" Mas lagi nggak salah makan kan? Atau mas lagi ngerjain aku? Mas, ini nikah lho bukan main-main. Ini urusan samapi akhir hayat."
" Sayang mas serius, ayo menikah dalam waktu satu bulan ini."
Zanita membuang nafasnya kasar. Entah apa yang merasuki Raffan hingga membuat keputusan seperti itu. Zanita seperti sedang berada diatas tebing dan bersiap untuk terjun.
Gadis itu juga tidak mengerti mengapa ia memiliki perasaan seperti itu. Menurutnya semua terlalu terburu-buru. Tapi apa yang jadi kemauan Raffan sulit sekali untuk diubah.
" Biar mas yang urus semua termasuk gedung dan segala sesuatunya. Besok minta izin buat fitting baju ya."
" Ya mas."
Hanya kata itu yang mampu Zanita ucapkan. Sungguh ini merupakan sebuah keputusan yang tidak diambil oleh dua kepala tapi keputusan sepihak. Semua tentang pernikahan ini adalah keputusan Raffan dan kemauan dia.
Bukannya Zanita tidak ingin menikah, dia hanya tidak ingin buru-buru. Waktu 3 bulan ini ia pikir akan menjadi pengukuh hatinya kepada Raffan tapi rupanya waktu semakin cepat. Raffan meminta pernikahan diajukan 2 bulan lebih cepat.
Zanita pulang ke rumah dengan langkah gontai. Jamilah dan Setiawan sedikit merasa heran. Biasanya Zanita pulang dengan penuh semangat.
" Za, kenapa nak."
" Pak, buk. Baru kali ini Za nggak suka hari senin."
Wawan dan Milah hanya saling tatap. Tidak mengerti dengan apa yang dikatakan sang putri. Keduanya membiarkan Zanita untuk membersihkan tubuhnya dulu baru bertanya lebih lanjut.
Beberapa saat kemudian Zanita sudah keluar dari kamarnya mengenakan pakaian tidur miliknya. Gadis itu lalu duduk diantara Wawan dan Milah.
" Pak, Buk, Mas Raffan minta pernikahan kita dipercepat."
" Kapan itu?"
" Sebulan lagi."
" Apa?"
Wawan dan Milah tentu saja sangat terkejut dengan berita yang dibawa sang putri. Sebulan, itu bukanlah waktu yang cukup untuk mempersiapkan pernikahan. Wawan dan Jamilah tentu saja menjadi panik sekarang. Kedua orang tua itu terlihat kebingungan.
Zanita sungguh merasa kasihan kepada ayah dan ibunya. Ia langsung memegang tangan kedua orang tuanya itu.
" Pak, buk, jangan panik. Kata Mas Raffan, semua akan dipersiapkan oleh dia."
" Tapi nduk, bagaimanapun kita juga harus siap-siap. Ngadain syukuran bikin pelaminan juga. Lha opo cuma mau kayak gini. Nanti kalau keluarga besan datang gimana?"
Zanita membenarkan apa yang dikatakan sang ibu. Meskipun Raffan mengatakan bahwa semua akan diurus olehnya tapi tetap saja di rumah ini Zanita yang harus mengurus segala halnya. Ia pun membuang nafasnya kasar.
" Sudah bu, begini saja. Nanti coba Za tulis apa yang kita perlukan. Nanti bapak sama ibu tinggal menambahkan atau menguranginya."
" Yo wes, gitu aja ndak apa-apa nduk."
Zanita masuk ke kamarnya, Ia duduk di kursi dan mengambil sebuah notes lalu menuliskan apa saja yang sekiranya dibutuhkan dalam sebuah acara pernikahan. Gadis itu tampak membuang nafasnya kasar. Baru saja memulai dunia kerja, kini dia harus berpikir untuk berumah tangga.
" Ya Allaah berikan aku keyakinan dalam menjalani ini semua."
Lain Zanita, lain pula Raffan. Pria itu sedang bersama kekasih gelapnya. Siapa lagi kalau bukan Vanka. Terlihat wanita itu sangat marah saat Raffan mengatakan akan menikahi Zanita dalam kurun waktu satu bulan ini. Bahkan Raffan sudah memesan sebuah gedung yang akan ia gunakan sebagai tempat dimana ia menghalalkan Zanita.
" Kau gila Raf, lalu aku bagaimana hah? Apa kamu tidak pernah sedikitpun memikirkan perasaanku?"
" Sayang, dengarkan dulu. Aku hanya tidak ingin Zanita jatuh ke tangan pria lain."
" Lalu aku?"
" Kau akan selamanya jadi wanitaku Van. kamu tetaplah wanitaku dan akan selalu ada di sampingku."
" Sebagai wanita gelap mu, kau sungguh naif Raf."
Vanka hendak keluar dari apartemen Raffan namun oleh pria itu tubuh Vanka langsung dipeluk dari belakang. Raffan tidak ingin melepaskan Vanka tapi dia juga tidak bisa kehilangan Zanita. Apakah Raffan serakah? Entah, tapi yang jelas pria itu mengingkan kedua wanita tersebut menjadi miliknya.
" Lepaskan aku Raf, lebih baik kita kahiri saja hubungan kita ini."
" Tidak, tidak bisa Van. Kita tidak bisa mengakhirinya. Aku sudah terlanjur jatuh hati padamu."
" Tapi aku selamanya tidak bisa menjadi seperti ini Raf, aku tidak ingin. "
" Baiklah, lalu apa maumu hmm?"
" Nikahi aku!"
Duaaaar
Kata tersebut akhirnya keluar juga dari bibir Vanka. Tadinya Raffan kira hubungan keduanya hanya sekedar simbiosis mutualisme. Tapi siapa sangaka mereka menggunakan hati dalam hubungan ini. Raffan langsung gontai, ia melepaskan belitan tangannya pada tubuh Vanka dan menjatuhkan dirinya ke sofa. Raffan tampak bingung saat ini.
" See, kamu tidak bisa melakukannya bukan? Jadi sampai di sini saja hubungan kita."
Braaak
Vanka menutup pintu apatemen dengan keras. Sesampainya diluar apartemen, wanita itu menyeringai. Ia tentu tidak akan melepaskan Raffan dengan mudahnya. Vanka memiliki strategi lain untuk menghancurkan pernikahan Raffan dan Zanita.
" Lihat saja, apa yang akan aku lakukan untuk mu Zanita sahabatku. Aku tidak akan membiarkanmu bahagia. Sudah terlalu banyak perhatian yang kau dapatkan, bahkan itu semua bisa mengalahkan aku yang seorang artis."
Beeh, rupanya Vanka benar-benar terkena Star Syndrome. Dia berangggapan bahwa dirinya adalah supersttar yang tidak boleh ada satupun orang yang melampauinya.
Di dalam apartemen Raffan masih duduk termangu. Ia menopang dagunya, memikirkan apa yang baru saja Vanka katakan. Berpisah dengan Vanka, Sungguh ia tidak bisa. Tubuh wanita itu sudah menjadi candu baginya, tapi menikahi Vanka juga bukan sebuah solusi.
" Argggh gila, kenapa semuanya menjadi runyam begini sih!"
Raffan berteriak kesal. Padahal runyam itu dirinya sendiri yang membuat. Salah sendiri dia bermain api, maka jika api itu membakar tubuhnya tentu tidak ada yang bisa disalahkan selain dirinya sendiri.
Tring
Ponsel Raffan berbunyi. Pria itu berdiri lalu mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Rupanya sebuah pesan dari Zanita. Zanita menanyakan, mereka akan mengenakan pakaian adat atau nasional saja, Raffan hanya menjawab singkat nasional.
Sungguh Raffan sedang tidak mood membahas rencana pernikahannya dengan Zanita. Padahal tadi dia yang sangat menggebu untuk segera menikahi sang tunangan.
" Terserahlah, pikirkan besok saja. Aku benar-benar tidak bisa berpikir saat ini."
Raffan melempar ponselnya lalu merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Ia membayangkan wajah Zanita tepat di depannya. Wajah cantik nan lembut itu lah yang menghiasi pikirannya selama dua tahun ini. Tidak dapat Raffan pungkiri, mendapatkan Zanita bukanlah perkara yang mudah. Tapi entah mengapa Raffan dengan mudah mengkhianati gadis yang begitu baik dan tidak neko-neko itu.
" Za, aku tahu akau salah telah bermain di belakangmu. Tapi sungguh aku tidak bisa melepaskanmu. Kamu akan segera menjadi milikku Za. Aku pastikan itu, tidak akan ada yang bisa untuk mengurungkan niatku untuk menjadikan kau istriku Zanita Yufarani."
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Memyr 67
raffan halu
2024-12-12
1
Nur Bahagia
vanka dan zanita sama aja sebenernya.. sama2 pembenci 🤭
2024-10-23
0
Siti Nurjanah
dlm part ini q mendukung rencanamu vanka, yg mau menggagalkan pernikahan raffan ma zanita karena q tdk ridho orang baik seperti zanita dpt bekas orang
2024-03-24
1