Pradita tersenyum sangat lebar setelah melihat panel hologram yang sangat banyak. Semua itu menunjukan status, serta keberhasilan dalam menyelesaikan misinya selama satu bulan. Kemudian dia berhenti di salah satu pedagang nasi uduk langganannya tersebut di dekat Mall Q-Big.
Selama dua puluh tuju hari kemarin, Pradita aman-aman saja dalam melayani penumpang dan tidak ada yang mengganggu.
“Rajin sekali kamu Dit. Pagi-pagi buta sudah narik —”
“Siapa yang narik, Kong? Aku butuh amunisi sebelum narik. Jujur Kong perutku ini sangat cocok dengan nasi uduk buatan, Engkong. Bagaimana kalau aku modalin Kong buat sewa ruko atau kios disini?” tawar Pradita kepada Engkong Sabeni.
Pradita sangat kasihan melihat pria tua renta berumur 65 tahun tersebut, tetapi wajahnya menolak tua. Ia bahkan masih terlihat segar bugar layaknya pria berumur 40 tahun.
“Waduh! Bagaimana ya, Dit? Engkong takut malah tidak laku setelah pindah ke ruko. Pasti harganya mahal dan dinaikin harga jual Produknya. Pelanggan Engkong nanti pada kabur, Dit,” tolak Engkong Sabeni.
“Ya, jangan dinaikin, Kong. Harga tetap, tetapi kita untung kecil tidak apa-apalah. Asalkan kita untung, walaupun kecil pelanggan juga bisa menikmati masakan nasi uduk Engkong, plus mereka juga bisa nyaman di tempat yang adem.”
“Masalah hitung-menghitung, Engkong serahkan saja padaku yang memiliki otak encer kaya tahi ayam ini, hehehe ….,” kata Pradita terkekeh pelan.
“Terus kamu nggak narik lagi?”
“Tidak, Kong. Capek. Ini juga banyak lebihnya, hanya dalam 20 hari aku dapat 30 juta dan 10 jutanya habis buat aku foya-foya ke yayasan anak yatim, hahaha ….”
Keduanya malah tertawa bersama mendengar Pradita mengatakan foya-foya. Akan tetapi foya-foyanya bukan ke sesuatu hal yang negatif, melainkan dipake untuk sesuatu hal yang positif, yakni menymbang yayasan anak yatim.
Setelah Pradita selesai makan, tiba-tiba ponsel miliknya berdering. Pradita mengambil ponsel UR Predacon tersebut dan mengangkatnya, “Halo, dengan Pradita Mahendra.”
“Maaf, Tuan Pradita Mahendra. Aku CEO BSD City, Julian Aslan. Maaf kami telat mengabari Anda, karena ada beberapa kendala teknis. Karena hal itu, kami memberikan 49% lagi saham BSD City pada anda Tuan Pradita —-”
Pradita pun kaget sampai terbatuk-batuk. Sebelumnya, ia sudah melihat angka profit dividen yang akan didapatkannya itu sangat besar dari ponsel ajaib miliknya itu.
1% saja dalam satu tahun dia telah mendapatkan 10 milyar dan esok hari adalah hari pembagian profit dividen untuk para pemegang saham BSD City.
Apalagi sekarang pihak BSD City ingin memberikan 49% sahamnya secara cuma-cuma pada Pradita dengan alasan yang tidak diketahui olehnya.
“Mohon maaf, Tuan Aslan. Apa alasan Anda memberikan 49% saham BSD City padaku?” tanya Pradita menyelidik.
“Mohon maaf, Tuan Pradita. Kami membutuhkan wajah baru seperti Anda."
"Kami percaya Anda bisa melakukannya."
"Untuk itu kami memberikan 49% saham kami, mengundang Anda untuk bertemu dengan kami dan membicarakan masa depan BSD Grup. Apakah Anda bersedia?” pinta Aslan.
“Astaga, aku belum pernah bertemu orang-orang penting. Mungkin aku harus meminta Kakek menemuiku atau meminta saran darinya,” batin Pradita bingung.
Setelah 10 detik berpikir, Pradita akhirnya menyetujuinya, “Baik, Tuan Aslan. Aku akan datang besok. Untuk tempatnya bagikan saja di nomor Whatsapp milikku ya!”
Aslan pun tidak berani mematikan panggilan teleponnya sebelum Pradita mematikannya. Begitu pula sebaliknya yang sama-sama sungkan untuk mematikan panggilan telepon. Dengan berat hati Pradita mau memutuskan panggilan Aslan, karena Aslan tidak berani mematikannya.
“Kong, aku ada urusan penting. Kong cari saja ruko di sekitar sini. Kalau sudah dapat kabari aku ya lewat nomor Whatsapp milikku.”
Setelah mengatakan hal tersebut Pradita memberikan uang pecahan 100.000 pada Engkong Sabeni. Selama dua puluh hari kemarin dia selalu melakukannya, serta tidak pernah mengambil kembaliannya.
Berkat tindakan yang dilakukan oleh Pradita, Engkong Sabeni yang semula sedih karena sepi dagangannya, berubah jadi bahagia dan sumringah. Pradita sering mengajak kawan-kawan sesama profesinya untuk mampir ke warung nasi uduk Engkong Sabeni.
Akhirnya warung tersebut menjadi ramai setiap pagi. Bahkan baru pukul delapan pagi, jualan Engkong Sabeni sudah habis ludes tidak bersisa.
Saat Pradita mengendarai motor menuju rumah Kakek Astra di Alam Sutera, ia melihat seorang wanita yang telah diincar oleh dua orang jambret. Instingnya memang sangat tajam dalam mendeteksi sebuah aksi kejahatan yang akan terjadi. Pradita pun berhenti tepat di depan wanita tersebut dan berpura-pura menawarkan ojek online.
“Mbak Mia ya? Mbak sudah pesan ojek online 'kan?” tanya Pradita.
“Maaf Mas, salah orang,” ketus gadis bernama Helly tersebut dengan wajah juteknya.
Akan tetapi kedua jambret tersebut nekat, walaupun sudah ada Pradita yang menghalanginya. Motor RX-King yang dikendarai oleh kedua jambret yang berboncengan tersebut melaju dengan cepat ke arah Helly dan ingin menabrak motor Pradita dari belakang. Lalu mengambil tas yang dijinjingnya.
Pradita terpental ke udara, tetapi berkat teknik Naga Besukih dia bisa mendarat dengan selamat di permukaan tanah. Namun, tidak bagi Helly, tas yang dijinjingnya berhasil direbut menggunakan celurit dan lengan kanannya tergores cukup sedang.
Pradita tidak sempat mengejar motor RX-king yang berhasil menjambret Helly, karena ban depan motornya terperosok masuk ke dalam parit. Pradita berlari cepat ke arah Helly yang sedang meringis kesakitan.
Ia memegangi lengan kanannya yang bercucuran darah. Pradita langsung membuka helm dan jaketnya, lalu membuka kaos untuk mengikat lengan Helly yang terluka.
“Mbak, tunggu disini! Aku mau mengeluarkan motorku dahulu dari parit!”
Dengan sekuat tenaga, Pradita bergegas mengeluarkan motornya dari parit. Lalu berputar arah untuk membawa Helly ke Rumah Sakit Omni Internasional secepat mungkin.
“Mbak, pegangan yang kencang!”
Helly memegang pinggang Pradita sangat kencang. Apalagi Pradita melajukan motornya terlampau cepat, walaupun di jalanan yang cukup padat.
Sesampainya di depan Rumah Sakit OMNI Internasional, Pradita memarkirkan motornya secara sembarang. Kemudian menggendong Helly yang wajahnya sudah seputih kertas, karena hampir kehabisan darah menuju ICU Rumah Sakit.
“Suster! Suster! Tolong tangani segera Nona ini! Aku akan segera membayar biaya administrasinya!” teriak Pradita panik.
Salah satu suster segera membawa brankar, walaupun Helly terus menggeleng untuk tidak dibawa ke ruang ICU. Ia merasa tidak akan mampu membayar rumah sakit OMI yang terkenal cukup mahal, tetapi punya kualitas yang sangat memadai sebagai Rumah Sakit.
Pradita sedikit tenang setelah Helly ditangani oleh pihak Rumah Sakit. Ia pun bergegas mengurus biaya administrasinya.
Setelah selesai mengurus biaya administrasi Helly, Pradita pun pergi meninggalkan Helly. Ia akan menjenguknya kembali ketika sudah berbicara dengan Kakek Astra.
Setelah melajukan motornya selama lima belas menit, Pradita tiba di Rumah Kakek Astra. Ia melihat mobil yang sangat dikenalinya, yakni mobil milik Nabila.
Pradita bergegas masuk dan ingin memastikan apakah memang Nabila sedang berada di dalam mansion milik Kakek Astra. Akan tetapi ia bingung apa yang sedang dilakukannya di sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
Jimmy Avolution
Terus...
2023-06-14
1
MasWan
wah auto jadi bos developer nih pradit, bsd city lg
2023-06-12
0
Taufik Hidayat
thor gw tunggu Up berikutnya
2023-06-10
1