"Ma, Pa ...." Panggil Clarissa ketika melihat kedua orang tuanya tampak sedih di ruang tamu.
"Hai sayang," sahut Mama dan Papanya seraya mengulas senyum tipis. Gadis yang memakai celana pendek selutut dan kaos oversize bewarna hitam itu menghampiri pasangan yang sedang duduk seraya menggenggam sebuah telepon rumah.
"Ada apa? Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Clarissa menatap kedua orangtuanya dengan khawatir. Aruna dan Alexander saling tatap sebentar, lalu memberi isyarat pada anaknya untuk lebih mendekat. Clarissa duduk di antara Mama dan papanya.
"Ini mengenai Emily," kata Papa dengan suara gemetar. Pupil Clarissa melebar, ia siap untuk mendengar berita selanjutnya. Tampak pasangan itu menarik napas dalam. Clarissa menebak semuanya tidak sedang baik-baik saja.
"What really happened?" tanya Clarissa semakin penasaran.
"Pihak sekolah resmi menutup kasus kematian Emily." ucap Papa dengan berat. Sementara Mama Aruna sudah terisak.
"What?!" Clarissa tersentak. Ia merasa ini semua tidak adil.
"Mereka bilang jika kematian Emily murni karena bunuh diri dan motifnya karena nilai ujiannya yang menurun beberapa Minggu ini."
"Ini semua tidak masuk akal, Pa. Emily tidak akan mungkin nekat mengakhiri hidupnya hanya karena sebuah nilai! Papa dan Mama ingat ketika nilainya turun ketika Emily kelas Xl?" kedua orang tuanya mengangguk.
"Emily tidak menyerah begitu saja. Ia malah lebih giat untuk belajar sampai tengah malam. So ... semua ini tidak masuk akal!" kesal Clarissa dengan dada yang naik turun.
"Kamu benar, Nak. Emily bukan anak yang mudah menyerah apalagi hanya karena nilai. Papa pun juga memiliki pemikiran yang sama dengan kamu." kata Papa Alexander seraya memijit pelipisnya yang terasa pusing.
"Mama juga setuju dengan pemikiran kalian berdua. Emily bukan gadis yang mudah menyerah. Pasti ada suatu hal yang tidak kita ketahui sebelumnya." Setelah lama diam, Mama Aruna akhirnya angkat bicara.
"Ma, apa sebelumnya Emily tampak menyimpan sesuatu?" tanya Clarissa seraya menatap Mamanya menunggu jawaban. Mama Aruna dan Papa Alexander saling melemparkan pandangan. Lalu keduanya kompak menggeleng.
"Emily tampak seperti biasa. Ia selalu ceria dan periang, sama seperti sebelumnya." kata Mama.
"Tapi sebentar," Mama tampak berpikir keras dan mencoba untuk mengingat sesuatu sementara Clarissa dan papanya menunggu Sang Mama mengungkap sesuatu.
"Satu Minggu yang lalu, ketika mama masuk ke kamarnya matanya tampak bengkak seperti habis menangis. Dan banyak tisu berceceran di lantai kamar. Tapi ketika Mama tanya, ia cuma bilang karena nonton drama Korea."
"Mama percaya begitu saja?" tanya Clarissa dan mamanya hanya mengangguk.
"Apa Mama atau Papa tahu Emily sedang dekat dengan siapa akhir-akhir ini?" tanya Clarissa. Keduanya menggeleng.
"Tidak. Emily tidak sedang dekat dengan siapa-siapa."
"Ma, Pa. Clarissa semalam menemukan Diary Emily. Dan ternyata Emily mendapatkan perundungan di sekolah." Mendengar hal itu membuat Sang Mama dan Papa shock.
"Bagaimana mungkin semua itu bisa terjadi?" tanya Mama Aruna.
"Bisa saja, Ma. Mereka mungkin iri karena nilai Emily hampir selalu sempurna. Dan Clarissa baca sendiri diary Emily."
"Ya Tuhan, mengapa nasib kamu begini sayang." lirih sang Mama penuh kesedihan.
"Apa kamu tahu, siapa yang melakukan perundungan pada Emily?" tanya Papa dengan wajah yang telah memerah menahan marah.
"Entahlah, Pa. Sepertinya masih satu kelas dengan Emily."
"Papa akan mencari tahu semuanya dan akan mengusut semua ini sampai tuntas! Papa tidak akan tinggal diam dan akan menjebloskan ke dalam penjara siapapun yang terlibat dengan kematian Emily!" ucap sang Papa dengan dendam yang menyala dalam dada.
"Biar Clarissa yang mencari tahu semuanya." ujar gadis itu dengan mata tajam yang menyala. Ia juga tidak terima dengan kematian adiknya.
"Apa maksud kamu, Clarissa?" tanya Papa dan di ikuti anggukan dari sang Mama.
"Mama dan Papa tenang saja, Clarissa akan mencari tahu semuanya. Clarissa janji akan membalas semua yang telah menyakiti Emily." ucap gadis itu penuh dendam. Kedua tangannya terkepal dengan kuat.
"Cla, bagaimana dengan kuliah kamu?" tanya Mama khawatir.
"Clarissa bisa ambil cuti, Ma." Clarissa mengusap lembut bahu sang Mama.
"Tapi, Cla ...."
"Percayakan semuanya pada Clarissa. Clarissa janji akan menguak misteri kematian Emily. Clarissa akan membalas semua dendam kita, Ma. Clarissa akan mencari tahu pihak yang terlibat." kata gadis itu seraya menanamkan tekad yang begitu besar.
Matanya tampak berapi-api menyimpan dendam.
🌹🌹
"Apa kah anda yakin untuk memotong semuanya?" tanya seorang Karyawan barbershop.
Setelah yakin dengan keputusannya, Clarissa memutuskan untuk mengunjungi sebuah barbershop dan memangkas rambut indahnya yang tergerai. Tampak pegawai pria yang sedang berdiri di belakangnya memperbaiki rambut client-nya.
"Saya yakin." kata Clarissa.
"Tapi rambut anda begitu cantik dan indah."
"Semenjak kapan seorang karyawan barbershop begitu cerewet?" ucap Clarissa seraya menatap bayangan dirinya dari cermin yang ada di hadapannya. Mendengar hal itu membuat karyawan itu terdiam seribu bahasa. Ia pun sangat menyayangkan rambut Clarissa yang tergerai panjang. Siapapun yang melihatnya pasti akan menyayangkan semua itu. Clarissa meminta untuk di potong cepak seperti laki-laki. Ia benar-benar yakin dengan keputusannya. Clarissa tak punya cara lain untuk mengetahui penyebab kematian adiknya jika dirinya tidak masuk ke dalam sekolah itu. Dan satu-satunya cara ialah menjadi bagian di sekolah itu.
sedikit demi sedikit rambut bergelombang milik Clarissa jatuh ke lantai. Ia memejamkan mata, tidak ingin melihat rambut indahnya sedikit demi sedikit habis. Ini semua sudah menjadi keputusannya, demi Emily semua akan di lakukannya.
"Tak apa, Cla. Setelah ini kau bisa mengembalikan rambutmu seperti dulu." lirihnya dalam hati.
"Demi Emily, apapun itu akan aku lakukan. Bahkan jika bertaruh nyawa sekalipun. Tenang, Emily. Kakak akan menegakkan keadilan untukmu." gumamnya dalam hati. Ia menguatkan hati, melihat penampilannya yang kini jauh berbeda di cermin yang ada di hadapannya. Tidak ada lagi rambut coklat madu yang bergelombang. Kini hanya ada Clarissa dengan rambut cepak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments
Ds Phone
begitu sekali dia koraban kan
2025-02-06
0
AdiADM go
nice
2025-02-05
0
Nenek nenek
keren kamu clarisa
2023-06-07
0