Keesokan paginya.
...[Tongteng ... Tongteng]...
...[Selamat, tuan mendapatkan Rp,20.000 karena telah mengupil sebanyak seratus kali. Uang yang dihasilkan dari hasil mengupil sudah ditransfer ke dalam saldo sistem]...
Pradita sedang melakukan latihan fisik rutin di halaman belakang rumah Prisilia yang cukup luas. Latihan tersebut harus diselesaikannya setiap hari, dan masih tersisa dua puluh delapan hari lagi.
...[Tongteng ... Tongteng]...
...[Selamat, host berhasil menyelesaikan latihan running in place selama 10 menit]...
...[Tongteng ... Tongteng]...
...[Selamat, host berhasil menyelesaikan latihan Knee drive sebanyak 50 kali]...
...[Tongteng ... Tongteng]...
...[Selamat, host berhasil menyelesaikan Push Up sebanyak 50 kali]...
...[Tongteng ... Tongteng]...
...[Selamat, host berhasil menyelesaikan latihan Squat jump sebanyak 100 kali]...
...[Tongteng ... Tongteng]...
...[Selamat, host berhasil mendapatkan 1 poin stamina]...
...[Tongteng ... Tongteng]...
...[Status]...
...<>...........<>...........<>...
...[Nama: Pradita Mahendra]...
...[Umur: 25 tahun]...
...[Stamina: 17]...
...[Kecerdasan: 35]...
...[Massa otot: 5]...
...[Pesona:60]...
...--------------------------...
...[Saldo: 8.020.000]...
...[Level sistem: Pemula(0/1000)]...
...[Inventaris: Kotak pemula]...
...[Skill:-]...
...<>..........<>...........<>...
Prisilia terus memperhatikan Pradita yang sudah selesai latihan dari balik jendela. Ia cukup tertegun atas semua perubahan besar yang terjadi pada Pradita. Sebelumnya Pradita terlihat sukanya mager dan rebahan, karena memang Pradita tidak suka berolahraga. Akan tetapi saat ini ia justru rajin olahraga.
“Gerah banget, sebaiknya aku mau mandi dulu.”
Pradita pun berjalan agak cepat menuju kamar mandi di kamar tamu. Sementara itu Prisilia hanya tinggal berempat bersama para pembantu dan sopir di rumahnya yang memiliki dua lantai tersebut. Kedua orang tua Prisilia sudah meninggal satu tahun yang lalu karena kecelakaan di luar negeri, maka dari itu wajar jika rumah tersebut sepi.
Prisilia tahu jika Pradita tidak membawa baju ganti. Maka dari itu ia pun masuk ke kamar tamu untuk memberikan Pradita baju ganti. Baju itu dulu milik kakaknya, tetapi ia juga sudah meninggal dalam kecelakaan yang terjadi di Spanyol.
“Dit! Bajunya aku taruh di atas kasur!” teriak Prisilia.
Bergegas ia keluar dari kamar Pradita secepat mungkin. Ia begitu takut jika pikirannya melayang jauh ke alam nirwana. Apalagi sampai membayangkan Pradita yang sedang mandi.
“Ya!” sahut Pradita singkat.
Setelah sepuluh menit berlalu, Pradita pun keluar dari dalam kamar mandi. Ia hanya mengenakan handuk putih yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
Prisilia penasaran dengan bentuk tubuh Pradita sekarang. Makanya ia pun bersembunyi di balik pintu kamar Pradita yang sengaja tidak ditutup rapat sepenuhnya. Tentu saja alasannya hanya satu, yaitu agar ia bisa mengintip dari celah-celah pintu.
Pradita berjalan ke arah pintu untuk mengambil sesuatu dan membuat jantung Prisilia berdegup tidak karuan. Dia tidak menyangka jika Pradita punya badan semulus giok kaca. Walaupun badannya belum terbentuk layaknya seorang atlet binaragawan, tetapi itu cukup membuat jantungnya mendadak tidak sehat.
“Kesempatan langka seperti ini, harus dimanfaatkan sebaik mungkin,” gumam Prisilia dengan mata berbinar-binar saat mengintip kemulusan kulit Pradita.
Pradita membuka handuk, sambill mengambil tisu basah yang sangat wangi di celana yang digantung di belakang pintu. Mata Prisilia membelalak melihat singkong premium milik Pradita. Walaupun masih dalam keadaan small, tetapi itu cukup menggoda bagi Prisilia yang notabene sangat menyukainya.
Tangan Pradita menjulur ke arah gagang pintu, karena melihat pintu itu belum tertutup rapat. Akan tetapi, ia sangat terkejut ketika memegang pintu. Pradita bisa melihat satu bola mata yang tertuju ke arahnya.
“Prisilia! Apa yang kamu lakukan! Kamu mengintip, ya!”
Seketika Pradita langsung membalikan badan, sambil mendorong pintu itu hingga rapat dengan pantatnya.
“Tega! Kamu Sudah membuatku tak suci lagi!”
“Ma-maaf, aku tak sengaja. Ya sudah, kalau memang aku telah merusak kesucianmu sebagai seorang perjaka, aku akan bertanggung jawab,” balas Prisilia polos sambil membungkuk di depan pintu kamar Pradita.
Pria bergaya rambut harajuku itu tersentak kaget. Lalu menyegerakan memakai baju, tetapi diam seribu bahasa. Ia bahkan tidak menanggapi balasan perkataan yang dituturkan oleh Prisilia.
Setelah selesai memakai baju dan keluar dari kamarnya pun, Pradita tetap bungkam seribu bahasa. Raut wajah Pradita berubah menjadi dingin pada Prisilia.
Dia takut ditodong oleh Prisilia dengan dengan pernyataan bahwa dirinya siap bertanggung jawab dengan menikahi Pradita. Tentu saja Prisilia sedih karena mendapat tatapan dingin dari Pradita.
Bahkan sikap dinginnya itu terus berlanjut sampai mereka berdua sarapan pagi bersama.
Gadis bermata coklat tersebut tiba-tiba tertunduk dengan meneteskan air mata. Tentu saja itu akibat Pradita yang terus bersikap dingin padanya.
“Hiks-hiks …. Dit, maafkan aku. Aku memang sengaja ingin melihat tubuhmu. Jadi aku mohon maafkan aku, tapi mohon jangan abaikan aku. Sungguh, aku tidak bisa jika kamu terus marah padaku,” ucapnya penuh sesal.
Pradita pun jadi kasihan. Padahal dia bersikap dingin supaya Prisilia tidak mengungkit lagi masalah sebelumnya. Akan tetapi semuanya menjadi serba salah.
"Sungguh, aku tidak marah padamu. Tapi apa yang kamu lakukan tidak selayaknya dilakukan oleh seorang gadis seanggun dan secantik kamu. Siapa yang tidak menyukai gadis cantik seperti kamu?"
"Maaf, tetapi hatiku saat ini masih hampa, dan belum menginginkan pendamping di hidupku,” jelas Pradita.
Tidak tega karena Prisilia terus menangis, ia pun
segera berdiri dan berjalan cepat ke arahnya. Tangannya terulur untuk menyeka air mata Prisillia.
“Aku mohon jangan tangisi aku dalam hal apapun. Air matamu itu sangat berharga dan aku tak pantas untuk mendapatkannya.”
“Namun, kamu kan tahu aku dari dulu sangat sayang dan cinta sama kamu? Aku tak bisa jika harus jauh darimu —”
“Kamu bisa. Aku yakin kamu bisa, aku hanya lelaki sampah dan remahan yang selalu hidup di masa lalu.”
Setelah memotong perkataan Prisilia, dan tidak mau berdebat lagi dengan gadis bermanik mata coklat tersebut, ia memutuskan untuk segera pergi.
Pradita meninggalkan rumah Prisilia agar bisa cepat sampai menuju rumah Nesa. Alamat yang didapatkan sudah valid. Apalagi Prisilia masih berteman baik dengan Nesa. Sehingga tahu dengan jelas alamat rumah baru Nesa.
......................
...Depan rumah Riko....
Pradita memarkirkan motordi seberang rumah Riko. Riko adalah suami Nesa. Kebetulan memang dekat dengan jalan utama provinsi. Ia terus mengawasi rumah Riko dengan helm yang masih tertutup, agar identitasnya tidak diketahui oleh Nesa.
Dari kejauhan, Pradita bisa melihat Nesa yang sedang menjemur pakaian di lantai dua. Sepertinya ada getar-getar cinta yang tumbuh kembali. Merasa ada yang mengawasi, tiba-tiba Nesa memandang ke arah Pradita.
“Kok, tiba-tiba ada laki-laki disitu? Mana perawakan tubuhnya seperti Pradita? Tapi, kata Mas Riko bukannya Pradita sudah meninggal bunuh diri. Apalagi setelah melihat kedua orang tuanya gantung diri,” gumam Nesa dengan raut muka dipenuhi tanda tanya.
Seketika bulu kuduknya langsung berdiri. Takut dengan sosok yang baru saja dilihatnya, Nesa pun langsung masuk ke dalam rumah setelah selesai menjemur pakaian.
Pradita yang tidak puas setelah mendapatkan petunjuk, akhirnya nekat untuk menemui Nesa. Ia akan mempertanyakan beberapa hal dengan kematian kedua orang tuanya secara langsung.
Pradita langsung menyebrang jalan dan meninggalkan motornya di depan sana. Lalu segera menekan tombol bel rumah Riko.
“Permisi!” teriak Pradita yang sudah melepas helmnya.
Dengan jelas, kini Nesa bisa melihat jika itu benar Pradita. Apalagi ponsel miliknya terhubung langsung dengan CCTV yang terpasang di pintu gerang rumah.
“Pra-pradita! Matanya melebar dan menjatuhkan ponsel ke permukaan lantai, “I-itu benar kamu Pradita?”
Nesa pun bangkit secara otomatis. Langkah kakinya menuntun untuk berjalan cepat ke arah pintu depan. Beruntung semua pembantunya sedang ke pasar dan Riko sudah pergi ke kantornya pagi-pagi buta.
Jadi Nesa hanya seorang diri di rumah. Akan tetapi, ia justru punya rencana buruk untuk menghina Pradita.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
Nino Ndut
kok aneh pengen nyelidikin tp langsung nyamperin subyeknya..mending cari info lain dulu..
2023-07-15
3
Jimmy Avolution
Terus....
2023-06-14
0
Hiu Kali
hiliih.. cacing pita ajaa bangga...😂😂😂
2023-06-09
0