Bagian 14

...MISTERI MAYAT TERPENDAM...

...Dewa Payana...

...Bagian 14...

"Mana Bang Arvan suamimu?" tanya Sulis dengan nada datar dan sorot mata dingin menatap Lasmi. Dia masih berdiri mematung di ambang pintu dan tidak bergerak sama sekali sejak muncul tadi.

Lasmi tergagap-gagap menjawab, "D-dia ... d-dia sudah berangkat barusan, Lis." Dia tidak berani melangkah untuk mendekat. Tetap bersiaga sambil pegangi anaknya dengan erat. "K-kamu ... a-apa yang kamu lakuin di situ, Lis? S-siapa yang bukain pintu?" tanya istri Arvan tersebut di antara degup jantung yang kian bertalu-talu.

Sulis tidak menjawab, tapi malah menyeringai dan terkikik-kikik sendiri. Sungguh menyeramkan.

Lalu tanpa permisi, sosok gadis tersebut bergerak ke belakang dan meninggalkan ambang pintu dapur tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Sulis! Sulis!" panggil Lasmi sambil memburu ke luar dapur. Namun anak Ibu Tedjo tersebut sudah tidak tampak lagi di sana. Padahal hanya beberapa waktu, tidak sampai dua detik berlalu. Setidaknya dalam kurun masa sesingkat itu, pasti sosoknya masih ada dan terkejar.

"Sulis ....," seru kembali Lasmi mencoba memanggil-manggil.

Tidak ada sahutan sama sekali. Terkecuali ---tiba-tiba--- Ibu Tedjo muncul dari balik lorong jalan yang menuju ke bagian belakang rumahnya.

"Ada apa, Mbak?" tanya perempuan tua itu seperti menghadang laju langkah Lasmi yang tengah mengejar-ngejar sosok Sulis.

'Astaga ....!'

Untuk kali kedua, Lasmi terlonjak kaget dan spontan menghentikan ayunan langkah sambil mendekap erat anaknya, Lintang.

"B-barusan Sulis ... Sulis ...." Mendadak Lasmi pun seperti kesulitan untuk menuntaskan bicara. Lidahnya kelu dan kerongkongan mengering kerontang.

"Ada apa dengan anak saya, Mbak?" tanya Ibu Tedjo, masih berdiri mematung di dekat lorong yang menuju bagian belakang rumahnya.

Lasmi berusaha menguatkan diri. Mengumpulkan segenap tenaga yang tiba-tiba berkurang akibat dari rasa kejut yang terus-terusan menghujam tadi. Lalu membasahi tenggorokan dengan beberapa teguk ludah sendiri.

"B-barusan Sulis ... b-barusan Sulis d-datang ke rumah saya, Bu," jawab Lasmi terpatah-patah. "D-dia muncul di pintu dapur rumah saya. T-tapi ... pergi begitu saja waktu saya tanya tadi."

Kedua alis Ibu Tedjo bergerak saling bertaut, disertai kerutan di kulit dahi.

"Sulis datang ke rumah, Mbak?" kata perempuan tua tersebut mengulangi kalimat yang diucapkan oleh Lasmi tadi. "Itu gak mungkin, Mbak," imbuh kembali Ibu Tedjo berkata.

"Tapi beneran, Bu. Barusan anak Ibu itu muncul tiba-tiba di pintu belakang rumah saya. Makanya saya panggil-panggil juga, tadinya buat---"

"Anak saya lagi ada di kamarnya, Mbak. Sejak semalam tadi, dia belum keluar. Dia berbaring di tempat tidur, karena lagi sakit," tukas Ibu Tedjo menjelaskan dengan nada datar.

"Apa? Sakit?" Lasmi terkejut, sekaligus terheran-heran. "Tapi barusan itu ... Sulis datang ke rumah saya, Bu."

Ibu Tedjo menyeringai kecut. Ujarnya kemudian, "Kalo Mbak gak percaya, Mbak bisa lihat sendiri anak saya di kamarnya."

Lasmi ragu dan enggan untuk masuk ke dalam rumah tetangganya tersebut. Walaupun rasa penasaran terhadap kebenaran ucapan Ibu Tedjo barusan masih meronta-ronta.

'Kenapa Bu Tedjo mengatakan kalo Sulis gak kemana-mana? Padahal barusan, jelas sekali kalo anaknya itu muncul di pintu dapurku dan bertanya-tanya tentang Mas Arvan,' kata Lasmi di dalam hati. 'Ini ... aku yang berhalusinasi atau Bu Tedjo sendiri yang berbohong? Aneh banget.'

Di saat-saat seperti itu, tiba-tiba pinggang Lasmi terasa hangat. Lekas dia memeriksa dan mendapati Lintang ---ternyata--- pipis di celananya.

"Ya, Tuhan ... Lintang sayang!" seru perempuan itu terkaget-kaget dan buru-buru berpamitan pada Bu Tedjo untuk kembali memasuki rumahnya. "Duh, maaf ya, Bu. Anak saya pipis ....," kata Lasmi, " ... saya harus gantiin celana anak saya."

Perempuan tua tersebut hanya mendeham pelan dan menatap Lasmi dari belakang dengan sorot mata aneh. Lantas bergegas turut masuk ke dalam rumah, usai sosok istri Arvan tersebut menghilang di balik pintu dapur.

'Aneh banget ....,' pikir Lasmi sesudah menceboki Lintang dan mengganti celana anak tersebut yang basah berbau pesing. 'Bagaimana mungkin Sulis bisa tiba-tiba muncul di pintu belakang, padahal sebelumnya aku sudah memastikan kalo pintu itu dalam keadaan terkunci sejak tadi.'

Lantas dia teringat pada kejadian semalam. Seperti melihat bayangan seseorang berada di dapur dan mengejarnya hingga ke ruang tengah. Terus Arvan mendapati pintu belakang dapur tersebut sudah dalam keadaan terbuka.

'Apa ini ada hubungannya dengan kejadian semalam?' Kembali perempuan berusia hampir berkepala tiga itu bertanya-tanya. 'Jangan-jangan ... bayangan semalam yang aku lihat itu emang beneran Sulis? Tapi ... bagaimana caranya dia membuka pintu dan masuk ke rumahku begitu saja?'

Kepala Lasmi benar-benar dibuat pusing kali ini dengan serangkaian pertanyaan-pertanyaan yang tidak kunjung bisa terjawab dengan pasti. Hanya dugaan demi dugaan belaka yang kini memenuhi benak.

Ingin rasanya dia menghubungi Arvan dan meminta suaminya tersebut untuk kembali pulang. Namun itu tidak mungkin. Saat ini dia pasti masih berada di tengah-tengah perjalanan menuju tempat pekerjaannya. Tidak mungkin pula harus menyuruh pulang secepat itu.

Sambil duduk di ruang tengah dan menyalakan televisi, Lasmi sibuk berpikir seraya mengawasi Lintang yang sedang asyik bermain sendiri dengan berbagai alat permainannya.

Kemudian terbayang-bayang pula pada percakapan dengan tetangga-tetangga lain sewaktu berbelanja ke warung untuk pertama kalinya beberapa saat lalu. Rata-rata raut wajah mereka seperti memperlihatkan sesuatu yang ganjil, tanpa ada satu pun yang berkenan untuk menjelaskan secara gamblang.

"Kalo gak salah, Mbak ini yang beli rumahnya Pak Sodikin itu, ya?" tanya pemilik warung bernama Ibu Ningsih.

"Iya, Bu," jawab Lasmi seraya memilih berbagai bahan sayuran untuk bekal memasak menu makan malam. "O, iya ... saya lupa ngenalin diri sebagai warga baru di sini nih, Bu. Hehehe. Kenalin, saya Lasmi, Bu."

"Ooohh ... saya Ningsih," balas Ibu Ningsih diiringi senyumnya. Lantas menunjuk pada sosok lain di sana yang kebetulan sama-sama tengah berbelanja. "Yang itu ... Yeni, Esih, dan Aryani."

"Ooohh ... halo," sapa Lasmi seraya menyalami sosok-sosok perempuan yang diperkenalkan oleh Ibu Ningsih tersebut, satu per satu.

Imbuh kembali pemilik warung sayuran itu pada Lasmi, "Rumah mereka gak jauh kok, dari sini. Tuh, dari sini juga kelihatan. Hehehe."

"Sekali-kali ... mainlah ke rumah saya, Mbak. Ada banyak yang ingin saya ceritain, kalo Mbak Lasmi mau tanya-tanya," kata Esih pada Lasmi, seraya melirik-lirik pada Yeni dan Aryani.

"Bener lho, Mbak," timpal Aryani. "Apalagi tentang tetangga Mbak yang bernama Bu Tedjo itu."

Lasmi tersenyum-senyum polos dan balik bertanya, "Memangnya ada apa dengan Bu Tedjo itu ya, Bu-ibu?"

Keempat perempuan yang baru dikenali oleh Lasmi itu malah tersenyum-senyum penuh arti.

"Pokoknya ... kalo Mbak ini pengen tahu, nanti dateng aja ke rumah saya juga, Mbak," timpal Yeni, kali ini. "Tapi ... serius nih, Mbak ini mau tinggal di sana?"

Jawab Lasmi, "Yaaa ... kenapa enggak, Bu? Lagian, rumahnya juga masih bagus dan gak perlu banyak perbaikan di sana-sini. Terlebih lagi disamping murah, juga agak deket ke tempat kerjaannya suami saya."

Keempat perempuan yang ada di sana kembali saling melempar tatap mata.

"Wah ... berani juga, ya?" timpal Ibu Ningsih seraya melirik pada sosok ketiga warga lain tersebut.

"Emangnya kenapa sih, Bu?" Lasmi semakin heran dan penasaran.

"Serius Mbak ini belom kenal sama Bu Tedjo?" tanya Aryani ingin memastikan.

Jawab kembali Lasmi, "Ya, bagaimana saya bisa kenal, Bu. Lah, orang saya baru aja tinggal di daerah sini."

Setelah agak lama terdiam dan saling melemparkan tatap mata, akhirnya perempuan bernama Yeni menjawabkan pertanyaan Lasmi tadi. Ucapnya kemudian, "Bu Tedjo itu 'kan, orang tua aneh, Mbak."

"Hah? Aneh apanya?" tanya Lasmi semakin bingung dan sejenak dia pun membenarkan tentang sikap tetangganya tersebut sejak awal bertemu.

"Yaaa ... aneh aja," jawab kembali Yeni sepertinya agak berhati-hati dalam berucap. "Dia itu gak pernah mau berbaur sama tetangga lain di sini. Disamping itu, anaknya yang perempuan dan satu-satunya itu ... juga sama-sama aneh."

"Sulis?"

"Mbak sudah tahu nama anak itu?" tanya Aryani ikut bersuara.

Jawab Lasmi, "Pak Sodikin sendiri yang pernah bercerita sama kami sebelumnya, Bu."

"Ooohhh ...."

...BERSAMBUNG...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!