Hingga lewat tengah malam Andra belum juga bisa memejamkan mata. Ia kemudian bangkit dari tidurnya dan berdiri. Andra memindai seluruh orang yang ada disana, semua tampak pulas tertidur. Ia kemudian berjalan melewati beberapa orang yang sudah terlelap. Menuju dapur dan membuat secangkir kopi panas.
Andra kemudian berjalan keluar rumah. Ia melihat beberapa orang yang masih berlalu lalang. Mungkin para pendaki yang baru datang atau mungkin juga orang seperti dirinya yang belum bisa tidur. Andra mengeluarkan korek dan sebatang rokokk dari tempat nya. Tidak ada yang tahu jika Andra sesekali merokok.
Dia hanya akan menghisap tembakau berbentuk lintingan itu sesekali jika ingin. Namun sepandai-pandainya ia menyimpan itu dari keluarganya, tetaplah ia tidak bisa menipu sang kakak. Mas Dika, kakaknya yang berprofesi sebagi dokter tentu begitu cermat dengan tanda-tanda orang yang merokok, termasuk dirinya.
" Haish, nggak jadi. Ntar diomeli sama mas repot,'' gumam Andra pelan.
Andra akhirnya kembali lagi menaruh batang rokok itu ke tempatnya dan memasukkan ke saku jaket nya. Ia mengambil cangkir kopi yang masih panas itu lalu menyeruputnya pelan.
" Haish, mau sampai kapan ya begini,"
Andra kembali bermonolog. Ia tengah duduk di teras rumah sambil melihat langit malam yang bertaburan dengan banyak bintang. Ia membayangkan kehidupan rumah tangga kedua kakak nya itu sangat menyenangkan. Tidak tersorot publik dan benar-benar bisa privasi. Lah ini, dia mau jalan jajan siomay aja selalu jadi keributan.
" Hais, salah gue sendiri juga sih. okelah sampa
i 30 tahun aja lah ya. Setelah itu mari terima tawaran ayah atau bunda buat kelola universitas atau rumah sakit bersama Kak Radi atau Mas Dika."
Tampaknya Andra mulai memikirkan masa depannya. Ia sudah merasa lelah menjadi yang sekarang ini. Tapi dia juga tidak bisa serta merta mundur. Beruntung dia bukanlah orang yang lalu lalang di televisi. Sejauh ini dia hanya model beberapa produk dan traveller. Dimana itu adalah hobinya sebenarnya. Hobi yang dibayar, kalau kata dia begitu.
Merasa cukup Andra kembali masuk dan ingin mencoba untuk tidur. Lagi, ia sepintas melirik ke arah Zanita. Gadis yang tiba-tiba menyedot sedikit perhatiannya itu. Zanita tidur meringkuk, di kakinya ada sajadah yang di gunakan untuk menutup kaki. Andra merasa kasian melihat Zanita yang tampak kedinginan. Ia pun mengambil selimutnya dan memberikannya kepada Zanita.
Andra bahkan membenarkan selimut itu dengan melangkahi Liam. Zanita menggeliat pelan sambil mengeratkan selimut yang Andra berikan. Pria itu tersenyum melihat wajah Zanita yang begitu manis saat tertidur. Andra ingin menyentuh pipi Zanita yang terlihat sedikit memerah, mungkin karena efek dingin, namun ia urung. Andra memilih berdiri dan merebahkan tubuhnya.
Rupanya apa yang dilakukan oleh Andra dilihat oleh Liam. Liam pun menjadi sedikit bertanya-tanya. Selama ini Andra tidak pernah sebegitu perhatiannya terhadap lawan jenis, meskipun itu kru sekalipun. Andra memang baik ke semua orang tapi masih dalam tahap wajar, dan kali ini Liam merasa ini tidak wajar.
" Please, jangan ada cilok ye eh cinlok. eeh tapi kan si Za udah tunangan dah mau married pula. Aaah mungkin ini hanya perasaan gue aja. Gue kelewat lama jomblo jadi suka baperan."
Liam mengusir pikiran-pikiran yang ia ciptakan sendri. Ia pun kembali tidur dan melanjutkan mimpinya yang sempat terganggu.
*
*
*
Azdan subuh berkumandang. Semua tim sudah bangun. Beberapa orag yang menjalankan kewajiban 2 rakaat bersama-sama menuju ke mushola. Sedangkan yang tidak mulai menyiapkan air panas untuk menyeduh kopi, teh, atau susu terserah mana yang diinginkan. Zanita yang juga sudah bangun sedikit merasa bingung dengan selimut yang ia pakai.
" Kak Liam, ini punya siapa ya?"
" kalau nggak salah, itu punya Andra. Mungkin lihat kamu kedinginan pas tidur lalu dia kasian terus dipinjemin ke kamu Za."
Zanita mengerutkan kedua alisnya. tapi ia tidak mau ambil pusing, saat ini yang harus ia lakukan adalah bersiap. Zanita akan menyampaikan terimakasih nanti.
Liam melakukan koordinasi dengan tim NO lagi untuk mengambil beberapa part sebelum iklan di mulai dan saat iklan sudah selesai. Mereka semua tentu setuju.
Zanita sudah selesai bersiap. Ia melihat Andra dan membawa selimut itu untuk dikembalikan,
" Bang terimakasih untuk selimutnya."
" Sama-sama, tapi nggak gratis."
" Maksudnya?"
" Berikan senyum terbaikmu dulu, aku anggap itu sebagi bayaran yang sangat mahal."
Mulut Zanita menganga lebar mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Andra. Sungguh jika bisa memaki, ia akan memaki Andra saat ini juga.
Kampreeet, heh Tuan Magicom seenak jidatnya nyuruh orang senyum. Sial, kayaknya gue dikerjain deh.
Zanita merutuk di dalam hati. terlihat tangannya mengepal erat. Meskipun masih gelap tapi tentu saja Andra bisa melihatnya. Andra sungguh senang melihat wajah Zanita yang terlihat syok itu.
" Gimana? Nggak mau juga. Haish padahal aku udah bela-belain kedinginan buat dikasih ke kamu. Eh cuma minta senyum aja nggak mau ngasih."
" Siapa suruh dikasih pinjem."
" Apa yang kamu bilang, lebih kenceng kalo ngomong. Aku nggak denger. Apa harus aku dekatkan telingaku biar bisa denger."
Andra secara spontan mendekatkan telinganya ke bibir Zanita. Sungguh Zanita amat kesal, rasanya ia ingin menoyor kepala Andra dengan begitu keras. Tapi Zanita tentu tidak bisa melakukan itu. Dia memilih memundurkan tubuhnya sejauh 3 langkah agar bisa lebih jauh dari Andra.
" Gimana mau senyum nggak."
" Hiiii"
Zanita dengan terpaksa menarik kedua sudut bibirnya. Bukan senyum yang dihasilkan tapi lebih kepada sebuah ' cengiran' yang memperlihatkan deretan gigi-gigi putih gadis itu.
Zanita langsung membalikkan tubuhnya. Tangan gadis itu masih mengepal sempurna sambil sesekali menghentakkan kakinya, Andra yakin gadis itu pasti merutuki dirinya dan kesal setengah mati.
" Hahahah, seru juga ngisengin anak perawan?"
" Siapa yang bos isengin."
" Kampret lo Ned, bikin gue kaget aja. Adalah."
Juned menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia melihat Andra begitu senang pagi ini. Sepertinya ada yang menarik tapi tentu Juned tidak tahu apa itu.
*
*
*
Baik syuting iklan dan syuting TCD hari ini berjalan dengan lancar. Sampai di penutupan saat Andra hendak pulang, Liam masih mengambil gambar mereka. Sebenarnya sebagai take adegan saja. karena Andra tentu tidak langsung pulang. Ia lebih dahulu akan memastikan bahwa semuanya tidak ada miss dan bagus sehingga tidak perlu ada pengulangan.
" Oke Bang Andra TCD selesai ya. Kita mau ngucapin makasih banyak buat bang Andra udah ngizinin kita di sini juga."
" Sama-sama bang Liam. Kalian mau langsung pulang?"
Liam dan Dio mengangguk tapi Zanita tidak. Gadis itu sepertinya masih sangat kesal dengan Andra. Tapi hebatnya selama syuting berlagsung Zanita tidak menampakkan kekesalannya.
" Oke lah kalau begitu, bang bilangin ke adiknya tuh jangan cemberut mulu. Ya udah kalian semua hati-hati ya. Untuk jadwal selanjutnya langsung kabarin aja oke."
Liam mengangguk, ia kemudian melirik ke arah Zanita. Benar apa yang dikatakan Andra, wajah Zanita begitu kesal.
" Za, ada apa? Apa ada yang ngisengin kamu? bilang aja, nanti kita tegur."
" Eh nggak kok kak, aku nggak kenapa-napa. Ya udah yuk pulang. Biar nggak kena macet."
Liam merasa sedikit aneh dengan apa yang terjadi . Tapi dia tidak mau menduga-duga. Liam pun akhirnya masuk ke mobil bersama Zanita. Kali ini Dio yang akan menyetir. Hari ini selsai, tapi tidak dengan Zanita. Gadis itu masih membawa rasa kesalnya kepada Andra bahkan hingga perjalanan pulang.
" Kampreeet, awas ya akan ku balas nanti."
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Nur Bahagia
cewe ga jelas.. bencinya ke siapa tapi yg jadi sasaran semua entertainer 🤪
2024-10-23
1
Eli Elieboy Eboy
𝚖𝚊𝚐𝚒𝚌𝚘𝚖 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚋𝚊𝚑 𝚓𝚍 𝚔𝚊𝚖𝚙𝚛𝚎𝚝 🤣🤣🤣
2024-10-07
0
Sweet Girl
ang bener kelamaan jomblo
2024-03-24
2