Nesa membuka pintu dan berdiri di depan pintu tersebut dengan tatapan sinis dan berkacak pinggang.
“Eh, si tolol yang miskin. Bagaimana otakmu yang lulusan terbaik UNSWAGATI itu?” sindirnya pedas.
“Nesa!” bentak Pradita yang disambut cacian oleh Nesa padahal dia hanya ingin bersilaturahmi.
“Apa? Mau marah? Lagian aku dan kamu sudah bukan siapa-siapa. Aku sudah punya suami yang kaya raya—”
“Aku juga punya tiga wanita yang kaya raya dan salah satunya sahabat baik kamu Prisilia. Lihat motor itu! Motor itu diberikan oleh artis Nabila Salsabila yang juga menyukaiku. Apakah suamimu mampu dicintai tiga wanita sepertiku?” potong Pradita kesal karena dibanding-bandingkan dengan Riko.
Kemudian dia melanjutkan dengan suara yang lebih keras dan hal itu sampai membuat Nesa menitikan air mata, “Bahkan tadi pagi Prisilia mengajakku untuk menikah, tapi aku belum siap. Karena aku masih mencari dalang pembunuhan dari kedua orang tuaku!”
Nesa langsung menarik lengan kanan Pradita sambil menangis sesenggukan. Dia sekarang ingat, Pak RT Jumadi berpesan pada Nesa dan saat Pak RT Jumadi membisikan sesuatu pada telinga Nesa di dekat rumah Pradita. Hal itu dilihat oleh Chiko dan Rivan, hingga setelah itu keberadaan Pak RT Jumadi tak pernah terlihat lagi.
“Untuk masalah ini aku turut prihatin. Maafkan aku telah menghinamu, semoga kamu bahagia dan turut berbela sungkawa atas kematian kedua orang tuamu ….” Nesa terdiam cukup lama dengan raut muka kebingungan.
Seperti ada yang ingin disampaikan pada Pradita, tetapi ia takut dan kebingungan. Hingga
beberapa saat kemudian ia pun melanjutkan ucapannya.
“Carilah sebuah pohon di belakang rumahmu yang memiliki bekas darah. Nanti ada gundukan tanah dibalik pohon tersebut dan galilah!”
Tentu saja ucapan dari Nesa cukup membuat Pradita tersentak. Akan tetapi sadar dengan kondisi mereka yang mungkin saja tidak aman untuk salah satunya, ia pun segera permisi.
“Terima kasih. Sesungguhnya aku masih sangat mencintaimu. Semoga kamu bahagia bersama Riko. Maafkan aku yang tidak bisa datang di pesta pernikahanmu.” Pradita memeluk tubuh Nesa dan membuat wanita yang telah bersuami tersebut menangis tambah keras.
Seakan dirinya telah menyesal menikah dengan Riko yang temperamen dan suka memukul. Pradita memberikan uang yang dikeluarkannya dari inventaris sistem sejumlah 8 juta rupiah, “Ini untukmu sebagai hadiah pernikahanmu.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Pradita melepaskan pelukannya dan keluar dari dalam rumah Nesa. Kemudian bergegas melajukan motornya, untuk melajukannya menuju rumahnya di Desa Jagapura Lor.
Pradita melajukan motornya sangat kencang. Apalagi karena dia sudah mendapatkan sedikit petunjuk mengenai siapa dalang pembunuhan kedua orang tuanya.
Hanya dalam waktu sepuluh menit, Pradita sampai di depan rumahnya. Anehnya sudah banyak para preman juga pria berjas hitam berkumpul di depan rumah Pradita.
Ternyata menurut mereka di bawah rumah Pradita menyimpan harta karun emas yang jika ditambang memiliki emas sekitar 10.000 ton emas. Makanya ayah Riko yang bernama Panji bersikukuh untuk membelinya dari Yudis dan Nina. Akan tetapi, mereka berdua tidak mau menjualnya dengan alasan rumah ini adalah warisan dari kedua orang tuanya.
“Apa-apaan ini?” teriak Pradita sangat lantang dan berapi-api melihat rumahnya sedang diukur-ukur oleh anak buah dari salah satu pria berjas hitam.
Panji melebarkan mata melihat Pradita ternyata masih hidup. Namun, keserakahan sudah menggerogoti hati nuraninya.
“Habisi dia seperti kalian menghabisi kedua orang tuanya dan jangan tinggalkan jejak,” titah Panji pada kelima anak buahnya yang memiliki tato binatang di lengan kanannya.
Salah satu preman berjalan cepat dengan tatapan nyalang. Ketika sudah dekat dengan Pradita, kaosnya dicengkram dan langsung menghantamkan pukulan ke arah perutnya.
Tentu saja Pradita langsung tersungkur ke permukaan tanah. Namun, dia tetap tersenyum dengan wajah menyeringai. Sebagai ungkapan mengejek kepada mereka semua. Padahal dalam hatinya di sangat ketakutan dan panik.
“Sistem, bagaimana ini? Kalau aku tidak bisa mengalahkan mereka semua. Aku pasti akan mati disini oleh mereka,” batin Pradita dengan mata luru menatap Panji.
...[Tongteng ... Tongteng]...
...[Misi sampingan diterima]...
...<>.................<>................<>...
...[Misi: bertahan selama 10 menit dari siksaan para preman]...
...[Batas waktu: 10 menit]...
...[Hukuman:-]...
...[Hadiah: Skill berpedang 9 Naga Terbang]...
...<>.................<>................<>...
...[Apakah tuan mau menerimanya]...
...[Ya/Tidak]...
Pradita yang sudah kalut, karena diinjak-injak oleh kelima preman secara bergantian langsung menekan tombol ‘Ya’. Sebab, sudah tidak ada pilihan lain bagi Pradita untuk kabur. Saat ini ia bahkan sudah tertelungkup, sambil melindungi kepalanya dari injakan kaki kelima preman.
Waktu terus berjalan, Pradita terus menahan rasa sakit dari injakan kaki preman yang sedang mengamuk. Justru yang semakin lama kelamaan injakannya semakin kuat.
“Aaaargh!”
Pradita meraung keras, lalu menangkap salah satu kaki preman dan mendorongnya. Sehingga terjungkal ke belakang dengan kepala menghantam salah satu pagar bambu yang mengelilingi rumah Pradita.
Pria yang mukanya sudah babak belur dan bercucuran darah tersebut langsung berlari ke belakang rumahnya dan dikejar oleh keempat preman. Akan tetapi berkat Genome DNA Cheetah, Pradita bisa berlari cepat dan memanjat pohon yang memiliki bercak darah dan dibalik pohon tersebut memang ada gundukan tanah setinggi setengah meter.
Pradita meledek keempat preman dengan mengacungkan jari tengah, “Hahaha …bAyo tangkap aku kalau kalian bisa! Hahahaha …,” ledeknya sambil menunggingkan pantatnya ke arah mereka berempat.
Salah satu preman memanjat pohon tersebut untuk menangkap Pradita. Namun, Pradita semakin tinggi memanjat pohon, dan menggoyang-goyang pohon batang kedondong yang kecil serta lentur tersebut. Supaya preman yang sedang mengejarnya itu turun.
Ketiga preman dibawahnya melempari Pradita dengan kerikil, batu, dan tanah liat yang dibulatkan. Akan tetapi, satupun tidak ada yang kena dan membuat Pradita mengejek mereka kembali sambil menjulurkan lidah berkali-kali.
...[Tongteng ... Tongteng]...
...[Misi sampingan telah sukses]...
...<>.................<>................<>...
...[Misi: bertahan selama 10 menit dari siksaan para preman]...
...[Batas waktu: 10 menit(15 menit)]...
...[Hukuman:-]...
...[Hadiah: Skill berpedang 9 Naga Terbang]...
...<>.................<>................<>...
...[Memulai proses pemasangan skill pedang 9 Naga Terbang tingkat satu tanpa rasa sakit tapi host berhutang 100 juta rupiah pada sistem. Dimulai dalam 3 … 2 … 1 ….]...
...[0% … 20% … 40% … 60% … 80% … 100%]...
...[Pemasangan berhasil. Selamat host mendapatkan 20 poin masa otot dan berhasil skill pedang 9 Naga terbang tingkat satu, yakni teknik Naga Besukih]...
Pradita merasakan tubuhnya seringan kapas dan masa ototnya bertambah berarti. Itu terlihat dari otot-ototnya yang semakin menonjol kuat di seluruh tubuhnya.
Saat preman yang sedang memanjat untuk mengejar Pradita akan menarik kaki Pradita. Pria bergaya rambut harajuku tersebut mematahkan ranting kering sepanjang 1,5 meter.
“Teknik Naga Besukih!” seru Pradita.
Kemudian menyabetkan ranting tersebut tepat di tangan sang preman. Hingga sang preman tersebut memekik kesakitan dan tubuhnya terjatuh menimpa ketiga temannya yang sedang melempari Pradita.
Melihat keempat preman saling bertumpu, Pradita melompat dari salah satu dahan pohon ke arah mereka. Pada akhirnya tubuh Pradita berhasil menimpa mereka, hingga tanahnya ambles oleh hantaman tubuh pradita yang sangat keras.
Suara tulang patah disertai teriakan menggema di belakang rumah Pradita. Keempat preman berbadan kekar dengan tato binatang di lengan kanan mengalami patah tulang di bahu kanan, dan bahu kiri serta kedua paha mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
Inyoman Raka
katanya hadiah eh malah utang 100 juta
2023-12-22
1
Alalbar
Mantaap 3 wanita 😎
2023-07-03
1
bubur ayam
bjir.. badas banget.. gak kaya novel yang lain..
keren sumpah.. gak kaya novel lain yang mc nya kadang cuman diam aja, The Real Chad
2023-06-30
4