"Kamu bilang apa?" tanya Pak Calvin semakin mendekat. Mengikis jarak di antara mereka. Clarissa mendongak,
"Mampus!" desisnya putus asa.
"Robert, kamu sedang memikirkan apa? Saya lihat sejak tadi kamu tidak fokus."
"Sa-saya sedang ... tidak enak badan Pak. Iya, itu. Saya sedang tidak enak badan." ucap Clarissa spontan. Tampak Pak Calvin mengernyitkan dahi, memperhatikan penampilan siswa baru yang ada di hadapannya.
"Saya tidak enak badan, Pak. Makanya tidak berganti pakaian."
"Baiklah. Kalau begitu kamu silahkan istirahat atau ke UKS."
"Beneran, Pak?" Clarissa mendelik tak percaya. Pak Calvin hanya mengangguk, lalu segera berbalik untuk kembali ke kolam renang. Baru beberapa langkah, ia kembali melihat ke arah Clarissa dan Harry.
"Oh ya, kamu bisa bersama Harry karena dia juga tidak bisa ikut berenang." kata Pak Calvin. Setelah mengatakan hal itu ia kembali masuk ke kolam renang. Clarissa sangat lega setelah mendengar perkataan Pak Calvin. Ia tidak usah bersusah payah berenang dengan pakaian lengkap bersama para siswa laki-laki.
"Uhh ... akhirnya." gumamnya seraya menuju ke arah Harry yang sedari tadi mengamatinya.
"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Clarissa setelah dekat. Harry tampak menggeleng, tapi ia terus memperhatikan gadis berpenampilan pria yang ada di hadapannya.
"Kenapa sih? Kok ngeliatin aku gitu? Ntar jatuh cinta, repot!" Harry tertawa mendengar ucapan Clarissa.
"Maaf, aku masih normal."
Clarissa terkikik geli. Seandainya saja Harry tahu siapa dia.
"Ya siapa tahu, kamu belok." canda Clarissa.
"Nggak lah. Bahkan hati aku masih tetap sama orang yang sama meski orangnya sudah tidak ada." lirih pria itu seraya membenarkan kacamatanya. Ia dan Clarissa berjalan beriringan.
"Apa maksud mu kalian sudah putus?" tanya Clarissa ingin tahu. Harry menggeleng, ia memilih duduk di bangku panjang sepanjang koridor. Melihat pria itu duduk, Clarissa ikut mendaratkan tubuhnya di sebelah Harry.
Tampak Harry menghela napas berat, tatapannya jauh ke depan. Tampak pilu dan penuh kesedihan.
"Kamu tidak pernah menjalin hubungan layaknya sepasang kekasih. Cinta ini hanya sepihak." ia tertawa getir. Clarissa hanya diam mendengarkan tanpa mau menyela.
"Sikapnya kepadaku membuatku salah paham. Dia gadis yang sangat cantik, cerdas, ramah dan sangat baik. Kami berteman sudah cukup lama hingga perasaanku berubah menjadi rasa yang tidak biasa. Aku menginginkan hubungan kami lebih dari sekedar teman biasa. Tapi ternyata ia mempunyai pria idaman lain. Dan dia sangat mencintai pria itu melebihi dirinya sendiri." Dada Harry semakin sesak kala mengingat gadis yang selalu ada di hatinya.
"Dan kau tahu?" ia menatap Clarissa sangat dalam.
"Wajahmu mirip sekali dengan gadis itu. Mata kalian, rambut, bahkan bibir kalian sangat mirip. Mungkin jika kamu perempuan, akan terlihat sangat mirip." kata-kata yang di ucapkan oleh Harry sontak saja membuat Clarissa mendelik. Dalam hatinya ia bertanya-tanya, Apakah gadis yang di maksud oleh Harry adalah Emily?
Clarissa hanya diam menunggu kelanjutan cerita dari Harry. Ia melihat kesedihan luar biasa yang ada di wajah pria di sampingnya itu.
"Eh, maaf aku jadi curhat." pria itu terkekeh seraya mengusap sudut matanya yang berair. Pria itu tampak sangat tulus.
"Tidak apa-apa. Aku siap untuk mendengarkan. Lagi pula aku jadi penasaran, siapa gadis yang sangat beruntung itu?"
"Bukan siapa-siapa. Lagi pula kamu tidak akan bisa bertemu dengannya lagi."
"Mengapa? Apa ia pindah sekolah? Atau gadis itu tidak bersekolah di sini?"
Harry menggeleng.
"Kita sudah beda alam." lirihnya penuh kesakitan.
Deg ....
Mata Clarissa berkaca-kaca. Jadi benar, Harry menyukai Emily? Gadis yang di maksud oleh Harry adalah Emily?
Berbagai pertanyaan muncul begitu banyak di benaknya.
"Di-dia sudah meninggal?" tanya Clarissa pada pria yang sedang menunduk itu. Tak lama Harry tampak mengangguk.
"Dia sudah meninggal beberapa waktu lalu."
"Apa aku boleh tahu dia meninggal karena apa?" tanya Clarissa hati-hati. Harry menatap Clarissa, lalu ia tersenyum.
"Sudahlah. Kok malah jadi sedih begini sih. Maaf, aku tidak bisa menceritakan tentang meninggalnya gadis itu."
"Apa karena hal itu akan membuat kamu semakin sedih?" tanya Clarissa.
"Ya, begitulah. Aku akan merasa sangat sedih jika mengingat semuanya."
"Tapi, apa aku boleh tahu siapa nama gadis itu?"
Harry kembali tersenyum.
"Namanya Emily. Emily Valerie Johan."
Deg ....
Benar dugaan Clarissa. Harry adalah pria yang menyukai adiknya.
"Sudahlah. Jangan mengasihani aku. Mungkin sudah nasib ku begini." ia terkekeh. Mengusir kegalauan yang kembali hinggap di hatinya.
"Sepertinya gadis itu sangat spesial. Dia begitu cantik dan periang. Sikapnya juga selalu ceria dan begitu ramah. Pantas saja jika kamu bisa jatuh hati padanya."
Harry mengernyitkan dahi. Menatap Clarissa yang menatap jauh ke depan.
"Bagaimana kamu bisa tahu Emily? Kamu seperti sudah mengenalnya sangat lama."
Clarissa menoleh. Ia tertawa canggung, mencoba memutar otak mencari alasan. Lagi-lagi ia keceplosan.
"Lama-lama penyamaranku bisa terbongkar kalau begini terus." ujarnya dalam hati.
"A-aku hanya menyimpulkan dari cerita kamu tadi." katanya tergagap.
"Iya juga sih. Tapi kamu benar, dia gadis yang selalu ceria dan periang. She is the perfect girl."
"Tapi sayangnya kalian tidak berjodoh."
"Ya, seandainya dia masih ada pun tidak akan memilih ku untuk menjadi kekasihnya."
"Apa kamu tahu siapa pria yang ia sukai?"
Harry menggeleng.
"Yang pasti pria itu lebih dewasa dari kita. Ia bukan anak sekolahan. Pernah beberapa kali aku melihat pria itu menjemput Emily. Dia juga tampak seperti orang kaya. Jauh berbeda dengan aku yang bisa masuk sekolah ini karena beasiswa."
Seolah menemukan titik terang, Clarissa semakin ingin menggali informasi sebanyak-banyaknya dari Harry.
"Apakah pria itu sangat tampan hingga gadis itu mengabaikan mu?"
"Ya, dia terlihat sangat tampan. Bahkan selalu memakai jas bermerk serta membawa Lamborghini keluaran terbaru. Aku tidak ada apa-apanya di bandingkan dia." Harry tertawa getir.
"Ciri-cirinya?"
"Pria itu tampan, berambut pirang dengan gaya potongan undercut. Sepertinya ia masih keturunan bule. Postur tubuhnya juga sangat atletis dan tinggi. Siapapun gadisnya akan bertekuk lutut padanya. Termasuk Emily. Ya, wajar saja jika Emily lebih memilih pria itu. Dari segi manapun dia memang lebih pantas di bandingkan aku. Tampan dan mapan. Dua kata yang harus ada di setiap pria jika ingin di pilih."
Clarissa tampak berpikir keras. Mengapa ciri-ciri pria itu seperti tak asing baginya? Tapi siapa? Clarissa terus menebak dan menggali informasi dari Harry. Karena sedikit atau sekecil apapun Informasi yang ia dapat akan sangat berarti baginya. Clarissa semakin yakin bahwa dirinya bisa menguak misteri kematian adiknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments
Ds Phone
tunang kau lah tu
2025-02-06
0
Siti Rahayu
jangan" di andrew
2023-09-19
0