Clarissa keluar kamar dengan terburu-buru, ia bahkan memperbaiki seragamnya yang terbuka sambil berlari menuruni tangga. Aruna yang melihat putrinya seperti itu tak segan untuk berteriak.
"Clarissa hati-hati! Kamu bisa jatuh jika seperti itu!" teriak sang Mama dengan khawatir. Ia sedang duduk di meja makan bersama suaminya.
"Maaf Ma, Clarissa sudah terlambat." ujarnya seraya mencium punggung tangan mamanya dan mencium kedua pipi Aruna untuk berpamitan. Ia melakukan hal yang sama pada Alexander yang sedang sarapan.
"Sarapan dulu, sayang." kata Alexander tapi Clarissa hanya menggeleng.
"Tidak ada waktu, Pa. Clarissa sudah terlambat. Ini hari pertama masuk sekolah, apalagi Clarissa anak baru di sana." kata gadis itu seraya berlari.
"Tapi Cla ...." protes sang Mama.
"Clarissa benar-benar sudah terlambat. Nanti saja makan di kantin." tolak gadis itu.
"Papa antar, ya?"
"Tidak. Clarissa sudah memesan ojek online." teriaknya seraya keluar rumah. Kedua orang tuanya saling lempar pandangan.
"Apa? ojek online?"
Alexander mengangkat kedua bahunya.
"Mungkin agar penyamarannya tidak ketahuan?"
"Tapi naik ojek itu berbahaya, Pa. Kan dia bisa memakai mobilnya ke sekolah." ucap mama khawatir.
"Naik ojek tidak buruk juga, Ma. Bahkan lebih cepat naik ojek agar tidak terjebak macet."
"Tapi, Pa ...."
"Sudahlah, habiskan sarapan Mama. Papa sudah terlambat pergi ke kantor." pria itu memasukkan sepotong roti ke dalam mulutnya. Keduanya sarapan dengan hati yang tidak tenang.
Clarissa menunggu ojek online pesanannya tapi tidak datang. Akhirnya ia harus rela berjalan kaki untuk keluar komplek perumahan dan berharap ada tukang ojek yang lewat. Belum jauh gadis itu berjalan, ia bertemu dengan pengendara sepeda motor yang melintas. Ia segera menghentikan motor itu sehingga membuat pengendara itu terkejut.
"Pak, tolong antarkan saya ke SMA Garuda!" tanpa menunggu persetujuan pria itu Clarissa segera naik di belakang.
"Tapi saya bukan tukang ojek!" jelas pria itu berusaha menolak.
"Saya bayar berapa pun yang Bapak minta! Ayo jalan! Saya sudah terlambat." teriaknya tak sabar.
"Tapi ...."
"Ayo buruan!" teriak Clarissa sambil menepuk pundak pria asing yang ada di hadapannya itu. Mau tak mau pengendara itu segera melajukan motornya dengan perasaan tak menentu. Dalam hati ia menggerutu karena merasa sial bertemu dengan orang yang sekarang membonceng di belakangnya.
Sesampainya di sekolah yang terkenal itu, Clarissa turun dan berlari karena melihat gerbang sekolah yang hendak di tutup.
"Nanti saya bayar!" teriaknya seraya berlari.
"Astaga. Bahkan mengucapkan terima kasih pun tidak." pria itu menggelengkan kepalanya seraya melihat Clarissa yang menghilang bergabung dengan para siswa yang memasuki sekolah.
Siswa kelas XII saat itu di hebohkan dengan kedatangan siswa baru yang tampan. Bahkan para siswi yang melihat penampilan Clarissa tak segan-segan berteriak.
"Wah. Tampan sekali!" mereka berteriak-teriak seraya menutup mulut. Para siswa pria melihat Clarissa dengan sinis, merasa tersaingi. Keadaan kelas menjadi riuh karena Clarissa. Keadaan kelas tenang kembali ketika seorang guru perempuan berteriak meminta mereka diam.
Clarissa di minta untuk memperkenalkan diri. Ia berdiri di depan kelas. Kelas menjadi tenang, hanya terdengar bisik-bisik dari pada penghuninya.
"Hai all. Nama saya Robert Dalwyn pindahan dari Amerika."
Mendengar kata Amerika membuat para siswi histeris.
"Wow ... Dia dari Amerika. Pantas saja terlihat sangat tampan."
Setelah Clarissa yang menyamar menjadi Robert selesai, ia di persilahkan duduk di bangku paling belakang seorang diri. Saat ia baru duduk di bangku itu, tampak bermacam tulisan di atas meja.
Emily tidak tahu diri!
Harusnya kamu mati!
Tidak pantas di sekolah ini!
Sok kaya dan sok cantik!
Robert mengepalkan kedua tangannya dengan geram. Mengetahui bahwa tulisan penuh penghinaan itu di tujukan untuk Emily, mata gadis itu tampak menggelap. Dendam dan kebencian semakin terpancar. Dengan tak sengaja gadis itu memukul meja itu dengan keras sehingga membuat semua mata tertuju padanya.
"Robert, ada apa?" tanya Guru perempuan yang bernama Nancy. Ia melihat penuh keheranan pada siswa baru yang sedang duduk di belakang itu. Clarissa mengangkat kepalanya, mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. Menyadari sikapnya telah mengundang perhatian, ia menarik sudut bibirnya dan menyeringai.
"Hehe, Maaf Bu. Tadi ada kecoak." ia menggaruk kepala bagian belakangnya.
"Kecoak? Mana mungkin di sini ada kecoak?"ucap guru muda itu seraya mengernyitkan keningnya.
"Tadi memang ada kecoak, Bu. Mungkin dia ingin berkenalan dengan saya. Maklum, saya 'kan ganteng." ujar Clarissa dengan percaya diri. Ia tersenyum menampakkan deretan giginya yang putih bersih. Mendengar ucapan gadis itu membuat seluruh kelas bersorak sehingga Bu Nancy segera menenangkan kelas kembali.
"Sudah-sudah! Jangan mengacau, Robert! Duduk diam di sana dan ikuti pelajaran. Saya tidak ingin ada keributan di kelas selama saya mengajar. Paham?"
Clarissa mengangguk.
"Baiklah, kita mulai pelajaran dan buka halaman 216. Kalian baca dalam waktu dua puluh menit, lalu saya akan memberikan soal." sontak saja ucapan gurunya membuat para siswa dan siswi mengeluh.
"Yaah Bu. Mana bisa begitu? Membaca dalam waktu dua puluh menit belum cukup. Mana bisa lengket di otak dalam waktu sebentar." protes salah satu siswa yang duduk di sebelah Clarissa.
"Iya, Bu. Mana bisa langsung mengerjakan soal dalam waktu dua puluh menit." sahut siswi yang ada di barisan paling depan sebelah kiri. Mendengar hal itu sehingga membuat Bu Nancy tersenyum.
"Baiklah kalau begitu waktunya hanya sepuluh menit di mulai dari sekarang!" ucapan Guru itu tidak bisa di bantah. Sehingga membuat para siswa mengeluh dan mengumpat diam-diam.
Sementara Clarissa mengamati satu persatu siswa yang ada di sana. Ia sengaja meminta masuk ke dalam kelas Emily. Bahkan kini ia harus duduk di bangku yang pernah di tempati oleh adiknya itu.
Setelah sepuluh menit berlalu, Nancy meminta salah satu siswa menyebarkan soal ulangan. Clarissa yang memang pintar dan telah melewati pelajaran itu mengerjakan semuanya dengan mudah. Dalam waktu singkat ia bisa mengerjakan semuanya sehingga mendapatkan pujian dari Bu Nancy.
"Wah, Robert. Ternyata kamu sangat cerdas! Semua jawaban kamu sempurna! Wah, saya bangga sama kamu." Clarissa hanya tersenyum menanggapi pujian dari gurunya. Semua mata tertuju pada Clarissa. Selain terlihat tampan, rupanya Robert adalah siswa yang cerdas. Banyak gadis di kelas itu semakin mengelu-elukan namanya. Membuat namanya cepat terkenal di penjuru sekolah.
Saat jam istirahat, banyak gadis-gadis yang mengajaknya berkenalan. Bahkan tak segan duduk menempel padanya sehingga membuat Clarissa risih.
"Hai Robert, di Amerika kamu tinggal dengan siapa? Kamu Asli Amerika ya? Kenapa pindah ke Indonesia? Di sini kamu tinggal dengan siapa? Robert, mengapa kamu sangat tampan? apa kamu sudah punya pacar?" Segala pertanyaan itu terlontar begitu saja dari para gadis di dalam kelas itu sehingga Clarissa merasa pusing dan bingung mau menjawab yang mana. Tampaknya penyamaran yang ia lakukan sangat sempurna sehingga mereka mengira Clarissa memang seorang pria.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments
Ds Phone
mata meraka semua buta
2025-02-06
0