Tekad Clarissa

Clarissa memarkirkan Bugatti La Voiture Noire miliknya ke dalam garasi. Wanita berambut cepak itu turun dari mobil miliknya dan berjalan memasuki rumah. Ia mengenakan celana jeans bewarna hitam dengan jaket kulit hitam di padukan dengan kaos oblong hitam pula di dalamnya. Mendengar kedatangan anaknya membuat pasangan yang telah menikah selama dua puluh lima tahun itu bangun dari sofa empuk yang menemani mereka beberapa menit ke belakang. Keduanya tampak sangat terkejut dengan penampilan terbaru dari anak mereka.

"Oh my God, honey? Apa yang terjadi dengan rambutmu?" Mama Aruna menutup mulutnya yang terbuka. Matanya mendelik sempurna, menatap tak percaya pada anaknya yang berjalan menghampiri mereka.

"Clarissa, apa yang terjadi? Mengapa rambutmu seperti itu?" tanya Alexander sama terkejutnya dengan sang istri. Clarissa tersenyum lalu memutar tubuhnya dan mengangkat kedua tangannya.

"Bagaimana dengan penampilan terbaru Clarissa? Menakjubkan bukan?" gadis itu hanya tertawa tanpa beban.

"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu berpenampilan seperti seorang pria? Kamu salah minum obat?" Mama Aruna masih shock. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali dan berharap penglihatannya salah.

"Clarissa, what happened? Are you kidding?" tanya Alexander dengan mata yang menelisik penampilan anaknya dari atas sampai bawah. Ia bahkan hampir tidak mengenali anaknya sendiri yang berubah drastis. Rambut panjang bergelombang bewarna coklat madu itu tidak ada lagi. Anaknya yang berpenampilan anggun itu tidak ada lagi. Clarissa yang ia kenal benar-benar telah berubah 180 derajat.

"Sayang tolong jelaskan apa yang terjadi." Mama Aruna berjalan menghampiri anaknya, menyentuh rambut cepak milik anaknya.

"Ya Tuhan, ini bukan mimpi. Dimana Clarissa yang begitu cantik? Mengapa sekarang berubah menjadi tampan?" wanita itu menutup mulutnya yang masih terbuka. Ia masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.

"Tolong jelaskan, apa maksud kamu melakukan ini semua!" pinta sang Ayah tak sabar. Mereka bertiga duduk di sofa panjang bewarna hitam yang ada di ruang samping rumah.

"Clarissa melakukan ini semua demi Emily Ma, Pa." kata Clarissa seraya menatap kedua orang tuanya. Mama Aruna dan Alexander saling tatap, dahi mereka berkerut sangat dalam.

"Clarissa akan menyamar sebagai murid baru. Lalu Clarissa akan menemukan penyebab kematian Emily." jelas Clarissa yang membuat Aruna mendelik.

"Jangan gila kamu, Cla. Kamu bukan detektif. Biarkan polisi yang menyelidikinya." Aruna menolak. Ia tidak setuju dengan ide gila yang Clarissa katakan. Begitu pula dengan Alexander, ia juga menolak ide dari anaknya.

"Are you serious?"

Clarissa mengangguk mantap.

"Ini tidak mudah, Cla." kata Alexander keberatan.

"Yes, i know."

"Sudah tahu tidak mudah dan kamu masih mau mencobanya?" tanya Aruna pada Clarissa. Gadis itu hanya tersenyum dengan yakin.

"Mengapa tidak? Bukankah Papa punya banyak uang? Apa gunanya punya banyak uang tapi tidak di manfaatkan? Lagi pula, polisi tidak ada gunanya jika pihak sekolah menutup kasus ini secara sepihak. Clarissa tidak terima jika penyebab kematian Emily tidak di ketahui. Clarissa tidak akan tenang sebelum orang yang menyebabkan Emily mati berkeliaran di luar sana! Emily harus mendapatkan keadilan." ucap gadis itu penuh dendam. Matanya menatap tajam lurus ke depan, kedua tangannya terkepal kuat di atas kedua pahanya. Melihat tekad anaknya yang begitu kuat membuat kedua orang tuanya menghela napas.

"Apakah kamu yakin dengan apa yang kamu lakukan?" tanya sang papa seraya menatap anaknya mencari kepastian. Clarissa menoleh, detik berikutnya ia mengangguk dengan cepat. Ia benar-benar telah yakin dengan apa yang akan ia lakukan. Pantang baginya mundur begitu saja.

"Lakukanlah jika menurutmu itu yang terbaik." Alexander menepuk bahu anaknya. Melihat suaminya yang setuju membuat Aruna tak terima begitu saja.

"Apa yang Papa katakan? Apa papa setuju jika Clarissa menjadi murid di sana? Jika Clarissa juga mengalami hal buruk bagaimana?" teriak Mama Aruna tak setuju.

"Tenang, Ma. Clarissa berbeda dari Emily. Papa yakin jika Clarissa bisa menjaga dirinya sendiri. Papa yakin anak kita akan menguak penyebab kematian Emily yang tidak bisa di ungkapkan oleh polisi."

"Tapi, Pa ...."

"Ma, Please. Clarissa janji akan menjaga diri. Apa mama lupa bahwa Clarissa jago bela diri?" gadis itu tersenyum seraya terus meyakinkan.

"Tapi, Cla ...."

"Mama percaya saja sama Clarissa. Mama jangan khawatir ya." kata gadis itu seraya menggenggam erat jemari Mamanya. Akhirnya Aruna hanya bisa mengangguk terpaksa. Mendapat persetujuan dari kedua orang tuanya membuat Clarissa tersenyum lebar dan memeluk keduanya.

"Terima kasih ya Ma, Pa. Clarissa janji akan menjaga diri baik-baik. Ini semua Clarissa lakukan demi Emily." ujarnya. Setelah itu Clarissa mengurai pelukannya, lalu ia berdiri dan pamit ke kamar untuk menyiapkan keperluan yang di butuhkan untuk memulai penyamarannya besok. Masalah pendaftaran sekolah dan lain sebagainya ia serahkan pada asisten Papanya sehingga besok gadis itu tinggal masuk.

"Pa, mama khawatir pada Clarissa." lirih sang Mama penuh rasa khawatir setelah kepergian anaknya. Melihat raut wajah istrinya yang tidak baik-baik saja membuat Alexander memeluknya. Memberi kecupan singkat di pucuk kepala istrinya.

"Jangan khawatir sayang, Clarissa pasti bisa menjaga diri. Clarissa berbeda dengan Emily. Kepribadiannya memang tomboi dari dulu. Kita yakin saja pada Clarissa dan membantunya semampu kita."

"Tapi sayang,"

"Sstt ... Berdo'a saja semoga semuanya baik-baik saja." Akhirnya Aruna hanya bisa pasrah dan tak bisa berbuat apa-apa. Ia merebahkan kepalanya ke bahu sang suami. Sementara Alexander mengelus kepala istrinya dengan sayang. Ia pun sebenarnya mengkhawatirkan Clarissa, tapi ia tidak bisa menghalangi keinginan anak sulungnya. Ia pun sangat menaruh dendam dengan orang yang telah membuat anaknya harus mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis. Tak lama terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah. Suara bel rumah berbunyi, asisten rumah tangga keluarga mereka membuka pintu tanpa di suruh.

"Maaf Tuan, Nyonya. Ada den Andrew," kata Lusi memberi tahu.

"Suruh saja tunggu sebentar. Kami akan segera menemuinya. Ohya tolong panggilkan Clarissa." sahut Alexander.

"Baik, Tuan." Asisten rumah tangga yang bernama Lusi itu segera pamit undur diri menemui Andrew yang menunggu di ruang tamu.

"Ada apa dia kemari?" Aruna berdecak sebal. Sebenarnya ia pun tidak suka dengan Pria satu itu. Tapi karena suaminya yang menjodohkan anak mereka karena alasan anak relasinya membuat Aruna terpaksa menerimanya.

"Mungkin ingin bertemu Clarissa. Kamu ini, seperti tidak tahu saja bagaimana anak muda. Bahkan dulu kita juga sering bertemu. Ingat tidak, kita bertemu sampai tiga kali dalam sehari. Sampai-sampai aku di usir oleh Bapak kamu karena dia sangat tidak suka dengan bule." Aruna tertawa. Ia pun membenarkan ucapan suaminya. Orang tuanya takut jika pria bule hanya mempermainkan gadis pribumi seperti dirinya. Susah payah keduanya meminta restu, bahkan Aruna sempat di kirim ke rumah pamannya yang ada di Sumatera. Tapi jodoh karena Alexander yang bukan orang sembarangan tidak sulit untuk menemukan kediaman Paman Aruna. Sehingga ia menyusul gadis pujaannya dan membuktikan keseriusannya pada keluarga Aruna. Dengan segala bukti keseriusan yang di tunjukkan oleh Alexander membuat Ayah Aruna menyetujui hubungan mereka dan segera menikahkan keduanya. Karena ia takut jika hal yang tidak di inginkan terjadi.

"Tapi entah kenapa firasat ku tidak enak pada Andrew." Aruna mengutarakan isi hatinya.

"Mungkin itu hanya kekhawatiran yang berlebih. Sudah lah, ayo kita temui Nak Andrew. Kasihan dia sudah menunggu lama." ajak Alexander dan Aruna mengangguk terpaksa. Keduanya pun segera berdiri berjalan beriringan ke ruang tamu.

Terpopuler

Comments

Ds Phone

Ds Phone

dia bukan orang baik kut

2025-02-06

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Diary Emily
3 Demi Emily
4 Tekad Clarissa
5 Gara-gara Andrew
6 Murid baru
7 Hari kedua di sekolah
8 Roti sobek
9 Menggali informasi
10 Menghindar
11 Cerita Andrew
12 Di balkon kamar
13 Kecurigaan Clarissa
14 Di peluk Pak Calvin
15 Di cafe
16 Kericuhan di cafe
17 Kejadian di balkon kamar
18 Tangis Clarissa
19 Mimpi masa kecil
20 Fakta baru
21 Hilangnya Diary Emily
22 Harapan Calvin
23 Menguntit
24 Mobil yang sama
25 Penyamaran yang terbongkar
26 Testpack
27 Di usir
28 Menikmati hujan
29 Tinggal bersama
30 Mencari Clarissa
31 Seorang dokter?
32 Amnesia mendadak
33 Cemburu
34 Bertemu Harry
35 Menuduh Harry
36 Tamu tak diundang
37 Hampir mati
38 Baku hantam
39 Pingsan?
40 Jangan pergi
41 Keras kepala
42 Di jemput paksa
43 Di paksa menikah
44 Pertikaian
45 Stevanus Atmaja
46 Jalan bersama
47 Makan Bakso bersama
48 Telur gulung
49 Menghabiskan malam bersama
50 Ungkapan perasaan
51 Backstreet
52 Interogasi
53 Sebuah ancaman
54 Bertunangan
55 Wanita simpanan Andrew
56 Tanpa kabar
57 Di rumah sakit
58 Tidak peka
59 Licik
60 Tumbal
61 Gaun Pemberian Andrew
62 Sundel bolong
63 Harta dan tahta
64 Misi rahasia Clarissa
65 Rencana yang gagal
66 Kenyataan pahit
67 Rumah kosong
68 Pengakuan Gerry
69 Di taman belakang
70 Dejavu
71 Terluka
72 Lelah
73 Sebuah harapan
74 Mansion keluarga Atmaja
75 Terungkap
76 Di kamar Andrew
77 Obsesi
78 Tidak pulang
79 Kegelisahan Aruna
80 Benar-benar gila
81 Menjadi tawanan
82 Jujur
83 Di Villa
84 Murahan
85 Klinik Aborsi
86 Berubah pikiran
87 Kronologi Kematian Emily
88 Melepaskan diri
89 Mencari cara
90 Berhasil kabur
91 Ezar
92 Kematian Ezar
93 Kedatangan polisi
94 Selamat tinggal Clarissa
95 Kematian Andrew
96 Di rawat
97 Menerima kenyataan
98 Dendam kesumat
99 Titik lemah
100 Di bandara
101 Rumah baru
102 Penguntit
103 Kesederhanaan
104 Hari pertama di kampus
105 Everything is still about you
106 Ada hati yang harus di jaga
107 Hari pertama bekerja
108 Aku bukan pelakor
109 Di ganggu preman
110 Babak belur
111 Penolakan Clarissa
112 Sadar posisi
113 Hampir terlambat
114 Pertanyaan Alin
115 Luka tak berdarah
116 Jauhi Calvin
117 Sebuah Foto
118 Muak
119 Meminta kesempatan kedua
120 Wanita Ular
121 Aku atau dia
122 Mencintai atau di cintai?
123 Kebakaran
124 Pernyataan cinta
125 Tak perlu memaksa
126 Meluruskan kesalahpahaman
127 Fakta sebenarnya
128 Will you marry me?
129 CLBK
130 Cinta tak beralasan
131 THE END
132 THANK YOU
Episodes

Updated 132 Episodes

1
Prolog
2
Diary Emily
3
Demi Emily
4
Tekad Clarissa
5
Gara-gara Andrew
6
Murid baru
7
Hari kedua di sekolah
8
Roti sobek
9
Menggali informasi
10
Menghindar
11
Cerita Andrew
12
Di balkon kamar
13
Kecurigaan Clarissa
14
Di peluk Pak Calvin
15
Di cafe
16
Kericuhan di cafe
17
Kejadian di balkon kamar
18
Tangis Clarissa
19
Mimpi masa kecil
20
Fakta baru
21
Hilangnya Diary Emily
22
Harapan Calvin
23
Menguntit
24
Mobil yang sama
25
Penyamaran yang terbongkar
26
Testpack
27
Di usir
28
Menikmati hujan
29
Tinggal bersama
30
Mencari Clarissa
31
Seorang dokter?
32
Amnesia mendadak
33
Cemburu
34
Bertemu Harry
35
Menuduh Harry
36
Tamu tak diundang
37
Hampir mati
38
Baku hantam
39
Pingsan?
40
Jangan pergi
41
Keras kepala
42
Di jemput paksa
43
Di paksa menikah
44
Pertikaian
45
Stevanus Atmaja
46
Jalan bersama
47
Makan Bakso bersama
48
Telur gulung
49
Menghabiskan malam bersama
50
Ungkapan perasaan
51
Backstreet
52
Interogasi
53
Sebuah ancaman
54
Bertunangan
55
Wanita simpanan Andrew
56
Tanpa kabar
57
Di rumah sakit
58
Tidak peka
59
Licik
60
Tumbal
61
Gaun Pemberian Andrew
62
Sundel bolong
63
Harta dan tahta
64
Misi rahasia Clarissa
65
Rencana yang gagal
66
Kenyataan pahit
67
Rumah kosong
68
Pengakuan Gerry
69
Di taman belakang
70
Dejavu
71
Terluka
72
Lelah
73
Sebuah harapan
74
Mansion keluarga Atmaja
75
Terungkap
76
Di kamar Andrew
77
Obsesi
78
Tidak pulang
79
Kegelisahan Aruna
80
Benar-benar gila
81
Menjadi tawanan
82
Jujur
83
Di Villa
84
Murahan
85
Klinik Aborsi
86
Berubah pikiran
87
Kronologi Kematian Emily
88
Melepaskan diri
89
Mencari cara
90
Berhasil kabur
91
Ezar
92
Kematian Ezar
93
Kedatangan polisi
94
Selamat tinggal Clarissa
95
Kematian Andrew
96
Di rawat
97
Menerima kenyataan
98
Dendam kesumat
99
Titik lemah
100
Di bandara
101
Rumah baru
102
Penguntit
103
Kesederhanaan
104
Hari pertama di kampus
105
Everything is still about you
106
Ada hati yang harus di jaga
107
Hari pertama bekerja
108
Aku bukan pelakor
109
Di ganggu preman
110
Babak belur
111
Penolakan Clarissa
112
Sadar posisi
113
Hampir terlambat
114
Pertanyaan Alin
115
Luka tak berdarah
116
Jauhi Calvin
117
Sebuah Foto
118
Muak
119
Meminta kesempatan kedua
120
Wanita Ular
121
Aku atau dia
122
Mencintai atau di cintai?
123
Kebakaran
124
Pernyataan cinta
125
Tak perlu memaksa
126
Meluruskan kesalahpahaman
127
Fakta sebenarnya
128
Will you marry me?
129
CLBK
130
Cinta tak beralasan
131
THE END
132
THANK YOU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!