan cabang perusahaan yang baru anda resmikan?”
Keduanya saling menatap tajam seperti ada dua sinar laser yang saling beradu dan sama-sama tidak ada yang mau mengalah.
Kakek Astra yang melihatnya, hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. Menatap dua gadis cantik yang tidak mau mengalah untuk memperebutkan Pradita.
“Sudah-sudah, Nira dan Nabila boleh ikut, tetapi kalau kalian ada waktu longgar,” tegas Pradita dan membuat kedua gadis tersebut melunak.
“Terima kasih Tuan Astra, aku berharap masalah ini sudah selesai, dan kita bisa bekerja sama lagi di lain waktu. Aku meminta maaf jika memang manajerku telah berbuat buruk pada staf-staf Tuan Astra,” kata Nabila sambil membungkuk hormat ke arah Kakek Astra.
“Aku juga meminta maaf pada Nona Nabila yang telah menuduh Nona yang bukan-bukan. Aku juga berharap masalah ini sudah selesai, dan kita bisa bekerja sama di lain waktu,” balas Kakek Astra sambil membungkuk hormat juga ke arah Nabila.
Pradita dan Nira pun sangat senang melihat keduanya telah akur kembali. Terutama Nira yang tidak menyangka, jika Pradita punya solusi jalan tengah yang menurutnya terbaik. Walau harus mengorbankan dirinya sendiri demi keduanya, supaya tidak terjadi konflik yang berkepanjangan.
Tiba-tiba Pradita mendapat kabar dari rumah sakit, bahwa Helly telah sembuh dan boleh diizinkan pulang. Namun Helly ingin menemui Pradita, dan mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan nyawanya dari para jambret.
“Kek, Nabila, dan Nira serta Bapak pengacara, aku ijin undur diri. Aku harus ke Rumah Sakit, temanku sudah siuman dan boleh pulang. Aku harus mengantarkannya pulang,” kata Pradita sambil menunduk hormat.
Muka Nabila dan Nira langsung cemberut, karena Pradita harus pergi meninggalkan mereka berdua. Baru saja kedua gadis cantik itu senang bertemu Pradita, malah harus kesal karena Pradita harus pergi lagi meninggalkan mereka berdua.
“Mas Pradita, kenapa kamu tidak peka sih?” batin Nira kesal.
“Mas, kenapa kamu selalu kabur-kaburan terus? Baru saja aku bisa ketemu denganmu, sekarang kamu sudah pergi lagi, dasar!” batin Nabila lebih kesal dengan urat otot di dahinya yang menonjol besar.
Kini punggung Pradita sudah tidak tampak lagi oleh mereka. Karena sudah keluar dari Rumah Kakek Astra menuju rumah sakit OMNI Internasional yang hanya berjarak 5 menit perjalanan.
Sesampainya di lobby Rumah Sakit, Pradita telah melihat Helly sedang duduk menunggunya. Matanya berkaca-kaca, dan senyumnya melebar saat melihat Pradita berjalan cepat ke arahnya.
"Mas!" panggil Helly.
"Ya, kamu sudah tidak apa-apa?” tanya Pradita melihat tangan kanannya diperban dan tangan kirinya membawa bungkusan plastik berisi obat. “Aku antarkan kamu pulang ya!”
“Tapi, Mas —”
“Sudah, aku antarkan pulang. Kamu tidak usah pikirkan biayanya, tadi ada setan lewat terus ngasih uang buat biaya pengobatan kamu, hehehe …,” potong Pradita sambil terkekeh pelan.
"Te-terima kasih Mas. Andai saja kakakku seperti Mas, pasti aku …."
Helly menyeka air matanya mengingat kakaknya Willy yang hidupnya hanya berkelahi, berjudi, dan mabuk-mabukan. Willy juga tidak pernah memperdulikan Helly yang ingin kuliah, tetapi tidak punya biaya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
Razali Azli
wanita kadang² menyusahkan
2023-08-25
1
Alghifarrie
wajah Pradita kayak semar mesem. klepek-klepek terus buat cewe
2023-06-18
0
Jimmy Avolution
Ayo...
2023-06-14
0