Di sebuah kamar, seorang pria sedang tertidur lelap. Bibirnya terus menyerukan sebuah nama dari ingatan masa kecilnya. Tampaknya ia sedang bermimpi.
Seorang gadis kecil menangis sembari memegangi lututnya yang terluka dan berdarah. Bocah laki-laki kecil yang duduk tak jauh dari gadis kecil itu menatapnya iba dan segera berlari menghampiri.
"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya bocah laki-laki itu menatap gadis kecil yang menangis tersedu.
"Sakit ...." cicitnya dengan Isak tangis. Wajahnya sudah di penuhi air mata. Bocah laki-laki yang merasa iba itu pun segera membantu sang gadis kecil.
"Ayo ikut aku. Kita obati lukanya." ajaknya seraya menelisik lutut gadis kecil yang robek.
Gadis kecil itu hanya mengangguk dan mencoba berdiri di bantu oleh sang bocah laki-laki. Melihat gadis itu kesulitan berjalan, bocah laki-laki yang berusia lima belas tahun itu segera berjongkok dan menyuruh gadis yang sedang terluka itu untuk naik ke punggungnya.
"Naiklah! Aku akan menggendong mu."
Gadis kecil itu tersenyum, menatap punggung bocah laki-laki yang ada di hadapannya. Tanpa berkata apa-apa ia langsung naik ke punggung itu.
Mereka menuju bangku panjang di bawah pohon Pinus. Sesampainya di sana bocah laki-laki itu menurunkan Gadis kecil yang ia bawa ke atas bangku dengan perlahan.
"Tunggu di sini." ujar sang bocah laki-laki sembari berlari. Gadis kecil itu hanya bisa diam menatap kepergian anak laki-laki yang menolongnya. Tak lama bocah laki-laki itu kembali dan menyodorkan sebuah es krim ke hadapan gadis kecil itu.
"Ini untukmu." senyum segera terbit di wajah cantik bocah polos itu.
"Jangan menangis lagi. Aku akan mengobati luka kamu." Bocah laki-laki yang usianya lebih tua dari gadis kecil itu berjongkok, mengambil sebuah plaster berwarna coklat dan menempelkannya pada luka gadis kecil itu.
"Nah, sekarang lukanya sudah di obati. Pasti tidak akan sakit lagi." bocah laki-laki itu tersenyum lebar, menampakan deretan giginya yang berjajar rapi.
"Terima kasih." ucap gadis kecil itu tersenyum.
"Sama-sama." balas bocah laki-laki itu seraya duduk di samping gadis kecil yang ia tolong.
"Nama kakak siapa?" tanya Gadis kecil itu penasaran.
"Namaku Calvin."
"Kak Calvin nanti setelah dewasa harus menikah dengan aku, ya. Jangan menikahi gadis lain." ujar gadis kecil itu tiba-tiba. Mendengar hal itu Calvin hanya tertawa.
"Kenapa kamu mau menikah denganku setelah dewasa nanti?"
"Karena kak Calvin orang baik." jawab gadis kecil itu polos. Mendengar jawaban yang keluar dari bibir gadis kecil itu membuat Calvin kecil tertawa sampai matanya menyipit.
"Jika karena itu, maka kamu akan menikahi semua pria baik yang ada di dunia ini." Kening gadis kecil itu tampak berkerut dengan bibir yang mengerucut. Ia menatap bingung pada Calvin.
"Aku hanya mau menikah dengan Kakak. Kakak harus janji untuk tidak menikahi siapapun setelah dewasa."
"Kamu ini ada-ada saja."
"Janji dulu! Kakak harus berjanji akan menikahi aku setelah dewasa." Gadis kecil itu mengulurkan jari kelingkingnya ke hadapan Calvin.
Wajah gadis kecil itu tampak ingin menangis. Calvin yang tidak tega melihatnya terpaksa berjanji padanya dan mengaitkan jari kelingking.
"Iya aku berjanji akan menikahi kamu setelah dewasa nanti." ucapnya sehingga membuat gadis kecil itu bersorak bahagia. Calvin hanya menggeleng melihat tingkah polos sang gadis kecil yang telah mencuri perhatiannya.
Karena rumah mereka yang berdekatan, Calvin dan gadis kecil itu semakin dekat. Mereka sering bermain bersama.
Suatu ketika ayah Calvin yang merupakan seorang guru harus di pindahkan ke kota lain. Mereka terpaksa harus pindah.
"Jangan menangis lagi, Cla. Aku janji akan kembali lagi." bujuk Calvin pada gadis yang rambutnya di kepang dua itu.
"Kak Calvin jahat. Kakak tidak boleh pergi!" teriaknya saat Calvin berpamitan. Sementara ayah dan Ibunya sudah berada di dalam mobil.
"Aku harus ikut dengan kedua orang tuaku. Aku janji akan kembali menemui kamu suatu hari nanti."
"Kakak bohong!" teriaknya dengan derai air mata yang tak mau berhenti semenjak tahu bahwa teman kecilnya akan pergi meninggalkannya.
"Aku tidak berbohong, Cla. Aku janji akan kembali dan kita akan bermain lagi."
"Aku tidak percaya. Kakak pasti akan meninggalkan aku dan lupa padaku." teriaknya mengamuk. Bunyi klakson dari mobil yang akan membawa Calvin pergi telah berbunyi dengan nyaring. Calvin gelisah, melihat kedua orang tuanya yang melihatnya dengan tidak sabar.
"Ayo, Calvin. Kita sudah terlambat." seru sang Ibu.
"Tunggu sebentar, Bu."
"Nak, biarkan Calvin pergi. Kamu tidak bisa menyuruhnya untuk tetap tinggal." Mama Clarissa mencoba untuk membujuk.
"Clarissa hanya mau kak Calvin, Ma. Kak Calvin tidak boleh pergi." teriak Clarissa histeris.
"Maafkan aku, Cla. Aku harus pergi. Ini untukmu." ia memakaikan gelang berbentuk kelinci pada Clarissa. Ia tahu, gadis kecil itu sangat menyukai kelinci. Setelah memberikan gelang itu, Calvin terpaksa beranjak meninggalkan gadis kecil yang tengah meraung. Sang Mama mencoba untuk memeganginya dan terus membujuk.
Saat Calvin telah naik ke dalam mobil dan mobil itu mulai berjalan, Clarissa yang terlepas dari dekapan sang Mama pun berlari mengejar. Tapi kaki kecilnya tersandung sebuah batu di pinggir jalan dan ia jatuh tersungkur di jalanan aspal.
"KAK CALVIN!" teriaknya dengan tangis yang menyayat hati. Calvin hanya bisa melihat dari kaca mobil bagian belakang, menyentuh kaca itu dengan sedih karena harus meninggalkan teman bermainnya.
"Aku janji akan kembali, Clarissa." lirihnya. Ia segera mengusap air matanya yang jatuh ke wajahnya dengan terus menatap gadis kecil yang meraung.
"CLARISSA?" teriaknya seraya terbangun. Napas pria itu memburu, ia segera mengusap kasar wajahnya dan mengambil air putih yang berada di atas nakas lalu meneguknya.
"Kenapa aku selalu memimpikan Clarissa kecil? Dimana dia sekarang?" lirihnya seraya menatap lantai yang ada di bawahnya. Pintu kamar terbuka, tampak seorang wanita paruh baya masuk dengan wajah khawatir menghampiri Calvin.
"Sayang, apakah kamu kembali bermimpi?" tanya sang Ibu seraya duduk di tepi ranjang milik anaknya. Calvin mengangguk, membenarkan ucapan Ibunya.
"Ya ampun. Sudah sepuluh tahun kalian berpisah, tapi kamu selalu memimpikan gadis kecil itu. Apakah kamu belum menemukan Clarissa?"
Calvin menggeleng.
"Semoga kalian cepat bertemu. Ya sudah, sekarang tidur lagi. Masih terlalu malam untuk bangun." ujar sang Ibu seraya mengelus pundak anaknya.
"Terima kasih, Bu." ucap Calvin saat Ibunya akan menutup pintu kamar. Pria itu kembali merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar.
"Siapa sebenarnya Robert? Mengapa aku selalu merasa itu bukan identitas dia sebenarnya? Entah mengapa ketika bersamanya aku mengalami Dejavu? Seperti telah lama mengenal dia."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments
Ds Phone
itu lah teman kecil mu
2025-02-06
0