Clarissa baru saja memejamkan matanya ketika pintu kamar tiba-tiba di buka oleh seseorang. Gadis itu terpaksa kembali membuka matanya dan menoleh ke arah pintu kamar. Terlihat sang papa berdiri di tepi ranjang dengan wajah marah. Gadis itu mengernyitkan dahi, lalu bergegas untuk duduk. Ia memperhatikan penampilan Papanya yang masih memakai jas lengkap dengan dasi.
"Ada apa, Pa?" tanya Clarissa bingung.
"Apa yang kamu mau sebenarnya?" suara Alexander menggema di kamar Clarissa. Kerutan di dahi gadis itu semakin dalam.
"A-apa maksud papa?"
"Kamu ini perempuan, Cla! Jangan sok jagoan! Kamu pikir kamu bisa melakukan semua hal seenaknya? Hanya karena penampilan kamu sekarang sudah seperti laki-laki, kamu bisa bersikap semena-mena pada semua orang?"
"Pa, tolong tenang. Sebenarnya ada apa? Kenapa papa terlihat sangat marah begini?" tanya Clarissa tak mengerti.
"Jangan pura-pura tidak tahu! Katakan, apa yang telah kamu lakukan pada Andrew?!" Tanya Alexander dengan wajah tegang dan urat leher yang menyembul keluar. Pria itu tampak sangat marah. Clarissa paham sekarang, mengapa Papanya bisa semarah ini. Terlihat sang Mama datang dengan deru napas yang tidak teratur, napas wanita itu tersengal-sengal.
"Pa, tolong jangan seperti ini. Semuanya bisa di bicarakan baik-baik." ucap Aruna pada suaminya. Ia mencoba membujuk Alexander yang terlihat ingin meledak.
"Jangan mencoba untuk membela anak ini, Ma. Dia akan semakin ngelunjak!"
"Pa, tolong dengar penjelasan Clarissa dulu. Anak kita tidak mungkin melakukan hal itu jika tidak terpaksa. Mama sangat mengenal Clarissa dan lebih percaya pada dia daripada Andrew."
"Berhenti membela anak ini!" teriak Alexander semakin emosi. Melihat Papanya yang membentak mamanya membuat Clarissa marah. Gadis itu membuka selimut yang menutupi tubuhnya sedari tadi lalu berdiri.
"Jangan membentak Mama! Hanya demi pria brengsek itu Papa berani membentak Mama?"
"Jaga ucapan kamu, Clarissa! Andrew itu calon suami kamu!" jari telunjuk Alexander berada tepat di depan wajah Clarissa.
"Jangan mimpi, Pa! Selamanya Clarissa tidak akan pernah mau menikah dengan pria brengsek seperti Andrew!"
Plaakk
Satu tamparan keras mendarat di wajah putih Clarissa sehingga bekas tamparan sangat terlihat jelas di wajah gadis itu. Clarissa merasakan perih di wajahnya, ia memegangi pipinya yang memerah. Gadis itu merasakan sakit luar biasa.
"PAPA!" Aruna menjerit, menatap tak percaya pada suami dan anaknya. Ia menghampiri anak sulungnya dan melihat bekas tamparan yang suami yang membekas.
"Apa yang kamu lakukan, Pa? Kamu benar-benar keterlaluan!" teriak Aruna mendorong tubuh suaminya hingga punggung pria itu menabrak dinding kamar. Sementara pria yang baru saja menampar anaknya sendiri itu menatap telapak tangan kanannya yang telah tak sengaja menampar darah dagingnya.
"Hanya karena orang lain, kamu tega menampar anak kamu sendiri Pa! Kamu lebih percaya pada Andrew yang baru kamu kenal dari pada dengan Clarissa anak kandung kamu sendiri!"
Tubuh Alexander bergetar, ia merasa bersalah dengan apa yang telah ia lakukan. Ia menatap istrinya yang menangis, lalu berpaling pada Clarissa yang menatapnya dengan tajam penuh kebencian seraya memegangi pipinya yang memerah.
"Tanpa mau mendengarkan penjelasan dari Clarissa, Papa malah menamparnya. Papa benar-benar egois!" teriak Aruna dengan tangis keras.
"Asal papa tahu, Clarissa hanya mempertahankan kehormatan Clarissa dari pria brengsek seperti Andrew. Apa Clarissa salah jika membela diri? Atau Papa mau jika anak Papa menyerahkan kesuciannya dengan suka rela pada pria brengsek seperti Andrew?" lirih Clarissa dengan bulir air mata yang turun perlahan menuruni wajahnya. Hatinya teramat sakit mendapati Papanya yang begitu gelap mata. Mendengar penjelasan Clarissa membuat Alexander melebarkan matanya. Ia mengerjap beberapa kali.
"Cla ... A-apa be-benar be-begitu?" tanya Alexander tergagap. Rasa bersalah semakin menyeruak memenuhi seluruh hatinya. Sementara tangis Aruna semakin pecah, ia segera menarik anaknya ke dalam pelukan. Menangis terisak menyesali semua yang terjadi. Tadi sore mereka sedang mengadakan pertemuan bersama dengan orang tua Andrew, dan di sela makan malam Papa Andrew mendapatkan kabar dari anaknya kalau Clarissa telah menghajarnya dengan membabi buta. Sehingga menyebabkan Andrew babak belur. Mendengar anaknya yang telah membuat Andrew terluka membuat Alexander marah bukan main. Ia langsung meminta maaf atas kejadian tidak mengenakkan itu, lalu bergegas pulang untuk meminta penjelasan Clarissa. Bukannya meminta penjelasan, tapi Alexander yang telah di kuasai emosi malah tak sengaja menampar anaknya dengan keras.
Aruna mengurai pelukannya, lalu kembali mendatangi suaminya yang tampak shock dan menyesali perbuatannya.
"Papa dengar 'kan penjelasan Clarissa? Apa Papa akan mendukung perbuatan Andrew pada Clarissa? Apa Papa mau jika anak itu merenggut kesucian anak kita? Papa benar-benar keterlaluan! Mama Kecewa sama Papa!" teriak Aruna lalu pergi meninggalkan kamar Clarissa. Melihat istrinya yang keluar kamar dengan menangis, Alexander mengejar istrinya. Dan sebelumnya meminta maaf terlebih dahulu pada Clarissa.
"Ma, tunggu Ma!" teriak Alexander menuruni anak tangga mengejar istrinya yang marah dan kecewa.
Setelah kepergian kedua orang tuanya, Clarissa menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Ia duduk termenung, menatap lantai dingin yang ada di bawahnya. Air matanya turun kembali perlahan.
"Apa Papa begitu tidak menyayangi Clarissa, Pa? Sehingga Papa lebih percaya pada Andrew. Dulu, Papa selalu membela Emily meski dia salah. Dulu ketika Clarissa dan Emily bertengkar, Papa pasti akan membela Emily dan menyalahkan Clarissa. Dan setelah Emily tiada pun, sekarang Papa masih tidak percaya pada Clarissa dan malah percaya pada orang lain?" ia tertawa getir. Meratapi hidupnya yang begitu menyedihkan. Gadis itu menghapus jejak air mata yang ada di wajahnya. Lalu tersenyum miris.
"Bukankah dari dulu sudah biasa, Cla? Bukankah semua ini sudah sering terjadi sebelumnya? Hanya saja orang yang di bela Papa berbeda. Bukankah seharusnya kamu sudah terbiasa? Ayolah. Jangan cengeng!" ujarnya dengan kesakitan luar biasa. Ia menarik napas sebentar, lalu menghembuskan.
"Ah, kenapa kamar ini begitu panas dan menyesakkan? Sepertinya aku harus mencari udara segar." ujarnya seraya berdiri. Ia berjalan menuju balkon kamar, membuka pintu kaca yang menjadi penghalang.
Gadis itu menatap langit malam yang kelam. Tidak ada satu pun bintang yang ada di sana, bahkan bulan pun enggan menampakkan diri.
Clarissa memegang pembatas balkon, mengusap air mata yang tak sengaja keluar kembali. Meski berusaha untuk kuat, ia hanyalah seorang gadis yang hatinya lemah. Gadis itu tak bisa menahan rasa sakit yang menderanya, hingga akhirnya terisak sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia menangis tersedu, bukan karena rasa sakit di wajahnya akibat tamparan sang Papa. Tapi hatinya yang terluka begitu dalam, rasanya lebih perih berkali-kali lipat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments
Ds Phone
selidik dulu baru ambil tindakan
2025-02-06
0
Bu Neng
😭😭😭papa Clarissa tega banget sih....
2023-11-15
0