Pradita menjatuhkan ranting yang dipegang oleh tangan kanannya. Akan tetapi, Willy masih tidak terima dan melesat ke arah Pradita dengan melayangkan tendangan menyamping agar mengenai sasarannya yaitu rusuk kanan Pradita.
Pria bergaya rambut harajuku tersebut menangkis dengan lengan kananya yang ditekuk. Namun reflek tangkisan tangannya terlalu lemah dan mengakibatkan tubuh Pradita terpental, hingga berguling beberapa kali di permukaan tanah.
Tendangan Willy yang sangat kuat membuat lengan kanan Pradita patah, dan rusuk kanannya sedikit retak.
...[Tongteng … Tongteng]...
...[Memotong uang 20 juta untuk memulihkan tulang lengan kanan yang patah dan tulang rusuk bagian dada kanan yang retak]...
Suara gemeretak tulang terdengar sangat keras di lengan kanan dan dada kanan Pradita. Suara tersebut adalah proses regenerasi tulang yang sedang dilakukan oleh sistem pada tubuh Pradita.
Willy terheran-heran melihat Pradita bangkit tanpa meringis kesakitan, malah melemparkan senyum lebar ke arahnya. Pria berwajah Arab tersebut merasa sudah melayangkan tendangan samping yang sangat kuat dan tenaga penuh.
Bahkan tendangan tersebut bisa mengakibatkan orang yang terkenanya bisa masuk Rumah Sakit atau masuk kuburan.
“Hahaha …. Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apakah tendanganmu itu hanya seberat kapas?” ejek Pradita sambil tertawa jahat.
Willy mundur perlahan dan agak ketakutan. Dia merasa seperti melawan seekor monster yang kebal terhadap serangan fisik, dan pada akhirnya dia berlutut lemas di depan Pradita untuk mengakui kekalahannya.
“A-ampuni aku! Aku berjanji akan menyayangi Helly, dan menjaganya dengan baik. Aku juga akan menyerahkan jabatan ketua geng mafia Zero Crime ke-kepadamu,” ucapnya dengan tubuh gemetar.
“Baiklah, umumkan ke seluruh anggotamu, dan seluruh anggota geng mafia di Tangerang Selatan bahwa aku sekarang yang berkuasa!” titah Pradita dengan menyeringai.
“Ba-baik.”
Willy langsung mengirim pesan ke grup Whatsapp yang bernama Zero Crime, bahwa jabatan ketua telah diserahkan pada Pradita Mahendra.
Tentu saja banyak anggota lain yang menolak dan menganggap Pradita tidak pantas.
“Ma-maaf, Ketua. Anggota lain menolak, dan ingin menantang ketua dalam duel pemegang kekuasan. Ketua harus bisa mengalahkan semua anggota geng mafia seorang diri. Baru bisa diakui sebagai ketua geng Zero Crime,” jelas Willy gugup.
“Katakan pada mereka, kapanpun aku siap,” balas Pradita. “Oh, ya obati semua luka-luka mereka dan Helly. Satu hal lagi, Helly dan kau temui aku di Aeon Mall jam 12 siang esok hari.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Pradita memberikan uang 10 juta untuk Helly dan anggota geng mafia Zero Crime yang terluka. Kemudian dia pergi meninggalkan rumah Willya menaiki motor kesayangannya sambil terus mengupil tanpa henti.
......................
Keesokan paginya.
Pradita sudah berdandan rapi menggunakan setelan jas hitam. Berpadu dengan sepatu berwarna hitam yang sangat berkilau. Di tambah lagi hiasan pelengkap yaitu dasi dan celana berwarna senada, hitam.
Kemarin Pradita membeli semua keperluannya secara mendadak. Hal itu untuk menghormati CEO Julius Aslan.
Pradita pernah membaca sebuah buku. Berisi tentang bagaimana mencari teman, dan mempengaruhi orang lain karya Dale Carnegie. Intinya kesan pertama menentukan segalanya.
Untuk itu Pradita ingin memberikan kesan pertama yang baik untuk CEO Julius Aslan. Ia berharap lebih jika semua saham BSD City diberikan padanya.
Rambutnya disisir rapi ke belakang, menambah kesan maskulin di wajah Pradita. Kemudian, ia keluar dari kontrakan pagi-pagi buta. Semuanya agar Pradita tidak terlihat oleh orang lain saat mengeluarkan mobil Lotus Eclipse berwarna jingga di depan halaman rumah kontrakannya.
“Tampaknya diriku sudah cocok jadi orang kaya. Mobil sport keren, bagian atasnya bisa dibuka lagi. Apalagi penampilanku juga meyakinkan seperti para investor dan pebisnis kelas atas, hehehe ….”
Sambil terkekeh dan sesekali melihat wajahnya yang memang tampan di spion mobil miliknya, Pradita membuka pintu mobil miliknya. Lalu memanaskan mesin mobil sebelum berangkat menuju rumah Kakek Astra untuk menjemputnya.
Nabila dan Nira mengabari Pradita bahwa tidak bisa ikut, karena ada pekerjaan yang mendesak dan tidak bisa ditinggalkan. Setelah selesai memanaskan mesin mobilnya, Pradita perlahan melajukan mobilnya.
Untung saja dia sudah dapat skill mengemudi, meski itu level 1. Kalau tidak dapat skill mengemudi, maka Pradita tidak bisa mengendarai mobil, hanya bisa mengendarai motor saja.
“Mak! Bapak! Lihatlah! Sekarang aku naik mobil keren!” teriak Pradita sambil mengendarai mobilnya.
Ia terus berteriak sambil menangis mengingat kedua orang tuanya yang telah tewas. Apalagi yang sudah didapatkan Pradita selama 30 hari tidak bisa dinikmati oleh kedua orang tuanya. Itulah yang membuat Pradita menangis.
Pradita terus berteriak-teriak dengan suara parau seperti orang gila, dan memang pengendara mobil maupun motor yang dilewatinya menganggap Pradita gila.
“Walahiyung! Kasihan betul, ganteng-ganteng, gila!"
“Astaga, sayang sekali sudah kaya dan tampan, tapi gila.”
“Orang gila jaman sekarang tidak memandang status dan fisik. Yang kaya dan tampan pun bisa gila.”
Semua pengendara yang melihat Pradita merasa kasihan dengan tindakan yang dilakukan oleh Pradita. Bahkan ada yang merekamnya, lalu menguploadnya ke akun media sosialnya.
Status video tersebut langsung banjir like, repost, dan komen. Ada yang komen negatif maupun komen positif. Tentunya lebih banyak komen yang positif dan ingin membungkus Pradita karena tampan dan kaya.
Merasa diperhatikan, Pradita menepuk-nepuk jidatnya sendiri setelah sadar bahwa tindakan gilanya membuat orang lain terfokus padanya.
“Asem, goblok-goblok! Aku ini tolol banget! Kenapa justru teriak-teriak kaya orang gila!” kata Pradita kesal dengan dirinya sendiri dan berkali-kali menepuk jidatnya sendiri.
Setelah menyetir sambil melakukan tindakan gila, Pradita akhirnya sampai di depan rumah Kakek Astra dan menekan klakson.
Kakek Astra sudah berdandan rapi dan sedang menyesap teh di halaman depan rumahnya. Ia sampai terheran-heran melihat mobil Lotus Eclipse berwarna jingga membunyikan klakson di depan rumah.
Ia merasa tidak mengenal mobil tersebut, tetapi setelah Pradita berdiri dari kursi mobilnya, Kakek Astra baru paham.
“Kakek!” panggil Pradita dengan tersenyum sumringah, apalagi ia bisa memamerkan mobil barunya di depan Kakek Astra.
“Bocah ini dapat uang darimana? Satu bulan bisa membeli mobil sport semahal itu. Apakah memang profit dividen saham BSD City yang didapatnya sangat banyak?” pikir Kakek Astra bingung.
Kakek Astra menghabiskan teh hangatnya, dan segera beranjak menuju mobil Pradita yang terparkir di depan gerang rumahnya.
Pradita turun dari kursi kemudi membukakan pintu untuk Astra dan berkata, “Bagaimana mobilku, Kek? Apakah sudah cocok jika aku punya pacar?”
Kakek Astra memukul pelan kepala Pradita yang sudah dianggapnya setara dengan Nira, “Sontoloyo, pacar-pacar, anumu saja belum lurus!”
“Loh, bentar lagi aku ini punya banyak uang, Kek. Memangnya aku harus bagaimana lagi kalau tidak menik —”
“Bukannya kamu belum membalaskan dendam kedua orang tuamu. Dengan uangmu kamu bisa melakukannya,” potong Kakek Astra dengan sorot mata yang tajam ke depan.
“Aku juga bisa membantumu menguasai dunia bawah tanah Tangerang Selatan, apakah kamu mau?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
Jimmy Avolution
Sippp...
2023-06-14
1
MasWan
keren lah keren
2023-06-12
0
👑ꪖꪶ 'ᠻꪖɀɀꪖ
Ceritanya seru 😍 alurnya menarik👍
2023-06-12
0