...MISTERI MAYAT TERPENDAM...
...Dewa Payana...
...Bagian 2...
Buru-buru Lasmi memutar badan dan berlari kembali menuju kamar tidur, tanpa mau menoleh sedikit pun ke belakang untuk memastikan ada seseorang yang turut mengejar.
BRUK! CEKREK!
Daun pintu kamar di banting dengan keras karena deraan rasa takut dan segera menguncinya rapat-rapat.
Napas Lasmi sampai terengah-engah sesak, disertai kucuran keringat dingin membasahi kening hingga punggung. Berbarengan dengan itu pula, tangisan Lintang pun mulai melambat di dalam dekapan ibunya.
SREK! SREK! SREK!
‘Astaga ….!’ desis perempuan tersebut seraya menajamkan pendengaran. Telinganya seperti menangkap ada suara-suara langkah seseorang di luar kamar sana. ‘ … Seperti ada yang berjalan mengikutiku.’
Perlahan Lasmi melangkah mundur menjauhi daun pintu kamar. Dia mengelus-elus punggung anaknya untuk menenangkan, sembari menatap awas pada celah bawah ambang pintu tadi. Sekilas seperti ada pergerakan bayangan melintas di depan kamar. Dia yakin sekali kini bahwa itu bukanlah buah halusinasi dari benaknya yang tengah dilanda ketakutan. Namun itu benar-benar nyata.
“Sssttt, d-diamlah, Nak,” bisik Lasmi meminta anaknya agar menghentikan tangis. “T-tenang … t-tenang.”
Lasmi kembali menaiki tempat tidur dengan arah mata masih mengawasi celah bawah daun pintu kamar. Cahaya temaram lampu dari ruangan tengah yang menerobos, jelas-jelas telah memberikan gambaran jika di luar sana memang ada seseorang. Entah siapa.
Istri Arvan tersebut mulai panik sendiri dan cepat-cepat menyambar selimut tebal untuk menutupi sekujur badan bersama anaknya, Lintang.
‘Aku yakin sekali … ada seseorang yang masuk ke dalam rumah,’ pikir Lasmi semakin ketakutan. Namun dia tidak bisa memastikan, jika memang benar adanya ada orang yang masuk, dari mana masuknya? Di rumah itu hanya ada dua akses keluar masuk; ruangan depan dan dapur. ‘Tapi … seingatku, semua pintu sudah dalam keadaan terkunci sebelum petang tadi,’ gumamnya kembali mengingat-ingat.
SREK! SREK!
Suara-suara langkah kaki yang terseret menerpa permukaan lantai ruangan tengah yang terhampar karpet plastik. Lasmi yakin sekali dan bisa membedakan, bagaimana jika binatang sejenis tikus yang mondar-mandir di luar sana dengan pijakan kaki seseorang.
‘Ya, Tuhan … Mas Arvan,’ desah Lasmi begitu mengambil kembali ponselnya yang tergeletak tidak jauh dari keberadaannya bersama Lintang. ‘Kenapa Mas Arvan mendadak gak bisa dihubungi, sih? Ini … apa lagi yang terjadi?’
Dia berusaha menghubungi nomor seluler suaminya beberapa kali. Namun tetap saja gagal atau tidak bisa tersambung sama sekali.
Tidak ada lagi yang bisa diperbuat oleh Lasmi kini, terkecuali pasrah dalam ketakutan bersama Lingga. Berusaha menyelimuti diri dan bersembunyi di balik belitan selimut sambil mendekap anak semata wayangnya.
Dia tidak berani mengintip atau memastikan jika bayangan di ruangan tengah itu sudah tidak ada lagi di sana. Hanya bisa memejamkan mata dan berharap agar Arvan lekas tiba di rumah.
KREK! KREK! KREK!
Lasmi membuka mata. Kembali menajamkan telinga akan suara-suara yang baru saja dia dengar kini.
KREK! KREK! KREK!
Perempuan itu yakin jika suara itu berasal dari panel pintu kamar. Dia mencoba mengintip sedikit melalui celah belitan selimut ke arah handel pintu. Tampak bergerak-gerak ke bawah, seperti ada seseorang yang sedang berusaha menarik-narik untuk membuka.
Kembali ketakutan itu menggayuti segenap jiwa. Lasmi tidak berani menyahut maupun mencoba memanggil-manggil. Khawatir jika sosok yang berada di luar sana itu bukanlah Arvan, suaminya.
KREK! KREK! KREK!
Panel pintu itu bergerak-gerak kembali.
“Dek …, buka pintu, Dek!”
Lasmi terkesiap. Dia begitu mengenali suara panggilan tersebut.
“Mas Arvan?” tanya perempuan itu seraya menyibak kain selimut.
“Iya, ini aku!” sahut sosok di balik pintu menjawab. “Bukain pintunya, Dek? Ini kenapa dikunci sih, kamarnya?”
Seketika Lasmi melepaskan pelukannya terhadap Lintang dan lekas turun dari atas tempat tidur. Dia memburu pintu kamar dan membuka kunci.
“Maasss!” pekik Lasmi merasa senang, lantas segera menghambur peluk tubuh suaminya.
“Eh … eh … kamu ini kenapa, sih?” tanya Arvan seraya mengelus-elus punggung Lasmi yang basah dan dingin, banjir keringat. “Dari tadi aku panggil-panggil, kamu gak nyahut. Kamu tidur, Dek?”
Tertidur? Lasmi menggeleng-gelengkan kepala. Sejak tadi dia memang berusaha memejamkan mata, tapi tidak sekalipun berhasil tertidur. Benak dan hatinya kerap tertuju pada bayangan yang sempat dilihat tadi. Bahkan sejak itu pula, tidak terdengar sedikit pun deru mesin kendaraan suaminya tiba di pekarangan rumah.
“Sejak kapan kamu tiba di rumah, Mas?” tanya Lasmi heran bercampur bingung, seraya melongok-longok ke arah ruangan tengah dan arah menuju dapur. “A-aku gak denger kamu dateng.”
Jawab Arvan sembari memperhatikan sikap istrinya tersebut yang masih terlihat syok, “Baru aja. Masa sih, kamu gak denger sama sekali? Dari tadi aku bunyiin klakson, tapi kamunya gak bukain pintu. Untung aja, aku selalu bawa kunci cadangan.”
Lasmi masih membayangkan bahwa sosok yang sempat dia lihat melalui celah bawah daun pintu kamarnya tadi, apakah benar-benar nyata ataukah hanya sekadar halusinasi akibat dari rasa ketakutannya belaka?
“Kamu nyari-nyari apaan, sih?” tanya Arvan terheran-heran dengan perilaku Lasmi yang terus-terusan melongok-longok ke arah dapur.
“Mas ….,” ucap perempuan tersebut seraya menatap wajah suaminya. “A-aku tadi ….”
“Suara-suara itu lagi?” tukas Arvan langsung menduga-duga terhadap apa yang akan dikatakan oleh Lasmi. “Duh, Deekkk ….,” imbuh lelaki tersebut diikuti gelengan kepala. “ … Kamu ini suka mengada-ngada, deh. ‘Kan, sudah aku bilang, siapa tahu … suara-suara yang kamu denger itu, berasal dari dapurnya rumah Bu Tedjo. Atau paling enggak, yaaa … cuma tikus-tikus doangan.”
“T-tapi … aku tadi ngelihat—”
“Ah, sudahlah,” tukas kembali Arvan mencoba menenangkan Lasmi. “Lingga ‘gimana?”
Lasmi menoleh ke arah ranjang. “Dia nangis terus dari tadi dan baru saja terlelap tidur,” jawabnya lesu.
“Syukurlah kalo begitu ….,” timpal Arvan merasa lega kini. “Lain kali, kalo ada kejadian kayak ‘gitu, kamunya jangan langsung panik, Dek. Jadinya, anak kita ikutan ketakutan dan nangis-nangis.”
Arvan mengajak istrinya duduk-duduk di ruangan tengah. Dia menaruh bungkusan makanan yang sejak awal datang tadi dijinjing, di atas hamparan karpet plastik.
“Sini, kita makan,” imbuh kembali lelaki tersebut seraya membuka-buka bungkusan tadi. “Sengaja aku bawain makanan kesukaan kamu.”
Lasmi turut duduk di samping suaminya, tapi pandangannya masih sesekali menoleh ke arah dapur.
“Kamu ini kenapa sih, Dek?” tanya Arvan sembari ikut melongok ke arah pandangan Lasmi barusan. “Ayo … kita periksa. Aku yakin, di dapur gak ada apa-apa, kok.”
Semula Lasmi hendak menolak, karena merasa takut. Namun rasa penasaran yang sejak tadi menghinggapi, mau tidak mau menuruti ajakan Arvan untuk melihat-lihat kondisi ruangan belakang yang dimaksud.
Benar saja. Begitu mereka berdua memeriksa kondisi dapur, tidak tampak sedikit pun keanehan di sana. Semuanya dalam keadaan baik dan tertata rapi seusai dibersihkan oleh Lasmi sore sebelumnya.
“A-astagaaa ….!” seru Arvan terkejut.
...BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments