Seorang gadis mengikat dadanya menggunakan sebuah kain panjang kecil bewarna putih. Ini semua ia lakukan agar dadanya tampak rata dan tidak menonjol. Sudah sekitar dua Minggu hal ini menjadi rutinitas gadis itu setiap akan pergi.
"Sayang ...." Mama Aruna mengintip dari balik pintu. Kepalanya tampak muncul separuh dengan senyum yang mengembang.
"Hai, Mam. Masuk sini." kata Clarissa sambil terus melakukan kegiatannya.
Mama Aruna segera masuk dan memperhatikan anaknya yang berdiri di cermin.
"Apa itu tidak sakit?" tanya Mama Aruna seraya memegang bahu anaknya. Clarissa yang sedang sibuk melilitkan kain itu mendongak, menatap bayangan mama yang berada di belakangnya dari cermin.
"Tidak sakit sama sekali, Ma. Hanya ... sedikit sesak." ujarnya di iringi tawa. Mama hanya tersenyum getir.
"Mama yakin Emily pasti sangat bangga padamu, sayang. Emily mempunyai kakak yang begitu menyayanginya. Yang bahkan rela mengorbankan kebebasannya hanya untuk adiknya." lirih sang Mama dengan wajah sedih. Clarissa yang telah selesai membungkus dadanya membalikkan tubuhnya menghadap sang Mama. Ia meraih tangan sang Mama dan menggenggamnya.
"Apapun akan Clarissa lakukan untuk Emily, Ma. Clarissa begitu menyayanginya, dan Clarissa tidak akan tenang sebelum mengetahui penyebab kematian Emily yang sangat ganjal."
Mama Aruna mengangguk.
"Iya, Mama tahu itu. Tapi apakah kamu baik-baik saja jika menutupi identitas kamu yang sebenarnya dan terjebak dalam penampilan laki-laki?"
"Mama tenang saja. Clarissa menyukai penampilan ini. Bukankah Mama tahu selama ini pun Clarissa adalah gadis yang tomboi?" gadis itu menaikkan sebelah alisnya. Mama Aruna tersenyum seraya mengangguk.
"Iya, sayang. Mama tahu. Tapi kamu harus merelakan rambut indahmu hanya demi ini."
"Ma, bukan hanya. Tapi memang harus."
Aruna memeluk anak gadisnya yang hanya tinggal satu-satunya. Ia begitu menyayangi kedua putrinya, tapi saat ini ia hanya mempunyai satu putri dan itu pun harus menyamar menjadi seorang laki-laki. Ia tahu jika sebenarnya Clarissa tidak nyaman dengan identitasnya yang sekarang.
"Mama tenang saja, ya. Clarissa pasti akan mencari tahu semuanya secepatnya."
Mama Aruna mengangguk, ia menghapus sudut matanya yang berair. Lalu keduanya mengurai pelukannya dan tersenyum.
"Clarissa mau siap-siap dulu, Ma." kata Clarissa dan di tanggapi dengan kerutan di dahi oleh mamanya.
"Memangnya mau kemana? Bukankah ini hari Minggu?"
"Clarissa ada janji sama teman-teman. Dan doakan semoga Clarissa bisa mencari informasi tentang Emily."
"Mama pikir kamu pergi kencan." Bibir mama Aruna tampak mengerucut. Sontak saja hal itu membuat Clarissa tertawa geli.
"Astaga Mama. Mana ada laki-laki yang mau sama Clarissa?"
"Siapa bilang? Kamu sangat cantik dan sangat cerdas. Pasti semua laki-laki akan tertarik padamu."
"Dengan penampilan seperti ini? Tidak ada yang menyukai Clarissa Ma. Kecuali para cewek-cewek yang kecentilan di sekolah. Dan asal mama tahu, sebenarnya hari ini Clarissa akan triple date."
Mama Aruna tampak melebarkan matanya.
"Kamu beneran? Kata kamu bukan kencan."
Clarissa tersenyum geli.
"Iya memang kencan, tapi kencannya sama cewek."
"Astaga." desah mama kecewa sementara Clarissa tertawa geli.
"Lucu 'kan, Ma. Harusnya kencan sama cowok, eh malah sama cewek."
"Lucu apanya? Malah serem."
"Sebenarnya Clarissa juga seram sih, Ma. Tapi mau gimana lagi?"
"Pasti banyak cewek yang suka sama kamu, ya Cla?"
Clarissa kembali tertawa seraya memakai kemeja bewarna hitam yang kebesaran.
"Ya begitulah."
"Harusnya di usia kamu yang sekarang sudah bawa pacar ke rumah, Cla."
"Santai saja sih, Ma. Clarissa 'kan masih muda. Lagian belum ada yang klik di hati."
Mama Aruna membantu mengancingkan kemeja yang Clarissa kenakan.
"Jadi selera kamu yang gimana, Cla?"
"Clarissa tidak punya selera yang gimana-gimana sih, Ma. Tapi memang belum ketemu sama yang cocok aja."
"Kamu harus hati-hati sama Andrew."
"Kenapa memangnya dia?"
"Entahlah. Mama punya feeling yang tidak enak dengan anak itu."
"Kalau itu sih Clarissa setuju, Ma. Andrew bukan pria yang baik."
"Papa aja yang tidak percaya sama kita ya, Cla. Entah apa yang telah meracuni pikiran papa kamu."
Clarissa hanya mengangkat kedua bahunya. Ia pun tidak mengerti dengan pemikiran papanya.
"Ah ... anak Mama udah ganteng. Duh, padahal mama tidak melahirkan anak laki-laki tapi kenapa sekarang merasa punya anak laki-laki ya."
Clarissa tertawa.
"Anggap saja mama baru punya anak laki-laki."
Keduanya tertawa bersama. Setelah selesai bersiap Clarissa segera pergi karena takut terlambat. Ketika di jalan ia tak sengaja bertemu dengan Pak Calvin yang berjalan sendirian. Ia pun berhenti tepat di sebelah guru olahraganya itu.
"Bapak mau kemana?" tanya Clarissa membuka penutup helm full face yang ia kenakan. Pak Calvin memasang wajah datar, menatap dingin pada Clarissa.
"Mau ke depan." jawabnya singkat.
"Kenapa jalan kaki? Mau di bonceng tidak?"
"Tidak usah."
"Cuacanya sangat panas, loh. Nanti kalau tangan bapak gosong gimana?"
"Ya sudah saya nebeng sampai di depan."
Lalu pria itu segera naik membonceng di belakang. Clarissa segera menjalankan motornya dengan pelan, ia harus berhati-hati membawa gurunya. Saat ia melewati minimarket tiba-tiba Pak Calvin menepuk bahu Clarissa dengan kuat.
"Berhenti di sini saja." teriak Pak calvin dari belakang sehingga membuat Clarissa mengerem mendadak. Tak di sangka karena ulahnya itu, pria yang ia bonceng di belakang memeluknya.
Deg ....
Jantung Clarissa mendadak berhenti. Matanya mendelik tak percaya.
"Kenapa sama jantung aku? Kok begini? Apa karena di peluk sama Pak Calvin ya." ia memegangi dadanya sebelah kiri.
Tanpa Clarissa sadari pak Calvin sudah turun dan berdiri di sampingnya.
"Mikirin apa kamu?" tanya Pak Calvin mengagetkan sehingga membuat Clarissa terkejut.
"Mikirin Bapak."
Eh ....
Keduanya mendelik, saling tatap satu sama lain sementara Clarissa menutup mulutnya yang keceplosan. Wajahnya tampak memerah karena malu.
"Kenapa sama saya? Saya sudah sampai. Terima kasih." ujar Pak Calvin seraya berlalu. Sebelum benar-benar masuk ke minimarket, Pak Calvin menoleh. Lalu menggeleng pelan.
"Aduh ... Kenapa sih ini mulut tidak punya filter? Kenapa bisa keceplosan?" ia merutuki kecerobohannya dan menepuk kepalanya yang di tutupi helm. Ia kembali memegang dadanya yang kini berdetak lebih cepat.
"Aduh, lama-lama beneran bisa jantungan kalau selalu dekat dengan pak Calvin. Sepertinya aku harus periksa ke dokter besok."
"Gara-gara Pak Calvin sih, Pake peluk-peluk segala." ujar gadis itu seraya tersenyum malu. Menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu ia kembali menjalankan motornya menuju tempat yang telah di tentukan oleh Gerry beserta temannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments
Ds Phone
apa yang akan meraka laku kan
2025-02-06
0