...MISTERI MAYAT TERPENDAM...
...Dewa Payana...
...Bagian 7...
Bau itu kian menyengat dan membuat Arvan merasa mual karenanya. Dia yakin sekali bahwa aroma busuk tersebut berasal dari lobang kecil di sudut dinding ruangan dapur itu. Apalagi ketika mendekatkan ujung gagang sapu ke dekat hidung, sontak lelaki itu pun ....
"Ooeekkkk ...."
Arvan merasa hendak muntah. Paru-parunya mendadak menyesak disertai tekanan lambung seperti hendak mendorong kuat-kuat sisa makanan yang baru saja dia santap tadi.
'Gila! Bau banget!' rutuk lelaki tersebut seraya melemparkan pegangan sapu dari tangannya ke lantai. 'Apa mungkin ... lobang itu tempat bersarang tikus jahanam tadi? Tapi ... bau ****** ini busuknya kebangetan! Kayak bukan ****** biasa.'
"Oooeekkk ...."
Kembali entakkan asam lambungnya naik hingga ke ujung tenggorokan. Memberikan rasa mual dan seperti hendak memuntahkan seisi perut dengan kuat.
"Maasss ....," panggil Lasmi tiba-tiba muncul di ambang pintu dapur. "Ada apa?"
"Jangan ke sini!" seru Arvan buru-buru mengangkat tangan dan mengembangkan kelima jemari ke arah Lasmi, untuk mencegah agar istrinya itu tidak mendekat.
Langkah perempuan itu tertahan di tempatnya. Lantas mengernyit hebat dan segera menutup hidung dengan jepitan dua jari tangan.
"Koq, gayak wau wangke gingih, Mashh?" tanya Lasmi dengan suara sengau, bermaksud bertanya; 'Kok, kayak bau ****** 'gini, Mas?'.
"Iya, makanya jangan mendekat, Dek!" seru kembali Arvan mengulang kalimatnya. Dia beringsut ke belakang dan bangkit setelah menjauh dari lobang kecil di sudut ruangan tersebut. "Di situ ada lobang, Dek. Tadi aku ngelihat ada tikus lari ke sana. Begitu aku colok-colok pake gagang sapu, kok jadi bau begini."
Lasmi beringsut menjauh diikuti oleh suaminya yang sudah tidak tahan lagi membaui aroma busuk yang keluar dari lobang tersebut. Aromanya benar-benar memualkan.
"Terus bagaimana, Mas? Kalo dibiarin begitu, entar 'gimana kalo aku masak?" tanya perempuan berusia hampir berkepala tiga tersebut sesudah menjauh dan melepaskan jepitannya pada hidung.
Jawab Arvan sehabis menghirup udara segar di kamar mereka, "Nanti aku sumpal buat sementara pake kertas koran atau apalah. Kalo libur kerja, aku tutupi aja sama adukan semen."
"Nunggu sampe besok?"
"Iya, nanti," kata lelaki tersebut setelah jalur pernapasannya kembali terasa lega. "Kalo sekarang, aku masih gak tahan sama baunya, Dek. Wuih ...., busuk banget."
Lasmi mendengkus. Sebenarnya dia masih merasa penasaran dengan suara-suara yang didengar petang tadi. Apalagi akan bayangan yang sempat dia lihat.
"Terus ... apa mungkin, suara-suara gaduh yang sering kudengar itu karena tikus ya, Mas? Perasaan selama ini, aku gak pernah lihat ada tikus di dapur, deh," ucap Lasmi masih menyangsikan.
Jawab Arvan setengah mengotot, "Lah, buktinya ... tadi aku sempet lihat ada tikus di dapur, Dek. Larinya ... ya, ke arah lobang yang tadi."
"Iya, sih. 'Ngkali aja begitu, ya? Hhmmm ....," deham Lasmi setengah mempercayai ucapan suaminya barusan. 'Tapi ... kalo masalah bayangan tadi, apa mungkin itu cuma halusinasiku aja? Padahal, jelas banget ... tadi aku seperti melihat ada pergerakan bayangan yang melintas di ruangan tengah sana. DItambah lagi ... suara seperti langkah orang menggesek karpet.'
"Heh, malah ngelamun lagi!" ujar Arvan begitu mendapati istrinya terduduk bengong di pinggiran ranjang. "Ayo, kita tidur aja, yuk."
Lasmi menoleh dan mendapati Arvan sudah dalam kondisi setengah telanj*ng. Hanya mengenakan celana pendek hingga pertengahan p*ha. Sementara dari area perut ke atas, tidak lagi mengenakan apa-apa.
"Mau ngapain, Mas?" tanya Lasmi pura-pura tidak memahami makna tatapan dari sorot mata suaminya.
Lelaki itu mengekeh sejenak, lantas menjawab usai melirik sosok Lintang yang tergolek di pinggir tempat tidur sana.
"Kamu pikir mau apa, Dek?" tanya balik Arvan seraya cengar-cengir tidak karuan. "Uummhh ..., mumpung anak kita sudah tidur, Dek."
"Ih, kamu 'kan belom mandi, Mas. Badan kamu pasti lengket dan bau asem ....," seloroh Lasmi seraya mengikuti arah pandang kemana suaminya bergerak. Kini dia duduk di samping, berdekatan, dan mulai menggapai jemari perempuan itu dengan lembut.
"Besok aja sekalian mandinya, Dek. Sekarang udah malem. Entar aku kena reumatik lagi kalo mandi malem-malem begini," timpal Arvan mengelak.
"Ish, bilang aja ... emang lagi kepengen minta jatah," kata Lasmi terkikik sendiri.
Arvan tertawa ditahan, karena takut akan membangunkan anak mereka, Lintang. Kemudian segera mendekatkan wajah hendak mendaratkan sebuah ci*man sebagai langkah awal ritual khusus keduanya sebagai pasangan suami-istri.
Seketika imajinasinya pun liar mengembara. Seperti teringat pada awal kali lelaki tersebut mulai berani menyentuh salah satu titik sensitif di area tubuhnya. Beberapa tahun lalu, di saat keduanya masih sama-sama bekerja di satu perusahaan, dan tentu saja belum terikat tali pernikahan. Terkecuali hubungan sebagai sepasang kekasih ....
...BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments