Bagian 13

...MISTERI MAYAT TERPENDAM...

...Dewa Payana...

...Bagian 13...

Arvan duduk lesu menyandar pada dinding dapur. Wajahnya tampak hampa seperti sedang memikirkan sesuatu.

"Mas ....," panggil Lasmi begitu mendekat, setelah memperhatikan sosok lelaki tersebut dari kejauhan sebelumnya. "Kamu kenapa, Mas? Kok, malah duduk ngelamun di situ, sih?"

"Eh ... kamu, Dek," sahut Arvan seraya menoleh dan disertai sedikit senyum mengembang di bibirnya. "Enggak, kok. Aku cuman rehat sebentar."

Lasmi manggut-manggut. Kemudian melongok ke dalam dapur sebentar.

"Nambalnya udah beres?" tanya perempuan tersebut ingin memastikan.

"Udah ....," jawab Arvan. "Lobang tikus itu udah aku tutupin pake adukan semen. Sekarang, makhluk sialan itu gak bakalan lagi ngegangguin kamu, Dek."

"Ah, syukurlah," balas Lasmi sembari tersenyum-senyum. "Ya, udah. Sekarang ... kamu siap-siap berangkat kerja, gih. Aku udah nyiapin kamu sarapan, nih." Dia menyodorkan bungkusan yang dibawa di dalam sebuah plastik kecil ke hadapan suaminya.

"Beli di mana, Dek?"

"Ya, dimana lagi. Warung yang ada di depan pertigaan itulah," jawab Lasmi. "Sebentar, aku ambilin dulu piring, ya?"

Sejenak, perempuan itu merasa agak ragu saat hendak menjejakkan kaki di lantai dapur. Dia mengendus-endus dulu sebentar sebelum benar-benar memasuki ruangan tersebut.

"Ah, sekarang udah gak tercium bau ****** lagi, Mas," imbuh kembali Lasmi usai merasa yakin dengan indera penciumannya.

Timpal Arvan dari arah belakang, "Ya, iyalah. 'Kan, lobangnya udah aku tutupi, Dek. Hehehe."

Maka dengan penuh keyakinan, Lasmi pun segera melanjutkan langkah untuk mengambil sebuah piring. Sejenak dia melihat-lihat dulu kondisi ruangan dapur tersebut. Sudah dalam keadaan rapi dan bersih.

"Hari ini kamu lembur lagi gak, Mas?" tanya Lasmi setelah kembali dan berada di hadapan suaminya.

"Hhmmm, aku harap sih, ada," jawab Arvan. "Emangnya kenapa? Kamu kok, nanyanya 'gitu, Dek?"

Lasmi tidak lekas menjawab. Pikirannya segera melayang pada kejadian petang kemarin, tentang perihal suara-suara gaduh di dapur serta sebuah bayangan yang dia lihat di balik pintu kamar.

Entah mengapa, perempuan itu masih belum sepenuhnya percaya jika suara-suara tersebut disebabkan oleh tikus atau berasal dari dapur rumah Ibu Tedjo. Seperti ada piring-piring yang pecah, tapi tidak ada bekasnya sama sekali. Kemudian mengenai pintu belakang yang terbuka, Lasmi juga sangat yakin bila dia sudah menguncinya jauh-jauh waktu. Sebelum masuk kamar bersama Lintang, selalu memeriksa. Nyatanya kemarin, malah demikian yang terjadi. Daun pintu dalam keadaan sedikit terkuak dan tidak ditemukan adanya kerusakan.

'Apa karena pikiranku sedikit terpengaruh oleh anak Bu Tedjo itu, ya?' tanya Lasmi di dalam hati. 'Perempuan aneh dan menyeramkan ....'

Lantas tentang lobang tikus yang baru ditemukan tadi malam, sejak kapan ada. Rasanya sewaktu berbenah-benah sebelumnya, tidak pula ditemukan ada apa-apa di sudut ruangan dapur tersebut.

Kemudian, Lasmi pun menjawab pertanyaan suaminya sambil meletakan sebuah piring di hadapan Arvan, "Enggak, Mas. Aku cuma pengen mastiin aja kepulanganmu."

Laki-laki itu mendengkus. Dia melirik dan memperhatikan wajah istrinya.

"Kamu masih mikirin kejadian yang kemarin, Dek?" tanya Arvan menyelidik. "Sudahlah, Sayang. Jangan terlalu mengada-ngada. Lebih baik kamu banyak berdoa dan ngisi waktu aktivitas kamu dengan sesuatu yang lain dan berguna."

Lasmi tidak menjawab. Perempuan itu malah melangkah ke kamar untuk mengajak Lintang, anak berusia empat tahun tersebut, sarapan bersama-sama.

Kemudian Arvan teringat pada piring di atas meja yang berisi makanan pemberian dari Ibu Tedjo kemarin. Masih teronggok dan sama sekali belum disentuh.

"Makanan dari Bu Tedjo itu mau diapain, Dek?" tanya kembali Arvan begitu Lasmi kembali dari kamar sambil menuntun Lintang. "Sayang aja dari kemaren belum diapa-apain."

"Mau Mas makan?" Balik bertanya Lasmi. "Kalo mau, sebentar aku angetin dulu, deh."

"Gak usah, Dek," balas Arvan dengan cepat dan merasa tidak berselera sama sekali dengan hasil masakan dari tetangga tua mereka itu. "Yang ada ini juga udah cukup, kok."

"Ya, sudah ....," ujar Lasmi tidak jadi bangkit dan kini lebih fokus menyuapi anaknya. "Kadang, aku juga jadi ngerasa gak enak kalo Bu Tedjo terus-terusan ngirimin makanan, Mas. Mau ditolak, takut kesinggung. Diterima juga, malah mubazir kayak 'gitu."

Arvan melirik kembali pada istrinya.

"Hhmmm, buat sementara ... terima ajalah, Dek. Emang sih, gak enak kalo sampe ditolak," timpal lelaki tersebut di antara aktivitas mengisi perutnya dengan menu sarapan yang dibeli oleh Lasmi tadi. "Seenggaknya, kita hargai usaha Bu Tedjo yang berniat baik sama kita."

"Iya, Mas," sahut Lasmi.

Usai menghabiskan makanannya, Arvan bergegas bangkit untuk bersiap-siap berangkat kerja. Sementara Lasmi sendiri sibuk mencuci bekas peralatan maka mereka di dapur.

Sebentar-sebentar, perempuan tersebut melirik pada sudut ruangan dapur. Tempat dimana lobang tikus yang sudah ditutupi dengan adukan semen oleh suaminya tadi. Lantas pada daun pintu yang tertutup rapat dan terkunci dengan slot yang tertahan melingkar.

"Dek, aku berangkat dulu, ya?" Tiba-tiba Arvan muncul di ambang pintu ruangan dapur sambil menggendong Lintang.

"Oh ... iya, Mas," sahut Lasmi agak terkejut dan lekas-lekas membereskan cuciannya. Kemudian ganti menggendong anaknya dari pangkuan Arvan. "Sini, Nak. Bapak mau berangkat kerja."

Lintang merengek manja dan sepertinya enggan terlepas dari gendongan Arvan. Dengan sedikit memaksa, akhirnya anak tersebut mau juga berpindah pada ibunya.

"Sama Ibu dulu ya, Sayang. Entar kalo Bapak pulang, Lintang Bapak gendong lagi," kata Arvan seraya mengusap-usap anak semata wayangnya itu.

Kemudian lelaki itu segera menuntun sepeda motor tuanya keluar dari dalam ruangan dan memarkirkannya di depan rumah. Sebelumnya dipanaskan terlebih dahulu beberapa waktu.

"Hhmmm ....," deham Arvan seraya melongok ke arah rumah tetangganya, Bu Tedjo. Tepatnya pada jendela bagian depan, tempat biasanya terlihat ada sosok berdiri di balik tirai gorden. Namun kali ini, sepertinya dia tidak melihat apa pun di dalam sana.

'Tumben ....?' pikir lelaki tersebut merasa heran. 'Biasanya tiap kali aku mau berangkat, anak Bu Tedjo itu selalu mengintip.'

Tidak ingin berlama-lama, apalagi hari sudah semakin menampakkan siang, Arvan pun segera menaiki sepeda motornya dan bersiap-siap untuk berangkat.

TIT! TIT!

Terlebih dahulu dia membunyikan klakson untuk memanggil Lasmi dan berpamitan.

Sebentar kemudian, perempuan yang sudah menemani hidupnya selama lima tahun tersebut muncul dari dalam rumah bersama Lintang di dalam gendongan.

"Aku berangkat dulu ya, Dek-Sayang. Hati-hati ... jaga rumah," kata Arvan pada Lasmi dan Lintang. Dia mendaratkan sebuah kecupan hangat di pipi mereka berdua. "Dadaahhh ...."

Lasmi menatap kepergian suaminya hingga menghilang di sebuah kelokan. Kemudian masuk kembali ke dalam rumah.

"Buu ... Buuu ...." Lintang tiba-tiba bersuara memanggil Lasmi.

"Kenapa, Nak? Mau pipis?" tanya ibunya. "Ayo, Ibu antar ke kamar mandi, yuk."

Tadinya Lasmi bermaksud masuk ke dalam kamar untuk berbenah. Untuk sementara dia tangguhkan. Lebih mengutamakan permintaan dari anaknya yang ingin buang air kecil.

Baru saja memasuki ambang pintu dapur, tiba-tiba langkah perempuan itu terhenti. Dia terkejut, menatap ke depan.

"Astagaaa ....!" seru Lasmi begitu mendapati sesosok orang yang tengah berdiri mematung di ambang pintu dapur belakang. "S-sulis ....?"

Sosok tersebut memang Sulis. Anak perempuan semata wayang Bu tedjo. Dia sudah ada di sana dengan sorot mata dingin dan aneh.

"Ya, Tuhan ....!" seru kembali Lasmi di antara rasa kejut yang tiba-tiba mendera. "Apa yang kamu lakuin di sini, Sulis?" tanya istri Arvan itu kemudian dengan benak terheran-heran.

Pikirnya, sejak kapan sosok Sulis berada di sana dan berdiri di ambang pintu yang terbuka. Lasmi sudah memastikan dan meyakini jika sebelumnya pintu tersebut sudah dalam keadaan tertutup dan terkunci rapat. Sekarang bagaimana bisa terbuka seperti itu?

Aneh, tentu saja, pikir Lasmi tiba-tiba merasa takut dengan sorot mata gadis tersebut. Sampai-sampai Lintang sendiri merapatkan peluk di dalam pangkuan ibunya.

...BERSAMBUNG...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!