Roti sobek

Apakah penyamarannya akan terbongkar secepat ini?

Clarissa tetap memejamkan mata walaupun guru muda itu sudah berdiri di sampingnya. Bahkan ia bisa mencium aroma mint yang menyegarkan dari tubuh gurunya.

"Buka mata kamu!" suara bariton pria itu membuat jantung Clarissa benar-benar akan terlepas dari tempatnya. Gadis itu membuka matanya pelan dengan takut ia menyeringai setelah melihat gurunya sedang menatapnya kesal.

"Bukankah kamu yang kemarin menghentikan saya di jalan karena mengira saya ojek? Terus lari begitu saja tanpa membayar?" pria itu mendelik, begitu juga dengan Clarissa.

"A-apa? Be-benarkah?" Clarissa tergagap, ia terkejut bukan main.

"Menurut kamu, apa?" pria itu menaikkan sebelah alisnya.

"Ma-maaf Pak. Nanti saya bayar. Saya janji!"

"Jangan berjanji kalau tidak bisa menepati. Lagian memangnya muka saya mirip tukang ojek?"

Clarissa kembali menggaruk kepala bagian belakangnya seraya menyeringai.

"Mirip, Pak. Sedikit." candanya.

"Astaga! Kamu benar-benar ya."

"Ampun, Pak. Saya bercanda. Bapak sangat tampan seperti Tom Cruise. Mana berani saya mengatakan Bapak tukang ojek. Saya saat itu sangat panik Pak karena terlambat ke sekolah di hari pertama. Maafkan saya Pak." Clarissa menangkupkan kedua tangannya di depan dada.

"Sudahlah Lupakan! Sekarang kamu ganti baju dan pergi ke kolam renang sekarang juga!"

"Ta-tapi pak."

"Tidak ada tapi-tapian! Mau beralasan menstruasi? Kamu kira saya bodoh? Mana ada pria menstruasi!" teriak guru muda itu kesal. Clarissa terpaksa berdiri, lalu pergi melarikan diri ke ruang ganti. Dalam hati ia merasa lega karena penyamarannya tidak terbongkar.

Sesampainya di ruang ganti, ia hendak masuk ke ruang ganti perempuan tapi temannya yang bernama Harry menegurnya.

"Robert, kamu mau kemana? Itu ruang ganti perempuan!" teriaknya dari jauh. Gadis itu menepuk kepalanya menyadari kebodohan yang ia lakukan.

"Maaf, saya tidak lihat." ia beralasan dan pergi ke ruang ganti pria. Sesampainya di ruang ganti pria, ia di kejutkan dengan pemandangan tak biasa. Langkahnya terhenti, matanya mendelik. Para siswa laki-laki bertelanjang dada dan membuka seragam mereka di depannya begitu saja. Ia membalikkan badan dan akan segera pergi jika Harry tidak mencegahnya.

"Robert. Kamu mau kemana? Ganti pakaian dulu." Clarissa terpaksa menoleh, memasang wajah canggung.

"A-aku tidak bisa berenang." ia kembali beralasan. Harry menghampiri Robert dan menepuk pundaknya.

"Nanti bisa di ajarkan oleh Pak Calvin." Clarissa mengerutkan keningnya.

"Guru olahraga kita bernama Pak Calvin." Harry menjelaskan tanpa di minta. Ia cukup mengerti dengan kebingungan gadis itu.

"Ayo ganti. Meskipun kamu tidak ikut berenang, tapi kamu harus ganti seperti aku. Aku tidak pernah ikut berenang, tapi tetap mengikuti olahraga ini meski hanya melihat."

"Kenapa tidak ikut berenang?" tanya Clarissa penasaran.

"Nanti aku jelaskan. Sekarang ganti baju dulu. Aku duluan ya." Harry menepuk bahu Clarissa beberapa kali, lalu pergi meninggalkan Clarissa di ruang ganti. Clarissa yang kebingungan langsung pergi mencari tempat tertutup untuk berganti pakaian.

🌷🌷

Clarissa berjalan mengendap-endap ke kolam renang. Kolam renang itu berada di dalam ruangan. Di sana hanya ada para siswa pria karena kolam untuk laki-laki dan perempuan berbeda. Gadis itu mengintip ke dalam, hingga seseorang menepuk pundaknya dari belakang sehingga membuatnya terkejut bukan main. Ia menoleh, setelah melihat siapa orang itu ia bernapas lega.

"Kenapa kamu selalu mengagetkanku? Apa kamu mau membuat aku mati karena jantungan?" teriaknya kesal seraya memegangi dadanya yang naik turun.

"Astaga. Kamu seperti perempuan saja." kata Harry seraya tertawa. Clarissa tidak menyahut karena takut jika Harry akan curiga padanya.

"Ayo kita ke sana. Lagi pula, kenapa pakaian kamu seperti ini?" Harry melihat pakaian yang di kenakan oleh Clarissa dari atas sampai bawah. Ia menggaruk kepala bagian belakangnya seraya menatap heran pada anak baru itu. Melihat tatapan aneh dari Harry, Clarissa ikut menelisik penampilannya. Ia mengenakan celana pendek sebatas lutut, lalu memakai kaos hitam kebesaran.

"Kenapa? Apa ada yang aneh?" tanya Clarissa seraya tersenyum canggung menampakkan deretan giginya yang rapi.

"Kenapa kamu terlihat sangat aneh? Bukankah kau bisa bertelanjang dada seperti yang lainnya?"

Clarissa mendelik membayangkan jika dirinya bertelanjang dada di hadapan mereka semua. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh kolam. Memang benar yang di katakan oleh Harry. Tidak ada siswa yang berpenampilan aneh seperti dirinya. Semuanya bertelanjang dada.

"A-aku Malu." bisik Clarissa seraya menatap ke bawah dan memainkan ujung kaos yang di kenakannya. Sontak saja jawaban Clarissa membuat Harry tertawa.

"Yang benar saja? Mengapa malu? Kita sama-sama laki-laki dan kamu malu?"

Clarissa mengangguk. Harry hanya terbahak dan merasa lucu dengan anak baru pindahan dari Amerika itu. Bukankah kehidupan di sana bebas? Bahkan melihat laki-laki atau perempuan hanya mengenakan bikini saja sudah sangat biasa.

"Sebaiknya aku kembali ke kelas saja." kata Clarissa akan melarikan diri tapi panggilan dari gurunya membuat ia tidak bisa lari kemana-mana.

"Robert! Mau kemana kamu? Cepat ke sini!" teriak Pak Calvin dengan suara lantang. Clarissa memejamkan mata, ia terdiam di tempatnya.

"Nah kan, jangan membuat Pak Calvin marah. Bisa tamat riwayat kamu!" kata Harry mengingatkan.

"Aduh, gimana? Aku nggak mau berenang." bisiknya. Tak lama terdengar suara Pak Calvin yang sudah berada di belakangnya.

"Mau kemana kamu?"

"Mati aku!" lirih Clarissa seraya menepuk jidat. Ia pun membalikkan tubuhnya karena posisi Pak Calvin yang ada di belakangnya. Ia belum berani membuka mata. Ketika beberapa detik berhadapan, ia baru membuka matanya perlahan.

Deg ....

Tenggorokannya tercekat, ia meneguk ludahnya dengan kasar. Napasnya naik turun, terasa sesak dan ingin pingsan. Pak Calvin berdiri tegap di hadapannya hanya mengenakan celana pendek sebatas paha. Tubuhnya yang berotot dan seperti roti sobek membuat mata Clarissa terpaku pada dada bidang yang berada tepat di hadapannya. Tinggi Pak Calvin yang sedikit jauh darinya membuat matanya tepat tertuju pada dada bidang itu. Tetesan air yang turun dari rambut guru muda itu membuat penampilan Pak Calvin semakin seksi.

"Lihat apa kamu?" tanya Pak Calvin menyadarkan pikiran Clarissa yang telah terbang jauh entah kemana. Clarissa terkejut, ia segera menggelengkan kepala agar tetap sadar.

"Lihat apa kamu?" Pak Calvin mengulangi pertanyaannya sehingga membuat Clarissa berjingkat kaget.

"Lihat roti sobek!" teriaknya keras. Sontak saja ia langsung menutup mulutnya yang keceplosan tanpa rem. Harry dan Pak Calvin yang mendengarnya pun kaget. Harry diam-diam tertawa sementara Pak Calvin menatap Clarissa dengan kesal.

"Siapa yang jualan roti sobek di kolam renang, hah?"

"Bapak!" lagi-lagi mulutnya latah menjawab sehingga membuat tawa Harry semakin keras. Clarissa menepuk mulutnya beberapa kali menyesali kekonyolannya.

"Kamu ini pikirannya kemana? Saya menyuruh kamu berganti pakaian dan masuk ke kolam renang tapi malah berdiam diri di sini. Malah ngelantur roti sobek pula. Nanti beli pas pulang sekolah!" kata Pak Calvin kesal. Clarissa hanya menunduk menatap ujung kakinya yang hampir bertemu dengan ujung kaki Pak Calvin. Bukannya mendengarkan ocehan gurunya, ia malah melihat kaki Pak Calvin yang atletis. Kaki pria itu di penuhi bulu sampai ke lutut, membuat Clarissa meneguk ludah berkali-kali. Ia sesekali memukul kepalanya yang otaknya sudah traveling kemana-mana.

"Sadar, Cla. Dia itu guru kamu!" gumamnya tapi masih bisa terdengar di telinga Pak Calvin.

"Kamu bilang apa?" tanya Pak Calvin semakin mendekat. Mengikis jarak di antara mereka. Clarissa mendongak,

"Mampus!" desisnya putus asa.

Episodes
1 Prolog
2 Diary Emily
3 Demi Emily
4 Tekad Clarissa
5 Gara-gara Andrew
6 Murid baru
7 Hari kedua di sekolah
8 Roti sobek
9 Menggali informasi
10 Menghindar
11 Cerita Andrew
12 Di balkon kamar
13 Kecurigaan Clarissa
14 Di peluk Pak Calvin
15 Di cafe
16 Kericuhan di cafe
17 Kejadian di balkon kamar
18 Tangis Clarissa
19 Mimpi masa kecil
20 Fakta baru
21 Hilangnya Diary Emily
22 Harapan Calvin
23 Menguntit
24 Mobil yang sama
25 Penyamaran yang terbongkar
26 Testpack
27 Di usir
28 Menikmati hujan
29 Tinggal bersama
30 Mencari Clarissa
31 Seorang dokter?
32 Amnesia mendadak
33 Cemburu
34 Bertemu Harry
35 Menuduh Harry
36 Tamu tak diundang
37 Hampir mati
38 Baku hantam
39 Pingsan?
40 Jangan pergi
41 Keras kepala
42 Di jemput paksa
43 Di paksa menikah
44 Pertikaian
45 Stevanus Atmaja
46 Jalan bersama
47 Makan Bakso bersama
48 Telur gulung
49 Menghabiskan malam bersama
50 Ungkapan perasaan
51 Backstreet
52 Interogasi
53 Sebuah ancaman
54 Bertunangan
55 Wanita simpanan Andrew
56 Tanpa kabar
57 Di rumah sakit
58 Tidak peka
59 Licik
60 Tumbal
61 Gaun Pemberian Andrew
62 Sundel bolong
63 Harta dan tahta
64 Misi rahasia Clarissa
65 Rencana yang gagal
66 Kenyataan pahit
67 Rumah kosong
68 Pengakuan Gerry
69 Di taman belakang
70 Dejavu
71 Terluka
72 Lelah
73 Sebuah harapan
74 Mansion keluarga Atmaja
75 Terungkap
76 Di kamar Andrew
77 Obsesi
78 Tidak pulang
79 Kegelisahan Aruna
80 Benar-benar gila
81 Menjadi tawanan
82 Jujur
83 Di Villa
84 Murahan
85 Klinik Aborsi
86 Berubah pikiran
87 Kronologi Kematian Emily
88 Melepaskan diri
89 Mencari cara
90 Berhasil kabur
91 Ezar
92 Kematian Ezar
93 Kedatangan polisi
94 Selamat tinggal Clarissa
95 Kematian Andrew
96 Di rawat
97 Menerima kenyataan
98 Dendam kesumat
99 Titik lemah
100 Di bandara
101 Rumah baru
102 Penguntit
103 Kesederhanaan
104 Hari pertama di kampus
105 Everything is still about you
106 Ada hati yang harus di jaga
107 Hari pertama bekerja
108 Aku bukan pelakor
109 Di ganggu preman
110 Babak belur
111 Penolakan Clarissa
112 Sadar posisi
113 Hampir terlambat
114 Pertanyaan Alin
115 Luka tak berdarah
116 Jauhi Calvin
117 Sebuah Foto
118 Muak
119 Meminta kesempatan kedua
120 Wanita Ular
121 Aku atau dia
122 Mencintai atau di cintai?
123 Kebakaran
124 Pernyataan cinta
125 Tak perlu memaksa
126 Meluruskan kesalahpahaman
127 Fakta sebenarnya
128 Will you marry me?
129 CLBK
130 Cinta tak beralasan
131 THE END
132 THANK YOU
Episodes

Updated 132 Episodes

1
Prolog
2
Diary Emily
3
Demi Emily
4
Tekad Clarissa
5
Gara-gara Andrew
6
Murid baru
7
Hari kedua di sekolah
8
Roti sobek
9
Menggali informasi
10
Menghindar
11
Cerita Andrew
12
Di balkon kamar
13
Kecurigaan Clarissa
14
Di peluk Pak Calvin
15
Di cafe
16
Kericuhan di cafe
17
Kejadian di balkon kamar
18
Tangis Clarissa
19
Mimpi masa kecil
20
Fakta baru
21
Hilangnya Diary Emily
22
Harapan Calvin
23
Menguntit
24
Mobil yang sama
25
Penyamaran yang terbongkar
26
Testpack
27
Di usir
28
Menikmati hujan
29
Tinggal bersama
30
Mencari Clarissa
31
Seorang dokter?
32
Amnesia mendadak
33
Cemburu
34
Bertemu Harry
35
Menuduh Harry
36
Tamu tak diundang
37
Hampir mati
38
Baku hantam
39
Pingsan?
40
Jangan pergi
41
Keras kepala
42
Di jemput paksa
43
Di paksa menikah
44
Pertikaian
45
Stevanus Atmaja
46
Jalan bersama
47
Makan Bakso bersama
48
Telur gulung
49
Menghabiskan malam bersama
50
Ungkapan perasaan
51
Backstreet
52
Interogasi
53
Sebuah ancaman
54
Bertunangan
55
Wanita simpanan Andrew
56
Tanpa kabar
57
Di rumah sakit
58
Tidak peka
59
Licik
60
Tumbal
61
Gaun Pemberian Andrew
62
Sundel bolong
63
Harta dan tahta
64
Misi rahasia Clarissa
65
Rencana yang gagal
66
Kenyataan pahit
67
Rumah kosong
68
Pengakuan Gerry
69
Di taman belakang
70
Dejavu
71
Terluka
72
Lelah
73
Sebuah harapan
74
Mansion keluarga Atmaja
75
Terungkap
76
Di kamar Andrew
77
Obsesi
78
Tidak pulang
79
Kegelisahan Aruna
80
Benar-benar gila
81
Menjadi tawanan
82
Jujur
83
Di Villa
84
Murahan
85
Klinik Aborsi
86
Berubah pikiran
87
Kronologi Kematian Emily
88
Melepaskan diri
89
Mencari cara
90
Berhasil kabur
91
Ezar
92
Kematian Ezar
93
Kedatangan polisi
94
Selamat tinggal Clarissa
95
Kematian Andrew
96
Di rawat
97
Menerima kenyataan
98
Dendam kesumat
99
Titik lemah
100
Di bandara
101
Rumah baru
102
Penguntit
103
Kesederhanaan
104
Hari pertama di kampus
105
Everything is still about you
106
Ada hati yang harus di jaga
107
Hari pertama bekerja
108
Aku bukan pelakor
109
Di ganggu preman
110
Babak belur
111
Penolakan Clarissa
112
Sadar posisi
113
Hampir terlambat
114
Pertanyaan Alin
115
Luka tak berdarah
116
Jauhi Calvin
117
Sebuah Foto
118
Muak
119
Meminta kesempatan kedua
120
Wanita Ular
121
Aku atau dia
122
Mencintai atau di cintai?
123
Kebakaran
124
Pernyataan cinta
125
Tak perlu memaksa
126
Meluruskan kesalahpahaman
127
Fakta sebenarnya
128
Will you marry me?
129
CLBK
130
Cinta tak beralasan
131
THE END
132
THANK YOU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!