Setelah membersihkan diri, Pradita pun makan makanan yang dimasak dan dihidangkan sendiri oleh Nabila dengan sangat lahap. Entah mengapa ia merasa begitu dimanjakan ketika bersama Nabila.
“Sedap sekali masakanmu Nabila,” puji Pradita dengan mata berbinar-binar.
Baru kali ini dia makan masakan dari seorang wanita seenak ini. Nabila pun tersipu malu ketika dipuji oleh Pradita.
Kegiatan mereka berdua di meja makan terus disorot oleh para pembantu Nabila yang penasaran. Apalagi letak dapurnya dekat dan bersebelahan dengan jacuzzi.
“Aku sangat bersyukur jika kamu menyukai masakanku. Ayo, habiskan semua makanannya!”
Nabila pun menambahkan satu centong nasi lagi ke piring Pradita. Ia hanya melihat Pradita dengan tersenyum lebar.
Meskipun ia sendiri tidak ikut makan. Akan tetapi ketika melihat Pradita makan dengan sangat lahap, gadis berambut perak tersebut ikut kenyang.
“Boleh tidak, malam ini kamu temani aku tidur?” pinta Nabila.
Dalam sekejab Pradita pun tersedak. Apalagi saat mendengar permintaan Nabila, ia sedang minum. Rasa penasaran dengan ucapan Nabila, Pradita pun mencoba bertanya kembali padanya.
“Ha-ah! Maaf, apa tidak berbahaya jika tidur bersama? Aku pria dan kamu wanita. Kan bisa terjadi hal-hal yang diluar nalar?”
Namun, sekali lagi jawaban dari Nabila membuat Pradita tidak bisa tenang.
“Tidak apa-apa. Kalau kamu mau kita bisa melakukannya. Aku hanya ingin menikmati hari-hari bersamamu. Walaupun aku tidak punya apa-apa lagi, aku sangat bahagia asal bersamamu,” celetuk Nabila sambil tertunduk malu dengan kedua pipi sudah merah merona.
Pradita menghela nafas panjang, lalu berkata, “Baiklah, tetapi aku janji tidak akan macam-macam. Aku memang bajingan untuk kedua orang tuaku. Aku ingin berubah dan tifak ingin menyakiti siapapun lagi termasuk kamu Nabila. Aku menganggap kamu adalah penyelamat hidupku, dan aku mau membalas budi setiap tetes keringat yang kamu berikan padaku.”
Nabila pun merapikan piring bekas makan Pradita, lalu mencucinya. Pradita yang tidak enak hati bergegas membantunya. Apalagi Nabila sudah menyelamatkan, memberi uang, memberinya tempat tinggal, bahkan memberi Pradita kendaraan secara langsung.
Mereka berdua saling menatap sambil mencuci piring. Sesekali bahkan sampai membuatnya tersipu malu. Tentu saja hal itu membuat Pradita penasaran kenapa Nabila sangat menerima kehadirannya, hingga akhirnya ia pun memberanikan diri untuk bertanya.
“Nabila, kenapa kamu sangat memperhatikanku? Apakah menurutmu aku ini tampan?”
Nabila kebingungan menjawabnya. Apakah dia harus berkata jujur atau harus berbohong. Namun pada akhirnya dia menjawab juga.
“Sebenarnya wajah kamu mirip mantan pacarku yang telah meninggal. Namun meskipun kamu berbeda sifat 360 derajat, aku sungguh ….”
Nabila tidak melanjutkan perkataannya takut menyinggung dan melukai hati Pradita. Akan tetapi Pradita sangat penasaran, hingga wajahnya di dekatkan ke wajah Nabila dan membuat jantung gadis berambut perak tersebut berdetak tidak beraturan.
“Kamu sungguh apa?” tanya Pradita sekali lagi.
“Aku takut kamu tersinggung dan marah. Aku tidak berani. Verald memang wajahnya mirip denganmu dan aku sangat mencintainya. Akan tetapi aku sadar jika Verald telah tiada, dan kamu adalah orang lain. Aku hanya ingin memberikan ruang untukmu juga ruang untuk hatiku juga —”
Pradita langsung menaruh telunjuknya di bibir Nabila. Lalu memeluknya, “Aku memang bukan Verald yang kamu katakan. Tapi jika tubuhku bisa berguna untukmu dan membahagiakanmu, aku rela. Seharusnya sebagai seseorang yang menyelamatkanku, aku harus bertindak sesuai keinginanmu.”
Nabila sama sekali tidak berani memeluk balik. Namun, ia justru menangis tersedu-sedu dan bingung harus berkata apa.
“Pradita, aku minta maaf. Aku tidak ingin memanfaatkanmu, walaupun aku adalah orang yang menyelamatkanmu. Sungguh, aku menemukan cinta di wajahmu bukan karena Verald. Tapi aku jatuh cinta padamu, karena kamu bisa membuat aku nyaman melebihi Verald,” batin Nabila.
Pradita melepas pelukannya dan merasakan getaran hati dari Nabila. Kemudian dia menyeka cairan bening di kelopak matanya. Setelah itu menggendong tubuh Nabila ke kamarnya, lalu menaruhnya dengan lembut ke tempat tidur berukuran king size tersebut.
Mereka berdua saling berpelukan satu sama lain. Lalu memejamkan mata dan larut dalam kebingungan di pikiran masing-masing.
......................
...Keesokan paginya....
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Selamat, host mendapatkan uang dari mengupil sebanyak 1000 kali sebanyak Rp,200,000 dan sudah ditransfer ke inventaris sistem]...
Mendengar suara mekanis sistem, Pradita langsung terbangun dengan mata terbelalak.
“Sial, Sedikit amat uangnya,” gumam Pradita kesal.
Lalu mengeluarkan uang 100 juta dan menaruhnya di nakas, “Uang ini mungkin tidak bisa membayar alas budimu, Nabila. Akan tetapi setidaknya aku sedikit lega masih bisa berguna untukmu.”
Pradita mencium kening Nabila yang masih tidur pulas hanya sebagai seorang teman. Kemudian dia pergi menuju kamar tamu untuk membersihkan diri.
Setelah selesai dengan latihan pagi dan membersihkan diri. Pradita pergi keluar dari rumah Nabila dengan menyelinap diam-diam melompati dinding pagar Nabila setinggi sepuluh meter.
Berkat genome DNA Cheetah dan juga ilmu pedang sembilan Naga terbang tingkat dua, tubuh Pradita jadi lebih ringan dari kapas dan bisa melompat tinggi.
“Pertama kita harus beli motor baru. Namanya ojek online itu bukan memakai motor yang keren, tapi nyaman,” gumamnya sambil berlari cepat ke arah Astra Motor BSD City yang berjarak sekitar lima belas km dari rumah Nabila.
[Tongteng ... Tongteng]
[Selamat, host berhasil menyelesaikan latihan running in place selama 10 menit]
[Tongteng ... Tongteng]
[Selamat, host berhasil menyelesaikan latihan Knee drive sebanyak 50 kali]
[Tongteng ... Tongteng]
[Selamat, host berhasil menyelesaikan Push Up sebanyak 50 kali]
[Tongteng ... Tongteng]
[Selamat, host berhasil menyelesaikan latihan Squat jump sebanyak 100 kali]
[Tongteng ... Tongteng]
[Selamat, host berhasil mendapatkan 1 poin stamina]
Jarak kurang lebih lima belas km ditempuh hanya dalam 30 menit, karena Pradita bisa berlari cepat sampai 60 km/jam tanpa henti.
Pradita pun sampai di depan Astra Motor BSD City berkat melihat google map dan suasana di dalam dealer Astra Motor masih agak sepi.
Dia pun masuk dengan menundukan wajah. Apalagi ia hanya memakai sepatu biasa dan kaos bermerk, tetapi bentuknya biasa-biasa. Sehingga tidak ada kesan bahwa kaos berwarna putih, serta celana jeans berwarna hitam tersebut bermerk.
“Mau apa, Mas!” gertak SPG berwajah chubby.
“Aku mau beli motor secara cash,” jawab Pradita malu ditatap tajam oleh SPG tersebut.
“Mimpi! Wajah kau memang tampan. Tapi mana bisa membeli motor yang cukup mahal disini. Bahkan motor Honda Beat pun pasti kamu takan mampu beli,” sindir SPG berwajah chubby berkulit sawo matang tersebut.
Pradita pun tidak menghiraukannya dan terus berjalan ke sisi lain untuk mencari sepeda motor matic yang cocok, serta nyaman buat penumpang. Ada SPG lain yang sedang murung, tetapi berwajah sangat cantik dengan tubuh sintal. Ia tiba-tiba berpapasan dengan Pradita.
Dia sadar dan langsung tersenyum, “Khusus motor Advantage 150 cc, kalau Mas bisa bayar secara cash, akan ada diskonnya, lho."
Raut muka Pradita langsung sumringah mendengar kata diskon, dan membalas, “Baik, Mbak. Aku mau dan ini —”
Tangan Pradita yang sedang merogoh saku celananya langsung ditepis oleh SPG berwajah chubby, “Omong kosong! Kau lebih baik pulang. Lihatlah penampilanmu itu pas-pas mana mungkin bisa membeli motor cash, tolol!” ejeknya dengan tatapan sinis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
Ryan Hidayat
180° author itu berubah
kalo 360° itu yah seperti dia yang dulu
2023-07-18
1
Alghifarrie
Nabila siapanya sih MC? kenapa dirinya mau nyelamatin MC dan bahkan bobo bersama
2023-06-18
0
Jimmy Avolution
Ayo...
2023-06-14
0