Berada di sebuah kafe setelah senja terlewati. Dua insan tengah menikmati makan malam mereka sambil sesekali memandang langit gelap dan kerlap-kerlip lampu di kota.
" Mas, makan. Jangan lihatin aku terus."
Zanita menegur Raffan yang dari tadi memandangi wajahnya. Cantik, meski terlihat sedikit judes tapi percayalah Zanita bukan seperti itu. Zanita merupakan gadis yang periang. Ia hanya enggan basa-basi saja terhadap orang yang belum di kenalnya.
" Huftt, 3 bulan lama banget sih ya."
" Maksud mas?"
" Pernikahan kita."
Zanita menghentikan makannya. Ia menaruh garpu dan pisau yang ia gunakan untuk makan steik yang kali ini jadi menu makan malam mereka. Seketika selera makan Zanita hilang. Pernikahan, sebuah kata yang begitu ia nantikan tapi juga ia merasa enggan. Siapa yang tidak ingin menikah, sebuah babak akhir yang dinantikan setiap wanita pada umumnya dalam menjalin hubungan.
Akan tetapi, Zanita sedikit meragu. Mungkin ini lah yang dinamakan cobaan menuju gerbang pernikahan. Gadis itu mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ia lalu tersenyum ke arah Raffan, calon suaminya.
"Mas, nggak lama. Sebentar 3 bulan mah. Kita beraktifitas seperti biasa nanti hari-hari terlalui dengan begitu saja."
" Ya, kau benar sayang. Kau benar."
Kring
Suara ponsel Raffan berdering, ia melihatnya sekilas lalu mematikannya. Zanita melirik ke arah Raffan, priitu tampak santai kembali memakan makanannya.
" Nggak diangkat mas?"
" Nggak penting, hanya temen kerja ngajakin hang out akhir pekan. Tadi pas di kantor udah diomongin kok."
Zanita mengangguk pelan. Ia kemudian teringat oleh tujuannya mengajak Raffan bertemu. Zanita memilih menghabiskan makannya terlebih dulu agar nanti kuat untuk bedebat dengan Raffan. Ia tahu meminta izin ke Raffan tidak semudah meminta izin kepada kedua orang tuanya.
" Mas, aku mau ngomong sesuatu. Ini soal pekerjaanku. Akhir pekan ini aku harus ke Gunung Papandayan untuk pekerjaan."
Zanita berbicara dengan cepat lalu ia memejamkan matanya siap menerima ledakan dari Raffan. Tapi setalah ditunggu sekian detik Raffan tidak bereaksi apapun. Malah Zanita yang sedikit bingung karena Raffan memegang lembut tangannya.
" Pergilah. Aku bukannya sudah mengatakan bahwa aku tidak akan membatasi ruang gerak mu dalam bekerja. Jadi pergilah pekerjaan itu pasti sangat penting bukan?"
Zanita membulatkan matanya. Ia sungguh tidak percaya bahwa Raffan menyetujuinya dengan begitu mudah tanpa drama terlebih dulu. Tentu saja ia sangat senang. Bahkan Zanita langsung berdiri dari duduknya dan memeluk sang calon suami. Zanita bahkan mencium pipi Raffan sekilas. Pria itu sungguh terkejut dengan apa yang dilakukan Zanita. Sang kekasih itu sangat minim sekali dengan skin touch.
Berhubungan 2 tahun, bisa dihitung dengan jari mereka memeluk dan mencium. Mencium pun sebatas cium pipi. Zanita berprinsip dia kaan melakukan apa yang namanya ciuman setelah resmi menikah dan Raffan pun menghormati itu.
" Terimakasih mas."
" Iya, sama-sama."
Zanita tersenyum senang. Sungguh dia tidak bisa menutupi rasa senangnya saat ini mendapat izin dari Raffan dengan begitu mudah. Tidak biasanya Raffan begitu mudah setuju saat Zanita meminta izin pergi. Biasanya akan ada drama dulu sebelumnya. Tapi ini sungguh lain dari pada biasanya.
Tumben sih, tapi bagus deh. Mungkin Mas Raffan sudah berubah. Nggak terlalu mengekang seperti dulu.
Zanita bermonolog dalam hati. Ia pun menikmati makanan penutup berupa ice cream coklat vanila yang baru saja dia pesan.
" Sayang aku ke toilet bentar ya," ucap Raffan dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Zanita.
Tapi bukannya pergi ke toilet Raffan malah menuju ke tempat lain. Satu sudut bibirnya terangkat sempurna. Ia berjalan mendekat ke sebuah ruangan yang hanya segelintir orang berada di sana. Ruagan yang terdiri paling sekitar 4-5 meja itu tak banyak yang mengisi. Ya, itu adalah ruangan VVIP di kafe tersebut. Raffan masuk ke dalam lalu menghampiri seorang wanita yang tengah duduk sendirian di sana.
" Hay baby."
Raffan menundukkan kepalanya lalu mencium leher jenjang wanita itu. Bukan hanya mencium, Raffan mulai menelusupkan tangannya ke dalam baju sang wanita.
" Beb, cukup. Ini tidak akan jadi akhir yang bagus."
Si wanita menarik tangan Raffan lalu meminta pria itu untuk di kursi sebelahnya keduanya menatap dengan sangat intens.
" Kembalilah, dia pasti menunggumu."
" Tunggu di sini oke. Stelah aku mengantarkan dia pulang aku akan kembali."
Wanita itu tersenyum. Raffan bangkit dari duduknya dan melenggang pergi. Namun ia membalikkan tubuhnya dan berjalan cepat ke arah si wanita. Raffan mencium bibir wanita itu dengan mendalam.
" Tunggu aku ok. Awas jangan kemana-mana."
" Tidak akan. Aku akan menunggumu di sini."
Kali ini Raffan benar-benar pergi dari ruang VVIP kafe tersebut. Si wanita menyunggingkan senyumannya. Ia lalu mengambil gelas yang berisi wine dan meminumnya sekali tenggak.
" Zanita Yufarani. Tidak akan ku biarkan kau bahagia. Apa yang kau miliki harus aku miliki juga. Kau hanya gadis biasa bagaimana bisa mengalahkan aku yang banyak dipuja orang. Awas kau. Akan ku buat kau menangis sampai gila."
" Kok lama mas," tanya Zanita saat Raffan kembali.
" Maaf sayang, perut mas tiba-tiba sakit. Balik yuk. Mas antar."
" Lho, nggak usah. Kan aku bawa motor mas. Mas pulang aja kalau memang perutnya sakit."
Raffan mengangguk, ia kemudian mengantarkan Zanita hingga ke parkiran. Saat sang kekasih telah menjauh dari kafe tersebut, Raffan kembali masuk ke dalma kafe menuju ke ruang VVIP tadi. Raffan tersenyum saat melihat sang wanita masih ada di sana.
" Lho kok cepet Raf nganter pulangnya?"
" Dia pulang sendiri pakai motor. Aku nggak jadi nganter dia. Yook balik. Aku udah nggak sabar."
Wanita itu tersenyum. Ia tentu tahu maksud Raffan. Wanita tersebut memakai coat panjangnya yang tadi ditaruh di kursi sebelahnya. Tak lupa topi dan masker serta kaca mata hitam dia pakai agar tidak ada yang mengenali sosok nya.
Raffan berjalan menggandeng wanita itu lalu masuk ke dalam mobil. Hingga mobil berjalan menjauh dari kafe, wanita itu belum juga melepas atributnya.
" Mau sampai kapan kau memakai itu hmm?"
" Sampai apartemen."
Raffan membuang nafasnya kasar. Itu lah resiko berhubungan dengan seorang yang wajahnya dikenali oleh banyak orang. Tapi itu adalah salah satu keuntungan bagi Raffan juga. Hubungannya dengan wanita itu tidak akan diketahui oleh siapapun termasuk oleh sang calon istri Zanita.
" Haaah, akhirnya."
" Apakah sudah bisa dilepas."
" Apanya yang dilepas hmm. Ini atau ini?"
" Vanka, kau benar-benar selalu bisa membuatku tidak tahan."
Wanita yang Raffan panggil Vanka itu tersenyum. Ia mulai menurunkan tali gaunnya hingga dadanya nyaris tak berbalut kain. Raffan tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Pria itu langsung menyerang Vanka dengan menggebu.
Raffan membawa Vanka ke kasur king size yang ada di kamar itu. Keduanya sudah bergelung panas di sana. Sesekali Raffan mengucapkan nama Vanka di setiap sesi panas mereka. Tapi tak jarang Vanka mendengar Raffan memanggil nama Zanita. Sungguh membuat Vanka kesal, tapi Vanka mencoba mengabaikan itu. Dia tetap bisa menikmati apa yang keduanya lakukan saat ini.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Nur Bahagia
doi nyuruh za pergi karena dia mau seneng2 ama selingkuhannya 🤭
2024-10-23
1
Nur Bahagia
paling selingkugannya 👻
2024-10-23
0
Jaspit Elmiyanti
kaki laki munafik kalo ngak suka ngak usah ngajak tunangan apalagi menikah, semoga cepet terbongkar kebusukan si Raffan
2024-10-22
0