Clarissa duduk di atas balkon kamar di temani secangkir kopi susu beserta camilan. Di telinganya ada headset dengan lagu yang mengalun. Gadis itu hanya mengenakan hot pants dengan tanktop bewarna hitam. Sesekali gadis itu menyeruput kopinya sambil menikmati senja. Gadis berambut cepak itu kembali menyandarkan tubuhnya dan memejamkan mata. Semilir angin lembut menyapu wajahnya.
Tiba-tiba Andrew datang menghampiri gadis itu dengan tidak tahu malu.
"Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu bisa babak belur?" tanya pria itu seraya berdiri menatap Clarissa dengan kesal. Yang di tanya hanya diam tak bergerak. Bukan tidak mendengar, tapi dirinya malas meladeni pria yang tidak ia suka.
"Clarissa! Apa kamu mendengarkan aku?" teriak Andrew emosi. Tapi tetap saja, Clarissa terus memejamkan matanya tak peduli. Tak di sangka Andrew merampas headset yang ada di telinga gadis itu dan membuangnya. Sontak saja Clarissa membuka mata dan melihat headset yang jatuh dari balkon kamar ke bawah.
"Apa yang kamu lakukan, Andrew!" teriak Clarissa kesal. Ia berdiri mencari headset yang di buang oleh Andrew.
"Makanya, kalau ada orang ngomong itu di dengarkan!" balas Andrew dengan wajah memerah menahan amarah.
"Dasar pria brengsek! beraninya kamu membuang headset milikku!" Clarissa mendorong tubuh pria itu sehingga membuat Andrew hampir terjatuh.
"Ini semua salah kamu! Coba kamu mau merespon ucapan ku! Mungkin aku tidak akan melakukan ini."
"Kamu benar-benar keterlaluan!"
"Terserah! Aku minta kamu berhenti menyamar menjadi seorang pria! Berhenti menyelidiki kematian Emily!"
Clarissa menyipitkan matanya, menatap marah pada pria yang dadanya tampak naik turun menahan emosi.
"Emang kamu pikir kamu siapa bisa mengatur kehidupan aku, hah?"
"Aku ini calon suami kamu, Cla! Aku tidak ingin kamu seperti ini. Lihat saja wajahmu. Baru sebentar kamu menyamar menjadi seorang pria, tapi wajahmu sudah babak belur begini!"
"Jangan ikut campur! Aku tahu apa yang aku lakukan. Kamu bukan siapa-siapa dalam hidup aku. Jadi, kamu tidak berhak mengatur hidup aku!" teriak Clarissa. Mendengar ucapan Clarissa membuat Andrew gelap mata. Ia berjalan mendekati Clarissa dan meletakkan tangannya ke rahang gadis itu dengan keras.
"Kamu itu calon istri aku! Jadi kamu harus patuh dengan apa yang aku katakan!" ucap Andrew dengan tegas dan menatap mata Clarissa yang tidak tampak takut sedikitpun.
Gadis itu tertawa renyah, ia memandang remeh pada pria yang bisa saja mematahkan rahangnya.
"Baru jadi calon suami aja sudah begini. Bagaimana jika kamu benar-benar menjadi suami? Bisa-bisa aku di banting." ejek Clarissa dengan senyum miring.
"Aku tidak akan bersikap kasar jika kamu mau menurut! Apa salahnya sih menuruti apa yang aku katakan?"
"Kamu harus ingat Tuan Andrew yang terhormat! Aku bukan seperti gadis-gadis lain yang bisa kamu bodohi! Yang mau saja menuruti segala kemauan mu!"
"Kau benar-benar keras kepala!"
Beberapa detik kemudian Andrew membungkam bibir Clarissa dengan bibirnya. Membuat gadis itu mendelik dan meronta. Tapi kekuatan pria itu lebih besar dari Clarissa. Andrew memeluk tubuh Clarissa dengan kuat, sementara gadis itu mencoba berontak dan menggeleng untuk melepaskan bibir Andrew dari bibirnya. Dalam hati ia memaki pria itu. Saat Clarissa mencoba berontak, Andrew menggigit bibir bawah gadis itu dengan kuat hingga Clarissa menjerit tertahan dan membuka mulutnya. Lidah Andrew bergerak liar mengeksplor seluruh bagian mulut Clarissa dengan leluasa. Gadis itu yak kehilangan akal, ia menggigit lidah Andrew dengan keras. Lalu menendang bagian bawah perut Andrew sehingga membuat pria itu melepaskan ciuman brutalnya dan melepaskan tubuh Clarissa yang di peluknya.
"Aduh. Sakit," rintih Andrew seraya memegangi area sensitifnya. Clarissa tersenyum puas, ia meludah dengan jijik. Ia merasakan rasa asin dari bibirnya, rupanya bibir bagian bawahnya berdarah karena di gigit oleh Andrew.
"Dasar pria brengsek! Asal kamu tahu, aku semakin benci dengan kamu! Aku tidak akan pernah terima dengan apa yang kamu lakukan barusan! Ini namanya pelecehan!" teriak Clarissa seraya menatap wajah Andrew dengan jijik. Sementara pria itu terus meringis menahan sakit.
Tak berhenti di situ, Clarissa kembali berjalan menghampiri Andrew yang meringis kesakitan. Ia kembali menghajar Andrew, mendaratkan tiga pukulan di wajah pria itu.
Bugh ... Bugh ... bugh ....
Andrew tersungkur. Ia berteriak meminta ampun pada Clarissa.
"Ampun, Cla. Aku minta maaf, tolong maafkan aku." lirihnya penuh kesakitan.
"Pergi kamu dari sini! Dan jangan pernah kembali lagi. Awas kalau kamu sampai menampakkan wajah kamu di sini lagi! Aku bakalan buat wajah kamu tidak berbentuk! Dan satu lagi. Akan aku buat kamu kehilangan masa depan kamu selamanya!" ancam Clarissa seraya menunjuk bagian bawah milik Andrew sehingga membuat pria itu mendelik ketakutan.
"Ampun Cla. Ampun. Iya, aku pergi sekarang." Andrew segera berlari melarikan diri sembari menyeret kaki nya. Ia merasakan sakit yang luar biasa di area ************ nya.
"Sial! Gara-gara Andrew sialan itu bibir aku jadi berdarah!" umpatnya kesal seraya menyeka darah yang keluar.
"Kayaknya aku harus menggosok gigi seratus kali supaya tidak ada bakteri yang menempel." ia bersungut-sungut sembari mengelap bibirnya dengan ujung tanktop lalu pergi ke kamar mandi. Kebencian di hatinya semakin besar pada Andrew.
Tanpa Clarissa tahu, kejadian tadi tak sedikit pun terlewat dari penglihatan seorang pria dari balkon seberang. Pria itu terus memperhatikan kejadian demi kejadian, bahkan saat Clarissa di cium secara brutal oleh Andrew dan tidak bisa melawan pria itu hendak pergi ke rumah Clarissa dan menyelamatkan gadis itu. Tapi sebelum ia bertindak, Clarissa sudah menyelematkan dirinya sendiri sehingga membuat pria itu menghembuskan napas lega.
"Jadi dia adalah seorang wanita?" gumam pria itu tak percaya. Ia terus menatap gadis yang ada di seberang rumahnya dengan tatapan bingung dan tak percaya.
"Dasar tukang tipu! Dia benar-benar penipu ulung. Bahkan aku percaya saja bahwa dirinya adalah seorang pria." ia tertawa miris. Melihat Clarissa yang mengelap bibirnya dengan kuat mengenakan ujung tanktop dan pergi meninggalkan balkon.
"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu begitu tidak asing dan aku merasa pernah sangat dekat dengan kamu?" lirihnya seraya menatap balkon yang ada di seberang jalan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments
Ds Phone
cari sendiri
2025-02-06
0
Bu Neng
ayo pak guru...jeli dong 😁
2023-11-15
0