Kecurigaan Clarissa

Clarissa menuruni anak tangga dengan terburu-buru. Ketika Mamanya memanggil gadis itu untuk sarapan, Clarissa segera menolaknya.

"Sayang, sarapan dulu."

"Maaf, Ma. Clarissa sudah terlambat." tolak gadis itu seraya berlari ke garasi. Ia tidak menggunakan mobil, tapi gadis itu segera menaiki motor sport miliknya. Mama Aruna hanya menggeleng.

"Bukankah ini masih pagi? Kenapa tidak sarapan dulu." gumamnya seraya melihat anaknya yang telah keluar dari garasi dan pergi begitu saja. Tampaknya gadis itu masih kesal dengan Papanya sehingga tidak berniat untuk berpamitan pada orang tuanya.

Ketika keluar pagar, Pak satpam yang membuka pintu pagar gadis itu mengucapkan terima kasih.

"Makasih ya Pak."

"Sama-sama neng Clarissa." jawab Pak satpam seraya tersenyum. Lalu ia menutup pagar rumah kembali. Dari rumah yang ada di seberang tampak seorang pria yang sejak tadi mengamati Clarissa.

"Mbok, memangnya anak Pak Alexander ada berapa?" tanya pria itu pada asisten rumah tangga yang sedang menyiram tanaman depan rumah.

"Ada dua, den."

"Laki-laki dan perempuan, ya?"

"Setahu saya dua semuanya den, dan anak yang kedua udah meninggal beberapa waktu lalu." Pria itu mengernyitkan dahi. Merasa ada yang aneh.

"Lalu, siapa laki-laki yang ada di sana jika bukan anak Pak Alexander?"

"Saya kurang tahu, Den. Mungkin keponakannya atau saudaranya dari kota lain." jawab wanita separuh baya itu. Pria itu mengangguk, lalu mempersilahkan asisten rumah tangganya untuk meneruskan tugasnya. Setelah itu pria yang mengenakan jaket kulit itu memakai helm dan segera pergi.

Ketika sampai di sekolah, Clarissa yang berpenampilan seperti laki-laki itu banyak mencuri perhatian. Tak lama Pak Calvin datang dan memarkirkan motornya tepat di samping Clarissa. Melihat kedatangan gurunya, Clarissa pun menyapa pria muda itu dengan ramah.

"Selamat pagi, Pak." sapa gadis itu seraya menunduk. Pak Calvin mengulas senyum, dan mengangguk.

"Selamat pagi juga. Baru sampai?" tanya Pak Calvin seraya melirik motor yang ada di sampingnya. Guru muda itu membuka helm dan jaket yang ia kenakan.

"Iya, Pak. Baru aja sampai."

Pak Calvin menatap Clarissa dengan penuh tanda tanya. Ia melihat mata Clarissa sedikit bengkak dan sembab.

"Apa tadi malam kamu menangis?" tanya pria itu seraya mengangkat sebelah alisnya. Clarissa mendelik, lalu tertawa canggung.

"Haha ... Mana mungkin saya menangis? Ini karena kebanyakan tidur, Pak." ia mengusap wajahnya dengan kasar.

"Saya berharap juga begitu. Oh ya, jangan teriak saat malam lagi. Nanti di lempar teflon beneran sama tetangga." ucap Pak Calvin seraya tersenyum tipis. Mendengar apa yang di ucapkan pria itu membuat Clarissa mendelik.

"A-apa?!" ia membuka mulutnya tak percaya. Tak lama Pak Calvin sudah berlalu meninggalkan dirinya.

"Apa Pak Calvin tahu kalau semalam aku teriak? Lalu, apakah tetangga yang mau melempar ku pakai teflon itu Pak Calvin?" Clarissa berasumsi.

Baru saja ia akan ke kelas, seorang gadis mensejajarkan langkahnya.

"Hai, Robert." sapa gadis itu seraya tersenyum genit. Clarissa meliriknya sebentar, dalam hati ia bergidik geli.

"Hai ,"

"Kenalin, namaku Elvina." gadis berambut panjang itu menyodorkan tangannya. Robert terpaksa berhenti sejenak untuk membalasnya.

"Iya, aku tahu. Kita kan sekelas." katanya dengan wajah datar. Lalu keduanya melanjutkan langkahnya yang tertunda.

"Jadi kamu mengingatku?" Elvina menatap Clarissa tak percaya. Clarissa hanya mengangguk kecil.

"Wah, aku tidak menyangka jika kamu mengingatku. Padahal aku kira kamu tidak peduli sekeliling. Kamu terlihat cuek dan terlalu dingin."

"Bagaimana aku bisa melupakan orang yang namanya ada di diary Emily?" gumam gadis itu dalam hati. Ia menatap dingin pada gadis yang penuh senyum di sampingnya itu.

"Oh ya, besok kan hari Minggu. Apa kamu mau ikut bersama kami?" tanya Elvina.

"Tidak. Aku sibuk." tolak Clarissa tanpa minat.

"Yah ... Padahal aku ingin sekali mengajakmu pergi bersama kami." Elvina mendesah kecewa.

"Kami?" Clarissa mengangkat sebelah alisnya. Tampak Elvina mengangguk.

"Kami siapa?"

"Aku dan ketiga temanku, lalu Gerry bersama temannya."

Clarissa tampak berpikir sebentar.

"Kalian mau kemana?"

"Ke taman hiburan."

"Oke, aku ikut."

"Benarkah?" Elvina mendelik tak percaya. Detik selanjutnya Robert mengangguk.

"Terima kasih, Robert. Aaa ... aku sangat senang kamu bisa ikut bersamaku. Nanti di sana kita berpasangan, ya."

"Apa?" Clarissa tampak kaget.

"Ya karena mereka semua sudah ada pasangan masing-masing. Aku tidak mungkin ikut dan menjadi obat nyamuk di antara mereka 'kan? Makanya aku mengajakmu. Ini semacam triple date."

"Ummm ... Oke, baiklah."

Elvina tampak berjingkrak sebentar dengan senyum yang mengembang. Ia tampak senang karena Clarissa mau pergi bersamanya.

"Ya sudah, aku duluan ya." kata gadis itu seraya berlari karena melihat teman-temannya yang sudah berada jauh di depan mereka.

"Apa tadi? Triple date?" Clarissa tertawa.

"Sial! Selama ini aku jomblo, dan saat aku berkencan malah dengan seorang gadis juga? Ini benar-benar sial!" gerutunya seraya tertawa getir. Tapi semua itu ia lakukan demi Emily. Ia berpikir untuk mendekati Gerry dan teman-temannya lewat Elvina. Bahkan Elvina juga pernah membully Emily, bukan?

Menurut Clarissa, tak apa jika ia ikut bergabung dengan Gerry kali ini. Ketika ia akan melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda, netranya tak sengaja menatap ke lantai paling atas gedung dengan enam lantai ini. Matanya menyipit, mencoba memperjelas penglihatannya ke atas rooftop.

"Bukankah itu Harry? Kenapa dia tampak sedih di atas sana?" gumam Clarissa seorang diri.

Harry berdiri di atas rooftop seraya termenung. Lamunan panjang itu sering terjadi menghampirinya. Ingatannya kembali pada beberapa waktu lalu. Kejadian itu tidak akan bisa ia hilangkan seumur hidupnya.

"Harry ... Tolong aku!" teriak seorang gadis yang tengah berpegangan pada sebuah ujung gedung. Kepala gadis itu tampak penuh darah, begitu juga dengan tangannya.

"Ke-kenapa kamu bisa ada di situ?" teriak Harry ketakutan.

"Tolong aku, Harry. Aku tidak mau mati." teriak gadis itu dengan tangis yang berderai. Harry yang tampak panik saat itu tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia mencoba menjulurkan tangannya, mencoba menarik tangan penuh darah milik temannya itu.

"Pegang tanganku dengan kuat." ucap Harry dengan badan gemetar. Wajahnya tampak pucat karena takut.

"Aku tidak kuat lagi, Harry." lirih gadis itu seraya menangis.

"Tidak. Aku memegangi mu. Ayo cepat kita naik."

"Harry, aku menyayangi mu. Maafkan aku," Beberapa detik kemudian tangan gadis itu terlepas dari genggaman Harry. Di saat yang sama Harry berteriak keras bersamaan tubuh gadis itu yang terjun bebas ke lantai dasar.

"Hei! Sedang apa?" Harry terkejut ketika merasakan tepukan di bahunya. Ia menoleh ke belakang, menemukan wajah Clarissa yang tersenyum lebar. Sontak saja Harry mengusap wajahnya dengan kasar.

"Kamu sedang apa? Kenapa tampak sangat serius?" tanya Clarissa.

"Tidak. Aku sedang tidak apa-apa." jawab Harry seraya menjauh dari tempatnya berdiri. Ia menghindari Clarissa. Gadis itu terdiam, menangkap gelagat aneh yang Harry tunjukkan. Harry segera meninggalkan tempat itu dengan sesekali menoleh ke arah belakang Clarissa dengan wajah pucat.

"Entah kenapa aku semakin curigai pada Harry. Aku harus terus mendekatinya." gumam Clarissa seraya menatap Harry dengan penuh kecurigaan, Harry berjalan semakin menjauh mengindari Clarissa.

Terpopuler

Comments

Ds Phone

Ds Phone

ada apa ya

2025-02-06

0

Bu Neng

Bu Neng

Hay Thor...saya mampir nih.. ceritanya zeruuuu..👍

2023-11-15

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Diary Emily
3 Demi Emily
4 Tekad Clarissa
5 Gara-gara Andrew
6 Murid baru
7 Hari kedua di sekolah
8 Roti sobek
9 Menggali informasi
10 Menghindar
11 Cerita Andrew
12 Di balkon kamar
13 Kecurigaan Clarissa
14 Di peluk Pak Calvin
15 Di cafe
16 Kericuhan di cafe
17 Kejadian di balkon kamar
18 Tangis Clarissa
19 Mimpi masa kecil
20 Fakta baru
21 Hilangnya Diary Emily
22 Harapan Calvin
23 Menguntit
24 Mobil yang sama
25 Penyamaran yang terbongkar
26 Testpack
27 Di usir
28 Menikmati hujan
29 Tinggal bersama
30 Mencari Clarissa
31 Seorang dokter?
32 Amnesia mendadak
33 Cemburu
34 Bertemu Harry
35 Menuduh Harry
36 Tamu tak diundang
37 Hampir mati
38 Baku hantam
39 Pingsan?
40 Jangan pergi
41 Keras kepala
42 Di jemput paksa
43 Di paksa menikah
44 Pertikaian
45 Stevanus Atmaja
46 Jalan bersama
47 Makan Bakso bersama
48 Telur gulung
49 Menghabiskan malam bersama
50 Ungkapan perasaan
51 Backstreet
52 Interogasi
53 Sebuah ancaman
54 Bertunangan
55 Wanita simpanan Andrew
56 Tanpa kabar
57 Di rumah sakit
58 Tidak peka
59 Licik
60 Tumbal
61 Gaun Pemberian Andrew
62 Sundel bolong
63 Harta dan tahta
64 Misi rahasia Clarissa
65 Rencana yang gagal
66 Kenyataan pahit
67 Rumah kosong
68 Pengakuan Gerry
69 Di taman belakang
70 Dejavu
71 Terluka
72 Lelah
73 Sebuah harapan
74 Mansion keluarga Atmaja
75 Terungkap
76 Di kamar Andrew
77 Obsesi
78 Tidak pulang
79 Kegelisahan Aruna
80 Benar-benar gila
81 Menjadi tawanan
82 Jujur
83 Di Villa
84 Murahan
85 Klinik Aborsi
86 Berubah pikiran
87 Kronologi Kematian Emily
88 Melepaskan diri
89 Mencari cara
90 Berhasil kabur
91 Ezar
92 Kematian Ezar
93 Kedatangan polisi
94 Selamat tinggal Clarissa
95 Kematian Andrew
96 Di rawat
97 Menerima kenyataan
98 Dendam kesumat
99 Titik lemah
100 Di bandara
101 Rumah baru
102 Penguntit
103 Kesederhanaan
104 Hari pertama di kampus
105 Everything is still about you
106 Ada hati yang harus di jaga
107 Hari pertama bekerja
108 Aku bukan pelakor
109 Di ganggu preman
110 Babak belur
111 Penolakan Clarissa
112 Sadar posisi
113 Hampir terlambat
114 Pertanyaan Alin
115 Luka tak berdarah
116 Jauhi Calvin
117 Sebuah Foto
118 Muak
119 Meminta kesempatan kedua
120 Wanita Ular
121 Aku atau dia
122 Mencintai atau di cintai?
123 Kebakaran
124 Pernyataan cinta
125 Tak perlu memaksa
126 Meluruskan kesalahpahaman
127 Fakta sebenarnya
128 Will you marry me?
129 CLBK
130 Cinta tak beralasan
131 THE END
132 THANK YOU
Episodes

Updated 132 Episodes

1
Prolog
2
Diary Emily
3
Demi Emily
4
Tekad Clarissa
5
Gara-gara Andrew
6
Murid baru
7
Hari kedua di sekolah
8
Roti sobek
9
Menggali informasi
10
Menghindar
11
Cerita Andrew
12
Di balkon kamar
13
Kecurigaan Clarissa
14
Di peluk Pak Calvin
15
Di cafe
16
Kericuhan di cafe
17
Kejadian di balkon kamar
18
Tangis Clarissa
19
Mimpi masa kecil
20
Fakta baru
21
Hilangnya Diary Emily
22
Harapan Calvin
23
Menguntit
24
Mobil yang sama
25
Penyamaran yang terbongkar
26
Testpack
27
Di usir
28
Menikmati hujan
29
Tinggal bersama
30
Mencari Clarissa
31
Seorang dokter?
32
Amnesia mendadak
33
Cemburu
34
Bertemu Harry
35
Menuduh Harry
36
Tamu tak diundang
37
Hampir mati
38
Baku hantam
39
Pingsan?
40
Jangan pergi
41
Keras kepala
42
Di jemput paksa
43
Di paksa menikah
44
Pertikaian
45
Stevanus Atmaja
46
Jalan bersama
47
Makan Bakso bersama
48
Telur gulung
49
Menghabiskan malam bersama
50
Ungkapan perasaan
51
Backstreet
52
Interogasi
53
Sebuah ancaman
54
Bertunangan
55
Wanita simpanan Andrew
56
Tanpa kabar
57
Di rumah sakit
58
Tidak peka
59
Licik
60
Tumbal
61
Gaun Pemberian Andrew
62
Sundel bolong
63
Harta dan tahta
64
Misi rahasia Clarissa
65
Rencana yang gagal
66
Kenyataan pahit
67
Rumah kosong
68
Pengakuan Gerry
69
Di taman belakang
70
Dejavu
71
Terluka
72
Lelah
73
Sebuah harapan
74
Mansion keluarga Atmaja
75
Terungkap
76
Di kamar Andrew
77
Obsesi
78
Tidak pulang
79
Kegelisahan Aruna
80
Benar-benar gila
81
Menjadi tawanan
82
Jujur
83
Di Villa
84
Murahan
85
Klinik Aborsi
86
Berubah pikiran
87
Kronologi Kematian Emily
88
Melepaskan diri
89
Mencari cara
90
Berhasil kabur
91
Ezar
92
Kematian Ezar
93
Kedatangan polisi
94
Selamat tinggal Clarissa
95
Kematian Andrew
96
Di rawat
97
Menerima kenyataan
98
Dendam kesumat
99
Titik lemah
100
Di bandara
101
Rumah baru
102
Penguntit
103
Kesederhanaan
104
Hari pertama di kampus
105
Everything is still about you
106
Ada hati yang harus di jaga
107
Hari pertama bekerja
108
Aku bukan pelakor
109
Di ganggu preman
110
Babak belur
111
Penolakan Clarissa
112
Sadar posisi
113
Hampir terlambat
114
Pertanyaan Alin
115
Luka tak berdarah
116
Jauhi Calvin
117
Sebuah Foto
118
Muak
119
Meminta kesempatan kedua
120
Wanita Ular
121
Aku atau dia
122
Mencintai atau di cintai?
123
Kebakaran
124
Pernyataan cinta
125
Tak perlu memaksa
126
Meluruskan kesalahpahaman
127
Fakta sebenarnya
128
Will you marry me?
129
CLBK
130
Cinta tak beralasan
131
THE END
132
THANK YOU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!