Pradita turun dari angkot kuning sambil mengupil. Gayanya saja sudah seperti preman sombong. Namun, itu ditujukan ke arah anak buah Panji yang kepalanya masih tersangkut di jendela mobil angkot.
Kemudian, Pradita memberikan uang 1 juta rupiah kepada sang supir, dan berkata, “Ini Bang sekalian ongkos dan ganti rugi.”
Pradita melenggang santai sambil terus mengupil menuju rumahnya yang berada cukup jauh di ujung barat desa Jagapura. Anehnya suasana terasa sepi sekali dan terkesan mencekam.
Tidak ada satupun warga yang lalu lalang. Padahal ini pagi sekali dan biasanya warga beraktivitas pergi ke sawah.
“Kemana mereka semua? Apakah mereka diancam oleh Panji?” pikir Pradita.
Ya, Pradita sepanjang jalan mulai merangkai logika-logika aneh yang terjadi di Desa Jagapura. Mulai dari hilangnya Pak RT Jumadi, ketakutan-ketakutan para warga akan bukti kematian kedua orang tuanya yang dibunuh oleh Panji dan masih banyak hal aneh lainnya.
Maka dari itu pradita menyimpulkan para warga memang dalam tekanan ancaman Panji dan geng Mafia Cross. Akan tetapi, Pradita agak ragu jika harus berpapasan dengan anak buah geng Mafia Cross.
Apalagi mereka membawa senjata api, tetapi kalau bertarung dengan tangan kosong atau senjata tajam, mungkin Pradita masih berani melawannya.
“Bagaimana jika mereka sekarang ada di rumahku?”
Pradita menghentikan langkahnya sambil terus mengupil. Ia menyandarkan tubuhnya di salah satu tembok rumah warga. Pandangan matanya melirik ke kiri dan ke kanan.
Merasa aman, Pradita lari sekencang mungkin menuju rumahnya, tetapi lewat jalur belakang.
Saat melewati kebun kosong yang dipenuhi ilalang, benar saja Pradita melihat banyak anak buah Panji dan anak buah geng mafia Cross berjaga di depan, samping kiri dan samping kanan rumahnya.
Pradita merangkak melewati ilalang tersebut untuk menuju ke belakang bagian rumahnya, supaya tidak diketahui oleh anak buah Panji dan anggota geng Mafia Cross.
“Kemungkinan besar Pak RT Jumadi menyimpan sebuah bukti di dalam gundukan tanah tersebut. Kalau ini ketemu dan aku memberikan pada polisi yang tepat. Aku bisa menjebloskan mereka semua ke penjara,” gumam Pradita dan terus merangkak melewati semak-semak dan ilalang.
Dia berjongkok setelah melewati semak-semak dan ilalang. Matanya berkeliling mengamati keadaan sekitar.
Kemudian berguling sambil mengambil ranting. Ia akan berhenti berguling saat sudah sampai di belakang pohon yang ada gundukan tanah.
Pradita dengan perasaan was-was mulai menggali gundukan tanah yang masih agak basah tersebut, hanya dengan kedua tangannya.
Meskipun badannya tertutupi pohon besar tersebut dan tidak mungkin bisa diketahui.
Kepalanya terus menengok ke kanan dan ke kiri, takut ada anak buah Panji atau anggota geng Mafia Cross yang berjalan ke arahnya. Keringat membasahi kepala, tengkuk, dan wajah Pradita, serta berkata dengan nada panik, “Ayo cepat! Cepat! Galinya!”
Tangannya mengali dengan cepat bak seperti seekor anjing menggali permukaan tanah. Gumpalan-gumpalan tanah tersebut beterbangan ke belakang tubuh Pradita.
Hasilnya setelah sepuluh menit menggali, Pradita melihat sebuah kotak kayu berukuran 50 cm. Namun saat membuka kotak kayu tersebut, Pradita terlihat oleh salah satu anak buah Panji yang akan kencing di pohon yang sedang Pradita gali belakang permukaan tanahnya.
“Woy, apa yang kamu lakukan?”
Preman tersebut menatap nyalang Pradita dan langsung melayangkan tendangan ke kepala Pradita yang sedang jongkok mau membuka kotak kayu tersebut. Pradita berguling ke kanan.
Beruntung tendangan preman tersebut hanya mengenai ruang kosong. Dia langsung bangkit dan nekat lari sekencang-kencangnya ke arah bagian depan rumahnya.
Anggota geng mafia Cross dan anak buah Panji tersentak kaget melihat Pradita berlari membawa sebuah kotak kayu. Mereka menarik parang dan pistol mereka. Kemudian mengejar Pradita yang sedang berlari cepat ke arah motornya yang masih terparkir di depan rumahnya.
“Cepat! Cepat!” Pradita memasukan kunci motornya dengan sangat panik sambil menoleh ke arah anggota geng mafia Cross.
Dia tidak takut dengan anak buah panji yang sedang berlari ke arahnya sambil membawa parang. Namun dia takut dengan anggota geng Mafia Cross yang sedang menodongkan pistol ke arahnya.
Suara letupan senjata api bersahutan satu sama lain. Bahkan peluru-peluru tersebut hampir saja mengenai kepal Pradita.
Pria berambut hitam itu berhasil menghindari setiap peluru yang melesat ke arahnya, berkat pandangan matanya yang berubah aneh. Yakni ketika melihat proyektil-proyektil peluru yang melesat ke arahnya itu menjadi sangat lambat, seperti melihat gerakan lambat dalam suatu adegan film aksi.
Akhirnya, motor yang dikendarai oleh Pradita tersebut berhasil nyala. Seketika Pradita menarik pegangan gasnya dalam-dalam.
Dua orang anak buah Panji yang mau menghadangnya pun langsung melompat ke samping, takut ditabrak oleh Pradita. Motor itu melaju kencang dan hampir saja Pradita menabrak pagar salah satu tetangganya.
Dia melajukan motornya seperti orang yang sedang dikejar oleh setan, sangat cepat. Walaupun itu di dalam jalanan pedesaan.
Pradita terus menengok ke belakang. Dia takut anggota geng Mafia Cross dan juga anak buah Panii yang sedang mengejarnya.
Saat ini dalam pikirannya adalah kabur ke tempat yang aman.
Saat itu kebetulam Nikita yang sedang duduk di pos tukang ojek pangkalan. Ia bisa melihat Pradita yang sedang bingung sambil mengendarai motornya cukup pelan, karena merasa sudah aman.
“Mas!” panggil Nikita yang tidak didengar oleh Pradita.
Nikita langsung mengejar Pradita dengan mengendarai motornya, sambil menekan tombol klakson untuk memanggil Pradita, “Mas! Mas Pradita!”
Pradita pun menoleh ke belakang dan ia langsung memberhentikan motornya. Apalagi setelah melihat Nikita sedang mengejarnya.
“Ada apa?” tanya Pradita bingung dan mematikan mesin motornya.
“Kamu mau kemana, Mas?” Nikita justru balik bertanya.
“Aku menemukan bukti-bukti tentang kejahatan mertua mantan tunanganku. Dia dalang dari pembunuhan kedua orang tuaku. Aku akan memberikan bukti-bukti ini ke kantor polisi—”
“Jangan, Mas! Jika ingin melaporkan pembunuhan yang melibatkan Tuan Panji lebih baik melaporkannya langsung ke Polres, bukan di Polsek. Soalnya akan sangat beresiko …,” potong Nikita tetapi tidak melanjutkan penjelasannya.
Beruntung Pradita paham tentang apa yang ingin disampaikan oleh Nikita. Apalagi mengenai Panji yang sudah menguasai dua polsek sekaligus dengan hibah barang bernilainya.
"Itu ada burung!" teriak Pradita menunjuk ke atas dan Nikita pun ikut melihat ke atas.
Melihat pandangan Nikita teralihkan, secepat kilat Pradita mengeluarkan semua isi di dalam kotak kayu tersebut. Kemudian menyimpannya ke dalam inventaris sistem
...[Tongteng ... Tongteng]...
...[Misi utama berhasil di selesaikan]...
...<>.................<>.................<>...
...[Misi: Temukan dalang pembunuhan kedua orang tua host]...
...[Batas waktu: 3 hari]...
...[Hukuman: Rambut atas dan bawah milik host botak seumur hidup]...
...[Hadiah: Mobil Toyota Calya, skill Mengemudi, skill Detektif, 10 poin kecerdasan dan uang 5 juta]...
...<>.................<>.................<>...
...[Tongteng …. Tongteng]...
...[10 poin kecerdasan telah ditambahkan ke status host]...
...[Uang 5 juta rupiah telah ditambahkan ke saldo sistem]...
...[Mobil Toyota Calya beserta kunci dan surat-surat sudah ditransfer ke inventaris sistem]...
...[Memotong uang 100 juta dari saldo sistem untuk memasang skill mengemudi tanpa merasakan rasa sakit di kepala. Dimulai dalam 3 … 2 … 1 ….]...
...[0% … 25% … 50% … 75% … 100%]...
...[Pemasangan skill mengemudi berhasil dan menambahkan 1 poin kecerdasan]...
...[Memotong uang 100 juta dari saldo sistem untuk memasang skill detektif tanpa merasakan rasa sakit di kepala. Dimulai dalam 3 … 2 … 1 ….]...
...[0% … 25% … 50% … 75% … 100%]...
...[Pemasangan skill mengemudi berhasil dan menambahkan 1 poin kecerdasan]...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
Ryan
tem tem...percuma ngasih duit juga kalo diambil lagi...jadi sistem kok kikir pelit bin baqhil sihh...mending revisi dulu Thor kalo mau buat cerita tentang sistem biar si pembaca juga merasakan sensasi seperti punya sistem juga ....
2023-07-09
4
Buana Lukman
bagus langsung pro
2023-07-06
0
Bayu Adji
mahal banget skil mengemudi sampe 100 juta
2023-07-05
0