Zanita tampak lesu keesokan harinya. Lingkaran gelap di matanya begitu tampak. Zanita yang memang tidak suka make up hanya sekadar memoles wajahnya tipis saat berangkat ke JDA.
" Za, kamu sakit?'
Sapaan Dio terdengar saat Zanita memasuki ruang tim TCD. Gadis itu pun menggeleng pelan. Ia mengatakan hanya kurang tidur saja dan malas mengenakan make up yang lebih.
" Za, Liam, kalian berdua ke apartemen Andra ya. Hari ini kita bakalan ambil kegiatan Andra di rumah."
Perintah Bian membuat Zanita langsung menegakkan kepalanya. Baru saja mau duduk, Zanita harus berdiri lagi. Ia pun membuang nafasnya kasar.
" Kenapa sih harus hari ini. Hufttt mana lagi nggak mood banget. tambah ketemu si magicom. Amsyong bener dah ah."
Zanita menggerutu dalam hatinya sambil mengekor Liam yang sudah jalan terlebih dulu menuju mobil. Mau tidak mau dia harus profesional dalam pekerjaannya apapun kondisi hatinya saat ini.
" Za, siap kan?"
" Selalu siap kak."
Zanita tersenyum. Dipaksakan? jelas ia memaksakan senyumnya. Bagaimanapun ia masih begitu kesal dengan Andra yang waktu itu mengerjainya dan sekarang ditambah pikirannya yang kacau karena Raffan meminta pernikahan yang dipercepat.
Sekitar 1 jam an untuk Liam dan Zanita sampai di apartemen Andra. Kali ini tidak ada jemputan dari Juned. Keduanya langsung menuju ke lantai dimana apartemen Andra berada.
Ting tong
Zanita menekan bel pintu apartemen Andra. Terlihat Juned yang membukakan pintu dan meminta Zanita juga Liam untuk masuk ke dalam. Dilihat Andra sedang berada di dapur tengah membuat sarapan.
" Eeh, bagus nih buat ambil gambar. Za, langsung take ya."
" Eh, sekarang kak?"
Liam mengangguk, mau tidak mau Zanita langsung siap di depan kamera kali ini take tidak dimulai dari depan pintu tapi langsung ke kegiatan Andra.
" Kamera rolling action!"
" Hay bang, lagi bikin apa?"
" Eh Za, sini. Aku lagi bikin salad buat sarapan. Kamu suka salad nggak?" Zanita mengangguk cepat menjawab pertanyaan Andra. Pria itu kemudian melanjutkan ucapannya. " Good kalau gitu habis ini kita sarapan bareng-bareng. Pas banget nih buat kita berempat. Nanti Bang Liam dan Juned ikut juga. Biar dua orang itu nggak dibalik layar melulu. Nih Za cobain deh, udah enak belum?"
Zanita tentu terkejut saat Andra yang tengah mengaduk salad itu langsung menyodorkan sejumput salad itu ke mulutnya. Zanita sungguh bingung mau bersikap bagaimana. Sepintas ia melirik Laim dan sang kameramen memberi tanda agar Zanita mau memakan salad itu dari tangan Andra.
Akhirnya Zanita pun menerima suapan salad itu dari tangan Andra. Andra tersenyum puas. Pria itu tahu, gadis yang ada di depannya sekarang pasti amat sangat kesal.
" Udah enak belum Za?"
" Udah bang, enak banget ini."
" Oke done."
Huuuft
Terdengar Zanita menghela nafasnya penuh dengan kelegaan saat Liam mengatakan bahwa take selesai. Ia melayangkan tatapan tajam kepada Andra. Sedangkan Andra, pria itu acuh melihat Zanita yang terlihat begitu kesal. Gadis itu memilih pergi dari dapur dan berjalan menuju balkon mencari udara segar.
" Ndra, si Za kenapa?"
" Au, kesel kali sama gue bang."
" Malsud lo apa Ndra."
Andra lalu menceritakan apa yang ditangkapnya dari sikap Zanita kepadanya. Dari awal ia tahu betul kalau Zanita tidak menyukainya. Liam tentu saja tidak percaya. Melalui pandangannya di depan kamera, Za tidak terlihat sedikitpun membenci Andra.
" Perasaan lo aja kali Ndra."
" Entahlah, tapi gue demen ngeisengin tuh bocah."
" Awas lo demen beneran. Doi dah mau nikah."
Andra tertawa terbahak. Ia tentu tahu batasannya. Tapi yang jelas kini dia sudah tidak penasaran terhadap tunangannya Zanita. Fix, tunangannya Zanita adalah karyawan Juna. Saat kemarin dia menuju Star Building karena memang sengaja memastikan, Andra melihat Raffan ada di kantor tersebut sedang mengadakan meeting.
Dari beberapa sumber mengatakan Raffan adalah pria baik tapi ambisius. Dalam pekerjaannya semuanya oke, tapi dia menginginkan hal lebih dan lebih setiap hari nya. Kinerjanya juga tidak diragukan lagi.
" Baguslah,paling tidak calon suaminya adalah orang yang bertanggungjawab."
Sebuah rasa lega Andra rasakan di hati. Terlebih melihat Zanita yang begitu polos dan tidak neko-neko itu entah mengapa membuat Andra sedikit merasa khawatir dengan pria yang akan jadi suami Zanita.
*
*
*
Kegiatan di rumah Andra selesai pada pukul 3 sore. Hari itu selain memasak Andra juga memperlihatkan kemampuannya dalam mencuci baju dan menyetrika. Dia juga membersihkan rumah seperti kebanyakan orang lainnya. Sungguh tidak menyangka bahwa seorang Andra Suma dapat melakukan pekerjaan rumah dengan baik.
" Oke kalau gitu, kita pamit ya. Terima kasih Bang Andra untuk waktunya selama seharian ini."
" Siip sama-sama."
Liam dan Zanita kembali ke JDA. Sesampainya di depan kantor Zanita terkejut sudah menjumpai Raffan di sana. Padahal saat ini belum waktunya pulang kantor tapi Raffan sudah menunggunya di sana.
" Sayang!"
Raffan melambaikan tangannya ke arah Zanita yang baru turun dari mobil Liam. Satu pertanyaan dilontarkan oleh Liam mengenai siapa pria itu.
" Ohh oke, pergilah kalau memang ada yang penting. Ntar aku bilangin sama Bian."
" Nggak apa-apa emang kak?"
Liam tersenyum lalu mengangguk. Lagi pula kerjaan Zanita sudah beres. Gadis itu melakukan pekerjaannya dengan baik tidak ada salahnya membiarkannya untuk pulang sedikit lebih awal.
" Mas, memangnya mau hari ini fitting bajunya?"
" Iya sekalian kita ke WO. Kamu bisa lihat mau pakai dekorasi yang seperti apa."
Zanita mengangguk, pernikahan impiannya sebenarnya tidaklah muluk-muluk. Dia hanya ingin pernikahan yang sederhana dan sakral. Tapi itu tadi, yang menikah adalah dua orang jadi dia harus memikirkan apa keinginan Raffan juga.
Beberapa baju sudah dicoba, akhirnya Zanita memutuskan memilih gaun panjang sederhana yang tertutup. Tidak ada belahan dada maupun punggung terbuka. Zanita jelas tidak suka itu dan Raffan setuju. Gaun panjang warna putih dengan detail mutiara, sederhana tapi elegan.
Selanjutnya adalah dekorasi, Zanita juga menginginkan pelaminan yang sederhana saja tapi sepertinya Raffan tidak. Raffan memilih pelaminan yang terlihat begitu mewah. Kali ini gantian Zanita yang patuh. Tadi soal baju Raffan sudah setuju maka giliran Zanita kali ini yang menurut.
Sebuah pelaminan mewah dengan warna putih dan gold yang mendominasi dipilih oleh Raffan. Sama sekali bukan tipe Zanita, tapi gadis itu tidak akan protes. Melihat Raffan yang begitu antusias Zanita hanya tersenyum. Mereka bahkan juga memilih undangannya sekalian saat itu.
" Kita pakai inisial aja ya RZ gimana sayang."
" Boleh mas, hari tanggalnya dikosongin aja dulu kan kita harus daftar dulu ke KUA."
Raffan mengangguk paham, tapi mereka sepakat dalam kartu undangan yang dibuat hanya akan menampilkan inisial nama keduanya. Bahkan nama orang tua tidak mereka cantumkan. Meskipun pelaminannya mewah, Raffan dan Zanita memang ingin pesta pernikahan mereka lebih privat. Hanya akan mengundang saudara dan teman dekat.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Nur Bahagia
karena si za ini yg the real artist 🤣 benci sama artis karena sering pura2.. eehh sendiri nya juga pura2 🤪 ngawur nih cewe 🤭
2024-10-23
1
Sweet Girl
Magicom Khan bakal bisa menghangatkan kamu Za...
2024-03-24
2
Miss Typo
semoga gagal dan yg jadi gantinya Andra 🙊
2024-03-14
0