Pagi ini Clarissa sangat malas untuk bangun dan pergi ke sekolah. Bahkan dirinya enggan sekali untuk bangun dan mandi. Gadis itu bergelung dalam selimutnya, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal bewarna abu-abu miliknya. Terdengar suara pintu kamar yang terbuka. Mama Aruna masuk dan duduk di tepi ranjang Clarissa, lalu membangunkan anaknya.
"Cla, bangun nak. Udah hampir jam tujuh, apa kamu tidak berangkat ke sekolah?" Tidak ada sahutan dari gadis yang ada di dalam selimut. Khawatir jika anaknya sakit, mama Aruna segera membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh anaknya.
"Cla, apa kamu sakit?" tangannya terulur menyentuh kepala Clarissa. Keningnya terasa hangat.
"Kita ke dokter, ya." kata Aruna dengan khawatir.
"Clarissa baik-baik saja, Ma." gumam gadis itu dengan suara serak.
"Tapi tubuh kamu panas, kamu sedang tidak enak badan. Apakah pusing?"
"Sedikit." jawab Clarissa sembari membuka mata. Ia tidak ingin membuat Mamanya khawatir, segera duduk dan bersandar di kepala ranjang.
"Ayo kita ke dokter sekarang. Mama tidak mau jika sakit kamu tambah parah." ujar Mama sembari memegang lengan anak gadisnya.
"Clarissa baik-baik saja, Ma. Hanya pusing biasa. Nanti juga sembuh. Clarissa cuma butuh istirahat yang cukup. Mama jangan khawatir ya." gadis itu menenangkan dan mengelus tangan mamanya. Mengulas senyum, menunjukkan bahwa dirinya tidak sakit.
"Semua ini pasti gara-gara tadi malam, kan? Dan karena kemaren sore." ucap mamanya dengan penuh sesal.
"Tidak Ma. Mama 'kan tahu, Clarissa ini kuat. Masak hanya karena begitu saja sudah sakit? Mungkin Clarissa terlalu kelelahan."
"Maafkan Mama ya karena tidak bisa menjagamu. Seharusnya Mama bisa mencegah papa untuk melakukan hal buruk itu."
"Ini bukan salah Mama. Mungkin Clarissa harus menghilangkan sikap laki-laki yang ada dalam diri Clarissa?"
Mama Aruna menggeleng.
"Tidak seperti itu juga Cla. Sudah seharusnya kamu menjaga diri dari pria brengsek itu. Seharusnya kamu memberi pelajaran lebih pada Andrew biar dia kapok. Memangnya dia kira, dia siapa sehingga seenaknya saja? Mama saja sebenarnya sangat tidak suka dengan Andrew. Dari cara tatapannya ke kamu saja sudah tahu bagaimana watak pria itu. Apalagi dulu saat Emily masih hidup, dia sering kesini dan menatap Emily dengan tatapan penuh minat. Pria itu sangat menjijikkan." Mama Aruna bergidik mengingat pria yang bernama Andrew.
"Tunggu sebentar. Andrew dulu sering kesini?" tanya Clarissa.
"Iya. Dia ke sini nanyain kamu. Tapi kadang sering juga sih mengantar Emily sekolah karena mereka searah. Bahkan sempat beberapa kali mengantar Emily pulang karena tidak sengaja ketemu di jalan." Clarissa terdiam setelah mendengar penjelasan sang Mama. Gadis itu tampak berpikir sebentar. Melihat wajah Clarissa yang berubah membuat Mama Aruna salah sangka.
"Kamu tidak merasa cemburu, 'kan pada Emily?" tanya Mama Aruna seraya memperhatikan raut wajah anaknya. Clarissa menoleh, menatap Mamanya dengan geli.
"Astaga Mama. Mana mungkin Clarissa merasa cemburu?"
"Ya siapa tahu kamu sebenarnya punya rasa pada Andrew."
"Ih amit-amit Ma. Memangnya tidak ada laki-laki lain di dunia ini?" Clarissa bergidik dan menggeleng.
"Syukurlah kalau kamu tidak punya perasaan pada Andrew. Mama akan membantu kamu untuk membujuk Papa agar mau membatalkan perjodohan kalian." janji sang Mama. Mendengar penuturan mamanya membuat Clarissa terharu.
"Aaahh ... Mama so sweet banget sih." ujar gadis itu seraya menyurukkan kepalanya ke bahu sang Mama.
"Mama hanya ingin yang terbaik untuk kamu, sayang. Mama tidak mau jika anak Mama merasa tidak bahagia. Kematian Emily membuat mama sadar, Mama harus menjadi Mama yang lebih baik lagi. Mama minta apapun masalah yang sedang kamu hadapi, kamu harus cerita sama Mama."
Clarissa mengangguk.
"Ya sudah, kamu mandi sana! Bau. Masak anak gadis jam segini belum mandi?" ledek Mamanya seraya mengurai pelukan.
"Iya, Ma. Clarissa mandi, tapi tidak mau ke sekolah. Clarissa mau di rumah saja."
"Iya sayang. Lagi pula ke sekolah bukan hal yang wajib untuk kamu."
Clarissa tersenyum.
"Mau minta buatkan bubur sama Mbak Nani?"
Clarissa tampak berpikir, menimbang apa yang ingin ia makan pagi ini.
"Clarissa tidak mau makan bubur, Ma. Minta buatkan kopi sama roti bakar aja sama Mbak."
"Kopi terus. Nanti kalau lambungnya kena gimana?"
"Ya jangan sampai kena, lah Ma."
"Awas ya, kalau sampai kena penyakit lambung!"
"Iya, mama sayang. Clarissa aman kok." Gadis itu meyakinkan sang Mama. Mama Aruna beringsut meninggalkan anaknya. Ia kembali menutup pintu kamar Clarissa mencari sang asisten rumah tangga agar membuatkan pesanan Clarissa.
Setelah kepergian sang Mama, Clarissa pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri agar lebih segar. Gadis itu berdiri di bawah shower, menikmati air yang turun membasahi kepala hingga tubuhnya. Siraman air yang sejuk membuat tubuhnya kembali segar, tapi detik berikutnya ia masih tertahan di satu nama.
"Andrew." lirihnya. Entah mengapa ia selalu teringat ucapan Mamanya tentang pria itu. Ia merasa fakta baru akan muncul perlahan demi perlahan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments
Ds Phone
ada apa ya sebenar nya
2025-02-06
0