Zanita dengan senyum mengembang datang ke JDA. Rupanya Liam dan Dio sudah siap untuk on the way ke Gunung Papandayan. Dengan beberapa perlengkapan yang dibutukan baik Dio maupun Liam sudah mulai memasukkan ke dalam mobil.
" Yaa, nggak ikut bantuin."
" Santai aja Za, ini udah jadi tugas kita. Lagian kita udah selesai kok."
Dio mengangguk dengan ucapan Liam. Dio lalu meminta tas milik Zanita dan memasukkannya kedalam mobil. Setelah semua siap mereka pun masuk ke dalam ruang tim mereka dan melakukan breafing sebelum berangkat. Tim JDA yang menangani NO oleh Bian sudah diberi konfirmasi untuk acara TCD ini. Mereka sangat wellcome.
Adit sebagai presdir JDA selalu menekankan kekompakan karyawan dan saling membantu antar tim kerja agar JDA semakin maju. JDA yang berada dibawah naungan JD Grub milik Rama memang mulai menampilkan taringnya.
" Oke, take care kalian semua. Selama masih ada singnal kabarin selalu ya. Jaga baik-baik tuh si bontot, mana cewek sendiri pula."
" Asiiiaaap bos."
Liam dan Dio mengangkat tangan mereka ke samping kepala membuat tanda hormat kepada Bian. Sedangkan Zanita mengangguk sambil tersenyum ia sungguh senang ada di tengah-tengah tim TCD. Yang awalnya dia terlatu Over Thinking kini dia sangat santai. Mereka menganggap Zanita sebagai adik mereka sendiri.
Liam, Dio, dan Zanita masuk ke dalam mobil. Liam dan Dio duduk di depan dan Zanita di kursi belakang.
Mas, aku berangkat ya.
Zanita mengirim pesan kepada Raffan. Ia lalu memasukkan ponselnya kembali ke sling bag yang ia sandang di badan.
" Za, kalau mau tidur, tidur gih. Masih lama soalnya sampainya."
" Iya kak, nanti kalau ngantuk aku bakalan tidur."
Liam kembali fokus mengemudi ditemani oleh Dio, keduanya banyak berbicara satu sama lain. Meskipun kegiatan di alam MUA tetaplah dibutuhkan, maka dari itu ada di mobil lah Dio bersama dengan Liam dan Zanita.
Di belakang Zanita kembali mengambil ponselnya untuk melihat pesan yang dia kirim kepada Raffan.
" Centang satu, apa mas Raffan masih tidur ya. Ini week end sih. Hari sabtu kan kantor Mas Raffan libur."
Zanita kembali memasukkan lagi ponselnya. Ia menyentuh dan memutar cincin pertunangan yang melingkar di jari manisnya. Ada sebuah rasa yang tidak bisa ia jelaskan.
Rupanya apa yang dilakukan Zanita bisa dilihat oleh Liam dan Dio dari kaca spion depan. Dio lalu menoleh kebelakang. Tampak wajah Zanita yang terlihat agak lesu.
" Kenapa Za?"
" Eh bang Dio, nggak apa-apa kok."
" Cerita aja Za kalau memang ada yang mau diceritain. Jangan dipendem sendiri."
Zanita tersenyum simpul. Memang selama ini apa yang ia rasakan tidak pernah ia bagi dengan orang lain. Zanita memilih menyimpannya sendiri. Bahkan dengan Sella pun tidak. Kejadiannya bersama Vanka membuat Zanita tidak bisa percaya sepenuhnya lagi terhadap orang lain.
Bukannya berarti Sella tidak baik. Tapi Zanita lebih memilih tidak menceritakan semua yang ia rasakan kepada sahabat nya itu.
" Oh iya Za, kalian udah tunangan lama? Terus kapan merid nya?"
" Itu, 3 bulan lagi Kak Liam. Sebelum wisuda."
" Woaaah cepet bener. Biar Wisuda ada gandengan ya Za. Kak Liam doain semuanya lancar. Kita-kita diundang nggak nih."
" InsyaaAllaah, nanti tim TCD diundang."
Liam dan Dio saling tos. Entah mengapa kedua orang itu sangat suka jika ada rekan kerja mereka menikah. Kameramen, MUA, sepertinya otak mereka mencium bau-bau uang.
" Tapi Li, nggak mungkin kan kita malak si Za."
" Ya juga ya Di, kita kasih free aja buat si Za."
Zanita tentu tidak paham dengan ucapan dua orang di depannya itu. Terkadang emang orang-orang dari tim TCD itu suka absurd kelakuannya.
🍀🍀🍀
Gunung Papandayan tampak cantik melalui jalan. Mobil milik tim TCD akhirnya memasuki kawasan basecamp. Saat pintu di buka hawa dingin menyeruak. Liam sudah memberi instruksi kepada Zanita agar mengenakan jaket nya.
Sekitar pukul 15.00 mereka sampai di sana. Dio mengajak Zanita menuju mushola untuk melakukan kewajiban 4 rakaat. Sedangkan Liam yang berbeda keyakinan menunggu di mobil terlebih dulu.
" Lho, udah datang ya."
Suara yang baru kemarin Zanita kenal itu entah mengapa begitu akrab ditelinga. Dengan sedikit malas Zanita membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah ornag itu.
" Iya bang, kami baru saja sampai. Aku sama Bang Dio mau asharan dulu."
" Oh ya udah bareng aja. Aku juga mau."
Rasaya Zanita ingin menolak. Tapi setelah ia berpikir ini kan ibadah, ketika dijalankan bersama maka pahalanya semakin banyak. Zanita akhirnya mengesampingkan ego nya dan mulai membentangkan sajadah lalu memakai mukenanya. Di bagian shaf laki-laki dia bisa melihat Andra berdiri di depan sebagai imam sholat.
Suara takbir Andra ucapkan sebagai tanda sholat di mulia. Gerakan demi gerakan berjalan dengan lancar hingga salam tanda sholat berakhir.
Zanita menengadahkan kedua tangannya. Ia memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa agar apa yang sudah direncanakan berjalan lancar. Ya, sedari tadi ia merasa begitu gelisah dengan pernikahannya. Ia merasa akan ada hal yang terjadi.
" Aku berbaik sangka kepada Mu. Semoga apa yang tengah kami jalankan berjalan dengan baik dan lancar. Aamiin."
Zanita melepas mukenanya lalu melipatnya bersama dengan sajadahnya. Ia kemudian berjalan keluar menghampiri Dio dan ... Andra yang sedang menunggunya.
" Ngapain orang itu ikut nungguin gue. Huft."
Zanita bergumam pelan. Tanpa banyak bicara Dio dan Andra langsung berjalan sedangkan Zanita mengekor sambil mendekap mukena nya di dadanya. Lumayan sedikit mengusir rasa dingin yang mendera.
" Ayo kita ke salah satu rumah yang udah kita booked, tim JDA untuk NO juga ada di sana. Kita akan mulai syuting besok dini hari. Za, kamu nggak ada alergi dingin kan?"
" Sepertinya nggak ada bang."
Andra mengangguk, Liam dan Dio pun mengeluarkan beberapa peralatan yang mereka bawa. Tidak banyak hanya kamera dan tas make up serta barang pribadi mereka. Zanita yang hendak membawa carrier nya langsung diambil oleh Andra. Gadis itu langsung melongo. Lagi, bukan karena takjub tapi dia kesal.
" Aku masih sanggup membawanya sendiri," gumam Zanita lirih. Tapi rupanya gumaman nya kali ini bisa ditangkap oleh telinga Andra. Pria itu hanya tersenyum simpul. Suka sekali Andra membuat Zanita kesal. Andra jadi memiliki ide, dia akan membuat Zanita semakin kesal dengan dirinya.
" Aku akan lihat, seberapa tahan kamu bersikap tidak apa-apa di depanku. Aku sungguh penasaran, bagaimana kamu akan meledak nanti."
Jiwa iseng Andra meronta-ronta. Sudah banyak akal bulus di otaknya untuk mengerjai rekan kerjanya yang begitu tidak menyukainya itu.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Nur Bahagia
mending cuekin aja Ndra tuh cewe.. biar dy mikir sendiri 🤭
2024-10-23
1
Miss Typo
pasti Zanita akan dibuat kesal trs nih sana Andra 😁
2024-03-14
1
Berdo'a saja
apa yang akan kaul lakukan ndra
2024-02-01
0