Clarissa meletakkan barang belanjaannya dengan kasar. Ia menatap nyalang pada pria yang menyusulnya masuk.
"Kamu apaan sih? Manggil-manggil nama aku di depan Pak Calvin?" teriak Clarissa kesal. Andrew yang baru saja masuk menjadi kaget.
"Apa sih maksud kamu, Cla? Aku hanya ingin menjemput kamu. Itu saja."
"Aku tidak butuh di jemput sama kamu! Aku bisa berjalan kaki sendiri."
"Jalan kaki sama pria lain, iya? Oh iya. Makanya tadi kamu cepat-cepat lari biar tidak ketahuan kalau kamu sudah punya calon suami, kan? Biar kamu bisa bebas jalan berdua sama laki-laki tadi, 'kan?" tuding Andrew dengan tatapan mengintimidasi.
"Apa sih kamu? Jangan nuduh sembarangan ya!"
"Terus tadi yang aku lihat itu apa? Kalian jalan berdua malam-malam begini. Apa ke minimarket hanya alasan kamu aja biar bisa ketemuan sama laki-laki itu, 'kan?"
"Jangan mengada-ada ya! Lagi pula kamu tidak berhak melarang aku mau jalan sama siapa pun!"
"Aku itu calon suami kamu, Cla. Jadi kamu harus nurut sama aku! Kamu tidak boleh jalan sama pria mana pun kecuali aku! Termasuk laki-laki tadi!" Mendengar ucapan Andrew membuat Clarissa tertawa geli.
"Lucu banget kamu. Belum jadi suami aja sudah berani mengatur hidup aku. Ingat Andrew! Aku tidak pernah menerima perjodohan ini. Dan asal kamu tahu, aku akan membongkar semua kebusukan kamu di depan Mama dan Papa suatu saat nanti. Aku tidak Sudi menikah dengan pria seperti kamu!" teriak Clarissa marah. Ia menatap kesal pada pria yang kini ada di hadapannya. Andrew maju mendekati Clarissa, ia mencengkram dengan kuat kedua bahu gadis itu sehingga membuat Clarissa meringis.
"Lepas!" ia memberontak.
"Kamu jangan macam-macam dengan aku, Cla. Apa kamu belum tahu siapa aku? Aku tidak menerima penolakan apapun! Dan aku harus bisa mendapatkan apa yang aku inginkan!" ucapnya dengan senyum miring menatap gadis yang tak takut membalas tatapannya yang mengerikan.
"Dasar pria gila!"
"Iya, aku memang gila. Tergila-gila sama kamu, Cla. Makanya ayo menikah agar aku tidak menjadi lebih gila lagi."
"Sampai kapan pun aku tidak akan Sudi menikah dengan pria seperti kamu! Lebih baik aku mati daripada menjadi istri kamu!"
Wajah Andrew menggelap, ia semakin naik pitam. Pria itu menggertakkan giginya dan akan mengangkat tangan kanannya hendak menampar Clarissa tapi suara mama Aruna menghentikan niatnya.
"Cla, kamu sudah pulang?" Mama Aruna muncul dari belakang Clarissa sembari tersenyum. Andrew segera melepaskan cengkraman tangannya di bahu Clarissa. Gadis itu hanya diam, menatap penuh kebencian pada Andrew yang dengan sangat cepat mengubah raut wajahnya.
"Kita baru pulang, Tante." suara pria itu berubah lembut, menatap Aruna dengan tersenyum. Clarissa semakin jijik melihat wajah yang Andrew tunjukkan.
"Clarissa ngantuk. Mau tidur!" kata gadis itu seraya berlalu. Aruna memasang wajah heran dan penuh tanya melihat anaknya yang naik ke lantai atas menuju kamarnya.
"Ada apa dengan Clarissa?" tanya Aruna pada Andrew. Wajah pria itu berubah, tampak lesu dan menatap lantai yang ada di bawahnya.
"Ini salah Andrew, Tante." lirihnya.
"Salah kamu?"
Andrew mengangguk.
"Bagaimana maksudnya? Kamu melakukan kesalahan apa?" tanya Aruna tak mengerti. Tak lama Alexander yang baru saja dari ruang TV segera menghampiriku istrinya dan Andrew.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Pria itu karena melihat ada yang tidak beres di antara mereka.
"Tidak tahu. Nak Andre bilang sikap Clarissa yang tiba-tiba masuk ke kamar di sebabkan oleh Andrew."
"Kenapa Nak Andrew? Apa yang terjadi di antara kalian?" tanah Alexander pada pria yang menunduk itu. Andrew mengangkat kepalanya, menatap Alexander dengan menyedihkan.
"Ini semua salah Andrew om, Tante."
"Iya, kenapa? Coba jelaskan!" sahut Aruna mulai kesal.
"Andrew salah karena telah menjemput Clarissa di mini market. Karena ternyata Clarissa sedang jalan bersama seorang pria dengan mesra. Karena itu Clarissa marah-marah dan mengatakan saya bukan siapa-siapa nya. Saya tidak berhak melarangnya untuk pergi bersama seorang pria. Padahal saya hanya Khawatir dengan keadaan Clarissa." Terdengar suara ******* napas berat dari sepasang suami istri itu.
"Maafkan Clarissa, nak Andrew. Dia memang orangnya keras kepala dan susah sekali di atur." kata Alexander geram.
"Tidak, om. Ini salah saya karena terlalu mengkhawatirkan Clarissa. Seharusnya memang rasa Saya harus di hilangkan. Dan sepertinya Clarissa sudah punya orang spesial."
"Nanti om akan berbicara dengan Clarissa. Ngomong-ngomong, Siapa pria yang pergi bersama Clarissa?"
Andrew menggeleng.
"Saya tidak tahu, om. Sepertinya bukan anak sekolahan. Karena postur tubuhnya yang besar dan tinggi. Ia cukup dewasa." Andrew menjelaskan.
"Mungkin kamu salah lihat? Aruna tidak punya kekasih ataupun teman dekat sedang pria. " Aruna menyahut.
"Tapi mereka tampak dekat, Tante."
"Nak Andrew pulanglah terlebih dulu. Urusan Clarissa biar om yang urus."
"Terima kasih, om. Sya tidak bisa hidup tanpa Clarissa. Saya sangat mencintai dia dan ingin sekali mendapatkannya."
"Kamu tenang saja, nak Andrew. Serahkan semuanya pada om."
"Baiklah om, Tante. Saya pulang dulu." Andrew berpamitan.
"Hati-hati, nak Andrew." ucap Aruna. Ia dan suaminya menatap kepergian Andrew.
"Clarissa benar-benar kelewatan! Kali ini harus di berikan pelajaran biar tidak kerap Kepala."
"Jangan terlalu kera pas Clarissa, Pa." Mama mengingatkan.
"Kalau tidak di kasih paham, anak itu akan semakin melunjak Ma. Nak Andrew itu calon suaminya. Mana mungkin dia diam saja ketika calon istrinya pergi Sama laki-laki lain." Aruna hanya diam tak berani menyela.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments
Ds Phone
bapak nya pun bodoh dengar aja
2025-02-06
0