Pradita diam saja diperlakukan seperti itu. Dia membalasnya hanya dengan tersenyum, dan menantang, “Kalau aku bisa membayar cash, aku ingin Anda keluar dari tempat kerja? Apakah Anda siap?”
“Tuan, sudah tidak perlu diperpanjang lagi. Aku meminta maaf atas nama senior Nisa dan perusahaan Astra Motor atas perlakuan yang kurang menyenangkan,” sergah Vivian sambil membungkuk hormat.
“Vivian tolol! Aku ini berkata benar dan tidak usah mencampuri urusanku!” bentak Nisa sambil melayangkan tamparan ke arah Vivian yang masih membungkuk hormat ke arah Pradita.
Tangan Nisa langsung ditangkap oleh Pradita dan dikembalikan lembut ke arah dada Nisa, “Nona, jangan suka bermain kasar. Ini urusanku dengan Nona. Terima atau tidak!” katanya sambil tersenyum licik.
“Tentu saja. Aku jamin kamu tidak akan mampu bayar cash atas pembelian motor Advantage 150 itu,” cibir Nisa sambil mencebikan bibir ke arah Pradita.
Pria bergaya rambut harajuku tersebut mengusap lembut rambutnya ke belakang. m
Menampilkan sisi maskulin wajahnya yang mirip opa-opa korea tersebut.
Matanya mengerling ke arah Vivian yang sudah tegak berdiri. Lalu mengeluarkan uang 45 juta dari sakunya dan menyodorkan uang tersebut ke depan muka Nisa.
“Ini apa?” kata Pradita tersenyum licik dan langsung membuat raut wajah Nisa pucat pasi dengan mata membola.
“A-apa! Ti-tidak mungkin!”
Tubuh Nisa gemetar dan langsung terduduk lemas. Dia masih syok berat melihat pemuda tampan tidak berkelas bisa mengeluarkan uang sebanyak itu.
Pradita mengalihkan perhatiannya ke arah Vivian yang juga matanya membelalak. Kemudian memberikan uang tersebut padanya.
“Mbak, tolong proses pembeliannya! Uang ini semuanya aku serahkan sama Mbak dan jika ada lebihnya buat Mbak yang sudi mempercayaiku.”
"Ba-baik, Tuan," sahut Vivian kembali sadar setelah disodorkan uang oleh Pradita dan menerimanya.
“Aku minta KTP Tuan sebagai persyaratan pembelian, dan mohon tunggu, ya!”
“Aku ulang kembali ya, Tuan transaksinya. Uang yang Tuan berikan 45 juta untuk pembelian motor Advance 160 ABS warna merah seharga 39 juta, tapi mendapatkan diskon sebesar 3 juta. Jadi tuan hanya membayar 36 juta,” sambungnya tiba-tiba meneteskan air mata.
“Kenapa, Mbak?” tanya Pradita bingung.
“Ka-karena Tuan telah memberikan uang sebanyak ini dan baru pertama kali aku menerimanya,” jawab Vivian sambil menangis sesenggukan.
“Membuat orang bahagia dan terharu itu ternyata mudah. Aku sendiri hanya anak yang selalu membuat kedua orang tuaku kecewa. Mungkin kalau aku tidak bermain judi, orang tuaku masih hidup dan aku bisa menyelamatkan mereka dari pembunuhan itu,” batin Pradita penuh sesal.
Melihat Vivian masuk ke dalam untuk memproses transaksi Pradita, Nisa pun ikut masuk ke dalam mau kabur dari Pradita.
"Eits, tunggu!" Pradita menarik kerah belakang SPG berwajah chubby tersebut, "Urusan kita belum selesai Nona. Cepat ajukan surat resign pada atasan Nona!”
Manajer Lim yang sedari tadi melihat gerak-gerik Pradita, Nisa dan Vinian dari monitor CCTV tiba-tiba datang, dan langsung menampar Nisa.
Suara tamparan itu sangat nyaring dan membuat sudut bibir Nisa mengeluarkan cairan kental berwarna merah.
“Tenang saja, Tuan. Aku yang akan memecatnya tanpa pesangon. SPG seperti dia itu hanya sampah dan aib bagi perusahaan. Kami meminta maaf atas perlakukan yang sangat tidak menyenangkan yang dilakukan oleh mantan karyawati kami,” kata Manajer Lim sambil membungkuk hormat ke Pradita, tetapi dicegahnya.
“Jangan begitu, Tuan. Pelanggan adalah raja, tetapi aku tidak pantas menerima bungkukan hormat dari Tuan,” sergah Pradita.
Keduanya merasa tidak enak dan canggung menatap satu sama lain. Untuk menghilangkan kecanggungan tersebut, Manajer Lim bertepuk tangan untuk memanggil penjaga keamanan.
“Tendang dia dari tempat ini!” teriak Manajer Lim sangat keras, hingga suaranya menggema di dalam showroom motor tersebut.
Kemudian Manajer Lim memeriksa kartu namanya pada Pradita, “Tuan, jika ada apa-apa hubungi aku. Terimakasih telah memberantas karyawan-karyawan kami yang berlaku tidak sopan pada pelanggan kami.”
Selama ini Manajer Lim tidak berani memecat Nisa. Apalagi ia tidak ada bukti yang konkrit saat Nisa menghina para pelanggan.
Nisa melakukan itu karena menganggap mereka tidak mampu membeli sepeda motor baik secara cash maupun kredit. Akan tetapi berkat Pradita, dia punya bukti untuk memecat Nisa yang selalu menyuap penjaga keamanan yang menjaga monitor CCTV.
“Terima kasih,” ucap Pradita sambil menerima kartu nama milik Manajer Lim dengan tersenyum lebar.
Pradita pun menerima motor Advance tersebut di tempat parkir khusus pembelian motor yang diberikan secara langsung oleh Vivian. Gadis berambut sebahu tersebut sangat berharap pada Pradita dan ingin berteman dengannya.
Bagi Vivian, Pradita adalah penyelamatnya, karena saat ini ibunya butuh biaya untuk berobat ke Rumah Sakit. Pradita seperti bisa membaca pikiran Vivian dan dengan sukarela dia memberikan nomor ponselnya yang baru di smartphone UR Predacon.
Setelah itu, Pradita mulai menyalakan aplikasi gojeknya untuk mencari penumpang. Misi menjadi pengemudi ojek online menurutnya terlalu berat. Apalagi target misinya dalam satu bulan harus mendapatkan 20 juta.
Baru saja Pradita keluar dari showroom dealer Astra Motor dan mengendarai motornya yang sudah diisi penuh bahan bakar, aplikasi gojeknya berbunyi.
“Mas, aku di depan tempat tunggu penumpang Aeon Mall ya, Mas,” tulis sang penumpang wanita bernama Rea.
“Baik, tunggu ya, Mbak. Dalam lima menit aku kesana,” balas Pradita.
“Kok lima menit sih, Mas, yang lama donk Mas, biar sama-sama enak mainnya,” tulis Rea dalam pesannya.
Seketika itu juga otak Pradita langsung traveling tidak karu-karuan melihat tulisan pesan Rea.
“Walahiyung! Kok malah gini, sih?” Pradita kesal dan menepuk jidatnya sendiri.
Kemudian dia menarik pegangan gasnya dalam-dalam menuju lampu merah The Breeze untuk putar balik ke arah Aeon Mall. Anehnya dalam layar aplikasi di ponsel UR Predacon tersebut sudah berisi nama driver, nomor kendaraan motornya, dan juga nama motornya sudah tertera sesuai kondisi saat ini.
Pradita dengan sangat mudah sampai di tempat tunggu penumpang Aeon Mall berkat ponsel UR Predacon yang selalu berbunyi dan memberitahukan arah yang akan dituju oleh Pradita. Ditambah lagi ponsel tersebut bisa menempel di dashboard motor, walaupun tidak memakai holder tempel gurita.
Pradita membuka kaca helmnya yang masih sangat baru, untuk mencari keberadaan Rea. Namun dia tidak menemukannya.
"Mbak, aku sudah sampai di tempat yang Mbak informasikan," tulis Pradita dalam aplikasi gojeknya.
"Mas pakai baju apa?" tanya Rea.
"Aku di sebelah driver gojek yang bawa motor Beat warna hitam."
Pradita kembali mencari keberadaan Rea dengan mata berkeliling. Akhirnya menemukan keberadaan Rea yang berada di depannya, hanya berjarak dua motor dari tempat Pradita memberhentikan motornya.
"Maaf Mbak Rea, ya?" sapa Pradita sambil tersenyum lebar dan membuat Rea langsung meleleh hatinya melihat senyum yang begitu manis dari seorang pria tampan berwajah opa-opa korea.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
Ya Fi
kog beat Thor prasaan tadi adv deh
2023-08-09
3
Jimmy Avolution
Ayo....
2023-06-14
0
MasWan
hasyeeekkkk meleh kyk es krim
2023-06-10
0