Hari kedua di sekolah

Ketika jam istirahat, Clarissa menuju kantin sekolah sendirian. Setelah mengambil jatah makan siangnya, ia segera mencari meja yang kosong. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin. Di sana sangat ramai sehingga sangat sulit menemukan meja yang kosong. Hingga netranya tertuju pada satu meja kosong yang tidak ada satu orang pun yang berada di sana. Clarissa akhirnya tersenyum lega, ia berjalan menuju meja itu dengan senang karena perutnya sangat lapar. Tadi pagi ia tidak sempat sarapan sehingga saat pelajaran berlangsung ia merasa tidak nyaman.

Ketika gadis itu duduk di sana, semua orang yang ada di kantin menatapnya dan berbisik-bisik. Clarissa tak peduli, karena menurutnya mengisi perutnya yang lapar lebih penting.

"Aaaa ... akhirnya aku bisa makan." gumam gadis itu seraya memasukkan satu suapan makan siangnya ke dalam mulut. Baru dua suap ia makan, tiba-tiba ia di kejutkan dengan kedatangan empat pria yang menatapnya tidak suka dan langsung menggebrak meja sehingga membuat Clarissa terkejut bukan main.

Braakk ....

Jantung Clarissa hampir lompat. Semua yang ada di sana menoleh ke arah suara gebrakan meja yang mengagetkan. Bahkan gadis itu menjatuhkan sendok dan garpu yang di pegangnya. Lalu beberapa detik kemudian ia memegangi dadanya. Ia mendongak, menemukan empat pria yang satu kelas dengannya. Gadis itu berdiri dan berkacak pinggang.

"Apaan sih ? Nggak tahu apa, orang lagi makan?" teriaknya kesal Sembari menatap pria yang berdiri di hadapannya. Pria berambut ikal itu menyeringai menatap remeh pada Clarissa.

"Lo nggak kenal siapa gue?"

"Aku nggak peduli kamu siapa dan aku nggak suka kamu ganggu aku lagi makan!" teriak Clarissa kesal.

"Lo udah menyalahi aturan! Siapa suruh Lo berani duduk di meja kita?!" sahut pria berkulit sawo matang di belakang pria tadi.

"Apa maksud kamu? Meja apaan?" tanya Clarissa tak mengerti.

"Jelasin!" ujar pria berambut ikal yang bernama Gerry itu tanpa memutuskan pandangannya pada Clarissa. Baru saja temannya akan menjelaskan, seorang pria datang menarik lengan gadis itu sehingga membuatnya kaget. Pria itu menarik Clarissa hingga keluar kantin.

"Apaan sih? Lepasin!" Clarissa meronta. Setelah di rasa aman, pria tadi baru melepaskan tangannya dari lengan Clarissa.

"Apaan sih tiba-tiba narik tangan orang sembarangan!" protes Clarissa tak suka.

"Maaf, aku cuma mau menyelamatkan kamu. Jangan berurusan dengan Gerry dan teman-temannya."

"Lah, mereka yang cari masalah. Aku lagi enak-enak makan tapi malah di gangguin. Siapa yang cari masalah?"

"Kamu duduk di meja mereka."

"Meja apa? Bukannya itu tempat umum? Kenapa perihal meja juga di permasalahkan?"

"Tidak ada yang boleh duduk di sana kecuali mereka berempat."

"Gila!" umpat Clarissa kesal. Dulu sewaktu dia sekolah, tidak ada yang seperti itu.

"Makanya, mendingan kamu nggak usah berurusan sama mereka."

"Memangnya dia siapa sih? Kenapa bisa sok berkuasa?"

"Dia adalah keponakan dari pemilik sekolah. Semua anak-anak di sekolah ini takut sama dia. Kalau ada yang berani macam-macam sama dia, siap-siap aja buat di bully bahkan nggak akan bisa tenang di sekolah ini."

"Wah, benar-benar gila itu orang. Mentang-mentang keponakan pemilik sekolah dia bisa berlagak seenaknya. Nggak bisa gitu dong."

"Mending kamu jangan mencari masalah sama Gerry kalau kamu nggak mau bernasib sama dengan Emily." Pria itu menutup mulutnya dengan tiba-tiba sehingga membuat Clarissa mengernyitkan keningnya.

"Apa maksudnya?" Pria itu hanya diam dan mengalihkan pandangannya tak mau menatap Clarissa yang mendesaknya.

"Maksud kamu apaan? Siapa Emily?" tanya Clarissa semakin penasaran dan berpura-pura.

"Bukan siapa-siapa. Jangan pernah berurusan dengan Gerry dan temannya. Itu saja." pria itu lantas pergi dengan terburu-buru.

"Hei! Tunggu!" teriak Clarissa tapi pria itu segera berlari menjauh dan tidak menoleh.

"Apa kematian Emily ada hubungannya dengan Gerry?" ia menggigit ujung kuku. Menatap punggung Pria tadi yang hampir menghilang.

"Kenapa aku merasa dia tahu sesuatu tentang kematian Emily?" gumamnya.

"Aku harus mendekati pria itu. Aku yakin pria itu tahu penyebab kematian Emily. Dan jika memang Gerry dan teman-temannya terlibat, aku tidak akan mengampuni mereka semua. Tidak peduli dia siapa dan seberapa besar kekuasaannya. Aku bersumpah akan membuat mereka semua menyesal karena telah membuat Emily mati!" ia mengepalkan kedua tangannya, menatap tajam ke depan. Dendamnya semakin tumbuh kian besar, melolong panjang minta di balaskan.

🌷🌷

Hari kedua penyamaran Clarissa sebagai Robert di sekolah.

Hari ini ada pelajaran olahraga renang. Gadis itu tampak gelisah memikirkan semuanya. Ia tidak mungkin akan ikut berenang dan membuka semua pakaiannya.

"Aduh ... Gimana nih. Nggak mungkin 'kan aku harus membuka baju? Bisa ketahuan dong." ujarnya panik. Tak lama seorang guru pria mengenakan stelan olahraga masuk dan memberitahukan bahwa mereka harus mengganti pakaian.

"Oke, anak-anak. Hari ini kita akan melakukan olahraga renang. Harap kalian segera berganti pakaian dan langsung pergi ke kolam renang sekolah."

Semua anak yang ada di kelas itu segera meninggalkan ruang kelas untuk berganti pakaian kecuali Clarissa. Ia menunduk, tak berani melihat pada gurunya. Ketika guru muda itu akan keluar kelas, netranya tertuju pada Clarissa.

"Hei, kamu!" Clarissa menoleh ke kiri dan kanan, melihat siapa yang di panggil. Tapi di ruangan itu hanya tinggal dirinya dan guru itu.

"Bapak memanggil saya?" tanya Clarissa.

"Memangnya ada siapa lagi di ruangan ini selain kita berdua?"

"Hehe," gadis itu terkekeh seraya menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.

"Kenapa kamu tidak pergi berganti pakaian?"

"Saya ... Anu, Pak." Clarissa memutar otak untuk mencari alasan.

"Kenapa? Lagi menstruasi?"

"Iya, Pak. Saya lagi menstruasi." jawab Clarissa asal. Itu adalah alasan yang sering ia gunakan ketika malas berenang saat sekolah dulu. Tampak guru muda itu mengerutkan keningnya sangat dalam.

"Sejak kapan pria menstruasi?"

Deg ....

Jantung Clarissa seakan berhenti. Ia mendelik dan menutup mulutnya yang terbuka. Mengapa bisa dia mengatakan sedang menstruasi? Bukankah dia sekarang sedang menyamar menjadi seorang pria?

Guru muda itu mendekat tanpa memutuskan pandangannya pada Clarissa yang lemas. Ia merasa semua tulangnya lepas. Ia memejamkan mata ketika guru muda nan tampan itu berjalan ke arahnya.

Apakah penyamarannya akan terbongkar secepat ini?

Terpopuler

Comments

Ds Phone

Ds Phone

bodoh betul

2025-02-06

0

R yuyun Saribanon

R yuyun Saribanon

lg thor bikin tokoh nyamar jd laki. ga masuk akal.. mau kencing aja dia dah susah

2024-09-19

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Diary Emily
3 Demi Emily
4 Tekad Clarissa
5 Gara-gara Andrew
6 Murid baru
7 Hari kedua di sekolah
8 Roti sobek
9 Menggali informasi
10 Menghindar
11 Cerita Andrew
12 Di balkon kamar
13 Kecurigaan Clarissa
14 Di peluk Pak Calvin
15 Di cafe
16 Kericuhan di cafe
17 Kejadian di balkon kamar
18 Tangis Clarissa
19 Mimpi masa kecil
20 Fakta baru
21 Hilangnya Diary Emily
22 Harapan Calvin
23 Menguntit
24 Mobil yang sama
25 Penyamaran yang terbongkar
26 Testpack
27 Di usir
28 Menikmati hujan
29 Tinggal bersama
30 Mencari Clarissa
31 Seorang dokter?
32 Amnesia mendadak
33 Cemburu
34 Bertemu Harry
35 Menuduh Harry
36 Tamu tak diundang
37 Hampir mati
38 Baku hantam
39 Pingsan?
40 Jangan pergi
41 Keras kepala
42 Di jemput paksa
43 Di paksa menikah
44 Pertikaian
45 Stevanus Atmaja
46 Jalan bersama
47 Makan Bakso bersama
48 Telur gulung
49 Menghabiskan malam bersama
50 Ungkapan perasaan
51 Backstreet
52 Interogasi
53 Sebuah ancaman
54 Bertunangan
55 Wanita simpanan Andrew
56 Tanpa kabar
57 Di rumah sakit
58 Tidak peka
59 Licik
60 Tumbal
61 Gaun Pemberian Andrew
62 Sundel bolong
63 Harta dan tahta
64 Misi rahasia Clarissa
65 Rencana yang gagal
66 Kenyataan pahit
67 Rumah kosong
68 Pengakuan Gerry
69 Di taman belakang
70 Dejavu
71 Terluka
72 Lelah
73 Sebuah harapan
74 Mansion keluarga Atmaja
75 Terungkap
76 Di kamar Andrew
77 Obsesi
78 Tidak pulang
79 Kegelisahan Aruna
80 Benar-benar gila
81 Menjadi tawanan
82 Jujur
83 Di Villa
84 Murahan
85 Klinik Aborsi
86 Berubah pikiran
87 Kronologi Kematian Emily
88 Melepaskan diri
89 Mencari cara
90 Berhasil kabur
91 Ezar
92 Kematian Ezar
93 Kedatangan polisi
94 Selamat tinggal Clarissa
95 Kematian Andrew
96 Di rawat
97 Menerima kenyataan
98 Dendam kesumat
99 Titik lemah
100 Di bandara
101 Rumah baru
102 Penguntit
103 Kesederhanaan
104 Hari pertama di kampus
105 Everything is still about you
106 Ada hati yang harus di jaga
107 Hari pertama bekerja
108 Aku bukan pelakor
109 Di ganggu preman
110 Babak belur
111 Penolakan Clarissa
112 Sadar posisi
113 Hampir terlambat
114 Pertanyaan Alin
115 Luka tak berdarah
116 Jauhi Calvin
117 Sebuah Foto
118 Muak
119 Meminta kesempatan kedua
120 Wanita Ular
121 Aku atau dia
122 Mencintai atau di cintai?
123 Kebakaran
124 Pernyataan cinta
125 Tak perlu memaksa
126 Meluruskan kesalahpahaman
127 Fakta sebenarnya
128 Will you marry me?
129 CLBK
130 Cinta tak beralasan
131 THE END
132 THANK YOU
Episodes

Updated 132 Episodes

1
Prolog
2
Diary Emily
3
Demi Emily
4
Tekad Clarissa
5
Gara-gara Andrew
6
Murid baru
7
Hari kedua di sekolah
8
Roti sobek
9
Menggali informasi
10
Menghindar
11
Cerita Andrew
12
Di balkon kamar
13
Kecurigaan Clarissa
14
Di peluk Pak Calvin
15
Di cafe
16
Kericuhan di cafe
17
Kejadian di balkon kamar
18
Tangis Clarissa
19
Mimpi masa kecil
20
Fakta baru
21
Hilangnya Diary Emily
22
Harapan Calvin
23
Menguntit
24
Mobil yang sama
25
Penyamaran yang terbongkar
26
Testpack
27
Di usir
28
Menikmati hujan
29
Tinggal bersama
30
Mencari Clarissa
31
Seorang dokter?
32
Amnesia mendadak
33
Cemburu
34
Bertemu Harry
35
Menuduh Harry
36
Tamu tak diundang
37
Hampir mati
38
Baku hantam
39
Pingsan?
40
Jangan pergi
41
Keras kepala
42
Di jemput paksa
43
Di paksa menikah
44
Pertikaian
45
Stevanus Atmaja
46
Jalan bersama
47
Makan Bakso bersama
48
Telur gulung
49
Menghabiskan malam bersama
50
Ungkapan perasaan
51
Backstreet
52
Interogasi
53
Sebuah ancaman
54
Bertunangan
55
Wanita simpanan Andrew
56
Tanpa kabar
57
Di rumah sakit
58
Tidak peka
59
Licik
60
Tumbal
61
Gaun Pemberian Andrew
62
Sundel bolong
63
Harta dan tahta
64
Misi rahasia Clarissa
65
Rencana yang gagal
66
Kenyataan pahit
67
Rumah kosong
68
Pengakuan Gerry
69
Di taman belakang
70
Dejavu
71
Terluka
72
Lelah
73
Sebuah harapan
74
Mansion keluarga Atmaja
75
Terungkap
76
Di kamar Andrew
77
Obsesi
78
Tidak pulang
79
Kegelisahan Aruna
80
Benar-benar gila
81
Menjadi tawanan
82
Jujur
83
Di Villa
84
Murahan
85
Klinik Aborsi
86
Berubah pikiran
87
Kronologi Kematian Emily
88
Melepaskan diri
89
Mencari cara
90
Berhasil kabur
91
Ezar
92
Kematian Ezar
93
Kedatangan polisi
94
Selamat tinggal Clarissa
95
Kematian Andrew
96
Di rawat
97
Menerima kenyataan
98
Dendam kesumat
99
Titik lemah
100
Di bandara
101
Rumah baru
102
Penguntit
103
Kesederhanaan
104
Hari pertama di kampus
105
Everything is still about you
106
Ada hati yang harus di jaga
107
Hari pertama bekerja
108
Aku bukan pelakor
109
Di ganggu preman
110
Babak belur
111
Penolakan Clarissa
112
Sadar posisi
113
Hampir terlambat
114
Pertanyaan Alin
115
Luka tak berdarah
116
Jauhi Calvin
117
Sebuah Foto
118
Muak
119
Meminta kesempatan kedua
120
Wanita Ular
121
Aku atau dia
122
Mencintai atau di cintai?
123
Kebakaran
124
Pernyataan cinta
125
Tak perlu memaksa
126
Meluruskan kesalahpahaman
127
Fakta sebenarnya
128
Will you marry me?
129
CLBK
130
Cinta tak beralasan
131
THE END
132
THANK YOU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!