Bagian 4

...MISTERI MAYAT TERPENDAM...

...Dewa Payana...

...Bagian 4...

Bu Tedjo memiliki seorang anak perempuan semata wayang bernama Sulis. Sepintas tiada hal yang ganjil pada sosok gadis berusia dua puluh lima tahunan tersebut. Namun di mata Lasmi dan Arvan, pertama kali melihatnya, mereka berpikir seperti ada sesuatu pada perilaku dia. Tampak tidak biasa sebagaimana layaknya seorang perempuan di umur segitu. Jarang keluar rumah, raut wajahnya selalu murung, serta terasing sendiri di dalam lingkungan keluarga.

“Apa dia punya kelainan jiwa?” tanya Arvan suatu ketika pada Lasmi di saat tidak sengaja mereka melihat sosok Sulis mengintip dari balik tirai di dalam rumahnya.

“Aku pikir sih … kayaknya enggak,” ujar Lasmi menduga-duga. “Aku pernah beberapa kali ketemu sama dia, waktu aku keluar rumah. Ditanya juga nyambung, kok.”

“Tapi kelihatannya aneh aja, Dek,” timpal Arvan sembari mengambil kunci kontak kendaraan, bersiap-siap hendak berangkat kerja. “Aku takut, dia akan berbuat aneh-aneh di sini. Kamu awasi Lintang, ya? Awas, jangan sampe keliaran sendirian di luar rumah.”

Lasmi mendecak, lantas membalas ucapan suaminya barusan, “Ah, Mas ini ada-ada aja. Jangan terlalu mikirin yang aneh-aneh, ah. Biarin ajalah. Kita ini di sini, cuman pendatang, lho.”

“Iya, aku tahu itu,” kata Arvan kembali, “tapi gak ada salahnya ‘kan, kalo aku ngingetin kamu, Dek.”

Lasmi tersenyum sembari menoleh ke arah anaknya yang berusia empat tahun tersebut, tengah duduk sendirian di ruang tengah, bermain-main dengan peralatan mainannya sendiri.

“Iya, Mas. Paham, kok,” balas perempuan itu kemudian. “Maka dari itu, aku gak terlalu pengen kepo dengan urusan tetangga kita. Apalagi … cuma keluarga Bu Tedjo, satu-satunya tetangga yang paling deket di lingkungan ini.”

“Nah, itu dia! Apalagi Bu Tedjo ….,” sambar Arvan diiringi kelopak mata membulat besar. “Perempuan tua itu juga, gak kalah anehnya, Dek. Dia itu—”

“Aahhh, sudahlah, Mas! Jangan terlalu banyak ngomongin orang. Gak baik, ah!” tukas Lasmi buru-buru memotong ucapan suaminya. Khawatir jika obrolan mereka itu, bakal terdengar sampai menembus dinding ke penghuni rumah sebelah. “Udah, buruan berangkat sana. Entar kesiangan, kamu kena omelan atasan kamu lagi, ah.”

Arvan mengekeh kecil.

Usai memastikan semuanya sudah siap, lelaki itu lantas memeluk Lasmi dan menghadiahinya sebuah kecupan hangat di kening.

“Doain aku, ya? Moga aja hari ini, aku disuruh lembur lagi sama Bos,” kata Arvan berharap-harap.

“Tapi pulangnya jangan kemaleman terus, Mas,” pinta Lasmi dengan nada memanja.

“Ya, gak apalah pulang malem juga,” balas Arvan bermaksud bercanda. “Yang penting ‘kan, aku bisa dapet uang lemburan gede bulan depan. Lumayan, buat tambah-tambah bayar sisa angsuran rumah ini. Selebihnya, ya buat kamu juga lho, Dek.”

Lasmi mendengkus lirih, tapi lanjut memberi suaminya sebuah senyuman manis. “Iya … iya, Mas. Aku selalu doain kamu, kok,” balasnya kemudian.

Arvan bergegas keluar dan bersiap-siap naik ke atas motor tuanya yang sudah terparkir di beranda rumah. Sesaat lelaki itu melirik ke samping. Tepatnya ke arah jendela rumah Bu Tedjo, tempat biasa dia selalu melihat ada penampakan seraut wajah milik Sulis mengintip di balik tirai.

Benar saja. Samar-samar dari balik jendela, sosok perempuan muda tersebut tengah berdiri memperhatikan Arvan.

Sesaat lelaki itu melirik-lirik untuk memastikan, lantas berpura-pura mengalihkan pandangan ke arah lain.

‘Lama-lama … gadis itu bikin aku merinding sendiri,’ bisik Arvan di dalam hati. Yang paling dikhawatirkan, tentu saja jika sampai Bu Tedjo ada di sana dan turut melakukan hal serupa sebagaimana yang sedang diperbuat oleh anaknya tersebut.

Maka dari itu, Arvan pun bergegas meninggalkan halaman rumah, disaksikan oleh Lasmi yang berdiri di ambang pintu. Lantas berlanjut menunaikan rutinitas harian di rumah barunya tersebut, yakni berbenah atas onggokan barang-barang bawaan semula yang masih belum sepenuhnya tuntas.

Sementara itu, tanpa sepengetahuan Arvan maupun Lasmi, diam-diam Bu Tedjo memperhatikan tingkah laku Sulis dari arah belakang anaknya tersebut atau tepatnya di balik tembok ambang pintu ruangan lain yang menghadap pada jendela di depan. Mata perempuan tua itu menyipit dan turut melongok untuk mencari tahu, gerangan apa yang sedang dilihat oleh gadis itu.

‘Hhmmm, hampir setiap pagi anakku berdiri di depan jendela sana ….,’ kata Bu Tedjo di dalam hati. ‘Pasti bermaksud ngelihatin laki-laki tetangga itu ….’

Bu Tedjo membalik badan, menyandar pada dinding rumah, agar keberadaannya tidak sampai diketahui oleh Sulis. Kemudian dia mengatupkan kelopak mata dan terpejam untuk beberapa saat, seraya menghadirkan bayang-bayang sisa ingatannya yang masih membekas jelas di dalam kepala.

‘Apa mungkin kejadian dulu itu akan berulang kembali pada kami?’ Tulang leher perempuan tua itu bergerak-gerak sebentar, pertanda bahwa dia tengah asyik mereguk sedikit liur untuk membasahi rongga kerongkongannya yang mendadak mengering. ‘Enggak! Itu gak boleh terjadi lagi! Cukup sudah aku berurusan dengan manusia-manusia pecundang seperti mereka itu!'

Kali ini tulang rahang Bu Tedjo sampai bergoyang-goyang aneh, menahan gemeretak gigi geraham yang saling bertaut keras satu dengan lainnya.

‘Anakku … anakku harus selalu bahagia. Dia gak boleh lagi bersedih dan jadi gadis pemurung seperti ini ….,’ imbuh kembali ibunya Sulis tersebut sambil merapikan sanggul rambut yang sudah terasa mengendur, usai bergesekan dengan dinding yang dia sandari.

Pada saat yang bersamaan, sosok anak perempuannya itu hendak melintas. Namun dia berhenti begitu menyadari ada ibunya di balik dinding pembatas ruangan. Hanya melirik sekejap, setelah itu lanjut melangkah.

“Sulis … Sulis anak Mamak ….,” panggil Bu Tedjo. “Tunggu, Sayang. Dengerin. Mamak ingin berbicara sedikit padamu, Nak.”

Dia sampai mengejar-ngejar anaknya tersebut yang tidak kunjung mau berhenti berjalan.

“Hei, tunggulah Mamak sebentar,” kata Bu Tedjo lekas melompat dan menghalangi laju langkah Sulis. “Tahan …, Mamak hanya ingin bertanya padamu, Nak. Kamu denger Mamak, ‘kan?”

Bu Tedjo mengayunkan tangan kanan ke atas dengan pergelangan menekuk dan membuka telapak tepat di depan dada Sulis. Kemudian secepat itu pula, menambah satu langkah ke muka hingga kini permukaan tangannya tersebut, menyentuh di bagian atas dada.

“Mamak perhatiin, kamu sering banget berdiri pagi-pagi di depan jendela depan sana itu, Nak,” kata Bu Tedjo dengan tatapan mata sayu dan lembut membuai sanubari. “Apa yang kamu lakukan itu, hhmmm?”

Pertanyaan dari ibunya barusan, langsung direspons Sulis dengan cara membuang muka ke samping. Bibir gadis itu berubah bulat, mengerucut, disertai paras kecut dan tarikan napas memberat.

“Mamak bukan ingin ikut campur dengan apa yang telah sering kamu lakuin akhir-akhir ini, Nak. Hanya saja … Mamak cuma kepengen tahu … sedikit,” goda Bu Tedjo kembali diiringi senyumannya yang menggelitik. “Kamu suka dengan laki-laki baru yang tinggal di rumah sebelah kita itu?”

Kalimat berupa pertanyaan terakhir yang terucap dari lisan ibunya tersebut, sontak membuat perubahan aura wajah Sulis mendadak berubah. Tidak lagi dingin maupun masam seperti tadi. Namun kali ini malah seperti menahan gelitik senyum simpul yang hendak menguar dari kedua belahan garis tawa di pipi gadis itu.

‘Ya, Tuhan …., anakku menyukai laki-laki itu,’ desah Bu Tedjo terperangah. ‘Tapi kenapa harus dia sih, Nak? Gak adakah laki-laki lain yang kamu sukai? Dia ‘kan, sudah beranak-istri ….’

...BERSAMBUNG...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!