" Sekarang bagaimana?"
Raffan tampak bingung. Satu kalimat itu tak dapat ia jawab dan tak dapat juga ia jabarkan. Kedua orang tua Raffan hanya diam dan masuk ke kamar mereka. Keduanya enggan sekali mengurusi putra mereka yang entah seperti apa itu sekarang.
" Dapat wanita baik-baik malah kelakuannya begitu dibelakang. Terserah kamu mau apa ayah sama ibu tidak akan ikut campur."
Sebuah ultimatum dari kedua orangtua Raffan membuat pria itu dilanda kebingungan saat ini. Di depannya duduk Vanka dengan hasil lab dari dokter. Vanka dinyatakan hamil 7 minggu. Sebuah kabar yang membuat Raffan terkejut dan kedua orang tua Raffan murka tentunya. Entah bagaimana kedua orang tua itu menghadapi calon besannya.
" Gagalkan pernikahanmu dengan Zanita. Minta maaf ke keluarga mereka!"
Perintah ayah Raffan sangat jelas tapi pria itu tidak segera melakukannya seperti keyakinannya sebelumnya bahwa ia tidak ingin kehilangan Zanita.
" Terus aku bagaimana Raf. Apa kau tega dengan buah hatimu sendiri. Ini anakmu dan kau tahu itu."
Kata-kata Vanka membuat pria itu semakin kacau. Disatu sisi dia tidak bisa meninggalkan Zanita tapi disisi lain dia juga tidak boleh mengabaikan Vanka dan darah daging yang bersemayam diperut wanita itu.
" Baiklah Van, aku akan menikahi mu."
Satu kalimat yang memang Vanka tunggu. Wanita itu menyeringai dibalik kepalanya yang menunduk. Apa yang dia rencanakan terkabul.
Alasan gedung direnovasi sebenarnya hanyalah bualan Raffan. Ia mengatakan hal tersebut karena Vanka menginginkan gedung itu untuk acara pernikahan mereka. Ya Vanka mengatakan hal tersebut tadi pagi saat Zanita menuju ke keluar kota. Tapi entah apa yang dipikirkan Raffan, bukannya berkata jujur malah meminta Zanita membuat pelaminan di rumah gadis itu. Dimana hal tersebut tidak diketahui oleh kedua orang tua Raffan.
" Sekarang mari aku antar kau pulang ke apartemen dulu."
" Lalu calon istrimu itu?"
" Tenang saja aku akan mengurusnya. Kau meminta pernikahan bukan? Akan aku kabulkan itu. Kamu tidak perlu khawatir Van."
Vanka menarik satu sudut bibirnya. Ia tidak peduli kedua orangtua Raffan yang tidak menyukainya. Saat ini yang utama adalah ia mendapatkan Raffan dan rencananya itu sukses besar.
" Selangkah lagi, Za apa yang kau miliki akan kudapatkan. Bagaimana, bukankah aku lebih hebat dari mu?"
Vanka bermonolog dalam hati dangan sangat congkak. Wanita itu tidak menelisik raut wajah Raffan yang saat ini begitu murung. Mungkin boleh dibilang saat ini hanya dia yang bahagia.
" Apa yang harus ku lakukan. Melepaskan Zanita, itu sungguh tidak mungkin. Aku mencintainya."
Cinta yang seperti apa yang Raffan miliki ke Zanita hanya pria itu yang tahu. Tapi sejauh ini yang pasti bukanlah cinta jika berani menyakiti.
🍀🍀🍀
Zanita memakai jaket tebalnya, tak lupa ia mengenakan sebuah kupluk di kepalanya agar lebih hangat. Ia duduk di luar kamarnya menikmati malam yang sepi dan dingin di dataran tinggi tersebut.
" Nih minum."
Dari balkon samping Andra mengulurkan secangkir coklat panas. Seakan tahu bahwa Zanita ada di sana, pria itu sudah membuatkan minuman panas itu lebih dulu.
" Terimakasih," ucap Zanita singkat.
" Masih kepikiran soal pernikahan?" Apa kamu belum siap?"
" Tidak ada orang yang benar-benar siap sepenuhnya untuk menikah. Itu menurutku."
Andra tentu tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Zanita. Melihat kedua kakak nya menikah dan hidup bahagia, Andra merasa pasti mereka sudah siap dalam mengarungi kehidupan baru tersebut.
" Jika belum siap mengapa memutuskan untuk menikah?"
" Entahlah."
" Oh iya, bolehkan aku datang ke pernikahanmu?"
Zanita seketika mengubah pandangannya yang tadinya menatap lurus ke depan kini ke arah Andra. Wajah pria yang ia akui memang tampan itu terlihat serius.
" Datanglah, mungkin setelah aku menikah abang akan berhenti melakukan hal iseng kepadaku."
Andra tertawa lebar, rupanya selama ini Zanita sadar bahwa Andra sengaja melakukan itu kepada nya. Andra pun mengucapkan permintaan maaf dengan tulus kepada Zanita. Ia berjanji setelah Zanita menikah tidak akan lagi mengerjai gadis itu.
" Aku pegang janji abang."
" Iya, silakan. Kalau kamu sudah menikah dengan kekasihmu itu aku benar-benar berhenti jail kepadamu. Bila perlu aku akan menjaga jarak dengan mu. Baiklah istirahatlah besok kegiatan kita masih panjang."
Andra masuk terlebih dulu ke dalam kamar namun Zanita belum. Dia masih ingin menikmati malam yang dingin tersebut itu.
" Apa yang kau lakukan saat ini mas? Mengapa tiba-tiba aku menjadi ragu terhadapmu?"
*
*
*
Adzan subuh berkumandang. Semua anggota tim sudah bangun. Pagi gelap itu mereka harus segera menuju lokasi pertama untuk menikmati golden sunrise.
Golden sunrise di bukit Cikunir sangatlah terkenal. Pemandangan matahati terbit itu menjadi incaran para wisatawan yang datang kesana.
" Oke kamerea rolling action!"
" Bang, kita mau kemana sih?"
" Oke warga TCD, kali ini aku bakalan ngajakin kalian buat nikmati matahari terbit. Golden sunrise di bukit Cikunir ini salah satilu destinasi wisata yang banyak diminati. Kalian bisa lihat itu jalannya. Yup kita bakal sedikit mendaki untuk sampai ke atas bukit agar bisa nikmati pemandangan itu. So, sipakan tenaga kalian buat ikut kita tracking oke! Lest go!"
Andra dan Zanita berada di depan untu jalan terlebih dahulu. Sedangkan Liam dengan kameranya mengikuti mereka dari belakang. Sesekali Andra menjelaskan mengenai keadaan sekitar. Terlihat bukan hanya mereka saja yang naik ke bukit tersebut tapi banyak wisatawan juga yang kesana. Tua, muda, bahkan anak-anak.
" Hah ... Hah ... Hah ... "
Terdengar nafas Zanita yang ngos-ngos an. Andra pun memberi kode untum istirahat sejenak. Dia lalu mengambilkan Zanita air mineral yang langsung ditenggak oleh gadis itu.
" Dah yuk bang, nanti telat sunrise nya."
" Yakin?"
Zanita mengangguk, Andra pun memberi kode lagi untuk mereka jalan. Ia mengatakan bahwa jalannya pelan-pelan saja tapi ritme nya teratur agar tidak mudah capek. Ambil nafas lewat hidung dan keluarkan lewat mulut.
Bagi yang jarang berolah raga maka kegiatan ini lumayan menguras fisik. Tidak hanya Zanita, bahkan Juned aja udah bolak-balik berhenti. Namun antusias mereka begitu tinggi untuk segera sampai di TKP.
" Ok cukup. Kita di sini sudah dapat kok."
" Nggak perlu ke atas lagi bang Andra."
" Nggak perlu. Kalian lihat, itu semburat oranye sudah tampak dan sebentar lagi lambat laun matahari akan naik. Nikmatilah lukisan alam ciptaan Tuhan yang tiada tara indahnya ini."
Semua tentu tertegun. Apa yang dikatakan Andra benar adanya. Matahari terbit itu begitu indah. Liam mengabadikannya melalui kamera dengan sangat takjub. Begitu juga dengan yang lain.
Andra sedikit menarik Zanita ke depan dan membuat penjagaan untuk gadis itu agar tidak tersenggol oleh orang lain yang ikut menikmati momen indah itu. Mata gadis itu berbinar, terlihat begitu takjub dengan apa yang dia lihat.
" Cantik banget ya bang."
" Ya, sangat cantik."
Apa yang dilihat Zanita tentu berbeda dengan apa yang dilihat Andra. Zanita melihat sunrise itu dengan seksama sedangkan Andra dia melihat wajah Zanita itu dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan sendiri.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Reza Imam
klan dwilaga kalo dah kesemsem gak maen2
2024-05-27
3
Sweet Girl
Mumpung janurnya belum dilengkungin Bang...
2024-03-24
1
Sweet Girl
Lagi mempersiapkan pernikahan nya dengan perempuan lain.
2024-03-24
0