Akhirnya Andra duduk di sebelah Zanita. Terlihat gadis itu tidur di bahu Andra, rupanya momen tersebut diabadikan oleh Dio melalui kamera ponselnya. Bukan apa-apa, hanya untuk sekedar dokumentasi saja. Karena bukan hanya Andra dan Zanita yang difoto oleh Dio tapi seluruh orang yang ada dalam mobil tersebut.
Sekitar pukul 13.00 rombongan tim TCD memasuki kawasan dataran tinggi Dieng. Gapura selamat datang Dieng Pletau menjadi jalan penanda bahwa mereka sudah sangat dekat dengan tujuan utama. Semua orang melihat pemandangan di luar. Hamparan kebun sayur itu benar-benar memanjakan mata mereka.
Bagi orang yang hidup di kota metropolitan, melihat hamparan tanaman hijau seperti ini merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri. Rasa takjub itu jelas tergambar di wajah mereka. Namun tidak dangan Andra. Dia yang seorang traveler tentu sudah biasa melihat pemandangan yang seperti ini.
" Bagaimana, bagus bukan?"
" Iya bang, bagus banget. Laah abang ngapain masih di sini."
" Et dah nih bocah, udah tidur di pundak gue masih aja kagak nyadar. Nona Zanita Yufarani, apa Anda lupa dari tadi Anda tidur di sini sampai pundak saya ini pegal setengah mati."
Zanita mendelik, ia sungguh kesal. Gadis itu pun mendorong Andra dan mengusirnya dari samping tempat duduk nya. Ia merasa kesal pada dirinya sendiri yang tidur sembarangan bersandar pada orang lain.
Kawasan Dataran Tinggi Dieng, mereka berhenti di sebuah penginapan. Penginapan yang terletak tidak jauh dari objek wisata candi Arjuna itu memperlihatkan pemandangan yang begitu indah. Mereka langsung menuju kamar masing-masing dan melaksanakan kewajiban 4 rakaat bagi yang melaksanakan.
Zanita sejenak merebahkan tubuhnya, hawa dingin masih begitu terasa meski sudah berada di dalam kamar. Tambah dingin malah. Rasanya ia ingin tidur tapi hari ini tentu masih panjang. Mereka akan mengunjungi Candi Arjuna sebagai destinasi wisata pertama. Tentunya untuk mengambil gambar juga.
" Apa semua ready!!!"
" Ready!"
Dari penginapan ke Candi Arjuna mereka hanya jalan kaki. 15 menit sudah sampai, acara pengambilan gambar pun selesai, lancar seperti biasanya. Setelah itu mereka menikmati pemandangan itu dengan bebas.
Zanita duduk di jalanan yang mengitari kawasan candi. Terlihat gadis itu sibuk dengan ponselnya. Sesekali gadis itu menggelengkan kepalanya dan mengusap ujung matanya. Andra pun menghampiri Zanita, ia merasa rekan kerjanya tersebut sedang dalam kesusahan. Tapi saat Andra mau mendekat tiba-tiba Zanita berdiri dan berbicara dengan seseorang melalui telepon.
" Mas yang bener aja. Masa tiba-tiba gedungnya perbaikan. Kita udah booking dari 3 Minggu yang lalu lho. Terus sekarang gimana?"
" Kita bikin acaranya di rumah kamu aja ya. Nggak apa-apa kan."
" Bukan itu masalah, mas tahu kan aku lagi keluar kota. Ya sudahlah aku pikirin nanti."
Pluk
Zanita terkejut saat seseorang menepuk pundaknya pelan. Ia langsing menoleh ke arah orang tersebut.
" Ada apa Za?"
Zanita kembali duduk. Ia menangis di sana. Andra sungguh tidak tega melihat gadis itu menangis. Tapi dia juga tidak bisa berbuat banyak selain menunggu Zanita bercerita dengan sendirinya.
" Soal gedung bang, tadi Mas Raffan telepon katanya gedungnya nggak bisa dipakai karena lagi di renovasi. Dan dia minta buat aku bikin pelaminan di rumah aja. Huft, seminggu lagi ini. Mana bisa."
Andra memicingkan sebelah matanya. Ia tentu merasa aneh dengan penuturan Zanita. Ingin mengemukakan argumennya, Andra urung ia lebih berpikir mencari solusi mengenai keadaan Zanita tersebut.
" Pelaminan seperti apa yang kamu mau?"
" Sebenarnya aku suka yang sederhana saja."
" Baik, berikan alamat nya."
Zanita melihat wajah Andra. Ia tidak tahu mengapa dirinya bisa begitu terbuka bercerita mengenai kesulitannya. Padahal dia benci kepada pria yang saat ini ada di depannya itu.
" Untuk apa?"
" Udah sini kirim lokasi rumahmu ke aku."
Zanita menurut, kata-kata Andra bagai hipnotis bagi Zanita. Ia menurut tanpa bertanya apapun lagi.
Setelah mendapat alamat rumah Zanita, Andra bangkit dari duduknya dan terlihat menelpon seseorang. Pembicaraan Andra dengan orang itu terlihat serius, tapi Zanita tidak bisa mendengarnya sama sekali.
" Oke beres!"
" Maksud abang, apanya yang beres."
" Ada deh."
*
*
*
Kediaman Zanita begitu ramai saat dua buah pick up datang. Wawan dan Milah tentu terkejut dengan kedatangan dua mobil bak terbuka tersebut.
" Apa benar ini kediaman nona Zanita Yufarani."
" Benar, saya ayahnya. Ada apa ya."
" Kami datang membawa dekorasi pelaminan. Kami akan memasangnya terlebih dahulu, untuk bunga-bunga nya akan menyusul nanti saat h-1 acara digelar. Bisa kami mengerjakannya?"
Wawan dibuat melongo oleh orang-orang tersebut. Bagaimana ceritanya dekorasi pelaminan itu sudah datang padahal acara masih seminggu lagi. Beruntung halaman rumah Zanita lumayan luas jadi benar-benar mereka bisa bekerja dengan leluasa.
Jamilah pun menyediakan makanan ringan dan minuman untuk para pekerja dekorasi tersebut. Tidak banyak bertanya, kedua orang tua Zanita membiarkan mereka bekerja.
" Pak, katanya nak Raffan yang mau ngurus pelaminan dan gedungnya. Kok ini jadi di rumah gini? Apa kita tanya Za aja."
" Entahlah buk, bapak juga nggak ngerti. Jangan buk, biarkan saja. Dia lagi kerja di luar kota takut malah jadi pikiran. Kita biarkan saja seperti itu, toh tetangga sudah tahu semua."
Ya, semalam keluarga Zanita sepakat mengadakan kenduri untuk acara selametan pernikahan Zanita sekalian pengajian. Meminta doa agar pernikahan Zanita lancar. Semua warga RT setempat diundang oleh Setiawan agar doa untuk sang putri semakin banyak.
Wawan dan Milah tentu tidak tahu bahwa orang-orang tersebut bukanlah dari Raffan melainkan dari Raffandra alias Andra. Ya , tadi Andra langsung menelpon WO kenalannya untuk membuat dekorasi pelaminan di rumah Zanita.
" Lo mau kawinn Ndra, eh married maksud gue."
" Bukan gue oneng. Temen gue. Acaranya akhir minggu ini. Tapi sekarang mending lo kerjain deh. Gue mau permainannya simple tapi elegan."
" Buset, layu dong kembangnya. Lagian jam segini kemana gue nyari kembang dodol."
" Kembangnya nyusul aje nyet, yang penting lu pasang dulu deh itu pelaminannya. Awas kalo jelek. Nih abis ini langsung gue transfer biayanya."
Seperti itulah gerak cepat Andra. Dari Dieng sana Andra bisa langsung bergerak meminta WO kenalannya untuk langsung mengirim pekerjanya ke rumah Zanita. Tanpa banyak tanya, tanpa banyak pertimbangan, dan tanpa kebanyakan tetekk benggek semua terselesaikan dengan mudah. Mungkin Zanita akan terkejut jika melihat apa yang dikerjakan oleh Andra.
Pria itu benar-benar bergerak dalam diam dan tiba-tiba sudah selesai saja.
Rombongan TCD pun memutuslan kembali ke penginapan. Hari ini cukup satu spot saja karena keadaan tubuh yang sudah lelah. Kamar Zanita dan Andra rupanya berdekatan. Sebelum masuk ke kamar Andra menghentikan Zanita sejenak.
" Jangan terlalu dipikirkan, jika butuh bantuan katakan."
" Terimakasih bang."
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Jaspit Elmiyanti
kayak persiapan pelaminan untuk sendiri aja tu Andra, kalo menurut aku ni ya, pelaminan yg dipesan Raffan mau dipakai untuk si Raffan dgn vanka.
2024-10-22
1
Reza Imam
bikin pelaminan buat sendiri jangan2,😁😁
2024-05-27
2
Sweet Girl
Pasti Raffan diteror sama Vanka.
2024-03-24
2