Clarissa duduk di sebuah kursi yang ada di ruang tamu. Di depannya ada Papa dan Mamanya yang duduk berdampingan. Tatapan mata Papanya sedari tadi mengarah padanya tanpa bisa teralihkan. Clarissa bagai berada dalam persidangan dan ia menjadi tersangka.
"Apa kamu tidak bisa menghargai nak Andrew?" Papa membuka pembicaraan.
"Menghargai bagaimana Pa?" tanya Clarissa balik.
"Clarissa! Nak Andrew itu sudah susah payah ingin menjemput kamu. Ia khawatir kamu kenapa-kenapa tapi kamu malah jalan sama laki-laki lain! Apa kamu tidak tahu bahwa selama kamu di Amerika Nak Andrew selalu setia menunggu kamu? Dan sekarang setelah kembali kamu malah mengacuhkan dia?"
Clarissa tersenyum getir. Menatap pada papanya dengan heran.
"Mengapa Papa mudah sekali percaya pada pria itu?"
"Nak Andrew adalah orang baik. Wajar saja jika Papa percaya pada dia."
"Pa, tadi penyamaran Clarissa hampir terbongkar karena ulah Andrew. Papa tahu siapa laki-laki yang berjalan bersama Clarissa saat kembali dari minimarket?" tanya Clarissa pada Papanya.
"Kata Andrew dia pacar kamu."
Clarissa tertawa kecil.
"Papa di butakan oleh mulut manisnya! Dia itu adalah guru olahraga di sekolah Emily. Dan Andrew malah memanggil Clarissa di depannya dengan nama asli!" ujar Clarissa kesal. Sementara Papanya hanya diam dan Mama Aruna membekap mulutnya.
"Dan asal Papa tahu! Clarissa ingin kuliah di Amerika karena menghindari pria yang bernama Andrew! Clarissa rela berjauhan dari keluarga karena dia, Pa! Dan sekarang Clarissa kembali karena Emily. Clarissa kembali ke sini untuk mengungkapkan kematian Emily yang sebenarnya Pa."
Alexander hanya diam di tempatnya.
"Dan Papa lebih percaya pada Andrew sekarang. Padahal papa tidak tahu dengan sifat asli pria itu, Pa! Tolong jangan memaksa Clarissa untuk menerima perjodohan ini. Clarissa bisa buktikan ke Papa bahwa dia itu bukan orang baik. Papa harus percaya pada Clarissa, Pa."
"Cukup, Cla. Berhenti menjelekkan Andrew di depan Papa. Jangan mencari alasan untuk menolak perjodohan ini. Papa sangat mengenal Nak Andrew dan keluarganya. Jadi tolong jangan membantah dan mengatakan hal buruk tentang Andrew."
Clarissa menatap Papanya dengan marah.
"Baik. Mungkin Papa lebih suka melihat anaknya terjebak dalam pernikahan yang penuh neraka! Mungkin Papa memang ingin Clarissa masuk ke dalam sarang Harimau. Papa tidak sayang sama Clarissa!"
"Jaga ucapan kamu, Cla! Papa melakukan semua ini karena papa begitu menyayangi kamu. Papa ingin yang terbaik untuk kamu!"
"Terbaik?"
"Pa, mama mohon hentikan. Cla, sudah nak." Mama Aruna memohon. Wanita itu tampak sangat sedih melihat anak dan suaminya bersitegang.
"Papa hanya ingin yang terbaik untuk anak Papa." kata Papa lagi.
"Lakukanlah Pa. Jika itu akan membuat papa bahagia!" Clarissa beranjak pergi. Ia sedikit berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
"Mau kemana kamu, Clarissa? Papa belum selesai!" teriak Alexander marah. Urat lehernya tampak menonjol.
"Sayang, please. Stop it!" teriak Mama Aruna sedih.
"Clarissa benar-benar keterlaluan, Ma. Dia sudah mulai berani membantah."
"Kamu juga keterlaluan, Pa. Mama sebenarnya juga mempunyai feeling tidak enak pada Andrew. Tapi kamu tidak mau mendengarkan aku dan Clarissa. Kamu terlalu egois dan ambisius!"
Alexander mengerutkan keningnya, menatap istrinya bingung.
"Siapa yang begitu egois? Bukankah anak kita? Kenapa mama malah menyalahkan Papa?"
"Kamu memang salah, Pa. Biarkan Clarissa memilih jalan hidupnya sendiri. Berhenti mengatur hidupnya seperti anak kecil! Clarissa juga berhak bahagia dengan pilihannya Pa. Apalagi itu menyangkut masa depannya. Apa kamu mau bertanggung jawab jika setelah menikah dengan Andrew anak kita tidak bahagia? Apakah kamu mau bertanggung jawab jika ternyata Andrew bukan pria baik-baik?"
Alexander terdiam.
"Pikirkan baik-baik sebelum bertindak, Alexander! Jangan berbicara dengan ku sebelum kamu dan Clarissa berbaikan. Jangan bicara dengan ku jika kamu masih memaksakan keinginan kamu!" ancam Aruna seraya pergi meninggalkan suaminya yang kebingungan.
"Sayang. Apa maksud kamu?" Aruna tetap diam dan tak menghentikan langkahnya meski Alexander mengejarnya. Bahkan wanita itu masuk ke kamar dan menutup pintu kamar mereka.
"Sayang, tolong buka pintunya! Tolong jangan seperti ini. Aku tidak mau tidur di luar malam ini." Alexander menggedor pintu kamar sambil merengek. Sungguh ia tidak bisa jika istrinya marah dan merajuk padanya.
"Sayang, tolong buka pintunya. Apa kamu tidak kasihan padaku? Aku kedinginan, sayang." rengek Alexander. Tapi Aruna seolah menutup telinga. Ia membiarkan suaminya memohon di luar kamar. Ia ingin memberikan pelajaran pada suaminya karena terlalu keras pada Clarissa. Ia tidak setuju jika Clarissa dan Andrew benar-benar menikah.
Clarissa masuk ke dalam kamarnya, membanting pintu kamar dengan keras. Ia pergi ke balkon dan berteriak.
"Aaaaa ...." ia berteriak sesuka hati tanpa memperdulikan apa kata tetangga.
"Woy! Ganggu aja! Kalau mau teriak, di hutan sana!" terdengar suara seorang pria dari rumah sebelah. Clarissa mengabaikan suara itu dan kini mulai menangis.
"Kenapa Papa tega sih sama Cla? Kenapa Papa lebih percaya sama Andrew sialan itu! Anak Papa itu sebenarnya Clarissa apa Andrew sih?" ia menangis sesenggukan. Berdiri di pembatas balkon seraya menatap malam yang kelam. Hanya ada bulan yang mengintip di balik awan.
"Kalau tidak karena Emily, aku tidak mau pulang dan bertemu Andrew. Kenapa Papa harus menjodohkan Clarissa sama pria brengsek itu, Pa? Apa Andrew satu-satunya laki-laki di dunia ini?" ia terus menggerutu. Meratapi nasibnya dan menyesali keputusan Papanya yang tidak masuk akalnya.
Gadis itu terus menangis, sesekali memukul pembatas balkon dengan kesal. Sesekali berteriak sehingga hampir saja di lempar teflon oleh tetangga. Jika ada tetangga yang berteriak karena terganggu, Clarissa kembali diam. Tapi beberapa menit selanjutnya ia kembali berteriak kesal. Tanpa Clarissa sadari, sepasang mata yang berada di seberang rumahnya menatap gadis itu sedari tadi. Pria itu sudah ada di balkon sejak tadi sebelum Clarissa ke balkon. Sosok Clarissa tampak sangat jelas dari balkon seberang. Bahkan buku yang sedari tadi di bacanya sudah tidak lagi menarik. Tatapan matanya tak lepas dari sosok Clarissa yang menangis.
"Siapa kamu sebenarnya? Mengapa aku merasa ada yang ganjal darimu. Kamu begitu misterius." lirihnya tanpa mengalihkan pandangannya pada Clarissa. Gadis itu masih terlihat menangis. Kini tubuhnya luruh ke lantai yang dingin, masih menyesali sikap Papanya yang terlalu egois.
Di lain tempat, di sebuah hotel.
Seorang wanita berpakaian seksi masuk ke dalam sebuah kamar. Tampak seorang pria yang hanya mengenakan handuk bewarna putih sedang duduk di atas ranjang.
"Masuklah, puaskan aku malam ini!" ujarnya dengan wajah datar.
"Bukankah selama ini aku selalu memuaskan kamu?" sahut wanita yang kini melucuti pakaian yang ia kenakan satu persatu. Ia berjalan dengan seksi setelah semua pakaian meninggalkan tubuhnya. Wanita itu merangkak menghampiri sang pria. Mulai menyentuh ujung kaki pria itu dengan menggoda.
"Katakan! Kapan aku tidak memuaskanmu?" Wanita itu segera menyurukkan kepalanya di bagian bawah pria itu sehingga membuat sang pria melolong nikmat.
"Arggh ... Kamu memang selalu memuaskan aku." ia menjambak rambut panjang wanita itu yang tergerai.
"Tapi aku masih belum puas jika belum menikmati gadis itu. Dia begitu membuatku penasaran. Dan dia sangat sulit di taklukan, sangat berbeda dari gadis-gadis lainnya." lirihnya seraya menahan ******* yang keluar dari bibirnya. Pria itu memejamkan mata, menikmati permainan wanita yang kini sedang bermain dengan miliknya.
"Clarissa. Suatu saat kamu yang akan melakukannya! Aku akan membuat kamu takluk seperti gadis-gadis lainnya."
Tiba-tiba wanita itu menghentikan permainannya, membuat pria itu membuka mata.
"Andrew! Aku kan sudah bilang, jangan sebut nama gadis lain saat sedang bersamaku! Di ranjang ini kamu hanya boleh memanggil namaku. Karena saat ini aku yang memuaskanmu!" Rajuk wanita itu.
"Baiklah baby. I'm sorry. Ayo lakukan lagi! Aku ingin kamu memuaskan malam ini. Nanti akan aku transfer lebih dari biasanya." bujuk Andrew seraya tersenyum. Mendengar Andrew yang akan memberinya lebih dari biasanya membuat wanita itu tersenyum. Ia dengan sigap kembali ke tempatnya semula. Melakukan tugasnya untuk memuaskan Andrew malam ini seperti biasanya. Kamar itu kembali di penuhi ******* yang keluar dari bibir Andrew. Ia membayangkan jika Clarissa yang melakukan semua itu padanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments
Ds Phone
gila dia memang jahat
2025-02-06
0