Bagian 11

...MISTERI MAYAT TERPENDAM ...

...Dewa Payana...

...Bagian 11...

Awalnya Ibu Marsih tidak bisa menerima rencana pernikahan Arvan dengan Lasmi. Dia masih bersikukuh untuk menjodohkan anak angkatnya tersebut dengan perempuan calon pilihan sendiri. Namun mengingat akan beberapa hal, dengan sangat terpaksa orangtua itu pun membiarkan pernikahan itu terlaksana.

Kondisi Lasmi yang sedang mengandung anak Arvan, juga nasib yang sama-sama dialami oleh keduanya, yaitu tidak memiliki sanak keluarga, membuat Ibu Marsih harus merelakan keinginannya pribadi. Namun ketakutan akan kehilangan sosok Arvan adalah hal terbesar.

Kondisi yang sudah sepuh dan aktivitas serba terbatas, turut mempengaruhi Ibu Marsih untuk mencoba sadar diri. Selama ini dia memang lebih banyak bergantung pada keuangan yang diberikan oleh Arvan. Sedangkan mengandalkan usaha warungan kecil di depan rumah, sungguh tidak mampu diharapkan.

Maka dari itu, perempuan tua itu pun harus menerima kehadiran seorang Lasmi di rumahnya. Namun hati kecil Ibu Marsih, masih tetap belum bisa menganggap bahwa dia adalah menantu, istri anak angkatnya, sekaligus ibu dari calon cucunya sendiri.

Sejak dinikahi oleh Arvan, Lasmi langsung diboyong ke rumah Ibu Marsih. Hidup bersama-sama di bawah satu atap dengan sang ibu mertua. Mulai detik itu pula, drama-drama kecil pun kerap bermunculan.

Di depan Arvan, Ibu Marsih tidak banyak bersikap. Walaupun keduanya tampak kaku, tapi lelaki tersebut menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah.

"Mungkin Ibu belum bisa beradaptasi dengan kehadiran kamu, Las," ujar Arvan beralasan. "Entar juga pasti bakal akrab sendiri, kok. Aku tahu banget dan udah mengenal watak Ibu."

Lasmi tidak ingin mendebat ucapan suaminya tersebut. Dia memilih untuk diam dan pasrah dengan nasib yang sedang dia alami. Pada kenyataannya, perempuan ini sadar bahwa mereka hanyalah penumpang sementara di dalam kendaraan rumah tersebut. Apalagi dengan kondisi perut yang semakin membesar, akhirnya Lasmi pun mengundurkan diri dari perusahaan. Bukan tersebab itu pula, akan tetapi karena semakin kencangnya gonjang-ganjing yang tersebar di kalangan para pekerja tentang kehamilannya tersebut.

"Apa? Istri kamu mau ngundurin diri?" tanya Ibu Marsih begitu Arvan mengungkapkan rencana resign Lasmi sebagai buruh pabrik. "Apa gak bakal ngebebanin kamu nantinya, Van? Kamu harus nanggung hidup Ibu dan istri kamu secara sekaligus."

Jawab Arvan terdengar bijaksana, "Gak apa-apa, Bu. Lagian kalo soal keuangan, bukannya emang kewajiban Arvan sendiri buat ngenafkahin Ibu dan Lasmi?" Dia menoleh sebentar ke arah kamarnya dan memastikan Lasmi sudah terlelap di dalam sana. "Kandungan Lasmi udah semakin gede, Bu. Arvan khawatir kalo sampe terjadi apa-apa sama Lasmi. Lebih baik, dia emang istirahat total di rumah. Yaa ... paling enggak, bisa bantu-bantu Ibu, biarpun gak banyak."

Lagi-lagi Ibu Marsih harus menerima keputusan yang disampaikan oleh anak angkatnya tersebut. Terpaksa dan terpaksa. Daripada Arvan memilih untuk tinggal terpisah darinya.

Lain di depan Arvan, beda pula perlakuan Ibu Marsih pada Lasmi di saat lelaki tersebut sedang tidak berada di rumah. Tidak jarang, di tengah kondisi mengandung, Lasmi dipaksa mengerjakan hampir seluruh tugas-tugas rumah.

'Syukur-syukur kalo sampe dia keguguran ....,' membatin perempuan tua tersebut tentang Lasmi, menantunya. 'Biar dia ngerasa, 'gimana kecewanya gak punya anak sendiri seperti aku dulu. 'Gimana kecewanya juga, di saat aku berharap anak yang aku besarkan dari kecil, sekarang justru lebih memilih istrinya ketimbang aku yang sudah banyak berjasa buat Arvan.'

Lasmi tidak ingin melawan ketidaksukaan Ibu Marsih terhadap dirinya. DIa tetap sabar dan menelan mentah-mentah semua perlakuan yang didapat. Sadar bahwa kehadiran dia di tengah-tengah keluarga tersebut, sangat tidak diharapkan. Terkecuali rasa cinta yang begitu besar terhadap Arvan, hal itulah yang menjadikannya kuat dan bertekad untuk tetap bertahan berada di sana.

"Aku tahu ..., lama-lama Ibu akan menerima kamu di sini, Las," kata Arvan yang belum sekalipun mendengar Lasmi berkeluh kesah dengan sikap ibu angkatnya tersebut. "Jadi ... selama ada di rumah, aku jadi tenang ninggalin kamu, Las. Hehehe."

Lasmi hanya bisa tersenyum getir mendengar ucapan suaminya itu.

Senyum yang selalu dia berikan tiap kali Arvan bertanya kabar. Senyum itu pula yang menguatkan diri akan nasib yang sedang dialami.

Arvan tidak pernah berubah sejak awal Lasmi mengenalnya. Dia tetaplah seorang lelaki romantis dan bertanggungjawab, di bawah dera desas-desus yang mengatakan bahwa dia adalah sesosok lelaki yang pernah beberapa kali meniduri mantan-mantannya. Lasmi tidak peduli dan tidak ingin menggubris. Karena perempuan ini pun yakin, Arvan sekarang adalah sosok suami yang sangat dicintai serta mencintainya.

...BERSAMBUNG...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!