Bagian 15

...MISTERI MAYAT TERPENDAM...

...Dewa Payana...

...Bagian 15...

Sedikit demi sedikit, Lasmi mendengar kabar tentang sosok Ibu Tedjo di masa sebelum Arvan sekeluarga berpindah dan menempati rumah bekas hunian Pak Sodikin tersebut.

"Rumah itu sudah lama enggak ditempati sama Pak Sodikin ....," tutur Bu Ningsih suatu ketika, saat mulai menceritakan hal ihwal kondisi rumah yang dibeli oleh Arvan itu.

Menurut Bu Ningsih juga, Pak Sodikin adalah seorang duda tua yang memiliki seorang anak perempuan bernama Melati. Mereka tinggal di sana selama beberapa waktu, berdua antara anak dengan bapak. Sementara istri Pak Sodikin atau ibu kandung dari Melati, sudah lama meninggal dunia.

"Kalo gak salah, usia Melati itu ... sebaya sama anaknya Bu Tedjo yang bernama Sulis," lanjut Bu Ningsih bercerita.

'Berarti lebih muda beberapa tahun dariku,' pikir Lasmi di tengah-tengah menyimak penuturan Bu Ningsih tersebut.

"Dulu Sulis gak kayak sekarang, Mbak."

"Maksudnya yang sekarang, 'gimana ya, Bu?" tanya Lasmi ingin kejelasan tentang kondisi Sulis sebelumnya menurut cerita Bu Ningsih itu.

Jawab perempuan yang separuh rambutnya sudah dipenuhi untaian warna-warna putih tersebut, "Yaaa ... dulu Sulis gak seaneh sekarang, Mbak. Sama kayak gadis-gadis lain seusianya, dia juga sering berbaur dengan sesama warga di sini. Terutama teman-temannya, termasuk Melati sendiri."

"Ooohh ... jadi Sulis dan Melati itu temenan?" tanya Lasmi kembali mulai memahami kini.

"Kurang lebih seperti itu ....," jawab Bu Ningsih mengiakan. "Sampai suatu ketika ...."

Terjadi perselisihan antara keduanya; Sulis dan Melati. Awalnya mereka berteman, tiba-tiba gadis-gadis tersebut seperti saling bermusuhan. Itu dikarenakan hadirnya sesosok pemuda lain bernama Samin.

Masih menurut Bu Ningsih, Samin itu adalah sosok seorang lelaki yang dekat dengan Melati. Bisa dikatakan bahwa keduanya menjalin hubungan khusus layaknya sepasang kekasih. Sampai kemudian, mereka dikabarkan akan segera menikah. Namun menjelang hari kebahagiaan tersebut tiba, mendadak Melati menghilang bersama Samin.

Namun yang diceritakan oleh Bu Ningsih terhadap Lasmi saat itu, kenyataannya masih jauh dari kebenaran yang sesungguhnya terjadi, yakni peristiwa raibnya sosok Melati bersama Sarmin yang secara mendadak.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Pak Sodikin dibuat bingung dan sedih dengan kejadian itu. Sampai-sampai dia meminta bantuan dari Bu Tedjo untuk menemukan sosok anaknya tersebut.

"Setahuku, Ibu ini punya keahlian khusus dalam bidang spiritual, Bu," kata Pak Sodikin berharap banyak. "Tolonglah saya, temukan anak saya, Bu."

Bu Tedjo menarik napas panjang mendengar permintaan dari lelaki tersebut.

"Ya, saya akan mencobanya, Pak. Walaupun saya belum bisa memastikan, apa anak Bapak itu bisa saya telusuri keberadaannya atau enggak," jawab Bu Tedjo ambigu.

Pak Sodikin manggut-manggut dan memahami akan keterbatasan keilmuan Bu Tedjo jika sampai gagal membantunya menemukan sosok Melati. Maka sebelum keluar dari rumah perempuan tersebut, lelaki itu berkata kembali, "Saya akan datang lagi ke sini, menemui Ibu, setelah saya pergi selama sepekan ke bukit huma."

"Ya, akan saya usahakan, Pak. Tapi ...mohon maaf, saya juga gak bisa memberi Bapak janji," timpal Bu Tedjo di antara keraguannya.

"Saya paham ... saya paham," ujar Pak Sodikin seraya mengangguk-angguk.

Sepeninggal Pak Sodikin, Bu Tedjo segera menemui anaknya, Sulis, yang sedang berada di kamar dengan raut wajah ketakutan.

"Kamu denger sendiri 'kan tadi, Lis?" kata Bu Tedjo dengan sorot mata tajam menatap wajah Sulis. "Kalo bukan gara-gara kamu, Mamak gak bakalan berurusan dengan masalah pelik seperti ini! Apalagi harus berpura-pura di depan bapaknya si Melati!"

Sulis tertunduk dalam-dalam disertai isak sendu.

"Maafin aku, Mak," balas gadis tersebut dengan suara lirih. "Aku gak bermaksud ngelakuin semua itu. Aku hanya gak suka aja, Bang Samin deket-deket dengan si Melati. Aku gak mau kalo sampe mereka bener-bener jadi menikah, Mak. Aku gak sudi!"

"Sssttt ....!" Bu Tedjo menempelkan jari telunjuk di bibirnya. "Jangan keras-keras kalo ngomong! Akan jauh lebih repot kalo sampe Pak Sodikin tahu tentang apa yang sudah kamu lakuin pada anaknya, Sulis!"

Gadis itu langsung terdiam, ketakutan.

"Terus sekarang 'gimana, Mak? Aku bener-bener bingung," rengek Sulis memohon. "Aku bener-bener takut, Mak!"

Bu Tedjo mendengkus keras, karena merasa kesal terhadap anaknya. Namun walau bagaimanapun juga, perempuan itu harus membantu dan melindungi putri semata wayangnya tersebut.

Kemudian dia duduk di samping Sulis. Merenung dan membayangkan awal malapetaka atas kejadian yang dilakukan oleh Sulis beberapa waktu dulu.

...--- o0o ---...

"Abang pasti mau ketemu Melati, 'kan?" tanya Sulis suatu ketika, pada saat melihat Sarmin tengah berdiri mematung di depan rumah Pak Sodikin.

Lelaki itu menoleh dan tersenyum.

"Iya, Lis. Tapi dari tadi aku panggil-panggil, rumahnya kok kayak sepi begini, ya?" kata Sarmin seraya mendekati Sulis. "Kamu tahu ke mana Melati, Lis?"

"Tentu saja aku tahu," jawab Sulis disertai mesem-mesem sendiri.

"Ke mana?" tanya kembali Sarmin penasaran.

Sulis tidak lekas menjawab. Dia malah tersenyum-senyum seraya sesekali melirik pada sosok lelaki yang sudah lama dia sukai tersebut.

"Mampirlah dulu ke rumahku, Bang. Nanti akan aku ceritain," kata Sulis dengan nada memanja. "Lagian, kalopun Abang nunggu sekarang, Melati belum tentu bakal Abang Sarmin temuin di rumahnya."

Sejenak Sarmin berpikir-pikir disertai bibir menipis.

"Ah, jangan deh, Lis. Aku gak enak, kalo sampe ibumu nanti tahu, aku masuk ke rumahmu," ujar lelaki itu dengan sedikit binar aneh yang terpancar dari sorot matanya.

"Gak apa-apa, Bang. Mamakku lagi gak ada di rumah, kok," balas Sulis masih dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.

"Ibumu gak ada di rumah?" tanya Sarmin semakin berbinar-binar matanya dan benak kelelakiannya pun mulai merambah pada pikiran-pikiran aneh.

Jawab kembali Sulis, "Mamak lagi ke kampung sebelah, Bang. Biasalah, ada panggilan dari warga yang minta bantuan Mamak."

"Ooohh ... 'gitu?" ujar Sarmin seraya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

"Abang mau ngopi? Aku buatin, deh."

"Boleh juga," timpal Sarmin diikuti kekehnya kemudian.

"Ya, udah. Yuk, masuk ke dalem. Aku bikinin yang terkhusus buat Abang Sarmin. Hehehe," ajak Sulis dengan nada suara yang kian memanja dan menggoda.

Entah mengapa. Bagai kerbau dicucuk hidung, dengan mudah Sarmin menuruti ajakan Sulis untuk masuk ke dalam rumah. Satu hal yang menjadikan lelaki itu kian terpengaruh adalah dengan pikirannya yang mendadak aneh tatkala memperhatikan sosok Sulis.

Jujur saja diakui oleh Sarmin bahwa Sulis sama sekali bukanlah sosok perempuan yang dia sukai. Namun pada saat tersebut, mendadak getar-getar hati pemuda itu langsung tertambat begitu saling beradu pandang dengannya.

Apalagi setelah berbincang dan menikmati secangkir kopi yang dihidangkan oleh Sulis, kesadaran seorang Sarmin seperti mendadak sirna. Pesona gadis yang sedang bersamanya tersebut sungguh teramat menarik. Bahkan tanpa berusaha menolak, dia malah menyambut perlakuan Sulis yang semakin agresif melancarkan rayuan-rayuannya.

"Sudah lama aku suka banget sama Abang Sarmin ....," ungkap Sulis tanpa ragu-ragu maupun malu-malu.

"O, iya? Masa, sih?" ujar Sarmin dengan hati berdebar-debar kencang saat gadis itu berpindah tempat duduk dan kini semakin merapat mendekatinya.

"Aku tahu, Abang punya hubungan sama si Melati dan aku ngerasa cemburu karena itu, Bang," rajuk Sulis disertai wajah cemberut masam.

"Kenapa harus cemburu, Lis? Kalo emang kamu suka, 'kan tinggal bilang sama aku kayak barusan itu ....," timpal Sarmin semakin merasakan gejolak aneh menjalari insting kelelakiannya di hadapan gadis tersebut.

"Abang emang suka juga sama aku, Bang?" tanya Sulis sedikit menggoda.

Sarmin tersenyum tipis dan memandangi raut wajah Sulis yang tampak menarik hati di matanya tersebut.

"Uummhhh ..., emang laki-laki mana sih, yang gak suka sama kamu, Lis? Aku juga suka, kok."

"Beneran, Bang?" tanya Sulis merasa senang sekali hatinya kini.

"Perlu bukti?"

Senyum di bibir lelaki itu kian mengembang, seiring dengan pergerakan tubuhnya yang kian condong ke arah Sulis. Lantas mendekatkan wajah sedemikian rupa hingga bunyi-bunyi ciplak kedua bibir muda-mudi tersebut menggema di ruangan tempat mereka berdua berada.

...BERSAMBUNG...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!