Gara-gara Andrew

Andrew melihat penampilan calon istrinya dari atas sampai bawah tanpa berkedip dan dengan mulut yang terbuka.

"Ini siapa?" tanya pria itu bingung.

"Menurutmu?" sahut Clarissa memutar bola matanya terang-terangan.

"Cla ... Clarissa?" pria itu memastikan.

"Kamu pikir siapa? Hantu?" sinis gadis itu kesal. Ia segera duduk di sofa kosong yang ada di hadapan Andrew. Pria itu mengucek matanya, mencoba melihat sekali lagi.

"Kamu benar-benar Clarissa?"

"Astaga."

"Bagaimana penampilan Clarissa? Apa kamu tidak mengenalinya?" tanya Alexander seraya tersenyum menatap Andrew yang tak mengalihkan pandangannya pada gadis yang duduk mengunyah permen karet di hadapannya.

"Om, ini beneran Clarissa?" tanya Andrew sekali lagi.

"Kamu nanya?" sahut Clarissa kesal.

"Cla ...." Alexander menggeleng. Mengingatkan anaknya.

"Abisnya dari tadi nanya terus sih Pa."

"Berarti penyamaran kamu berhasil, sayang." kata Mama mengedipkan sebelah matanya. Mendengar perkataan mamanya membuat Clarissa tersenyum.

"Ah iya. Mama benar. Itu artinya penyamaran Clarissa berhasil." kata gadis itu seraya meniup permen karetnya membentuk balon.

"Penyamaran? Penyamaran apa?" tanya Andrew tak mengerti.

"Itu nak ...."

"Bukan apa-apa!" dengan cepat Clarissa memotong ucapan Mamanya. Ia tidak ingin jika Andrew akan merusak rencananya.

"Rencana apa Cla? Apa aku tidak boleh tahu?" tanya Andrew penasaran.

"Tidak. Kamu tidak boleh tahu!"

"Oke, baiklah kalau begitu." Andrew menyerah. Ia tidak bisa memaksa Clarissa yang notabenenya adalah gadis keras kepala. Pria itu meneguk segelas jus jeruk yang di hidangkan.

"Ada apa nak Andrew kemari?" tanya Alexander.

"Oh iya, saya sampai lupa. Saya kesini karena ingin menyampaikan bahwa detektif suruhan saya tidak bisa menemukan penyebab kematian Emily. Mereka sudah bekerja keras, tapi mereka tidak menemukan apa pun. Kasus Kematian Emily murni karena bunuh diri. Dan dari informasi yang mereka temukan, Emily stres karena nilainya yang turun." Ketiga orang yang ada di hadapannya mengernyitkan keningnya.

"Karena nilai?" tanya Alexander.

"Iya, om. Belakangan ini bukankah nilai Emily turun?"

"Ya, memang benar. Tapi apa hanya karena nilai yang turun?" tanya Aruna tak percaya. Alasan karena nilai turun sampai mengakhiri hidup bukanlah alasan yang masuk akal. Clarissa terus menatap Andrew, mengamati segala gerak-gerik pria itu.

"Iya, Tante. Bukankah Emily selalu mendapatkan nilai terbaik selama ini?"

"Kamu benar. Tapi terima kasih atas bantuannya. Kami akan mencari tahu sendiri penyebab kematian Emily." ujar Alexander.

"Mencari tahu sendiri?"

"Ya, kami akan mencari detektif terbaik dari Amerika. Jadi kamu tidak perlu repot-repot untuk menyewa detektif lain untuk menyelidiki kasus ini."

"Tapi, om."

"Sudah dengar penjelasan Papa, kan? Detektif yang kamu sewa nggak ada gunanya." sinis Clarissa. Andrew hanya diam saja. Tampak wajahnya yang berubah masam.

"Ma, Pa. Clarissa ke kamar dulu, ya." kata gadis itu dengan cuek.

"Cla, kenapa buru-buru? Aku kan belum pulang." kata Andrew.

"Lah apa urusannya dengan aku? Bukankah kita tidak ada urusan?"

"Tadinya aku mau ngajak kamu makan di luar malam ini."

"Aku sibuk. Lagian masakan Mama lebih enak dari masakan restoran. Kamu pergi saja dengan pacar-pacar kamu."

"Pacar apa, Cla? Kan kamu pacar aku dan calon istri aku."

"Memangnya siapa yang mau menikah dengan kamu? Aku tidak Sudi!"

"Clarissa tolong jaga ucapan kamu!" Alexander mengingatkan. Ia sedikit membentak, tidak suka dengan sikap yang Clarissa tunjukkan. Mendapat bentakan dari Papanya membuat Clarissa terdiam. Tak percaya jika Papanya akan membentaknya hanya karena pria playboy yang sedang duduk santai di hadapannya.

"Pa, jangan membentak Clarissa seperti itu." kata Aruna menyentuh lengan suaminya.

"Dia sudah kelewatan, Ma. Tidak seharusnya dia berkata kasar dan tidak sopan pada calon suaminya."

"Pa, apa papa tega jika anak Papa mempunyai suami playboy seperti dia?" Clarissa menunjuk Andrew yang hanya diam di tempat.

"Jaga ucapan kamu, Cla! Andrew bukan pria seperti itu. Bahkan dia setia menunggu kamu meski kamu kuliah di Amerika dan meninggalkannya di Indonesia."

"Apa Papa yakin dengan apa yang papa ucapkan?"

"Papa yakin dengan ucapan Papa. Makanya Papa menjodohkan kamu dengan Nak Andrew." Mendengar ucapan Papanya membuat Clarissa menarik sudut bibirnya.

"Terserah. Clarissa tetap tidak mau menerima perjodohan ini!" Clarissa pergi begitu saja meninggalkan orang-orang yang berada di ruang tamu.

"Clarissa! Mau kemana kamu? Papa belum selesai bicara!" teriak sang Papa. Clarissa terus menaiki tangga menuju kamarnya yang ada di lantai atas. Ia tidak peduli dengan teriakan Papanya.

"Sudah, Pa. Clarissa tidak bisa di paksa." kata Aruna menenangkan.

"Anak itu benar-benar keterlaluan, Ma."

"Sudahlah, nanti kita bicarakan lagi jika anak kita sudah tenang."

"Maaf om, Tante. Gara-gara Andrew semuanya jadi begini." kata pria itu tidak enak.

"Bukan. Semua ini bukan karena kamu, Nak Andrew. Clarissa saja yang keras kepala. Padahal Nak Andrew begitu baik dan mapan. Om bingung mengapa Clarissa menolak perjodohan ini." pria itu memijit pelipisnya.

"Apa mungkin Clarissa punya pacar?" tebak Andrew sehingga ketiganya saling pandang.

"Tidak mungkin. Clarissa tidak sedang dekat dengan siapa-siapa. Bahkan Clarissa itu termasuk cuek dengan pria. Ia tidak pernah jatuh cinta sebelumnya." sahut Aruna dengan yakin. Dalam hatinya ia setuju dengan sikap anaknya. Menurutnya Andrew menyimpan berjuta rahasia pada mereka. Feeling-nya tidak baik pada pria satu itu.

"Sudahlah. Nanti om akan lebih menasehati Clarissa. Sebaiknya kamu pulang dulu, jangan ke sini dulu sebelum sikap Clarissa melunak. Lagi pula sepertinya beberapa hari ini Clarissa sedikit sibuk."

"Sibuk? Sibuk apa om?" tanya Andrew penasaran.

"Ya sibuk mempersiapkan kuliahnya di Amerika. Bukankah dia akan kembali lagi ke sana dalam waktu dekat?" Aruna yang menjawab. Ia sudah sepakat dengan Clarissa untuk menyimpan misi rahasianya pada siapapun. Hanya mereka bertiga yang mengetahuinya.

"Oh, begitu. Apa Clarissa tidak tinggal lebih lama di sini?" tanya Andrew lagi.

"Entahlah. Kami sebenarnya juga masih berduka. Kita lihat nanti saja bagaimana keputusan Clarissa."

Andrew hanya mengangguk paham. Ia pun segera pamit undur diri meski sebelumnya ia masih ingin berlama-lama di sana.

Sementara Clarissa setelah sampai di dalam kamar ia membanting pintu kamar dengan keras. Ia merasa sangat kesal karena pria itu membuatnya di bentak oleh Papanya.

"Semua ini gara-gara Andrew! Lihat saja nanti. Akan aku buktikan ke Papa siapa kamu sebenarnya. Sampai aku mati pun tidak akan mau menikah denganmu." geramnya penuh kebencian. Ia sangat membenci calon suaminya itu. Bukan ia tidak tahu bagaimana kelakuan pria itu di luaran. Makanya ia dengan keras menolak perjodohan itu.

Terpopuler

Comments

Ds Phone

Ds Phone

dia kan bijak dia semua nya

2025-02-06

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Diary Emily
3 Demi Emily
4 Tekad Clarissa
5 Gara-gara Andrew
6 Murid baru
7 Hari kedua di sekolah
8 Roti sobek
9 Menggali informasi
10 Menghindar
11 Cerita Andrew
12 Di balkon kamar
13 Kecurigaan Clarissa
14 Di peluk Pak Calvin
15 Di cafe
16 Kericuhan di cafe
17 Kejadian di balkon kamar
18 Tangis Clarissa
19 Mimpi masa kecil
20 Fakta baru
21 Hilangnya Diary Emily
22 Harapan Calvin
23 Menguntit
24 Mobil yang sama
25 Penyamaran yang terbongkar
26 Testpack
27 Di usir
28 Menikmati hujan
29 Tinggal bersama
30 Mencari Clarissa
31 Seorang dokter?
32 Amnesia mendadak
33 Cemburu
34 Bertemu Harry
35 Menuduh Harry
36 Tamu tak diundang
37 Hampir mati
38 Baku hantam
39 Pingsan?
40 Jangan pergi
41 Keras kepala
42 Di jemput paksa
43 Di paksa menikah
44 Pertikaian
45 Stevanus Atmaja
46 Jalan bersama
47 Makan Bakso bersama
48 Telur gulung
49 Menghabiskan malam bersama
50 Ungkapan perasaan
51 Backstreet
52 Interogasi
53 Sebuah ancaman
54 Bertunangan
55 Wanita simpanan Andrew
56 Tanpa kabar
57 Di rumah sakit
58 Tidak peka
59 Licik
60 Tumbal
61 Gaun Pemberian Andrew
62 Sundel bolong
63 Harta dan tahta
64 Misi rahasia Clarissa
65 Rencana yang gagal
66 Kenyataan pahit
67 Rumah kosong
68 Pengakuan Gerry
69 Di taman belakang
70 Dejavu
71 Terluka
72 Lelah
73 Sebuah harapan
74 Mansion keluarga Atmaja
75 Terungkap
76 Di kamar Andrew
77 Obsesi
78 Tidak pulang
79 Kegelisahan Aruna
80 Benar-benar gila
81 Menjadi tawanan
82 Jujur
83 Di Villa
84 Murahan
85 Klinik Aborsi
86 Berubah pikiran
87 Kronologi Kematian Emily
88 Melepaskan diri
89 Mencari cara
90 Berhasil kabur
91 Ezar
92 Kematian Ezar
93 Kedatangan polisi
94 Selamat tinggal Clarissa
95 Kematian Andrew
96 Di rawat
97 Menerima kenyataan
98 Dendam kesumat
99 Titik lemah
100 Di bandara
101 Rumah baru
102 Penguntit
103 Kesederhanaan
104 Hari pertama di kampus
105 Everything is still about you
106 Ada hati yang harus di jaga
107 Hari pertama bekerja
108 Aku bukan pelakor
109 Di ganggu preman
110 Babak belur
111 Penolakan Clarissa
112 Sadar posisi
113 Hampir terlambat
114 Pertanyaan Alin
115 Luka tak berdarah
116 Jauhi Calvin
117 Sebuah Foto
118 Muak
119 Meminta kesempatan kedua
120 Wanita Ular
121 Aku atau dia
122 Mencintai atau di cintai?
123 Kebakaran
124 Pernyataan cinta
125 Tak perlu memaksa
126 Meluruskan kesalahpahaman
127 Fakta sebenarnya
128 Will you marry me?
129 CLBK
130 Cinta tak beralasan
131 THE END
132 THANK YOU
Episodes

Updated 132 Episodes

1
Prolog
2
Diary Emily
3
Demi Emily
4
Tekad Clarissa
5
Gara-gara Andrew
6
Murid baru
7
Hari kedua di sekolah
8
Roti sobek
9
Menggali informasi
10
Menghindar
11
Cerita Andrew
12
Di balkon kamar
13
Kecurigaan Clarissa
14
Di peluk Pak Calvin
15
Di cafe
16
Kericuhan di cafe
17
Kejadian di balkon kamar
18
Tangis Clarissa
19
Mimpi masa kecil
20
Fakta baru
21
Hilangnya Diary Emily
22
Harapan Calvin
23
Menguntit
24
Mobil yang sama
25
Penyamaran yang terbongkar
26
Testpack
27
Di usir
28
Menikmati hujan
29
Tinggal bersama
30
Mencari Clarissa
31
Seorang dokter?
32
Amnesia mendadak
33
Cemburu
34
Bertemu Harry
35
Menuduh Harry
36
Tamu tak diundang
37
Hampir mati
38
Baku hantam
39
Pingsan?
40
Jangan pergi
41
Keras kepala
42
Di jemput paksa
43
Di paksa menikah
44
Pertikaian
45
Stevanus Atmaja
46
Jalan bersama
47
Makan Bakso bersama
48
Telur gulung
49
Menghabiskan malam bersama
50
Ungkapan perasaan
51
Backstreet
52
Interogasi
53
Sebuah ancaman
54
Bertunangan
55
Wanita simpanan Andrew
56
Tanpa kabar
57
Di rumah sakit
58
Tidak peka
59
Licik
60
Tumbal
61
Gaun Pemberian Andrew
62
Sundel bolong
63
Harta dan tahta
64
Misi rahasia Clarissa
65
Rencana yang gagal
66
Kenyataan pahit
67
Rumah kosong
68
Pengakuan Gerry
69
Di taman belakang
70
Dejavu
71
Terluka
72
Lelah
73
Sebuah harapan
74
Mansion keluarga Atmaja
75
Terungkap
76
Di kamar Andrew
77
Obsesi
78
Tidak pulang
79
Kegelisahan Aruna
80
Benar-benar gila
81
Menjadi tawanan
82
Jujur
83
Di Villa
84
Murahan
85
Klinik Aborsi
86
Berubah pikiran
87
Kronologi Kematian Emily
88
Melepaskan diri
89
Mencari cara
90
Berhasil kabur
91
Ezar
92
Kematian Ezar
93
Kedatangan polisi
94
Selamat tinggal Clarissa
95
Kematian Andrew
96
Di rawat
97
Menerima kenyataan
98
Dendam kesumat
99
Titik lemah
100
Di bandara
101
Rumah baru
102
Penguntit
103
Kesederhanaan
104
Hari pertama di kampus
105
Everything is still about you
106
Ada hati yang harus di jaga
107
Hari pertama bekerja
108
Aku bukan pelakor
109
Di ganggu preman
110
Babak belur
111
Penolakan Clarissa
112
Sadar posisi
113
Hampir terlambat
114
Pertanyaan Alin
115
Luka tak berdarah
116
Jauhi Calvin
117
Sebuah Foto
118
Muak
119
Meminta kesempatan kedua
120
Wanita Ular
121
Aku atau dia
122
Mencintai atau di cintai?
123
Kebakaran
124
Pernyataan cinta
125
Tak perlu memaksa
126
Meluruskan kesalahpahaman
127
Fakta sebenarnya
128
Will you marry me?
129
CLBK
130
Cinta tak beralasan
131
THE END
132
THANK YOU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!