Pekikan ke-empat preman itu mengundang satu preman lain yang sebelumnya terjungkal menghantam pagar bambu. Dia berlari cepat, tetapi diikuti dua anak buah salah satu pria berjas hitam yang membawa pistol.
Melihat ketiga orang dengan tatapan dingin berlari ke arahnya, Pradita segera berlari ke dalam kebun di belakang rumahnya. Kecepatan larinya sangat cepat, hingga mampu menembus 30 km per jam hanya dalam dua detik.
Salah satu pria berjas hitam berhenti, dan mengambil senapan magnum yang sudah dipasang peredam. Kemudian membidik ke arah Pradita yang masih berlari menerobos semak-semak ilalang setinggi satu meter, tetapi kepalanya masih terlihat jelas oleh pria berjas hitam tersebut.
Pelatuk ditarik saat bidikannya sudah tepat mengarah ke kepala Pradita bagian belakang.
Akan tetapi Pradita memiliki reflek yang bagus dan berhasil menghindari proyektil peluru yang mengarah ke arah kepala bagian belakangnya.
Yaitu dengan memiringkan kepalanya ke arah kiri tanpa melihat ke belakang. Apalagi ia telah menguasai salah satu skill pedang Naga terbang, yakni teknik Naga Besukih yang dipadukan dengan kecepatan tubuh Genome DNA Cheetah.
Pria berjas hitam tersebut terus menembak secara beruntun ke arah Pradita. Namun, pria berambut hitam tersebut berguling dan melakukan lompat harimau untuk menghindarinya. Alhasil peluru-peluru tersebut memang mengenai Pradita, tetapi hanya menyerempet di pipi kiri, bahu kanan, dan rusuk kiri Pradita.
“Sial benar! Kenapa mereka terus mengejarku dan memang berniat membunuhku? Sebenarnya rumahku ini ada apa sampai-sampai kedua orang tuaku menjadi korban kebiadaban mereka,” gumam Pradita terus berlari cepat dan masih dikejar oleh salah satu pria berjas hitam.
Pradita terus berlari ke arah Sungai Ambirawa yang berjarak 1 km dari belakang rumahnya. Pria berjas hitam itu terus mengejar Pradita tanpa henti. Bahkan hingga menyusuri jalan setapak yang berada di tengah-tengah sawah.
Para petani yang sedang mengerjakan sawah mereka, ikutan lari terbirit ketika melihat pria berjas hitam yang sangat dikenal oleh mereka.
Mereka juga terkejut melihat Pradita yang masih hidup malah dikejar-kejar oleh anak buah salah satu geng mafia nomor satu di Indramayu yang diketuai oleh Brock atau Dasman.
Para petani itu takut, karena pria berjas hitam tersebut mengeluarkan senapan. Sebuah senapan magnum yang telah diberi peredam dan mengarahkannya ke arah Pradita yang terus berlari ke arah sungai Ambirawa.
“Sial! Aku sudah tidak bisa kembali lagi. Di depan sudah sungai, tetapi sungai Ambirawa tidak sedalam dan lebar seperti sungai Jagapura. Aku yakin aku bisa melewatinya,” gumam Pradita menatap lurus ke arah sungai yang sudah dekat tinggal seratus meter lagi.
Proyektil-proyektil peluru terus melewati kepala Pradita. Dia terus berlari secara zig-zag, agar mengecoh bidikan pria berjas hitam. Hasilnya setiap peluru hanya melewati kepala Pradita.
Dengan tekad yang sudah bulat Pradita mengumpulkan tenaga di kedua paha, dan kedua betisnya untuk melompati sungai Ambirawa yang memiliki lebar 10 meter. Pradita menengok ke belakang sesaat. Ternyata pria berjas hitam tersebut sedang mengisi peluru di senapannya yang telah habis.
“Ini kesempatanku.”
Pradita melompat, walaupun masih berjarak 2 meter dari tepi sungai. Dia melompat seperti seekor Cheetah yang bisa melompat jauh. Alhasil dia bisa melompati jarak selebar 12 meter dan mendarat, walaupun dengan berguling.
Pria berjas hitam tersebut kecewa karena tidak berhasil membunuh Pradita dan membiarkannya lolos. Tidak mungkin bagi dirinya melompati sungai selebar 10 meter. Dia hanya bisa memutar untuk mengejar Pradita dan itu sama saja telah membiarkan Pradita lolos.
Dengan geram pelatuk senapan magnum ditarik berkali-kali. Sehingga senapan magnum yang dia pegang memuntahkan banyak peluru yang terbidik ke arah Pradita.
Pria bergaya rambut harajuku tersebut berlari secepat mungkin. Tentunya agar tidak terkena muntahan peluru dari senapan yang ditembakan oleh pria berjas hitam tersebut.
Walaupun dia berlari tertatih-tatih dengan cairan merah merembes di kedua paha, kedua bahu, pipi kiri, dan rusuk kirinya. Nafasnya terdengar terengah-engah dan memburu.
“Un-untuk sementara aku harus menembus jalan raya dan kembali lagi ke rumah Prisilia untuk memulihkan luka-lukaku ini. Aku harus membalas dendam pada mereka dan membuat mereka menderita. Lihat saja!” geram Pradita yang terus berlari dengan dada kembang-kempis.
Pradita berhasil menembus jalan raya dan melihat pos ojek pangkalan. Dia segera berlari cepat dengan nafas terengah-tengah ke arah pos ojek pangkalan. Ternyata di sana hanya ada satu tukang ojek perempuan yang sedang menunggu penumpang.
“M-mbak, bisa antarkan aku secepat mungkin ke Desa Kedokan Agung—?”
Tukang ojeknya terlihat masih gadis dengan kulit sawo matang dan cukup manis jika dipandang. Ia begitu terkejut dan panik ketika melihat Pradita yang bercucuran darah.
“Mas, ini kenapa?” tanya Nikita.
“Aku antarkan ke puskesmas terdekat, ya?”
“Ti-tidak perlu,” tolak Pradita kukuh.
“Pokoknya antarkan aku ke Desa kedokan Agung. Aku akan bayar 200 ribu, asal-asal Mbak naik motornya yang kencang.”
"Ba-baik, Mas."
Nikita segera memapah tubuh Pradita yang begitu wangi dan membuatnya berhasrat. Akan tetapi Nikita ingat jika dia sedang melayani penumpang, bukan bersama pasangan halalnya.
Dia langsung mendudukan tubuh Pradita di jok bagian belakang. Kemudian Nikita juga ikut naik dan meminta Pradita memeluk tubuhnya, karena dia akan melajukan motor Yamaha N-MAX miliknya sekencang mungkin.
Nikita benar-benar mahir dan gesit dalam mengendarai motor. Bahkan terkesan seperti pembalap profesional yang mahir dalam mengemudikan motor. Hal itu terbukti motor yang dikendarai oleh Nikita sampai di depan rumah Prisilia hanya dalam waktu 15 menit.
“M-mbak bisa bantu aku untuk masuk ke dalam dan menekan tombol belnya?” pinta Pradita dengan raut wajah meringis dan raut wajahnya sudah pucat pasi.
Tentu saja hal itu membuat Nikita tidak tega. Walaupun sweaternya yang agak tebal telah terkotori oleh cairan merah yang keluar dari beberapa bagian tubuh Pradita. Akan tetapi ia tetap memenuhi permintaan darinya.
“Ba-baik, Mas. Sebentar ya, tahan ya, Mas.”
Nikita memarkirKan motor dan melepaskan pelukan Pradita. Lalu berjalan cepat ke arah pintu gerbang untuk menekan tombol bel guna memanggil Prisilia yang memang sedang gundah gulana dan tidak mau berangkat ke kantor.
Gadis berambut coklat lurus yang berkilau tersebut merasakan firasat buruk akan Pradita. Nikita gundah gulana sedari pagi, saat Pradita keluar dari rumahnya.
Saat dirinya melamun dengan perasaan sedih, tiba-tiba dia mendengar suara bel rumahnya berbunyi. Hal itu menyadarkan dirinya dari lamunan yang terlalu sedih tersebut.
Dia segera melihat layar ponsel miliknya yang terhubung dengan seluruh CCTV yang berada di rumahnya tersebut. Matanya melebar saat melihat Pradita yang memakai helm, bajunya koyak dan dipenuhi cairan merah.
"Pradita!" Prislia berlari secepat mungkin dengan perasaan khawatir dan panik ke arah pintu gerbang.
Sesampainya di pintu gerbang dia langsung berteriak pada satpam yang menjaga pos pintu gerbang, "Pak, cepat buka gerbang!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
Nurdedi
baca di awal aja udah tidak bagus nih novel .harusnya di pilih novel yang mau di tunjukan ke pembaca
2024-03-26
0
Pengguna system v.02
brock lesnar kah? 😁
2023-11-22
0
ardian lewatz
ni mc kecerdasannya belum tinggi ya
2023-11-10
0