2D1N, akhirnya sore ini mereka sudah bersiap kembali ke kota J. Beberapa objek wisata sudah mereka datangi, seperti Telaga Warna, Batu Ratapan Angin, Kawah Sikidang, dan pemandian air panas.
Makanan khas daerah tersebut seperti Mie Ongklok dan Carica pun tak luput dari jelajah mereka. Waktu menunjukkan pukul 20.00 malam. Mereka siap untuk kembali pulang. Kembali ke rutinitas pekerjaan. Sebenarnya ini juga kerjaan sih, tapi kerjaan kali ini sedikit membuat mereka refresh karena berbalut dengan liburan.
" Oke guys, mari kita pulang! Sebelumnya yook berdoa dulu supaya kita selamat sampai tujuan. Tadi gue udah minta izin ke bos, kata doi kita besok dikasih off satu hari."
" Yeaaahhh!!"
Semua orang bersorak mendengar pengumuman dari Bian tersebut. Lalu doa pun dipimpin oleh Bian dan satu demi satu dari mereka terlihat memejamkan mata seiring mobil berjalan.
Namun Zanita masih belum juga bisa memejamkan matanya. Ia melihat jalanan malam melalui jendela. Tak terasa air matanya luruh. Sesekali gadis itu terlihat menyeka sudut matanya.
Andra tentu tahu akan hal itu karena dia juga belum bisa tidur. Namun kali ini Andra tidak menghampiri Zanita. Dia memilih membiarkan gadis itu berkutat dengan hati dan pikirnanya sendiri.
" Aku harap kamu benar-benar baik-baik saja dengan pernikahanmu nanti. Dan itu menjadi pilihan terbaik dalam hatimu."
Doa Andra tulus untuk gadis yang belum lama itu dikenalnya. Meskipun belum lama mengenal namun intensitas bertemu Andra dan Zanita yang lumayan sering itu membuat Andra merasa begitu dekat.
Terlebih sikap iseng dan jahil Andra yang ia tujukan kepada Zanita membuat gadis itu kesal memanglah disengaja. Andra selalu suka wajah cemberut Zanita. Terlebih jika Zanita menahan kekesalan di depan Andra dan bersikap seolah-olah semua baik-baik saja.
Haaaah
Andra membuang nafasnya dengan kasar. Ia memaksakan matanya untuk terpejam. Paling tidak itu yang bisa dia lakukan saat ini.
*
*
*
Sekitar pukul 2 dini hari rombongan tim TCD sampai di halaman kantor JDA. Wajah-wajah ngantuk dan lelah jelas terlihat dari semuanya.
" Za, mau langsung mau pulang apa nunggu pagi."
" Pulang aja Bang Bian."
" Biar gue anter."
Andra meraih tas Zanita. Semua orang tentu terkejut melihat ulah Andra tapi mereka berpikir positif saja. Ini masih dini hari, tidak mungkin juga membiarkan Zanita pulang dengan motornya. Tapi tidak dengan Liam, pria itu benar-benar merasa Andra memiliki rasa dengan Zanita. Liam bisa melihat bagaimana cara Andra memperlakukan Zanita di setiap kesempatan.
" Haish, kenapa jadi OT sih," gerutu Liam pelan saat melihat Zanita masuk ke mobil Andra bersama dengan Juned juga.
" Tapi aku bawa motor Bang."
" Tahu, tapi ini masih gelap banget. Masih malem kata orang. Bahaya jalan sendiri malem-malem."
Diam, Zanita hanya bisa diam dan tidak lagi menjawab apa yang diucapkan oleh Andra.
" Iya Za, ini masih malam. Biar kita anterin kamu. Motor mah gampang. Oh iya kamu ambil cuti nggak Za?"
" Enggak Kak Juned. Itu acaranya kan minggu dan sabtu juga JDA libur jadi aku nggak ambil cuti."
Semuanya kembali diam, baik Andra maupun Zanita sibuk dengan pikirannya masing-masing. Meskipun begitu Zanita tetap harus fokus karena dia menjadi petunjuk arah ke rumah miliknya.
Zanita sedikit terkejut saat halaman rumahnya sudah ada dekorasi pelaminan. Ia tentu bingung siapa yang memanggil mereka terlebih kemarin siang Raffan malah yang memintanya untuk mencari. Pandangan Zanita pun terarah kepada Andra.
" Apa?"
" Abang yang buat ya semua ini."
" Aku cuma mau bantu kamu aja."
Zanita membuang nafasnya kasar. Nasi sudah jadi bubur, percuma saja dia marah kalau semuanya sudah dibuat.
" Ya udah kalau gitu, terimakasih bang. Nanti biaya abang chat aja biar aku transfer."
Andra tidak menjawab apa yang dikatakan oleh Zanita. Ia malah menarik tangan Zanita yang hendak turun dari mobil. Ya Andra memilih duduk di bangku penumpang bersama Zanita dari pada duduk di sebelah Juned. Juned benar-benar seperti supir taksi online dini hari itu.
" Apa lagi bang?"
" Kalau memang acara di gedung batal berarti semuanya bukannya batal ya, catering nya juga."
Pluk
Zanita menepuk pelan keningnya dengan tangan. Ia malah tidak berpikir sampai di situ. Fix, hari ini dia tidak akan tidur dengan tenang. Rupanya masih banyak persiapan pernikahan yang belum beres. Seminggu dikurangi 3 hari. Hanya tinggal 4 hari lagi atau lebih pas nya kurang 3 hari lagi acara pernikahan digelar tapi semua belum beres.
Zanita menghela nafasnya dalam. Terlihat gadis itu tengah menyimpan beban yang berat. Tapi dia tidak mengatakannya hanya diam dan berpikir tentang jalan keluar.
" Mau ku bantu Za."
" Aku akan tanya dan menghubungi Mas Raffan dulu aja. Siapa tahu dia ada second change."
Andra mengangguk, ia kemudian menyuruh Zanita untuk masuk ke dalam rumah. Ia akan memastikan Zanita masuk baru dia pergi dari lingkungan rumah Zanita.
" Bos, kayaknya khawatir banget sama Si Za."
" Haish, Juned nggak perlu kepo deh. Yook balik. Kita balik ke rumah Bunda aja."
" Tumben."
Juned melajukan mobilnya kembali. Sesuai keinginan sang bos mereka akan pulang ke kediaman Dwilaga. Sepertinya Andra sedang menyusun sebuah rencana.
" Aku nggak yakin tuh laki beneran bisa ngasih solusi ke Zanita. Mending balik ke rumah bunda terus tanya soal langganan catering bunda. Dah beres deh."
Di kamarnya Zanita langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Tubuhnya tidka terasa lelah tapi pikirannya yang terkuras habis. 4 hari menuju pernikahannya semakin membuat Zanita kalang kabut. Ini jatuhnya dia sendiri yang mempersiapkan segala sesuatu. Padahal awalnya Raffan lah yang mengatakan akan menyiapkan segalanya.
" Mengapa jadi gini sih."
Zanita sungguh merasa dipermainkan oleh hal-hal yang terjadi di hidupnya belakangan ini. Bekerja bersama dengan orang yang tidak ia suka bahkan intens bertemu. Raffan yang minta pernikahan diajukan. Persiapan pernikahan yang dadakan dimana gedung yang sudah di sewa tiba-tiba direnovasi. Sungguh semuanya terlihat begitu menyudutkan dirinya.
" Aku jadi penasaran setelah ini akan ada apa lagi. Perasaanku tidak enak, kayak akan ada sesuatu yang besar terjadi. Haishh, entahlah."
Zanita bangkit dari tidurnya lalu mengambil ponsel yang masih ada dalam tasnya. Ia hendak menelpon Raffan, tapi mengingat masih dini hari akhirnya ia urung melakukannya. Zanita hanya mengirimkan pesan yang berkaitan dengan catering acara hari minggu besok.
" Za, maaf aku lagi banyak banget kerjaan di kantor. Ini aja aku masih lembur beresin kerjaan. Kamu bisa ya ngurus semuanya sendiri. Maaf banget."
Satu hembusan nafas dikeluarkan Zanita saat membaca pesan dari Raffan. Rasanya ia ingin menangis. Dimana ia mendapatkan catering dalam waktu singkat untuk acaranya besok? Gadis iru sungguh kehilangan semangatnya. Ia memilih melemparkan ponselnya dan memejamkan mata untuk sesaat melupakan kekesalan yang terlanjur menjalar di hati.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Sweet Girl
lembur sama si Ono...
2024-03-24
1
Miss Typo
kamu akan menderita dgn penyesalan setelah menuju dgn Vanka ya Raffan
2024-03-14
0
Ran Aulia
Raffan hiiiihhhh 😠😠😠😠😠
2024-02-19
0