“Chok! Van! Ngomong apa sih kalian berdua? Aku Pradia bukan setan dan aku masih hidup,” sergah Pradita kesal.
Ia pun menjewer telinga kiri Choki dan telinga kanan Rivan untuk membuktikan bahwa dirinya memang masih hidup. Choki dan Rivan hanya bisa melebarkan mata sambil memandangi tubuh Pradita dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Pra-pradita? Beneran ini kamu?” ucap mereka berdua masih dengan mata membola.
“Ya iyalah, kamu kira aku setan! Sudah, kita bicara di pos ronda aja! Aku ingin bertanya pada kalian berdua.”
Pradita pun menarik telinga mereka masing-masing untuk menggiring Choki dan Rivan kembali ke pos ronda. Kedua orang pengangguran berat akhirnya percaya setelah melihat telapak kaki Pradita ketika berjalan.
Ternyata kakinya tidak melayang dan masih menapak di permukaan tanah. Bahkan tangannya terasa hangat saat menjewer telinga mereka. Akhirnya keduanya didudukan di sebuah kursi panjang yang berada di pos ronda dan langsung diinterogasi oleh Pradita.
“Choki! Rivan! Aku mau tanya, rumahku sekarang siapa yang menempati?” tanyanya dengan sorot mata yang tajam.
“Kamu pulang sama saja nyari perkara Pradita,” jawab Choki tetapi tidak nyambung dengan hal yang ditanyakan dengan Pradita.
“Ya, Dit. Nyari perkara kamu. Mending ikhlasin saja kematian kedua orang tuamu beserta rumahmu. Orang tuamu tidak mati gantung diri, tapi dibunuh ….”
Mulut Choki langsung dibekap oleh Rivan, “Sssst! Jangan keras-keras tolol! Apa kamu juga mau bernasib sama seperti Pak RT Jumadi yang hilang satu bulan yang lalu karena melaporkan kejadian sebenarnya dengan kedua orang tua Pradita?”
...[Tongteng ... Tongteng]...
...[Misi utama diterima secara otomatis dan tak bisa dibatalkan maupun ditolak]...
...<>.................<>.................<>...
...[Misi: Temukan dalang pembunuhan kedua orang tua host]...
...[Batas waktu: 3 hari]...
...[Hukuman: Rambut atas dan bawah milik host botak seumur hidup]...
...[Hadiah: Mobil Toyota Calya, skill Mengemudi, skill Detektif, 10 poin kecerdasan dan uang 5 juta]...
...<>.................<>.................<>...
“Jadi kedua orang tuaku bukan mati karena aku yang keterlaluan main game slot?” tanya Pradita dengan mata membulat.
Seketika Choki dan Rivan bungkam seribu bahasa. Mereka tidak berani mengatakan siapa pelaku yang telah tega membunuh kedua orang tua Pradita.
Choki yang tidak tega langsung memeluk Pradita sambil berbisik, “Jika kamu ingin tahu, perhatikan mantan pacarmu yang telah menikah dengan anak juragan Jarwo. Itu saja yang aku bisa beritahu.”
“Terima kasih.” Pradita pun melepaskan pelukan Choki dan memberinya uang sebesar satu juta. “Ini untuk kalian berdua sebagai ucapan terima kasihku.”
Setelah memberikan uang kepada Choki, Pradita memutuskan untuk pergi ke arah rumahnya. Akan tetapi di kejar oleh Choki agar tidak pergi ke rumahnya.
Akhirnya Pradita pun pergi keluar dari wilayah Desa Jagapura Lor dan pergi ke Desa Kedokan Bunder di Indramayu. Setahu Pradita, Nesa dan anak Juragan Jarwo bernama Riko memang punya rumah disana setelah mereka menikah.
Kondisi fisiknya yang lelah, tidak menghalangi tekad Pradita untuk menemukan secercah harapan mengenai siapa dalang pembunuhan kedua orang tuanya. Ia harus secepatnya menemukan pelaku tersebut.
Pradita melajukan motornya dengan kecepatan tinggi menyusuri jalanan yang sangat gelap. Apalagi daerah itu terpisah oleh jalanan yang tidak mempunyai penerangan. Dikarenakan itu merupakan jalan sempit, di sisi kiri dan kanannya terdapat hamparan sawah yang sangat luas.
Rupanya ia tidak sendiri, ia ikuti oleh dua pembegal motor yang menggunakan motor Honda Beat. Namun, Pradita yang sudah menyadari jika dirinya sedang diincar. Dengan segera ia menarik pegangan gas motornya dalam-dalam.
Pradita bisa bernafas lega, saat dirinya berhasil masuk Desa Gopala, karena masih banyak orang yang lalu lalang. Kemudian berhenti di salah satu kedai angkringan yang masih buka untuk beristirahat. Tidak lupa ia menghubungi wanitanya yang berada di Desa Kedokan Agung untuk numpang tidur.
Prisilia yang memang menyukai Pradita sejak waktu SMP, langsung setuju ketika ia ingin menginap di rumahnya. Prisilia yang bahagia, berinisiatif untuk datang menjemput Pradita dengan mobil miliknya.
“Bang, Susu jahe!” pinta Pradita sambil duduk diatas tikar yang sudah disediakan.
“Oh, ya sama sayap bakar dan juga ati ampela bakar, ya!”
“Siap, bos.”
Penjual angkringan itu segera menyiapkan apa yang sudah di pesan oleh Pradita. Saat Pradita sedang menunggu pesanannya, tiba-tiba mobil Mercy CLK 500 berwarna perak berhenti di depan kedai angkringan.
Dari dalam mobil, keluarlah seorang wanita yang memakai piyama berwarna biru, dengan rambut coklat lurus sepinggang. Hal itu sampai membuat penjual angkringan melongo.
“Pradita!” panggil Prisilia dengan senyum merekah dan bibirnya yang berwarna merah glossy itu cukup membuat Pradita terpana.
“Ya! Kemarilah kita makan bareng!” sahut Pradita sambil melambaikan tangannya ke arah Prisilia.
Prisilia sudah lama tidak bertemu dengan Pradita. Dengan segudang rindu yang terpendam, ia segera melangkahkan kaki dengan cepat ke arah Pradita.
Gadis bermanik mata coklat tersebut meraih tangan Pradita dan mencium punggung tangannya. Layaknya seorang istri yang mencium punggung tangan sang suami yang dicintainya.
“Kenapa kamu sudah tidak menghubungi aku lagi?” tanya Prisilia agak kesal karena sudah satu bulan Pradita tidak menghubunginya.
Pradita pun menceritakan semua rincian kejadian yang terjadi pada diri dan keluarganya pada Prisilia. Gadis itu langsung menangis. Terlihat jika tangisannya sangat tulus. Dia ikut merasakan kesedihan yang amat sangat, atas semua kejadian yang menimpa kedua orang tua Pradita.
Prisilia pun memeluk Pradita dan serasa dunia milik mereka berdua, “Hiks-hiks, aku turut berbela sungkawa atas kematian kedua orang tuamu. Untung saja kamu masih selamat, kalau kamu mati aku akan tinggal sendiri di dunia ini.”
Pradita baru kali ini melihat Prisilia menangis tulus di depannya dan membuat hatinya terenyuh. Dia tidak berani untuk melepas pelukannya apalagi menyindir Prisilia yang biasa dilakukannya sewaktu kuliah bersama di UNSWAGATI.
Penjualan angkringan pun menaruh pesanan milik Pradita dengan cepat, dan kembali ke gerobaknya. Ia tidak berani mengganggu dua insan yang sedang dilanda kesedihan mendalam itu.
“Andai hatiku tidak tertutupi oleh senyum Nesa yang palsu. Maka kedua orang tuaku tidak mati mengenaskan seperti ini. Bahkan aku bisa menerima hati dari seorang gadis seperti Prisilia yang begitu tulus mencintaiku, walaupun aku tidak ada rasa dengannya,” batin Pradita mencoba membelai rambut Prisilia tetapi diurungkannya.
Entah mengapa perasaan Pradita pada Prisilia begitu dingin. Ia hanya bisa menganggapnya sebagai sahabat. Padahal Prisilia gadis yang periang, sangat cantik, ramah, murah senyum dan memiliki tubuh yang begitu sintal serta padat dengan kulit putih mulus seperti giok kaca.
Pradita melepaskan pelukan Prisilia pada pinggangnya secara perlahan. Lalu menyeka kedua air mataya dengan tatapan yang sangat dingin sedingin puncak gunung Himalaya.
Kemudian menyuapi mulut gadis itu dengan penuh kelembutan. Ia sangat menghormati ketulusan Prisilia yang rela datang menemuinya, walaupun sudah larut malam.
“Makanlah! Aku sudah kenyang ketika melihat matamu merah karena menangis,” sindir Pradita dengan tersenyum simpul.
“Ih, kamu mah suka gitu. Aku jadi nggak cantik, ya?” Prisilia langsung tertunduk malu dengan menggembungkan pipinya dan membuat Pradita terkekeh pelan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
Inyoman Raka
sistim ngpil tapi gak pernah. gupol hehe
2023-12-22
0
Pengguna system v.02
istri 3 ya thoor, nira, nabila & priscilla
2023-11-22
1
Pengguna system v.02
agal lain inii hadiah mobiL nya bermasyarakat . wkwkwk mantaapp. bertahap thor nanti lanjut hadiah lambo
2023-11-22
0