"Jangan menyalahkan aku atas kematian Emily!" geram Gerry menatap Ayumi dengan kesal.
"Lalu harus menyalahkan siapa?" kali ini Clarissa yang menyela. Semua mata tertuju pada Clarissa yang sedang menatap Gerry dengan tatapan marah. Gerry menatap kesal pada Clarissa, matanya sebenarnya menunjukkan luka yang dalam.
"Kamu harus bertanggung jawab atas apa yang telah kamu lakukan, Gerry!" Emosi Clarissa sudah berada di ubun-ubun. Ia benar-benar marah mengetahui bahwa Gerry yang menyebabkan Emily di bully. Hanya karena cintanya di tolak oleh adiknya, tak seharusnya pria itu menyuruh anak-anak untuk membully adiknya. Gerry hanya diam menatap Clarissa. Entahlah, kata-kata tidak bisa keluar dari bibir pria itu. Hanya tatapan penuh luka yang tampak dari matanya.
"Robert, jangan ikut campur." bisik Elvina seraya meletakkan jemarinya yang lentik di lengan Clarissa. Tapi Clarissa mengabaikan suara Elvina.
"Kamu itu seorang pengecut! Harusnya kamu bisa menerima jika Emily tidak menyukaimu. Harusnya kamu menjadi orang yang gentleman. Dasar cowok pengecut!"
"Memangnya kamu mengenal siapa Emily?" tanya Gerry setelah diam cukup lama. Clarissa menyadari kesalahannya, ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Kamu berkata seperti itu seolah-olah kamu sangat mengenal Emily. Dan sangat peduli pada Emily." imbuh Gerry tanpa mengalihkan pandangannya pada Clarissa yang membuang muka.
Semua yang ada di sana saling tatap, mereka juga heran mengapa Robert begitu tampak emosi padahal dia tidak mengenal Emily.
"Apa kamu mengenal Emily, Robert?" tanya Ayumi menatap wajah Clarissa yang tampak memerah karena menahan marah. Semua mata tertuju pada Clarissa, di tatap seperti itu pun membuat Clarissa tak nyaman. Ia mencoba menenangkan diri. Memejamkan matanya sebentar, lalu menghembuskannya perlahan.
"Tenang, Cla. Jika kamu menggunakan emosi, semua akan terbongkar. Nanti penyamaran yang kamu lakukan selama ini akan percuma." gumamnya dalam hati.
"Aku hanya kasihan pada Emily. Karena aku pernah mengalami hal yang sama." ujarnya sehingga membuat semuanya saling tatap.
"Kamu? Di bully?" tanya Tami tak percaya. Clarissa mengangguk ragu.
"Wah. Cowok setampan dan sekeren kamu bisa di bully juga?" Elvina menyahut. Ia menatap Clarissa tak percaya.
"Aku tidak percaya." Ucap Gerry tanpa memutuskan pandangannya pada Clarissa.
"Terserah. Aku tidak akan membuat kamu atau siapapun untuk percaya." kata Clarissa cuek.
Melihat situasi yang menegang, Tami dan Ayumi mulai mencairkan suasana.
"Eh, katanya sekolah kita akan mengadakan acara tour ke Puncak ya?" kata Tami tiba-tiba. Sontak saja mereka semua membahas hal itu dengan antusias.
"Iya, benar. Ini 'kan acara tahunan. Jadi rugi banget kalo kita tidak ikut. Apalagi banyak kegiatan di sana." sahut Dicky seraya tersenyum lebar.
"Iya, benar banget. Pasti akan seru banget seperti tahun sebelumnya." Elvina menimpali. Mereka pun terlibat dengan obrolan tentang tour tahunan yang di adakan oleh sekolah.
Sementara mereka semua antusias dengan acara yang di adakan sekolah, Clarissa menyeruput kopi hitam miliknya. Ia mencium sebentar, lalu tersenyum menikmatinya.
"Kamu suka kopi?" tanya Gerry pada Clarissa. Gadis yang berpenampilan pria itu melirik Gerry sekilas.
"Iya." jawabnya singkat.
"Aku juga suka kopi. Tidak di sangka selera kita sama. Sangat berbeda dengan anak muda lainnya." lanjut Gerry yang tidak di tanggapi sedikitpun oleh Clarissa. Melihat tidak ada tanggapan sedikitpun dari Clarissa membuat Gerry kesal.
"Dasar sombong!" gerutu pria itu seraya menyeruput kopinya.
"Apa benar, kamu tidak ada hubungannya dengan kematian Emily?" tanya Clarissa tanpa berbasa-basi. Gerry merasa tersinggung, ia semakin kesal dengan Clarissa.
"Maksud kamu apa sih? Aku tidak ada hubungannya dengan kematian Emily! Dan asal kamu tahu, Aku sangat terpukul dengan kematian Emily. Aku begitu menyukai gadis itu. Dan dia malah bunuh diri sebelum aku minta maaf karena telah menyuruh anak-anak berhenti untuk membully-nya." suasana di meja itu kembali hening.
"Lalu, apa kamu tahu penyebab kematian gadis itu?"
"Berhenti bertanya tentang Emily!"
"Aku hanya bertanya. Apa itu salah? Jika kamu tidak salah kenapa harus marah?" ujar Clarissa santai. Emosi Gerry meluap, pria itu berdiri dan menghampiri Clarissa. Meraih kerah kemeja Clarissa dan mendaratkan pukulan keras di wajah gadis berpenampilan pria itu.
Bugh ....
Semua orang yang ada di sana menjerit histeris.
Clarissa merasakan ujung bibirnya yang perih. Menyeka darah segar yang keluar menggunakan ujung jari telunjuknya. Melihat darah di telunjuknya, Ia menatap Gerry dengan emosi yang memuncak. Tanpa ampun, ia segera membalas perbuatan Gerry padanya. Gadis itu memberi pukulan di wajah Gerry berkali-kali hingga pria itu tersungkur.
"Jangan coba-coba memukulku jika tidak ingin menyesal!" teriak Clarissa mengingatkan. Gerry yang tersungkur pun hanya bisa memegangi wajahnya yang memar dan hidungnya yang berdarah.
"Robert! apa yang kamu lakukan?" teriak Elvina menutup mulutnya.
Begitu pun dengan Tami dan Ayumi. Sementara Dicki dan Teo akan membalas perbuatan Clarissa, tapi Para gadis segera melerainya.
"Sudah-sudah! Hentikan!" teriak Ayumi mendorong tubuh Teo dan Dicki ke belakang.
"Kita harus membalas perbuatan Robert pada Gerry!" teriak Teo tidak terima.
"Sini kalian, maju semua!" tantang Clarissa dengan marah. Saat ini ia tidak bisa menahan emosinya. Emosi gadis itu akan naik dengan cepat ketika membahas tentang kematian Emily apalagi dengan orang yang ada kaitannya dengan penderitaan yang Emily alami sebelum meninggal.
"Awas kamu, Robert! Kami akan membalas kamu nanti!" ancam Dicky.
"Silahkan! Aku tidak takut sama sekali!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments
Ds Phone
jangan ikut hati nanti makan hati
2025-02-06
0
🍭ͪ ͩ⏤͟͟͞ R⃟ S͠ᴜʟʟɪꪤ🍒⃞⃟🦅
cinta ditolak
cari yg lain.lahh ,
masa maksa
2023-06-12
1