...MISTERI MAYAT TERPENDAM...
...Dewa Payana...
...Bagian 20...
Kejadian yang menimpa Lintang, yakni berupa ruam kemerahan yang terdapat pada jenjang kaki anak balita tersebut, ternyata hanyalah sebagai awal dari serangkaian cerita-cerita aneh yang dialami oleh keluarga Arvan dan istrinya, Lasmi. Selanjutnya bocah lelaki berusia empat tahun itu seringkali pula menangis secara mendadak dan menjerit histeris di kala ditinggal tidur sendirian di kamar.
"Kamu ini kenapa sih, Nak?" tanya Lasmi seraya mengangkat tubuh Lintang dan mendekapnya dengan erat di dalam pelukan. "Ibu 'kan, lagi nyuci. Kenapa jadi sering nangis-nangis kayak 'gini, sih?"
Perempuan berusia hampir tiga puluh tahun itu masih belum memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dia memeriksa kaki anak semata wayangnya untuk memeriksa, akan tetapi tidak lagi ditemukan bekas luka memar kemerahan seperti biasa di sana.
'Aaahh ... syukurlah,' bisik Lasmi merasa lega.
Kemudian dia pun segera membawa Lintang dari dalam kamar dan berusaha menenangkan di ruang tengah.
Sebentar kemudian, anak laki-laki mungil itu pun berhenti menangis. Namun tidak ingin lepas dari gendongan ibunya.
"Ya, sudah ... kamu ikut nemenin Ibu nyuci aja kalo begitu, ya?" kata Lasmi akhirnya memutuskan untuk membawa serta Lintang ke dalam kamar mandi, bersamanya menuntaskan pekerjaan rumah yang masih belum usai dituntaskan. "Kamu duduk-duduk di sini deket Ibu, ya? Boleh sambil main-main air juga, kok. Hehehe."
Awalnya, Lintang memang terlihat anteng didudukkan di salah satu sudut ruangan kamar mandi yang menyatu dengan kloset jongkok. Dia asyik bermain-main air dan limpahan busa sabun cucian yang menggenangi lantai. Sampai kemudian, anak tersebut menoleh ke arah ambang pintu yang mengarah langsung ke dapur.
"Uuhhh ... uuugghhh ....," kata Lintang sambil menunjuk-nunjuk.
"Ada apa, Nak?" tanya Lasmi dengan raut wajah cuek, tapi ikut menoleh ke arah yang ditunjuk oleh anak lelakinya tersebut.
"Ibu ... Ibuuu ....," ucap Lintang kembali dengan jari telunjuk mengacung-acung pada arah yang tadi.
Lasmi kembali melirik, memperhatikan anaknya. "Ibu ...? Ibu 'kan, di sini, Nak. Kenapa nunjuk-nunjuk ke sana?" tanya perempuan tersebut merasa keheranan dengan tingkah laku putranya tersebut. "Ah, kamu ini ada-ada aja, deh. Hehehe."
Perempuan itu mengira, apa yang dilakukan oleh Lintang hanyalah sekedar perilaku biasa seorang anak kecil. Sehingga dia pun tidak ingin terlalu mengindahkan dan fokus untuk segera menuntaskan pekerjaan rumahnya secepat mungkin.
Sampai akhirnya ....
"Lintang ....?" panggil Lasmi mencari-cari tempat dimana anaknya tadi duduk-duduk sambil memainkan air.
Lintang tidak ada di tempat semula. Saat menoleh ke belakang, anak tersebut justru sudah berada di dapur.
"Ya, Tuhan! Lintang? Kapan kamu ke sini, Nak?" tanya Lasmi terheran-heran.
Dalam benak perempuan itu, kecil kemungkinan jika anak balitanya tersebut luput dari pandangan mata saat bergerak keluar dari dalam kamar mandi. Karena jarak keberadaan mereka berdua, cukup dekat. Setidaknya jika bergeser sedikit saja, sudah pasti akan tertangkap mata olehnya.
Lasmi segera menghentikan aktivitas mencucinya dan bergegas menyusul Lintang keluar dari ruangan tersebut, usai membersihkan limpahan bisa sabun di tangan.
"Lintang? Apa yang lagi kamu lakuin di sini, Nak?" tanya Lasmi begitu mendekat.
Anak itu sedang terduduk menyendiri, menghadap sudut ruangan dapur. Tepatnya pada arah dimana lobang tikus yang beberapa hari sebelumnya ditutup oleh Arvan dengan adukan semen. Pandangan matanya tampak kosong dan nyaris tidak berkedip ke depan.
"Hei ... Nak, kenapa kamu malah bengong sekarang, hhmmm?" tanya Lasmi kian keheranan dengan sikap anaknya tersebut kini. "Kamu lagi ngelihatin apa, sih? Kok, diem begitu?"
Setelah disentuh bahunya, barulah Lintang menoleh. Ucap anak lelaki itu dengan suara yang belum begitu fasih pada Lasmi, "Ibu ... Ibuuu ... itu ... itu ....," tunjuknya pada sudut dinding dapur.
Spontan Lasmi pun mengikuti arah yang ditunjuk oleh Lintang.
"Iya, Nak. Ada apa di sana?" tanya perempuan tersebut. "Kamu ngelihat tikus ....?"
"Itu ... itu ....," kata Lintang kembali sambil terus-terusan menunjuk-nunjuk arah yang sama.
Kening Lasmi pun berkerut hebat disertai kelopak mata menyipit. Bisiknya di dalam hati, 'Apa anakku ngelihat sesuatu? Tikus, mungkin? Ah, bukannya lobang berbau busuk itu sudah ditutup sama Mas Arvan kemarin? Gak mungkin kalo sampai ada binatang menjijikkan itu masuk kembali ke dapur ini.'
Dia melihat-lihat arah pandang yang sedang dilihati oleh Lintang, anaknya. Sebuah karung berisi perabotan rumah tangga yang belum sempat di keluarkan sejak kepindahan keluarga ini sebelumnya, teronggok di sana. Menyandar tepat di tengah-tengah garis sudut dinding ruangan dapur. Sekaligus untuk menutupi bekas lobang yang sudah ditutupi adukan semen beberapa waktu lalu.
"Hhmmm, ayo temenin lagi Ibu di dalem yuk, Nak," ajak Lasmi kemudian terhadap Lintang seraya bermaksud mengangkat tubuh anak tersebut. Namun bocah mungil itu menggeliat seperti hendak memberontak dan berusaha menolak ajakan ibunya. “Kamu ini kenapa sih, Nak? Kalo sendirian di sini, Ibu gak bisa ngawasin kamu, lho.”
“Gaakkk …! Ibu, itu … itu ….,” seru kembali Lintang sembari menunjuk-nunjuk sudut dinding ruangan dapur pada sandaran karung tadi.
‘Astagaaaa … Lintang, ada apa sih sebenarnya dengan anak ini? Gak biasanya dia bersikap seperti ini.’ Timbul pertanyaan baru di dalam diri Lasmi di antara tatapannya pada raut wajah anak lelakinya tersebut. Lantas dia kembali menoleh pada onggokan karung. ‘Apa sih yang dia lihat tadi? Apa mungkin, ada lagi tikus di balik karung itu, ya?’
Walaupun ada rasa khawatir dan takut jika memang benar adanya di sana terdapat binatang pengerat itu, jiwa Lasmi mendadak penasaran.
Maka, secara perlahan-lahan, perempuan tersebut bangkit dari sisi Lintang dan berjalan mendekati onggokan karung tadi. Perasaan was-was itu —tentu saja—, sontak menyelinap di balik sanubarinya sebagai seorang perempuan. Namun entakkan keingintahuannya mendadak membesar untuk memeriksa.
Dengan penuh kehati-hatian, Lasmi mencoba menarik sandaran karung yang menutupi garis sudut dinding ruangan dapur. Kepalanya mendongak ke depan disertai hati berdebar-debar keras.
Sedikit demi sedikit celah di antara senderan badan karung dan dinding sudut dapur pun mulai terbuka. Lasmi mengintip ragu sembari menahan napas dan berharap jika di sana tidak menemukan sesuatu apa pun sebagaimana yang tergambar di dalam benak/kepala.
“Astagaaa ….,” desah perempuan itu kemudian dengan mulut terbuka dan kelopak mata membelalak lebar.
Dia melihat ada lobang besar menganga di balik senderan karung tadi. Tepat pada bekas tambalan semen di sana.
‘Bagaimana ini bisa terjadi? Bukannya Mas Arvan sudah menutup lobang ini? Tapi kenapa sekarang terbuka kembali?’ cecar Lasmi bertanya-tanya sendiri di antara rasa takut dan kejutnya. ‘Malah … kini kayak makin besar saja ukurannya,’ imbuhnya kembali mengira-ngira.
...BERSAMBUNG ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments